Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Alun-alun kota


__ADS_3

Alex menyatukan keningnya dan merapatkan tubuhnya. "Jadilah istriku, aku akan memberikan semua untukmu."


Zanitha terdiam , entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Tuan, tolong jangan begini." Zanitha sedikit mendorong dada Alex. Sayangnya, sedikitpun tak bergeser dari tempatnya.


"Ada apa, bukankah tadi kita sama sama menikmatinya ?" Alex tersenyum menyeringai.


Zanitha menundukkan kepalanya, wajahnya bisa dipastikan sedang merona semerah jambu. Bibirnya berkedut sedang menahan senyum lebarnya. Hatinya seolah sedang berteriak bahagia.


"Aaaaaaa perasaan apa ini, ...!!" batin Zanitha bahagia.


"Ada apa, tegakkan wajahmu, kenapa menunduk begitu." tanya Alex memegang dagu Zanitha.


Zanitha mengulum bibirnya dan memandang wajah Alex. "Tolong jangan menatap saya seperti itu, saya malu." Zanitha memalingkan wajahnya. Moment seperti ini sungguh ia ingin berteriak sekeras mungkin.


"Ada apa dengan ku? tak biasanya aku seperti ini, apa iya aku tertarik padanya, bahkan hanya dipegang tanganku saja sudah buat aku bahagia. Perasaanku gugup sekali." batin Zanitha frustasi.


"Hei.. hei.. kenapa? Kamu merona...!!" seru Alex dan membuatnya tersenyum.


"Apa kamu baru pertama ini dekat dengan seorang pria hemm... Oh astaga.." Alex menyingkir dan mendudukkannya dirinya disofa. Tangan kanannya ia letakkan disandaran kursi . Ia menang banyak malam ini.


"Kemarilah, kita bicara sebentar." Alex berkata dengan menoleh kebelakang melihat Zanitha yang masih berdiri kaku ditempat semula.


"Eh..iya."


Zanitha kemudian duduk diseberang Alex dengan batasan sebuah meja. Ia menyandarkan tubuhnya dan mengunci wajah Alex didepannya.


"Katakan, kenapa kamu tidak mau menikah denganku.!" tanya Alex enggan berbasa basi lagi.


"Saya belum siap berkomitmen Tuan, saya masih ingin bebas. Kalau anda ingin segera menikah, sebaiknya anda mencari wanita lain." ucap Zanitha tanpa berkedip.


"Kenapa begitu? Apa menurutmu kehidupan setelah menikah akan mengekangmu?"


"Iya, dan itu yang membuat saya belum siap."


"Kamu terlalu berpikiran sempit nona." ucap Alex menopang dagu.


"Lalu apa alasan anda mengajak saya menikah? Kita baru bertemu malam ini. Anda juga belum mengenal baik saya, walaupun kita dijodohkan, tapi harusnya ada proses penjajakan lebih dulu, bukan langsung mengajak menikah. Sekarang katakan apa alasan anda Tuan !?" Zanitha bertanya balik pada Alex.


"Karena aku tertarik padamu."


Zanitha menaikkan sebelah alisnya, merasa bukan seperti itu jawaban yang ia inginkan.


"Ada apa kenapa memandangku seperti itu.? Ada yang salah dengan jawabanku? Sepertinya tidak ada. Kalau aku bilang cinta, itu terlalu dini. Itu jawaban yang paling pas menurutku." ucap Alex menyebalkan.


Zanitha menarik nafasnya dalam dalam, ia sedang tak ingin mengeluarkan emosinya didepan Alex.


"Baiklah, kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, saya mohon undur diri. Terima kasih karena sudah menjamu saya dengan baik. Saya permisi Tuan." sindir Zanitha yang mulai beranjak pergi.


"Tunggu nona, biar saya antarkan pulang.!" cegah Alex, menarik pergelangan Zanitha.

__ADS_1


"Tidak perlu Tuan, saya masih ingin mampir. Saya bisa pulang sendiri. Terima kasih."


"Jangan menolakku.!aku tak mau kena omel mamaku.!" ucap Alex tak mau dibantah.


"Haih, terserah sajalah."


Alex mengambil kunci mobil dan jaketnya.


Sedangkan Zanitha memakai masker pada wajahnya agar tak mudah dikenali orang lain saat keluar dari ruang pribadi Alex. Alex hanya melirik sekilas apa yang dilakukan gadis itu. Batinnya bertanya, "apa dia malu berjalan denganku.?"


Enggan berpikir buruk, Alex berjalan lebih dulu di depan. Alex menjual wajah tampannya menyapa pengunjung yang ia kenal saat melewati mereka.


"Dia tampan jika sedang tersenyum ramah begitu." batinnya memuji. Kemudian mengikuti langkah lebar Alex di belakangnya menuju tempat parkir mobilnya.


"Kamu tinggal dimana?" tanya Alex ketika sudah berada dalam mobil dan memasang sabuk pengaman.


"Rumah dinas. Nanti tolong turunkan aku di alun-alun kota saja. Aku ingin membeli sesuatu disana."


Alex hanya mengangguk dan melajukan mobilnya. Keduanya tampak diam, tidak ada yang membuka obrolan. Alex fokus pada kemudinya, sedangkan Zanitha tampak melamun, entah apa yang sedang dilamunkannya.


Ban mobil akhirnya berhenti diseberang alun alun kota , Alex memakirkan mobilnya di bahu jalan. Setelah menaikkan hand rem, ia membuka sabuk pengamannya.


"Kita sudah sampai nona.!" ucap Alex membuyarkan lamunan Zanitha.


"Eh..Ah, terima kasih Tuan." Zanita membuka sabuk pengaman dan bersiap keluar. Alex hanya memandangi Zanitha sampai tubuhnya keluar dari mobilnya. Zanitha melambaikan tangannya mengucap selamat perpisahan yang hanya dibalas anggukan kepala Alex.


Lalu lintas malam minggu memang tampak lebih ramai dari biasanya. Banyak pasang muda mudi kalangan menengah kebawah yang menghabiskan waktu mereka di alun-alun kota. Hanya sekedar bersantai atau nongkrong bersama kawan kawannya.


Alex berjalan menghampiri Zanitha dan menggandeng tangan gadis itu. Tangan kanannya ia rentangkan kesamping, untuk menyetop kendaraan yang melaju.


Zanitha terkesiap, melihat Alex yang datang membantunya. Tiba tiba hatinya menghangat, senyum tipisnya pun terbit dari bibirnya.


"Terima kasih Tuan." ucap Zanitha setelah sampai di tepian.


"Hemm."


Zanitha dengan mata berbinar menghampiri tukang sate tahu langganannya. Disini, makanan favorit Zanitha sedari kecil. Ia tak peduli banyaknya asap beterbangan akibat dari pembakaran arang, ia tetap rela mengantri demi makanan kesukaannya.


"Pesan dua porsi ya pak, aku tunggu disana.!" tunjuk Zanitha.


"Baik non. Tunggu sebentar ya." jawab penjual itu.


"Ok."


Zanitha berjalan menghampiri Alex yang sedari tadi berdiri diam bersedekap dada, membuat dirinya jadi pusat perhatian. Penampilan Alex terlihat terlalu mencolok jika hanya untuk sekedar berjalan jalan di alun-alun kota. Ia kemudian mengajak Alex untuk duduk lesehan dibawah pohon.


"Apa kamu sering kesini." tanya Alex yang sudah duduk bersila.


"Tentu saja, itu makanan favorit aku. Aku sedari kecil setiap malam minggu kemari. Apa Tuan tidak apa apa duduk seperti itu disini..?" tanya Zanitha tidak enak.


"It's ok." ucap Alex yang membuka notifikasi pada ponselnya.

__ADS_1


"Mimpi apa aku bisa kencan dengan seorang pria di alun-alun begini." batin Zanitha menatap Alex malu malu.


Setelah pesanannya datang, Zanitha menyodorkan sepiring sate tahu kehadapan Alex. Alex menatap makanan itu seperti enggan memakannya.


"Apa Tuan tidak doyan sate tahu? Ah maafkan saya, saya lupa anda orang kaya, pasti anda tidak terbiasa makan seperti ini apa lagi ditempat seperti ini." ucap Zanitha lalu mengambil piring Alex.


"Tidak perlu. Aku bisa memakannya. Lagian aku juga belum makan sama sepertimu. Biarkan aku memakannya." ucap Alex menahan tangan Zanitha agar tak menyingkirkan piringnya.


"Eh.. ya silakan dimakan Tuan."


Mereka berdua kini sibuk dengan makanannya. Sesekali matanya saling melirik dan mencuri pandang. Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Hanya suara musik penjual kaset sebelah yang membuat suasana tampak ramai.


Diam diam Alex tersenyum tipis saat memandang wajah kalem Zanitha. Jantungnya berdebar debar saat pandangannya bersirobok dengan mata Zanitha. Ia jadi salah tingkah sendiri.


"Jangan menatapku seperti itu Tuan, aku tak secantik itu."


Alex tersenyum simpul, " Aku heran, anak walikota tongkrongannya disini, bukan di kafe seperti anak yang lain."


"Terkadang kesederhanaan itu perlu Tuan. Tapi yang paling penting menurut saya adalah menjadi diri sendiri. Ya seperti ini lah saya, Em Tuan, maaf kalau tadi ada perkataan saya yang menyinggung anda. Saya harap kedepannya tidak ada masalah dikemudian hari. Saya rasa kedepannya kita bisa berteman dengan baik."


"Baiklah aku setuju, kita bisa berteman dulu. Tapi jangan lupa , aku calon suamimu." jawab Alex menyebalkan.


"Jangan terlalu jauh berpikir Tuan, hari ini saya jodoh anda, tidak tau jika dikemudian hari, mungkin anda malah menikahi orang lain." ucap Zanitha tenang.


Alex terkesiap mendengar penuturan gadis itu. Hatinya tiba tiba galau jika ia disuruh memilih antara Zanitha atau Selly, dua wanita itu sepertinya tidak mudah dilupakan Alex begitu saja. Dua wanita yang berbeda karakter. Zanitha tampak lebih kalem dan ramah, sedangkan Selly yang lebih dingin dan sulit disentuh.


"Ehemm, Jadi apa pekerjaanmu sekarang?" tanya Alex mengalihkan pembicaraan


"Saya kerja di toko kue Tuan, jika anda berkenan mampirlah ke Greenmall, kami punya roti terenak dikota ini."


"Hemm," Alex mengangguk.


"Tuan, berhubung makanan kita sudah habis, gimana kalau kita kita jalan jalan kesana. Apa anda tidak keberatan?"


Alex mengangguk dan memberikan pecahan seratus ribu pada penjual itu.


Dua insan itu berjalan beriringan menyusuri rumput lapangan, kedua tangan Alex dimasukkan dalam saku celananya, sedangkan Zanitha memilih bersedekap dada menghalau angin malam masuk ke tubuhnya.


"Mau pegangan tangan juga bukan siapa siapanya." batin Zanitha menatap tangan Alex.


Alex yang mengerti lirikan mata gadis itu,langsung merengkuh pinggang Zanitha dan menarik dalam dekapannya tanpa mempedulikan respon gadis itu.


"Ehh.."


.


.


.


Please love love love

__ADS_1


🧡🧡🧡


__ADS_2