Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Berkunjung ke tetangga.


__ADS_3

Sore itu Ajeng sedang sibuk dengan bu Kasih mengemas oleh-oleh yang akan di berikan kepada tetangga. Sudah menjadi kebiasaan di kampung Ajeng jika ada tetangga yang baru


pulang mereka akan berkunjung ke rumah tetangga dekat dan juga kerabat dekat,


mereka biasanya akan membawa buah tangan untuk pembuka kata.


Al yang baru saja selesai melaksanakan sholat Ashar berjama’ah di masjid segera menghampiri bu Kasih dan Ajeng.


“Bu …., dek …., sedang apa?”


Ajeng yang sedari tadi tidak memperhatikan kedatangan Al segera mengangkat kepalanya.


“Mas …, sudah datang?”


“Hem …!”


Al mengangguk, ia ikut duduk di bawah bersama ibu mertua dan istrinya.


“Kami sedang mengemas oleh-oleh yang akan kalian bawa ke rumah kerabat!” ucap bu


Kasih. Tampak di depan bu Kasih dan Ajeng terdapat beberapa bungkus kue kering


dan sembako yang sempat Ajeng dan Al beli tadi.


“Wahhh senangnya, apa kita bisa berkunjung sekarang?” Tanya Al pada istrinya itu.


“Tentu!” jawab Ajeng pasti. “Baiklah …, aku akan bersiap dulu, mas Al bisa membantu ibu


mengemasnya kan?”


“Bisa!”


Setelah selesai mengemasnya, Ajeng dan Al mengunjungi beberapa tetangga di sekeliling


rumahnya, menyapa dan sedikit berbasa-basi menanyakan kabar masing-masing.


“Assalamualaikum …!” salam ajeng pada tetangga depan rumahnya, rumah pertama itu adalah rumah


orang tua dokter Anwar.


“Walaikumsalam! Eh Ajeng …., Al …., kalian? Ayo masuk-masuk …!”


“terimakasih bu …!”


“Bagaimana kabarnya …, kalian kok nikah nggak bilang-bilang, tiba-tiba nikah aja?”


“memang acaranya dadakan budhe …., maaf Ajeng nggak bisa ngundang budhe! Oh iya budhe sebelumnya kami turut berduka cita atas meninggalnya pak dhe ya budhe …, maaf


saat itu Ajeng benar-benar nggak tahu!”


“Iya terimakasih …, nggak pa pa nduk …, memang sudah takdirnya pak dhe mu di ambil


lebih dulu!”


“Maaf bu …, apa anwarnya nggak pulang, maksud saya …, apa anwar berada di kota juga?”


Tanya Al.


“Anwar pulang nak Al, tapi hanya satu bulan sekali, sebenarnya dia ngajak ibu buat


ikut ke sana, tapi ibu belum siap ninggalin kampung ini!”


“Sudah lama sekali kami tidak bertemu, semenjak kami lulus SMA!”


“Anwar pasti senang jika tahu kamu sekarang sudah nikah sama Ajeng!”


“Ya sudah budhe kami permisi dulu ya, ajeng dan mas Al harus melanjutkan


berkeliling!”


“Iya …, insyaallah nanti budhe main ke rumah ibukmu!”


Al dan Ajeng segera meninggalkan rumah orang tua dokter Anwar. Kembali mengingatkan


jika dokter Anwar adalah pria tetangga yang cinta mati sama Diah, kakak

__ADS_1


perempuan Ajeng. Tapi ternyata takdir berkata lain, mereka tidak di takdirkan


untuk berjodoh. Mereka menemukan jodohnya masing-masing dnegan latar belakang


yang berbeda. Kalau pengen tau selengkapnya bisa baca di ‘Jodohku’.


Al begitu senang di ajak berkeliling oleh Ajeng, walaupun ia harus membawa satu


kantong kresek besar sambil jalan kaki. Berjalan berdua dengan Ajeng adalah


kebahagiaan tersendiri, sesekali Al dan ajeng menyapa orang yang berpapasan


dengan mereka dengan sedikit obrolan santai ala orang desa.


“Lohhhh


…, Ajeng! Kapan mulihe [lohh …, Ajeng! Kapan pulangnya]!”


“Wau enjing bulek [tadi pagi bulek]!”


“Jare ibukmu, awakmu wes rabi, iki to bojomu? Ngganteng yo …, koyok sopo kae seng nek


tipi kae lo …. [kata ibumu, kamu sudah menikah, ini ya suamimu? Ganteng ya …,


kayak siapa itu yang ada di tv itu loh …]!”


“Alhamdulillah …, lek ngoten bu …, berarti kulo kados arti nggeh ….[ Alhamdulillah …, kalau


begitu bu …., berarti saya seperti artis ya …]!” ucap al tidak mau kalah.


“:loh…., tibak e bojomu yo wong jowo to …? Tak kiro lek yo wong adoh koyo mbakmu


[loh …., ternyata suamimu juga orang jawa ya …? Saya kira kalau orang jauh


seperti mbakmu]!”


“Enggeh bulek …., sami-sami tiang blitar e … [ iya bulek …, sama-sama orang blitarnya]!”


“Eeehhhh tibak e tonggo dewe …, peneran lek ngono …, cedek [eeeehhh ternyata tetangga


Itu


adalah salah satu pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan yang muncul, berbeda


dengan suami kakaknya yang notabennya orang blesteran jadi tidak bisa mengerti


bahasa jawa, berbanding terbalik dengan Al, Al sejak kecil sudah tinggal di


jawa, di lingkungan yang sama dengan lingkungan Ajeng, bahkan dia lebih fasih


berbahasa jawa halus di bandingkan dengan Ajeng.


Sejak


kecil ajeng memang tidak pandai ‘boso’ boso adalah berbahasa jawa halus dengan


orang yang lebih tua atau orang yang di segani. Di jawa bahasa jawa masih


terbagi menjadi beberapa bahasa, di antaranya adalah ’ngoko alus’, ‘ngoko


lugu’, ‘kromo alus’, ‘kromo lugu’ semuanya di gunakan dengan tatanan yang


berbeda sesuai dengan unggah-ungguh basa jawa.


Usia,


kedudukan atau pangkat menjadi penting ketika menggunakan unggah-ungguh bahasa


jawa. Misalnya ‘ngoko’ digunakan  orang


yang usianya lebih tua kepada yang lebih muda, atau teman akrab, sedangkan


‘kromo’ digunakan untuk orang yang lebih tua atau orang yang di hormati atau


memiliki pangkat.

__ADS_1


“Kalian


sudah pulang?’ sapabu Kasih saat melihat putrid an menantunya sudah kembali.


“nggeh


buk …, sudah mau magrib …!”


“Ya udah


buk …,dek …, mas bersih-bersih dulu ya siap-siap ke masjid!”


“Iya mas


…, biar Ajeng siapkan air hangatnya!”


“Nggak


usah dek …, mas biasa mandi pakek air dingin, adek bantu ibuk saja nyiapin


makan malam!”


Akhirnya


Ajeng pun setuju, ia membantu ibunya menyiapkan makanan yang akan di makan


setelah sholat magrib, sedangkan Al segera ke kamar untuk mengambil handuk dan


baju ganti. Tak berapa lama Al sudah siap dengan baju koko dan sarungnya, ia


tinggal menunggu pak Darman. Mereka harus bergantian kamar mandi karena kamar


mandi hanya ada satu, setelah pak Darman selesai, merekla segera bergegas


menuju ke masjid sedangkan bu Kasih dan Ajeng sholat magrib di rumah.


Saat


sampai di masjid, terlihat masjid masih sepi. Mereka harus menunggu hingga satu


persatu jama’ah mulai memasuki masjid. Pak darman berbincang dengan beberapa


bapak-bapak yang lain dan sesekali ia ikut menimpali pembicaraan mereka.


“Wes


manjing Magrib, sopo seng azan [Sudah masuk waktunya magrib …, siapa yang azan]?”


Tanya salah satu dari mereka.


“Ketok e Iqbal ora nyang [kayaknya Iqbal tidak datang]!”


“Piye lek mas e seng ganteng ki seng azan [gimana kalau masnya yang ganteng, yang


azan]?”


“Piye le …, iso [gimana le….,bisa]?” Tanya bak Darman pada menantunya.


“nggeh pak …, insyaallah!’


“Monggo mas [silahkan mas]!” tampak semua yang datang mempersilahkan Al untuk segera


azan. Sebenarnya pak Darm,an tidak memaksakan, jika tidak bisa ia bisa meminta


orang lain, tapi hanya dengan sekali bertanya ternyata menantunya itu menyanggupinya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2