Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Jalan-jalan [berdua]


__ADS_3

   



     


    . Semakin lama Al semakin lihai


memainkan cangkul. Ajeng benar-benar di buat terkesima, ia tidak menyangka


orang seperti Al yang biasanya sangat tegas dengan anak buahnya itu bisa


melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bahkan tak terbayangkan sebelumnya. Ajeng


duduk di gubuk yang biasa di gunakan untuk beristirahat makan siang. Ia masih


terkesima memperhatikan dua pria yang begitu ia cintai itu, bapak dan suaminya.


            “Nak …., ayo makan siang disek!”


ajak pak Darman, si pembajak sawah sudah lebih dulu beristirahat di gunung


tempat Ajeng duduk.


            “Nggeh pak!”


Al pun segera minggir dari tengah


sawah, ia sudah sangat lapar. Nggak nyangka ternyata       melakukan pekerjaan yang menguras tenaga seperti ini membuat ia


cepat lapar. Kulit Al yang putih tampak memerah karena terkena sinar matahari,


lumpur juga bertebaran di sekujur tubuh dan wajah Al. ajeng yang melihatnya


segera menghampiri suaminya itu, ia mengambil sapu tangan dan mengelap wajah


suaminya.


“kan jadi kotor mas!” ucap Ajeng


sambil terus menatap suaminya itu, al segera menggenggam pergelangan tangan


istrinya. Mencium tangan istrinya.


“jangan merasa bersalah seperti


itu, aku suka melakukannya. Biarkan ini menjadi ibadahku!” ucap Al dengan penuh


cinta.


Mereka pun segera makan siang, Al


mudah sekali membaur dengan orang-orang di desa ajeng. Ia begitu nyambung saat


berbincang dengan pak pembajak sawah yang sebelumnya belum pernah kenal.


Setelah makan siang mereka kembali dengan pekerjaannya. Tapi pak Darma meminta


Al untuk pulang terlebih dulu karena sudah hampir selesai. Lagi pula waktu


sholat dhuhur sudah hampir berlalu. Pak darman harus membereskan semua dulu


baru pulang, ia biasanya akan mandi di sungai dan melaksanakan sholat di sawah.


Lagi-lagi Al mengambil barang


bawaan Ajeng, ia juga melarang Ajeng melakukan apapun di sawah jadi selama di


sawah ajeng hanya di ijinkan untuk duduk saja dan melihat. Al tidak suka di


bantah.


Sesampai di rumah Al segera mandi


dan mereka melaksanakan sholat dhuhur berjama’ah di kamar yang di sulap menjadi


tempat sholat. Jadi di dalam kamar yang luasnya 3x3 meter itu hanya berisi


lemari kecil tempat menaruh mukena, sajadah dan al-Qur’an.


“Mau jalan-jalan?’ Tanya al


setelah menyelesaikan sholat dan berdoanya, ia melipat sarung dan melepas


kopiahnya.


“Emang mas al nggak capek?”


“Asalkan terus sama kamu, rasa capek


ini hilang seketika!”


“Jangan maksa mas …!”


“Nggak sayang …, aku Cuma pengen


suatu saat nanti jika aku tidak bisa nemenin kamu, kamu masih punya kenangan


yang manis bersamaku!”

__ADS_1


“Mas …..! kok ngomongnya kayak


gitu? Emang mas Al mau ke mana?” protes Ajeng, ia tidak suka al mengatakan


yang tidak-tidak seperti itu.


“Ya kan siapa yang tahu tentang


kehidupan. Gimana? Mau ya?”


“Baiklah …, ayo …!”


Akhirnya Ajeng bersedia di ajak


jalan-jalan. Bukan jalan-jalan yang jauh dan mewah, mereka hanya jalan-jalan


keliling kampung naik motor. Ajeng melingkarkan tangannya di perut suaminya,


menikmati pemandangan sore di pedesaan sunggung menyenangkan, tidak ada polusi


ataupun kebisingan, yang ada hanya suara binatang yang saling bersahutan, kodok


di sawah, cenggeret di pohon kelapa, burung-burung yang terbang menuju ke


sarangnya, sayup-sayup angina yang menggoyangkan batang padi nan hijau seperti


karpet yang bergerak, cahaya mentari sore yang tidak begitu menyengat membakar


kulit dan yang paling istimewa adalah sekumpulan anak-anak yang sedang asik


bermain di lapangan.


“Sebentar lagi ramadhan,


bagaimana kalau kita ramadhannya di sini?” Tanya Al sambil duduk di atas motor,


mereka menikmati pemandangan dengan duduk di atas motor.


“Mas Al nggak ngipi kan? Beneran


mau ramadhanan di sini?” Tanya Ajeng tidak percaya. Suaminya yang termasuk


dalam golongan manusia modern bisa begitu betah di kampung.


“Ya nggak lah dek, mas Cuma


ngrasa kalau kita di kampung, hati kita akan lebih tenang. Kita bisa fokus


dengan ibadah kita!”


“Lalu pekerjaan mas Al?”


“Kan sudah ada yang handle, lagi


“Tapi kasihan dika-nya mas!”


“Memang Dika kenapa?”


“kalau mas terus-terusan ngasih


pekerjaan kapan Dika nikahnya?”


“Dia masih terlalu muda, belum


waktunya menikah!”


“Tapi kan aku seumuran sama Dika,


apa bedanya?”


“Bedanya Dika itu cowok, jadi


sudah kewajiban cowok menghidupi istrinya kelak, jadi sangat penting baginya


untuk bisa matang dan bertanggung jawab!”


“Mas Al dulu juga gitu ya?” Tanya


Ajeng begitu penasaran.


“Tentu …., semuanya butuh proses


Dek. Mas nggak tiba-tiba sukses begini! Ada kalanya mas berada di fase paling


bawah! Dan taukan kamu dek apa yang sudah membuatku bangkit kembali?”


“Apa?”


“kamu ….!”


“Aku?”


“Ya …, setiap kali mengingatmu,


mengingat jika aku harus pantas untuk mendapatkanmu dan menjadi pendampingmu,


aku kembali bangkit dan berusaha lebih keras lagi!”


Mendengarkan ucapan suaminya, ia

__ADS_1


begitu terharu. Ajeng memeluk erat lengan suaminya menyandarkan kepalanya di


pundak suaminya, mencium telapak tangan suaminya dengan penuh cinta.


“terimakasih karena telah


menjadikan aku halal bagimu, terimakasih karena telah bersabar untuk


mencintaiku, terimakasih kerana telah begitu besar emncintai hati yang begitu


kecil ini, rasanya tidak akan cukup rasa cintaku membalas semua cinta yang


telahmas berikan untukku!”


Al tersenyum, ia mengusap rambut


Ajeng dan mengecupnya di puncak kepala ajeng dengan penuh cinta. Ia seakan


ingin menghujani wanita yang telah menjadi istrinya dengan begitu banyak cinta


yang bahkan siapapun tidak akan pernah bisa menandingin cintanya.


“Sudah sore …, kita pulang ya!”


ucap Al setelah melihat anak-anak yang sedang bermain di lapangan satu persatu


mulai meninggalkan lapangan. Matahari pun sudah mulai tenggelam di ufuk barat,


menyisakan cahaya orange yang siap melukis langit dengan keindahan warnanya.


Setelah ajeng menyetujuinya, Al


pun segera menyalakan kembali mesin motornya. Jarak rumah dan lapangan yang ada


di seberang sawah tidak terlalu jauh. lapangan itu sebenarnya tanah bengkok


milik perangkat Desa yang sengaja di alih fungsikan menjadi lapangan Desa agar


anak-anak di Desa itu tidak kesulitan mencari tempat bermain.


“Mas …, mas …!” saat hendak


menjalankan motornya, tiba-tiba seorang anak menghampiri mereka. Ia membawa


sesuatu di tangannya. Al pun kembali mematikan mesin motornya.


“Darto …., ada apa?” Tanya Ajeng


yang ternyata sudah mengenal anak itu, rumahnya berada di sebelah rumah mereka.


“Mas Al mau ini nggak?” Tanya


anak yang bernama Darto itu sambil mengacungkan serentenmg belut di tangannya.


Al pun memegangnya, ia seperti berusaha mengingat nama benda itu.


“Ini apa dek?” Tanya al yang


ternyata tidak bisa mengingat namanya.


“Iki nganu mas, welut [ini nganu


mas, belut]!”


“dapat dari mana?”


“Dari mincing mas, kalau mas Al


mau, Darto kasih yang satu renteng ini!”


“Nggak pa pa?”


“Nggak pa pa mas Al, besok aku


mincing lagi!”


“kalau gitu besok mas ikut ya,


boleh kan?”


“boleh dong mas!”


Anak itu tetap memaksa Al untuk


menerimanya. Beberapa hari di rumah mertuanya membuatnya mengenal banyak orang


termasuk anak yang bernama Darto itu, mereka sering berangkat dan pulang bareng


saat ke masjid. Al begitu senang mendapatkan belut, ia segera membawa belut itu


ke dapur saatsudah sampai di rumah. Ia tidak membiarkan Ajeng melakukan apapun,


ia sendiri yang sibuk memasak belut-belut itu untuk makan malam.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘❤️❤️


__ADS_2