
Pagi ini pagi yang sangat cerah, suara ayam
berkokok, sinar mentari yang bersinar yang cahayanya menembus celah-celah
dinding. Sungguh pemandangan yang sangat langka, apalagi di kota, Al
benar-benar menikmatinya, semenjak pulang dari masjid Al memilih menyibukkan
diri di belakang rumah, menikmati mentari pagi sambil memberi makan ayam-ayam
milik pak Darman, sesekali ia tampak menggerakkan badannya, sedikit berolah
raga membuat badannya segar.
Ajeng sedang sibuk di dapur, dapur
yang dulu hanya ada tungku kini sudah punya kompor gas dengan peralatan yang
sudah baru, walaupun begitu pak Darman tetap membuat dapur yang berasal dari
tungku di tempat berbeda, biasanya tungku itu hanya di gunakan jika ada hajatan
besar saja karena akan banyak tetangga yang datang ‘rewang’.
“Mas Al …, lagi ngapain?” Tanya
Ajeng yang penasaran kerena sedari pagi suaminya itu tidak meninggalkan halaman
belakang.
“Menikmati udara pagi sambil ngasih
makan ayamnya bapak! Lihat nih …., ayamnya bapak banyak banget!”
“sudah siap sarapannya, mas Al nggak
mau sarapan dulu?”
“Ya sudah kalau gitu aku mandi dulu,
lalu sarapan! Bapak sama ibuk biar sarapan dulu!”
“Bapak sama ibuk sudah berangkat ke
sawah, mas …, mas al sih keasikan di situ jadi nggak tahu kan kalau bapak sama
ibuk sudah berangkat!”
“Kenapa nggak ngajak aku? Padahal
aku pingin banget ke sawah, sudah lama nggak ke sawah!”
“memang mas Al pernah ke sawah?”
“Ya pernah lah, dek. Mas juga orang
Blitar yang sebagian besar wilayahnya persawahan!”
“Iya iya percaya …, ya udah nanti
kalau mau nyusul ke sawah sama Ajeng aja mas, soalnya ibuk nyuruh ajeng buat
nganter kiriman orang bajak sawah!”
Itu ide bagus, ya udah aku mandi
dulu!”
Al pun segera meninggalkan ajeng, ia
menuju ke kamar mandi. Kamar mandi juga sudah berbeda, dulu hanya berkurang 2
kali 2 meter tapi sekarang sudah lebih luas dengan kamar mandi dan WC terpisah.
Selain ada bak mandi dengan gayung jiga sudah ada shower nya.
Setelah menyelesaikan mandinya, Al
sudah mengganti bajunya dnegan baju santai, air yang masih menempel di
rambutnya menambah kesan segar dan sensual. Ajeng yang melihat suaminya seperti
itu tak bisa mengalihkan tatapannya dari dunianya. Suaminya adalah dunianya
saat ini, tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaan suaminya.
“Dek …., suka banget lihat mas kayak
gitu! Mas tahu mas ini memang tampan tapi nggak gitu juga litany!” ucap Al
sambil mencubit hidung Ajeng yang sedari tadi hanya terdiam di tempatnya dengan
mata yang tak berkedip.
“Auhg …., sakit mas …, kejam banget
sama istri!” keluh Ajeng sambil memegangi hidungnya yang memerah karena ulah
__ADS_1
suaminya.
“Apa perlu hari ini aku sarapan yang
ini dulu?” goda Al dan seketika mendapat pukulan dari Ajeng.
“jangan macam-macam ya …., atau mau
Ajeng getok pakek ini!” ucap Ajeng sambil menunjukkan sebuah ulekan kea rah
suaminya.
“Iya …, ampun adek ku sayang …..!
baiklah kalau gitu kita sarapan trus lanjut nyusulin bapak sama ibuk ke sawah!”
Mereka pun akhirnya duduk di meja
makan berdua, sarapan dengan menu-menu orang desa, Al begitu lahap dengan
sarapannya, lagi-lagi hal itu membuat Ajeng tercengang. Ia benar-benar nggak
nyangka orang kota seperti Al bisa hidup sederhana di desa, sepertinya dia juga
sangat menikmati kehidupannya di desa.
“kenapa suka sekali menatapku
seperti itu?” Tanya Al saat ia sadar jika istrinya sedari tadi malah fokus
menatapnya bukan memakan makanannya.
“Mas Al …., emang papa mas Al pernah
ngajak mas Al tinggal di desa?”
“Kenapa? Penasaran banget ya?”
“Banget!”
“Minggu depan kita gentian menginap
di rumah mama ya, trus kamu Tanya langsung sama mama!”
“Penasarannya sekarang, malah di
suruh nunggu minggu depan!” keluh Ajeng.
Akhirnya mereka menyelesaikan
sarapannya, Ajeng segera membereskan piring kotor dan menyiapkan makanan yang
“Biar aku bantu ya, yang mana yang
harus mas masukin?” Tanya Al, ia sudah memegang sebuah rantang.
“Itu aja mas, sayur nya dulu lalu di
rantang berikutnya lauknya dan yang terakhir nasinya. Nanti minumnya biar ajeng
aja yang siapin!” ucap ajeng memberi petunjuk pada suaminya, ia masih sibuk
mencuci piring dan merebus air.
“memang minumnya apa, dek?” Tanya al
lagi setelah selesai dengan pekerjaannya. Al juga sudah menyusun
rantang-rantang itu.
“Nih …, ajeng sudah rebusin air buat
bikin kopi!”
“Kopi aja?”
“Nggak sih sama air putih!”
“Ya udah kalau gitu air putihnya
biar aku yang nyiapin, apa tempat airnya?”
‘Itu botol besar yang ada di rak
paling atas!” ucap Ajeng sambil menunjuk rak paling atas. Al p[un segera
mengambilnya dan menuangkan air di dalamnya.
Setelah selesai dengan semuanya, Al
dan ajeng segera menuju ke sawah, mereka memakai motor milik bapak karena Al
lupa tidak meminta orang untuk mengambilkan motornya di rumah orang tuanya.
Mereka berboncengan naik motor, menyusuri jalan desa hingga sampai di sawah
milik pak Draman, sekarang pak Darman bahkan punya sawah sendiri, ia tidak
__ADS_1
perlu menggarap sawah milik oreang lain lagi. Sebenarnya Ajeng dan Diah sudah
melarang bapak dan ibunya bekerja, tapi mereka menolak. Mereka bekerja agar
tidak suntuk di rumah saja, bekerja di sawah hanya sebagai hiburan karena
setiap bulannya Ajeng dan Diah mengirimkan jatah bulannan untuk mereka.
Walaupun sering menolak tapi Diah dan ajeng tetap mengirimkannya, jika sampai
kiriman itu tidak di ambil mereka akan sangat marah.
“Sudah sampai, dek!” ucap Al saat
menghentikan motornya, dari jalan sudah terlihat bapak dan ibunya sedang sibuk
dengan kegiatannya masing-masing. Pak Darman sedang menyangkul mengikuti si
pembajak sawah, karena di bagian pematang sawah yang tidak bisa di jangkau oleh
mesin pembajak sawah harus di cangkul secara manual. Sedangkan bu Kasih sedang
menyemai padi, supaya besok saat sawahnya sudah siap untuk di tanami, mereka
tidak kerepotan menyemai tinggal menanamnya saja.
“Baiklah …, kalau gitu mas tungu di
sini saja, biar ajeng yang ke sana!”
“Mana ada aturan seperti itu, mas
itu ke sini mau bantu bapak!”
‘mas Al mau nyangkul?”
“Iya …, biar nanti adek sayang bisa
banggain mas sebagai suami kamu, suami yang siap nglakuin apa aja buat
istrinya!”
“Nggak gitu juga kali mas, ini bukan
bidang mas Al. mas Al pengusaha, jadi nggak usah mencoba menjadi orang lain
demi aku!”
“Kekuatan cinta ini yang akan
menuntu mas …, jadi jangan khawatir, ok!”
Al pun segera menarik tangan Ajeng dan
mengambil rantang yang ada di tangan Ajeng, membawakannya dan membantu istrinya
berjalan di pematang sawah yang sempit itu.
‘Bapak …, asal kulo rewangi [boleh
saya bantu]?”
“Loh …, ojo …, engko reget [jangan
…, nanti kotor]!” pak Draman berusaha melarang menantunya, tapi dasar Al yang
keras kepala, ia pun turun ke tengah sawah dan mengangambil cangkul yang
kebetulan tidak di pakai.
“Ngeten pak [gini pak]?” Tanya Al
saat memulai mencangkul.
“Iyo …, betul …, nggak usah di
angkat neman-neman, ngkok cepet kesel, biasa ae, alon penteng kelakon [iya ….,
betul …., nggak usah di angkat tinggi-tinggi, nanti cepat capek, biasa saja,
pelan yang penting terlaksana]!” pak Darman memberi arahan pada menantunya itu.
Semakin lama Al semakin lihai memainkan cangkul. Ajeng benar-benar di buat
terkesima, ia tidak menyangka orang seperti Al yang biasanya sangat tegas
dengan anak buahnya itu bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bahkan tak
terbayangkan sebelumnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
follow Ig aku ya
tri.abi.5249
__ADS_1
Happy Reading 😘❤️❤️❤️