Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Firasat


__ADS_3

Malam ini, entah mengapa langit begitu mendung mengiringi langkah mereka. Edward yang merengkuh pinggang Aurora dari samping tampak begitu bahagia sekali, bahkan wajahnya selalu menyunggingkan senyum. Rupanya, masalah kemarin malam telah terselesaikan dengan baik.


Brian yang saat ini berada dalam gendongan Lukas, nampak malas diajak pulang, wajahnya masam sekali, rupanya ia tidak suka saat tidurnya terusik. Lukas hanya meringis melihat kelakuan Brian malam itu, tidak biasanya dia bersikap seperti itu.


Berbeda dengan Aurora, hatinya berdebar debar saat hendak naik kedalam pesawat. Firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang menimpanya malam ini, tapi ia mencoba tersenyum menutupi kegundahan hatinya, ia tak mau membuat khawatir orang disekelilingnya.


Ketika Edward dan Aurora akan melangkah masuk dalam pesawat, ada suara yang memanggil nama Edward.


"Edward jangan pergi!!"


Edward menghentikan langkahnya, dan menoleh kebelakang. Tak mendapati seorang pun dibelakangnya kecuali parade bodyguardnya.


"Suara itu lagi, suara siapa itu? Sepertinya bukan suara mereka." Batin Edward bertanya , matanya menatap bodyguardnya satu persatu.


"Ada apa? kenapa berhenti?" heran Aurora menatap wajah suaminya. Wajah yang dari tadi tersenyum mulai memudar, berganti dengan wajah seriusnya.


"Apa kamu mendengar seseorang memanggilku?" tanya Edward pelan. Ia takut jika hanya dia yang mendengar suara itu.


"Tidak, aku tak mendengar apapun, selain suara mesin pesawat." kata Aurora menatap wajah suaminya dan berganti menatap wajah bodyguardnya.


"Apa kalian mendengar ada yang memanggil Tuan muda?!" tanya Aurora menatap tajam satu persatu bodyguardnya


Bodyguardnya saling berpandangan, tidak mengerti yang dimaksud Aurora, pasalnya mereka juga tak mendengar suara apapun kecuali deru mesin pesawat.


"Tidak mendengar Nona." jawab salah satu bodyguard tegas.


Edward diam saja, ia kembali merengkuh pinggang Aurora masuk kedalam pesawat. Dia berpikir mungkin dia hanya salah dengar atau halusinasinya saja, tidak penting juga, lagian aneh juga jika hanya dirinya saja yang mendengar suara itu.


"Edward jangan pergi, kamu pergi , kamu mati!" Suara itu.


Sontak ia langsung menghentikan langkahnya dan berbalik kebelakang, nyatanya hanya para bodyguardnya yang menatap bingung Edward.


Aurora mengusap lengan Edward, dan membawa suaminya untuk duduk terlebih dahulu. Brian dan Lukas hanya mengamati sikap Edward yang tidak seperti biasanya, tapi mereka juga tak bertanya apapun.


"Ada apa?" tanya Aurora lembut.


"Apa benar kamu tidak mendengar suara itu?" tanya Edward yang masih penasaran, suara sekeras itu aneh rasanya jika orang lain tidak mendengarnya.


Aurora hanya menggelengkan kepalanya, jujur dia juga tidak mendengar apa yang didengar suaminya.


"Memang apa yang dia katakan? Apa itu hal buruk?" tanya Aurora penasaran.


Deg


Jantung Edward seperti dipompa keras, aliran darahnya naik, dia menatap rumit istrinya. Bingung mengatakan pada istrinya, ia juga tidak ingin istrinya khawatir.


"Tidak penting, mungkin aku hanya salah dengar. Istirahatlah, wajahmu lelah sekali, aku akan ke ruang Kokpit sebentar." ucap Edward dengan senyumnya

__ADS_1


"Baiklah. Lekaslah kembali."


.


.


Bunda Yuli dan Tuan Admaja saat ini sedang berdiri dibalkon kamarnya menunggu kedatangan Edward dan keluarganya. Malam sudah larut, tapi keduanya juga belum tidur.


"Bunda, sebaiknya kita tidur, mungkin itu hanya perasaan bunda." saran Tuan Admaja


"Ayah tidur dulu saja, bunda mau memastikan jika Edward ,Aurora dan Brian pulang dengan selamat, perasaan bunda sudah tidak enak dari kemarin. Bunda takut terjadi sesuatu pada mereka bertiga."


"Tapi,angin diluar tidak baik untuk kita, kita tunggu didalam saja. Lagian menurut waktu penerbangan, mungkin sebentar lagi pesawat mereka akan mendarat." usul Tuan Admaja


Tetap saja Bunda Yuli masih dilanda cemas, ia sangat ingin bertemu putranya.Ia tidak ingin kejadian sepuluh tahun yang lalu terulang kembali. "Semoga firasatku kali ini salah Ya Tuhan. Lindungi putraku dan keluarganya dimanapun mereka berada." doa bunda Yuli dalam hati.


.


.


Pesawat mendarat dengan sempurna sekitar pukul setengah dua belas malam. Rombongan disambut hujan dengan begitu derasnya. Alamat mereka akan terlambat sampai dirumah karena kemacetan yang disebabkan banjir.


Tiga mobil melintas membelah hujan malam itu. Edward mengemudikan mobilnya paling depan, diikuti mobil bodyguardnya termasuk Lukas didalamnya.


Brian sudah tertidur kembali dibangku belakang, sedangkan Aurora sedang mengaktifkan kembali ponselnya duduk didepan sebelah suaminya. Baru saja ponselnya menyala, sebuah panggilan masuk ke nomornya.


"Lagi jalan pulang Bunda, mungkin sedikit terlambat, disini sedang hujan deras. Apa bunda ingin bicara dengan Kak Edward? Aurora loudspeaker ya Bunda, kakaknya lagi nyetir mobil." Aurora melirik suaminya yang fokus pada kemudinya.


"Edward kenapa kamu tidak pakai supir? Dimana Lukas? Perasaan bunda dari kemarin tidak enak. Kenapa nyetir mobil sendiri..!!" seru bunda Yuli cemas.


"Tenanglah Bunda, doakan kami baik baik saja. Bunda tidurlah dahulu, jangan menunggu kami. Ini sudah malam Bunda..."


"Sudahlah, bunda tutup saja, hati hati dijalan. Berjanjilah pada bunda, kalian akan pulang dengan selamat."


"Ya kami janji."


.


.


Di mobil lain,


Lukas saat itu sedang menggerutu kesal, mobil yang dikendarainya ditutupi oleh truk besar yang menghalangi pandangannya . Mobil Edward bahkan sudah hilang dari pandangannya.


"Sial, apa kemampuan mengemudiku sudah menurun, menyalip satu saja susah sekali..!" gerutunya kesal. Berkali kali ia membunyikan klakson mobilnya, nyatanya truk besar didepannya hanya bergeming.


"Apa ini jalan nenek moyangnya...!!Kenapa mengemudikannya begitu..!!"

__ADS_1


Bodyguard disebelahnya hanya melirik, tak berani berkomentar. Dia juga heran kenapa truk didepannya berjalan seperti itu , apa mungkin sengaja pikirnya.


"Bos, sebaiknya kita salip dari bahu jalan setelah tikungan didepan, saya rasa jalan itu cukup , tapi hati hatilah, sebelahnya ada jurang walau tak begitu dalam, . Akan lama jika kita mengikuti truk didepan, bagaimana dengan keselamatan King." ucap bodyguard yang duduk di kursi belakang memberi saran.


"Bos, sepertinya truk didepan memang sengaja, berhati hatilah Bos, saya akan konfirmasikan mobil belakang kita. Sepertinya King sedang dalam bahaya."


"Ya, kalian benar, lagian kenapa juga King memilih jalan itu, kenapa tidak langsung belok kanan saja." Lukas diam diam mulai cemas.


BROMMM....


Mobil Lukas berhasil mendahului truk didepannya, ia tersenyum miring. Baru lima ratus meter berjalan , mobil yang ditumpangi Lukas tiba-tiba mengalami pecah ban.


DUAR ... DUAR ..


"Akh.."


BRAK ... BRAK...


"Oh Shit..!!" pekik Lukas karena dahinya membentur kemudi mobil dan menabrak pohon dipinggir jalan.


"Cepat hubungi markas, kirim bantuan secepatnya, King dalam bahaya..!!" Pekik Lukas yang melepaskan sabuk pengamannya.


"Baik Bos."


"Kalian, hubungi mobil belakang, suruh mereka berhenti, aku akan naik kemobil mereka. Dan kalian, cepat ganti ban nya, dan segera susul kami.!" tunjuk Lukas pada anggotanya.


"Baik Bos."


Lukas menggerutu kesal, kenapa bisa ia lalai dalam menjalankan tugas, ia raih ponselnya, ia melakukan panggilan ke nomor Edward, hatinya harap harap cemas memikirkan keadaan Tuan mudanya. Nyatanya nomor yang dihubungi tidak aktif. Hatinya semakin kalut saja. Takut terjadi sesuatu terhadap mereka bertiga, apa yang akan ia dikatakan pada Tuan Admaja pikirnya.


Hari sudah semakin malam, hujan semakin deras, semakin jarang pula kendaraan yang melewati jalan itu. Mobil anak buahnya yang dibelakang juga tak kunjung muncul. Entah apa yang terjadi pada mereka. Ponsel mereka juga tidak dapat dihubungi.


Lukas panik, dan menghubungi Alex. Dirinya sudah tidak peduli akan umpatan yang akan diterimanya. Baginya, keselamatan Edward jauh lebih penting baginya.


Alex: "..."


.


.


.


###


Terus Dukung Karya ini. Terima kasih yang sudah kasih Like, Komen, Hadiah, Vote dan Rate-nya. Terima kasih sudah mau baca sampai sejauh ini.


Arigatou Gozaimasu..

__ADS_1


__ADS_2