Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
S2- 1


__ADS_3

Berita tentang kembalinya Edward menjadi perbincangan hangat di dalam tubuh anggota GL maupun DQ. Mereka tentu saja tidak percaya karena mustahil orang mati bisa hidup kembali. Malam ini sebagian dari mereka sengaja berkumpul di halaman depan rumah Aurora menunggu kedatangan orang yang sedang menjadi topik hangat saat ini.


Yudha yang mendengar berita itu langsung mencari putranya untuk meminta penjelasan, tapi sayangnya anak itu hanya menaikkan bahunya acuh. Dia enggan menjelaskan pada ayahnya. Menyebalkan sekali pikirnya.


Pria itu duduk menopang dagu. Berkali-kali melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, entah sudah berapa lama pria itu duduk disana.


Suara seorang perempuan tiba-tiba mengejutkan dengan suara melengkingnya. Yudha langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendapati gadis yang akan segera menikah itu berdiri didepan pintu. Ia terbelalak tak percaya.


"Melly?" gumam Yudha tanpa sadar.


Amelia acuh. Ia tetap memanggil Aurora dengan suara lantangnya. Ia begitu penasaran dengan gosip yang ia dengar. Ia ingin membuktikannya sendiri. Apa benar kakak laki-lakinya masih hidup. Jika benar, ini akan menjadi kado pernikahan yang paling membahagiakan untuknya.


"Kakak! Kakak ipar!"


Brian dan Selly segera menuruni anak tangga begitu mendengar suara Amelia datang berkunjung. Mereka tidak ingin Amelia membuat gaduh dan membangunkan Al dan El yang baru saja tidur.


"Tante, mommy belum pulang."


"Belum pulang? Jam segini?"


Amelia langsung menarik tangan Brian dan membawa anak itu ke salah satu kamar di lantai satu. Gadis itu menatap penuh selidik dan menuntut jawaban jujur dari anak itu.


"Brian. Apa benar yang dikatakan Kakek dan nenek. Apa benar daddy Edward masih hidup dan selama ini tinggal bersama kalian. Katakan! apa yang sudah terjadi dirumah ini dan yang tidak tante tau. Kenapa kamu juga tidak memberi tahu tante."


Brian meenghempaskan tubuhnya di ranjang. Pusing mendengar banyak pertanyaan Amelia yang sudah seperti gerbong lokomotif saja.


"Brian! Ck." Amelia menarik tangan Brian agar duduk dengan benar. Apa tidak tahu jika dirinya begitu penasaran.


"Aku tidak tahu apapun tante. Aku nggak tau. Kalau kata kekek dan nenek seperti itu, mungkin juga benar adanya." jawab Brian malas.


"Tidak mungkin kamu tidak tahu." Amelia menggeleng tak percaya.


Brian menaikkan bahunya acuh dan hal itu membuat Amelia begitu geram hingga gadis itu ingin sekali menabok kepalanya. Entah kenapa Brian semakin besar semakin menyebalkan saja.


"Tante bisa tanya mommy jika sudah sampai. Aku masih ada sedikit pekerjaan. Tante Amel bisa menginap di sini atau di lantai atas. Kalau mau menjenguk adik Al dan El, sebaiknya besok saja. Mereka baru saja tidur."


Setelah mengatakan itu, Brian beranjak dari duduknya dan melangkah keluar. Disana ia mendapati ayahnya yang sedang berbincang dengan Selly, entah apa yang mereka bicarakan.


Deru helikopter terdengar bergemuruh di helipad. Aurora yang turun bersama Edward ingin segera menemui dua putranya yang sudah lebih dahulu tiba.


Baru saja pintu lift terbuka, mereka berdua dikejutkan dengan banyak orang yang sedang berada didalam rumahnya, ada apa pikirnya.

__ADS_1


"Queen." Sapa mereka.


Aurora mengangguk.


"Ada apa, kenapa semua berkumpul disini. Siapa yang mengumpulkan kalian." Tanya Aurora penuh selidik.


"Kami ingin bertemu King Leon, Queen. Benarkah beliau masih hidup." ujar salah satu anggota GL dan mereka mengangguk membenarkan.


Aurora sedikit melirik Edward yang masih mengenakan topeng sintetisnya. Pria itu terlihat hanya diam dan seperti tak ingin menjelaskan hal itu lebih lanjut.


"Benar."


Mereka saling menatap kawan kawannya, takut jika ternyata salah dengar.


"Sebaiknya kalian kembali. Tunggu saja di markas untuk konfirmasi selanjutnya. Aku tak bisa menjelaskan apapun saat ini. Aku harap kalian semua mengerti keadaanku."


Setelah mengatakan itu, Aurora bersama Edward melenggang meninggalkan sekumpulan manusia yang menatapnya dengan pandangan yang entahlah. Perasaan bahagia dan penasaran tentu saja masih menyelimuti hati mereka. Apa boleh buat, Aurora pun masih lelah dan mereka memaklumi hal itu.


"Kakak." Amelia tiba-tiba memeluk Aurora.


"Apa kakak ipar baik-baik saja? Kenapa jam segini baru tiba."


"Aku baik-baik saja. Kamu ingin bertemu Kak Edward bukan? Sebaiknya besok saja."


"Tentu saja bisa. Kakakmu memang belum meninggal. Jika sudah meninggal, mustahil jika bisa hidup kembali." Aurora tersenyum lembut.


"Menginaplah. Besok kita bicarakan lagi. Aku mau melihat keadaan ALEL."


"Tapi,.."


"Kakak lelah adik manis."


"Baiklah. Selamat istirahat Kak. Biarkan aku penasaran seorang diri." Amelia mencebikkan bibirnya.


Edward yang mendengarnya tersenyum kecil. Ia tak menyangka jika adiknya masih seperti terakhir kali yang ia ingat. Pria itu mengusap puncak kepala Amelia dan berlalu pergi bersama Aurora.


Syok. Amelia bahkan melongo mendapat usapan seperti itu. Memangnya siapa dia, beraninya melakukan hal itu padanya.


Aurora tersenyum ketika melihat dua putranya tidur dengan wajah damai. Dikecupnya pelan dahi mereka bergantian lalu duduk ditepi ranjang.


"Maafkan mommy, mom datang terlambat menjemput kalian. Apa kalian baik-baik saja."

__ADS_1


"Kami baik-baik saja mom." Al membuka matanya perlahan. Anak itu terbangun sejak Aurora mengecup0 dahinya.


"Ah, maaf. Mommy sudah menganggu tidurmu."


Al menggeleng. Anak itu kemudian menatap Edward yang berdiri di belakang tubuh Aurora. Ia merasa lega, karena daddynya terlihat baik baik saja sama seperti mommynya.


"Daddy. Bolehkah aku meminta satu hal?"


Edward menaikkan dua alisnya. Pria itu melirik Aurora yang memberi kode untuk mengabulkan permintaan putranya.


"Apa itu. Jika permintaanmu masuk akal, dad pasti akan melakukannya untukmu."


"Tolong jangan bunuh pria besar itu. Hanya dia yang baik saat kami di sekap."


"Daddy tidak mengampuni musuh. Daddy tidak seperti mommy mu yang bisa melepaskan mereka begitu saja. Mereka tetap harus dihukum."


Aldevaro langsung terdiam, tidak berani membantah ataupun menyanggah. Takut, tentu saja.


"Sayang, memang apa yang sudah mereka lakukan pada kalian hingga kamu begitu membelanya. Tidakkah kamu tau, jika mereka adalah kelompok paling berbahaya? Mereka itu musuh kita." ujar Aurora memberi pengertian.


"Bukankah memaafkan jauh lebih baik mom? Mom yang sudah ajarkan pada kami. Nyatanya ayah kak Brian juga tidak berhianat. Dia malah bekerja dengan mommy."


Skak!


Aurora membisu. Sepertinya ia telah salah dalam memberi pengertian putranya.


"Serahkan semua pada daddy. Kamu percaya bukan? Daddy Edward akan melakukan yang terbaik untuk kita. Jangan pikirkan apapun dan tidurlah. Besok kita akan menemui banyak tamu yang ingin menjenguk kalian. Oke boy."


"Baiklah. Kami akan percaya. Mom pasti akan mempertimbangkan permintaanku. Sejauh ini, mom belum pernah mengecewakan kami. Terima kasih mom. Good nite."


Aurora hanya tersenyum kecil. Ia tidak tau bagaimana Edward akan melakukan aksinya, semoga saja pria itu mendengar permintaan putranya. Ia jadi penasaran, siapa yang disebut pria besar oleh putranya itu. Mungkin besok ia harus ke markas untuk melihatnya sendiri.


.


.


.


######


..."Wkwkw.. Maaf baru bisa up lagi. Menuju hari ini memang benar-benar menguras energi, waktu dan pikiran. Terima kasih untuk yang masih stay bersamaku sampai detik ini. Aku pribadi minta maaf yang sebesar besarnya jika ada silap kata yang mungkin tak sengaja terucap. Selamat hari raya Idul Fitri. Minal Aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin."...

__ADS_1


...-Ariez Aprileo-...



__ADS_2