
Sesampai di Blitar, Dika
langsung menuju ke rumah sakit tempat Ajeng di rawat, ia sampai sudah tengah
malam. Dika melihat abangnya menemani ajeng di ruangannya, mereka sudah
tertidur. Dika pun memutuskan untuk tidur di luar ruangan agar tidak mengganggu
mereka, ia tidur di kursi tunggu yang berbahan besi itu, berbantal tas
ranselnya.
“Dik …, Dik …!” Dika
merasakan tubuhnya di goyang-goyang oleh seseorang, walaupun berat ia berusaha
untuk membuka matanya, sangat silau. Ia mengucek matanya mencoba menyesuaikan
dengan cahaya ruangan.
“Bangun Dik, sudah waktunya
sholat subuh!” Dika hafal betul suara siapa itu. Perasaan ia baru saja
memejamkan matanya, ternyata sudah pagi saja, hawa dingin yang menyelimuti
tubuhnya membuatnya enggan untuk bangun.
“bentar ya bang! Masih
ngantuk!”
“Panggilan Allah jangan di
tunda!”
Dika pun dengan terpaksa
segera bangun dari tidurnya, jika tidak bangun abangnya pasti akan bersikeras
mengajaknya bangun. Lebih baik bangun sholat lalu melanjutkan tidurnya.
Walaupun dnegan mata yang masih terbuka setengah, dika mengikuti langkah
abangnya menuju ke mushola rumah sakit.
Rencanannya untuk tidur lagi
sepertinya ia urungkan. Setelah mendapat siraman dari air wudhu rasa ngantuk nya
hilang sudah. Mereka melaksanakan sholat berjama’ah. Setelah selesai solat,
Dika menunggu abangnya yang sedang berdo’a dengan duduk di teras mushola.
“Lama banget sih bang Al nih,
emang apa sih yang di minta!” gerutu Dika yang sudah mulai merasa bosan,
matahari pun cahayanya mulai mencapai bumi, gelap itu lama-lama menghilang
berganti dengan nyanyian para burung.
Dika memilih meregangkan
otot-ototnya yang terasa kaku karena lamanya dalam perjalanan, walaupun ia naik
pesawat tapi tetap saja pesawat nggak bisa langsung sampai di Blitar, ia harus
tetap naik taksi untuk sampai di blitar.
“kapan kamu datang? Kenapa
nggak ngebangunin abang?” suara seseorang menghentikan aktifitas Dika, ia
__ADS_1
segera menoleh ke sumber suara.
“malam tadi jam dua, abang
sudah tidur!”
“bagaimana kabar perusahaan?
Lancar kan?”
“lancar kayak jalan tol bang
…!”
“Baguslah!”
“Cuma gitu doing responnya?”
“Emang mau abang bilang apa?
Mau abang tepuk tangan?”
“Ya nggak gitu juga kali!
Doanya panjang banget bang, emang minta apa?”
“Minta kebahagiaan untuk
Ajeng dan anak aku!”
“Tapi lama banget …, gimana keadaan bang Al, kata mama bang Al sering kambuh ya?"
"*Alhamdulillah* ....., masih bisa abang tahan!"
"oh iya beneran ajeng hamil?”
“Iya …, ya sudah ayo kembali
ke kamar, pasti Ajeng sudah menunggu!” ajak Al, Dika pun hanya mengikuti di belakang.
dia. Tapi kebahagiaan Ajeng dan abangnya lebih dari perasaannya sendiri.
Ajeng sudah bangun tapi tidak
menemukan suaminya di sana, ia hendak ke kamar mandi untuk buang air kecil dan
berwudhu. Baru saja ia hendak turun dari tempat tidur, pintu sudah terbuka.
“dek…, mau ke mana?” Al
segera berlari menghampiri ajeng dan menahan tubuhnya.
“aku mau ke kamar mandi mas!”
ucap Ajeng dengan kantong infus yang sudah berada di tangannya.
“Biar mas bantu ya!”
“ajeng sudah tidak pa pa mas,
Ajeng sudah sehat!”
‘Mau mas bantu, atau tidak
usah ke kamar mandi sekalian!” ucapan Al seperti sebuah perintah baginya, tidak
bisa di bantah. Ia sampai tidak menyadari seseorang yang bersama suaminya.
Akhirnya Ajeng pun ke kamar
mandi di antar oleh Al hingga ke dalam, Al dengan sabar menunggu Ajeng, setelah
berwudhu barulah Al tidak menyentuhnya tapi tetap berjaga di belakang Ajeng.
__ADS_1
Ajeng segeran melaksanakan sholat subuh walaupun dengan duduk karena slang
infusnya tidak bisa di buat untuk bergerak terlalu banyak.
Setelah melepas kembali
mukenanya, barulah ia menyadari keberadaan seseorang yang sedang mengamatinya
dari sofa tidak jauh dari tempat tidurnya.
“Dika!”
“kemana aja dari tadi? Aku di
sini sampek nggak keliatan!” keluh Dika. Ajeng tersenyum senang melihat Dika.
Dika pun segera mendekat dan berdiri di samping Ajeng .
“Ya sudah kalian ngobrolah
dulu, mas akan keluar sebentar. Setengah jam lagi suster akan datang untuk mengganti kantong infusnya!”
“Emang mas Al mau kemana?”
tanya Ajeng dengan menahan tangan Al yang hendak pergi. Al pun mendaratkan
ciumannya di kening ajeng.
‘tidak lama dek …, mas akan
segera kembali!”
Al pun benar-benar pergi,
kini tinggal ajeng dan Dika. Dika duduk di kursi, menatap sahabat yang kini
telah menjadi kakak iparnya itu.
“Kenapa menatapku seperti
itu?” tanya Ajeng sang salah tingkah sendiri dengan tatapan Dika.
“hanya membayangkan saja
bagaimana tampang keponakanku kelak!”
‘Ya pastinya setampan mas Al
dan secantik aku!”
“Aku rasa akan mirip dengan
ku!”
Mereka saling melontarkan
ejekan masing-masing seperti biasa setiap kali bertemu. Hingga mereka lelah
untuk terus tertawa, Ajeng sampai melupakan rasa sakitnya, mereka juga sampai
tidak sadar jika Al sudah pergi terlalu lama. sampai suster mengganti kantong
infusnya, sampai sarapan untuk Ajeng datang dan juga pemeriksaan rutin oleh
dokter. Sudah tiga jam, tapi al belum kembali.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰😘😘