
Seorang wanita duduk seorang diri menekuk lutut diatas lantai yang dingin dengan tangan terkepal penuh dendam menatap nyalang dua manusia yang baru saja hadir didepannya.
Dua orang itu saling melirik dan tersenyum licik menatap madam Yora dari luar jeruji tahanan.
"Bagaimana kabarmu Madam Yora. Apa disini menyenangkan."
Aurora yang pertama kali menyapa wanita licik itu. Bersedekap dada dan berwajah penuh ejekan.
Tak menjawab. Madam Yora memilih memalingkan muka ketika mendengar derit pintu terbuka kembali. Terlihat disana, Alex sedang membawa tali kendali si Leon dan berjalan beriringan bersamanya.
Leon si singa jantan berderam ketika melihat ada manusia lain yang dilihatnya.
Alex berjongkok dan menepuk kepalanya. Entah apa yang dikatakan pria itu, tapi tiba-tiba saja hewan buas itu berlari dan menerkam Edward yang berdiri disamping Aurora.
"Wow!"
Tubuh Edward terjerembab kebelakang karena terkejut dan tak siap dengan serangan binatang buas itu.
Aurora yang melihat itu menjerit ketakutan melihat suaminya bersusah payah mengalahkan binatang itu. Wanita itu meminta bantuan Alex, tapi pria itu juga diam saja. Mengesalkan sekali pikirnya. Apa dia ingin suaminya mati.
"Hentikan atau aku tembak kepalamu Leon!" bentak Aurora sembari mengacungkan pistol dan bersiap menekan pelatuknya. Ia merasa kasian melihat Edward yang mulai terkena cakaran binatang itu.
Leon mengaum dan meletakkan kepalanya diatas dada Edward dengan wajah malasnya. Binatang itu enggan beranjak dan tidak menurut ketika Alex mulai memanggilnya.
"Maafkan aku. Aku pergi terlalu lama. Apa kamu merindukanku." Edward mengusap kepala binatang itu dengan sayang.
Leon bangkit dan menatap Edward dengan mata hunter-nya.
Aurora yang melihat itu terbeliak, khawatir jika Leon akan menyerang suaminya lagi. Wanita itu bersiap dengan pistol yang siap memuntahkan pelurunya.
Roarrhh,..
"No!"
Jika Aurora tampak khawatir, tidak bagi Alex. Pria itu malah memijit pelipisnya. Pusing kenapa bisa hewan itu berdrama layaknya manusia.
Bukan ingin menerkam, tapi Leon malah menjilati wajah Edward yang sedikit mengeluarkan darah akibat serangan darinya. Untung saja saat hendak menemui madam Yora, pria itu kembali mengenakan topeng sintetisnya.
Edward duduk dan melepaskan topeng wajahnya. Pria itu menciumi binatang kesayangannya.
"Gara gara kamu, topengku rusak." keluh Edward seraya berdiri dan menghampiri istrinya yang masih menampakkan raut khawatir.
"Kamu nggak apa? Ayo kita obati lukamu."
"Aku sepertinya sudah tidak bisa menyembunyikan wajah asliku. Apa kamu sedih, wajah Felix sudah tidak ada hem."
"Apa yang kamu katakan. Aku mencintai Edward, bukan Felix."
__ADS_1
Aurora memalingkan muka.
"Baiklah, kita sudahi drama ini. Mungkin sudah saatnya dunia mengenalku kembali. Kita beri pelajaran orang-orang yang telah bermain dengan kita. Apa kamu setuju sayang."
"Hem." Aurora mengangguk saja. Ia juga sudah lelah menyembunyikan ini semua.
Bagaimana dengan madam Yora yang melihat adegan drama didepannya? Tentu saja wanita itu terkejut, bahkan mungkin sampai menahan nafasnya.
Bagaimana mungkin ini semua terjadi. Padahal sudah ia usahakan sebaik mungkin. Ia tidak pernah bertindak seceroboh ini.
"Ada apa dengan wajahmu Yora. Wajahmu menghitam." sindir Edward yang kembali fokus pada wanita itu. Ah, gara-gara Alex, sampai lupa pada mainannya.
"Ka..Kau.."
"Ya. Aku Edward Felix Edlyn."
Madam Yora terkesiap, tapi tiba-tiba wanita itu tertawa hambar.
Aurora dan Edward saling melirik dengan tatapan penuh rahasia. Dua orang itu mengangguk seolah setuju dan sepemikiran.
"Jadi anak ja*ang itu masih hidup?"
Ha ha ha
"Dengar! Harusnya aku yang menyandang gelar Edlyn. Bukan ibumu yang ja*ang itu! Dia hanya sampah! Sampah yang merebut calon suamiku!"
Cinta membuat orang sampai hilang akal mungkin ada benarnya. Entah ini karma atau sebuah kutukan. Ujian keluarga terhormat seperti mereka adalah mengalami cinta bersegi segi.
"Apa alasanmu mengganggu keluargaku." tanya Edward datar. Pria itu tampaknya masih memilih meredam emosinya.
"Apa menurutmu tindakanku salah he. Apa menurutmu menuntut keadilan itu salah!"
Edward diam saja. Entah keadilan yang seperti apa keadilan yang dia maksud, ia sendiri juga masih belum paham.
"Tidak salah jika jalurnya benar. Lalu apa masalahnya dengan kami. Bukankah kita sebelumnya hanya terikat hubungan jual beli. Lalu masalahnya ada dimana. Kenapa kamu mencelakai keluarga kami." Aurora ikut menimpali pembicaraan.
"Karena kalian bagian darinya! Ayahmu! Si brengsek itu!" Madam Yora menunjuk Edward geram.
"Dia sudah membuang dan mencampakkanku begitu saja setelah mendapat kesucianku. Memanipulasiku dan menghancurkan perusahaan keluargaku. Setelah bisa menguasai semua, bedebah itu malah menikahi wanita sialan itu! Ngaca! Memangnya harta darimana ayahmu bisa membangun perusahaan hingga sebesar itu! uang keluargaku tolol!"
Menahan geram ketika marah sudah berada diubun-ubun. Edward masih ingin mendengar sampai sejauh mana wanita itu berbicara omong kosong.
"Kalian semua bodoh! bodoh! bodoh! Aku bahkan sudah merencanakan semua ini sedari kalian kecil! Hehe, kalian tidak sadar ya. Tentu saja tidak sadar, karena aku menggunakan keluarga mu untuk melancarkan misi balas dendamku. Kalian pasti tau siapa?" Madam Yora menaikkan sebelah alisnya. Wanita itu menatap Alex yang diam mematung. Pria itu menyadari jika yang dimaksud adalah ayahnya.
"Ericxander."
Sekali lagi madam Yora tertawa hambar. Entah apa yang ditertawakan, padahal tidak lucu sama sekali.
__ADS_1
"Ayahmu juga bodoh! Mau saja selama ini aku manfaatkan. Cinta. Bulshit!"
Alex mengepalkan tangan mendengar itu. Ingin sekali pria itu memberi bogem mentah pada wanita yang tak takut itu, tapi Edward memberikan kode padanya untuk tetap tenang. Sial sekali.
"Katakan apa lagi yang sudah kamu lakukan pada kami." tanya Edward datar.
"Apa dengan aku mengatakan, kamu akan membebaskanku?" Madam Yora tersenyum licik.
"Tentu saja." jawab Edward enteng.
Aurora dan Alex melirik Edward untuk melihat mimik wajahnya. Benarkah yang baru saja mereka dengar. Konyol sekali jika itu benar terjadi.
"Terdengar aneh ditelingaku. Tak apa, berikan aku makanan dan minuman terbaik untukku dulu. Aku lapar. Aku tidak suka makanan menjijikkan itu."
Aurora menghela nafas. Kenapa jadi seperti ini. Bisa bisanya tawanan berlaku seperti itu. Edward juga, kenapa pria itu tidak bisa tegas seperti sebelumnya.
"Keluarkan aku dari sini! Aku tidak suka tempat ini!"
"Jangan coba-coba berlagak seperti ratu di sini. Jika suamiku mau, sudah lama kamu disiksa sampai mati. Kamu belum tau saja kekejamannya." ancam Aurora.
Madam Yora terkekeh mendengar Aurora.
"Ah, aku lupa jika kamu ratunya. Dark Queen benar? Ha ha.. Harusnya aku tak melepaskanmu saat itu. Ternyata kamu tikus pengerat setelah menjadi besar." ujar madam Yora.
"Jangan bilang kamu yang merencanakan penculikanku waktu itu!" tuding Aurora.
"Benar!"
Aurora menggeram. Matanya menyalang marah.
"Leon! Masuk dan habisi wanita gila itu! Kuliti dia dan sisakan kepalanya!" perintah Aurora.
Binatang yang sedari tadi duduk tenang langsung berdiri dan mengaum seakan tau apa yang harus dilakukannya.
Roarrhh...
"Jangan coba-coba melukaiku, atau kamu tidak akan bertemu saudara tirimu!" teriak madam Yora panik.
"Sial! wanita itu punya banyak rahasia. Aku tidak akan mengampunimu setelah aku mendapatkan. Tunggu pembalasanku." batin Aurora geram.
.
.
.
######
__ADS_1