Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
S2-8


__ADS_3

Edward meraih sebuah foto yang ditinggalkan Morgan, sesaat setelah pria itu pergi meninggalkan mansion Tuan Erick. Ditatapnya lekat wajah anak kecil itu, yang seperti mirip seseorang. Nama Wolfin memang tidak asing ditelinganya, tapi mungkinkah pria yang dimaksud adalah Wolfin yang membantunya di Honduras waktu lalu? hati kecilnya bertanya tanya.


"Ada apa?" tanya Alex.


Edward mengulurkan lembar foto itu. Ia kehilangan sebagian memorinya, jadi tak mungkin ia mengingat masa kecilnya. Jika anak itu memang Wolfin, Alex pasti mengenalinya.


"Sudah aku duga." Itu adalah jawaban Alex yang membuat Edward mengerutkan dahi. Benarkah? Dunia ini sempit sekali pikirnya.


"Dia memang Wolf. Aku baru tau jika dia ternyata punya kakak. Yang aku tahu, dia dulunya diadopsi dari panti asuhan oleh teman ayahku. Ck. Apa kita juga yang harus menyelesaikan semua ini."


Alex mengacak rambutnya frustasi. Masalahnya saja belum usai, kenapa harus ada masalah orang lain. Menyebalkan sekali.


"Biarkan saja. Urus saja dulu keluargamu. Satu persatu masalah pasti akan selesai dengan sendirinya. Jika tidak selesai, waktu yang akan menyelesaikannya. Kapan kamu akan menjenguk istrimu."


Alex menyandarkan tubuhnya disofa. Diraihnya benda pipih yang sedari kemarin ia nonaktifkan. Banyak pesan yang masuk, tapi ia lebih memilih membaca pesan dari mertuanya. Ia hanya ingin melihat perkembangan terbaru kasus Zanita.


"Dia sudah punya banyak pengacara yang mengawalnya."


Edward menaikkan dua alisnya. Apa maksudnya coba.


"Apa kamu tidak berniat mengunjunginya Lex?"


"Lebih penting mencari putraku. Terimakasih sudah menyewakan pengacara." kata Alex yang masih men-scroll ponselnya.


"Bukan aku, tapi Aurora. Dia juga yang menghapus video itu dari situs gelap." beritahu Edward.


"Ah ya, terimakasih." Jawab Alex datar.


"Apa ada yang kamu sembunyikan dariku Lex."


Alex langsung meletakkan ponselnya. Pria itu menatap lekat netra Edward yang memang sedang membutuhkan jawaban darinya.


"Instingku mengatakan jika rentetan kejadian yang menimpa keluargaku berkaitan dengan salah satu tahanan kita. Darius."

__ADS_1


Alex kemudian menceritakan kronologi ancaman yang diterimanya saat berada di Jepang hingga surat yang ditemukan ayah mertuanya.


Edward yang mendengarnya sampai memundurkan tubuhnya. Bagaimana bisa ada kejadian seperti itu, tapi dia tidak tahu apapun.


"Harusnya kamu habisi sejak dulu." komentar Edward. Dia sudah tahu jika pria yang bernama Darius itu yang menyebabkan dirinya kecelakaan. Ia sampai tak habis pikir dengannya, bagaimana bisa mencelakai orang sampai sekeji itu. Viona, wanita itu adalah awal mula tragedi dan serentetan peristiwa waktu itu. Itu yang menyebabkan dirinya tak menyukai Kenta. Jika bukan karena ia mencintai Aurora, mungkin ia akan menghabisi wanita gila itu dengan tangannya sendiri.


"Istrimu tak menghendaki aku untuk menghabisinya. Mungkin saja dia juga akan segera dibebaskan seperti Yudha."


Edward tak bisa berkata-kata. Wanita itu entah apa maunya.


Ditengah pembicaraan mereka berdua, tiba-tiba terdengar suara kegaduhan di luar mansion. Suara itu rupanya berasal dari erangan Tuan Erick yang tiba-tiba dilempar keluar dari sebuah mobil SUV.


Anggota GL yang mengetahui jika pria itu adalah ayah Alex bergegas membantunya, walau sebagian dari mereka terlihat jijik akan kondisi Tuan Erick.


Benar yang dikatakan Morgan, pria itu sudah seperti monster. Kulitnya dipenuhi bentolan yang berisi darah dan nanah. Entah apa yang sudah terjadi padanya.


"Apa yang terjadi!"


"Hubungi dokter Rian! minta dia membawa dokter spesialis kulit!" seru Alex lantang.


Setelah mengatakan itu, pria itu membimbing tuan Erik untuk masuk ke dalam. Dibaringkannya tubuh pria tua itu diranjang tempat tidurnya.


"Alex maafkan ayah." lirihnya


"Bukan padaku! tapi pada keluarga Edlyn. Kau memalukan. Jika saja kamu bukan ayah ku, mungkin waktu itu kamu sudah tiada. Harusnya yang mati itu bukan mama, tapi kamu."


"Kamu membunuh mama hah! Ayah macam apa kamu itu." lanjut Alex.


Tuan Erik bungkam. Sakit disekujur tubuhnya membuatnya tak berdaya.


"Kita bicarakan nanti setelah diperiksa. Jangan coba-coba kabur." ujar Alex sebelum pria itu menghilang dari balik pintu.


Alex memutuskan untuk duduk di sofa yang sedari tadi ditempati dan meminta anggota GL untuk mengawasi ayahnya. Pria itu tidak ingin ada kejadian yang tidak diinginkan lagi.

__ADS_1


Menghisap rokok dan mengepulkannya ke udara adalah jalan satu satunya menenangkan pikiran. Terbukti, pria itu terlihat lebih tenang dengan masalah yang menimpanya hingga Dokter Rian dan rekannya datang untuk memeriksa keadaan Tuan Erik.


Dapat ia dengar suara keterkejutan dokter Rian, tapi itu juga tak membuatnya bangkit dari duduknya. Pikirnya, ia juga tidak bisa menjelaskan apapun padanya bukan.


Edward yang melihat Alex acuh, menghela nafasnya pelan. Ia juga tidak bisa berbuat apapun saat ini.


"Pasien harus dibawa ke rumah sakit. Tuan Erik harus segera mendapatkan penanganan yang lebih baik." ujar dokter Rian yang terlihat gusar.


Alex memicingkan mata mendengarnya. Batinnya bertanya, apa tidak bisa alat alat itu dibawa ke rumah. Pria itu melirik Edward untuk memberikan akses untuk itu.


"Apa yang kamu persulitkan. Bawa saja apa yang dibutuhkan pasien ke rumah. Disini lebih aman dan mudah mengawasinya. Lagi pula aku tidak ingin mendengar orang menggunjing tentang penyakit Tuan Erick. Apa analisamu saat ini. Apa masih bisa disembuhkan." tanya Edward santai menanggapi kekhawatiran dokter Rian.


"Saya rasa racunnya sudah mulai menyebar luas. Tuan Erik perlu melakukan cuci darah sampai markas menyelesaikan pembuatan anti racunnya. Jika tidak, ini akan memperparah kondisi pasien. Jika perawatan itu dilakukan di rumah sakit, kami para tim dokter akan dengan mudah mengobservasi pasien, walau di rumah juga bisa, tapi disana jauh lebih baik." ungkap dokter Rian.


Edward hanya mengangguk mendengarkan. Tangannya malah sibuk menekan panggilan. Ya, pria itu rupanya sedang menghubungi Wolf untuk bisa datang berkunjung ke Indonesia. Dari pada repot harus membuat serum penawar, lebih baik mempertemukan kakak beradik itu bukan.


"Bawa saja kemari apa yang dibutuhkan. Ayah akan melakukan perawatan di rumah saja. Aku pikir kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Terimakasih atas bantuannya." ujar Alex datar.


Dokter Rian hanya bisa mengangguk dan berangsur menghilang dari pandangan. Pria itu langsung mengintuksi rekan sejawatnya untuk melakukan prosedur sebagaimana mestinya.


Edward tersenyum simpul usai melakukan panggilan. Pria itu rupanya sedang merencanakan sesuatu pada Morgan sebagai pembalasan dendam. Memangnya semudah itu berurusan dengannya. Tidak semudah itu ferguso.


Bukan salahnya jika ia akan memberi pelajaran, Morgan yang lebih dulu memulai perang ini. Memangnya dia pikir, mencari dan melacak keberadaan Tuan Erick tidak membutuhkan waktu, tenaga dan uangnya.


"Hem, tunggu pembalasan ku. Sekali mengusik kami, jangan berpikir akan lepas begitu saja. Aku bukan Edward yang dulu, aku bahkan bisa lebih kejam dari ini."


.


.


.


######

__ADS_1


__ADS_2