
. Semakin lama Al semakin lihai
memainkan cangkul. Ajeng benar-benar di buat terkesima, ia tidak menyangka
orang seperti Al yang biasanya sangat tegas dengan anak buahnya itu bisa
melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bahkan tak terbayangkan sebelumnya. Ajeng
duduk di gubuk yang biasa di gunakan untuk beristirahat makan siang. Ia masih
terkesima memperhatikan dua pria yang begitu ia cintai itu, bapak dan suaminya.
“Nak …., ayo makan siang disek!”
ajak pak Darman, si pembajak sawah sudah lebih dulu beristirahat di gunung
tempat Ajeng duduk.
“Nggeh pak!”
Al pun segera minggir dari tengah
sawah, ia sudah sangat lapar. Nggak nyangka ternyata melakukan pekerjaan yang menguras tenaga seperti ini membuat ia
cepat lapar. Kulit Al yang putih tampak memerah karena terkena sinar matahari,
lumpur juga bertebaran di sekujur tubuh dan wajah Al. ajeng yang melihatnya
segera menghampiri suaminya itu, ia mengambil sapu tangan dan mengelap wajah
suaminya.
“kan jadi kotor mas!” ucap Ajeng
sambil terus menatap suaminya itu, al segera menggenggam pergelangan tangan
istrinya. Mencium tangan istrinya.
“jangan merasa bersalah seperti
itu, aku suka melakukannya. Biarkan ini menjadi ibadahku!” ucap Al dengan penuh
cinta.
Mereka pun segera makan siang, Al
mudah sekali membaur dengan orang-orang di desa ajeng. Ia begitu nyambung saat
berbincang dengan pak pembajak sawah yang sebelumnya belum pernah kenal.
Setelah makan siang mereka kembali dengan pekerjaannya. Tapi pak Darma meminta
Al untuk pulang terlebih dulu karena sudah hampir selesai. Lagi pula waktu
sholat dhuhur sudah hampir berlalu. Pak darman harus membereskan semua dulu
baru pulang, ia biasanya akan mandi di sungai dan melaksanakan sholat di sawah.
Lagi-lagi Al mengambil barang
bawaan Ajeng, ia juga melarang Ajeng melakukan apapun di sawah jadi selama di
sawah ajeng hanya di ijinkan untuk duduk saja dan melihat. Al tidak suka di
bantah.
Sesampai di rumah Al segera mandi
dan mereka melaksanakan sholat dhuhur berjama’ah di kamar yang di sulap menjadi
tempat sholat. Jadi di dalam kamar yang luasnya 3x3 meter itu hanya berisi
lemari kecil tempat menaruh mukena, sajadah dan al-Qur’an.
“Mau jalan-jalan?’ Tanya al
setelah menyelesaikan sholat dan berdoanya, ia melipat sarung dan melepas
kopiahnya.
“Emang mas al nggak capek?”
“Asalkan terus sama kamu, rasa capek
ini hilang seketika!”
“Jangan maksa mas …!”
“Nggak sayang …, aku Cuma pengen
suatu saat nanti jika aku tidak bisa nemenin kamu, kamu masih punya kenangan
yang manis bersamaku!”
__ADS_1
“Mas …..! kok ngomongnya kayak
gitu? Emang mas Al mau ke mana?” protes Ajeng, ia tidak suka al mengatakan
yang tidak-tidak seperti itu.
“Ya kan siapa yang tahu tentang
kehidupan. Gimana? Mau ya?”
“Baiklah …, ayo …!”
Akhirnya Ajeng bersedia di ajak
jalan-jalan. Bukan jalan-jalan yang jauh dan mewah, mereka hanya jalan-jalan
keliling kampung naik motor. Ajeng melingkarkan tangannya di perut suaminya,
menikmati pemandangan sore di pedesaan sunggung menyenangkan, tidak ada polusi
ataupun kebisingan, yang ada hanya suara binatang yang saling bersahutan, kodok
di sawah, cenggeret di pohon kelapa, burung-burung yang terbang menuju ke
sarangnya, sayup-sayup angina yang menggoyangkan batang padi nan hijau seperti
karpet yang bergerak, cahaya mentari sore yang tidak begitu menyengat membakar
kulit dan yang paling istimewa adalah sekumpulan anak-anak yang sedang asik
bermain di lapangan.
“Sebentar lagi ramadhan,
bagaimana kalau kita ramadhannya di sini?” Tanya Al sambil duduk di atas motor,
mereka menikmati pemandangan dengan duduk di atas motor.
“Mas Al nggak ngipi kan? Beneran
mau ramadhanan di sini?” Tanya Ajeng tidak percaya. Suaminya yang termasuk
dalam golongan manusia modern bisa begitu betah di kampung.
“Ya nggak lah dek, mas Cuma
ngrasa kalau kita di kampung, hati kita akan lebih tenang. Kita bisa fokus
dengan ibadah kita!”
“Lalu pekerjaan mas Al?”
“Kan sudah ada yang handle, lagi
“Tapi kasihan dika-nya mas!”
“Memang Dika kenapa?”
“kalau mas terus-terusan ngasih
pekerjaan kapan Dika nikahnya?”
“Dia masih terlalu muda, belum
waktunya menikah!”
“Tapi kan aku seumuran sama Dika,
apa bedanya?”
“Bedanya Dika itu cowok, jadi
sudah kewajiban cowok menghidupi istrinya kelak, jadi sangat penting baginya
untuk bisa matang dan bertanggung jawab!”
“Mas Al dulu juga gitu ya?” Tanya
Ajeng begitu penasaran.
“Tentu …., semuanya butuh proses
Dek. Mas nggak tiba-tiba sukses begini! Ada kalanya mas berada di fase paling
bawah! Dan taukan kamu dek apa yang sudah membuatku bangkit kembali?”
“Apa?”
“kamu ….!”
“Aku?”
“Ya …, setiap kali mengingatmu,
mengingat jika aku harus pantas untuk mendapatkanmu dan menjadi pendampingmu,
aku kembali bangkit dan berusaha lebih keras lagi!”
Mendengarkan ucapan suaminya, ia
__ADS_1
begitu terharu. Ajeng memeluk erat lengan suaminya menyandarkan kepalanya di
pundak suaminya, mencium telapak tangan suaminya dengan penuh cinta.
“terimakasih karena telah
menjadikan aku halal bagimu, terimakasih karena telah bersabar untuk
mencintaiku, terimakasih kerana telah begitu besar emncintai hati yang begitu
kecil ini, rasanya tidak akan cukup rasa cintaku membalas semua cinta yang
telahmas berikan untukku!”
Al tersenyum, ia mengusap rambut
Ajeng dan mengecupnya di puncak kepala ajeng dengan penuh cinta. Ia seakan
ingin menghujani wanita yang telah menjadi istrinya dengan begitu banyak cinta
yang bahkan siapapun tidak akan pernah bisa menandingin cintanya.
“Sudah sore …, kita pulang ya!”
ucap Al setelah melihat anak-anak yang sedang bermain di lapangan satu persatu
mulai meninggalkan lapangan. Matahari pun sudah mulai tenggelam di ufuk barat,
menyisakan cahaya orange yang siap melukis langit dengan keindahan warnanya.
Setelah ajeng menyetujuinya, Al
pun segera menyalakan kembali mesin motornya. Jarak rumah dan lapangan yang ada
di seberang sawah tidak terlalu jauh. lapangan itu sebenarnya tanah bengkok
milik perangkat Desa yang sengaja di alih fungsikan menjadi lapangan Desa agar
anak-anak di Desa itu tidak kesulitan mencari tempat bermain.
“Mas …, mas …!” saat hendak
menjalankan motornya, tiba-tiba seorang anak menghampiri mereka. Ia membawa
sesuatu di tangannya. Al pun kembali mematikan mesin motornya.
“Darto …., ada apa?” Tanya Ajeng
yang ternyata sudah mengenal anak itu, rumahnya berada di sebelah rumah mereka.
“Mas Al mau ini nggak?” Tanya
anak yang bernama Darto itu sambil mengacungkan serentenmg belut di tangannya.
Al pun memegangnya, ia seperti berusaha mengingat nama benda itu.
“Ini apa dek?” Tanya al yang
ternyata tidak bisa mengingat namanya.
“Iki nganu mas, welut [ini nganu
mas, belut]!”
“dapat dari mana?”
“Dari mincing mas, kalau mas Al
mau, Darto kasih yang satu renteng ini!”
“Nggak pa pa?”
“Nggak pa pa mas Al, besok aku
mincing lagi!”
“kalau gitu besok mas ikut ya,
boleh kan?”
“boleh dong mas!”
Anak itu tetap memaksa Al untuk
menerimanya. Beberapa hari di rumah mertuanya membuatnya mengenal banyak orang
termasuk anak yang bernama Darto itu, mereka sering berangkat dan pulang bareng
saat ke masjid. Al begitu senang mendapatkan belut, ia segera membawa belut itu
ke dapur saatsudah sampai di rumah. Ia tidak membiarkan Ajeng melakukan apapun,
ia sendiri yang sibuk memasak belut-belut itu untuk makan malam.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘❤️❤️