Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Ke sawah [mencangkul]


__ADS_3

            Pagi ini pagi yang sangat cerah, suara ayam


berkokok, sinar mentari yang bersinar yang cahayanya menembus celah-celah


dinding. Sungguh pemandangan yang sangat langka, apalagi di kota, Al


benar-benar menikmatinya, semenjak pulang dari masjid Al memilih menyibukkan


diri di belakang rumah, menikmati mentari pagi sambil memberi makan ayam-ayam


milik pak Darman, sesekali ia tampak menggerakkan badannya, sedikit berolah


raga membuat badannya segar.


            Ajeng sedang sibuk di dapur, dapur


yang dulu hanya ada tungku kini sudah punya kompor gas dengan peralatan yang


sudah baru, walaupun begitu pak Darman tetap membuat dapur yang berasal dari


tungku di tempat berbeda, biasanya tungku itu hanya di gunakan jika ada hajatan


besar saja karena akan banyak tetangga yang datang ‘rewang’.


            “Mas Al …, lagi ngapain?” Tanya


Ajeng yang penasaran kerena sedari pagi suaminya itu tidak meninggalkan halaman


belakang.


            “Menikmati udara pagi sambil ngasih


makan ayamnya bapak! Lihat nih …., ayamnya bapak banyak banget!”


            “sudah siap sarapannya, mas Al nggak


mau sarapan dulu?”


            “Ya sudah kalau gitu aku mandi dulu,


lalu sarapan! Bapak sama ibuk biar sarapan dulu!”


            “Bapak sama ibuk sudah berangkat ke


sawah, mas …, mas al sih keasikan di situ jadi nggak tahu kan kalau bapak sama


ibuk sudah berangkat!”


            “Kenapa nggak ngajak aku? Padahal


aku pingin banget ke sawah, sudah lama nggak ke sawah!”


            “memang mas Al pernah ke sawah?”


            “Ya pernah lah, dek. Mas juga orang


Blitar yang sebagian besar wilayahnya persawahan!”


            “Iya iya percaya …, ya udah nanti


kalau mau nyusul ke sawah sama Ajeng aja mas, soalnya ibuk nyuruh ajeng buat


nganter kiriman orang bajak sawah!”


            Itu ide bagus, ya udah aku mandi


dulu!”


            Al pun segera meninggalkan ajeng, ia


menuju ke kamar mandi. Kamar mandi juga sudah berbeda, dulu hanya berkurang 2


kali 2 meter tapi sekarang sudah lebih luas dengan kamar mandi dan WC terpisah.


Selain ada bak mandi dengan gayung jiga sudah ada shower nya.


            Setelah menyelesaikan mandinya, Al


sudah mengganti bajunya dnegan baju santai, air yang masih menempel di


rambutnya menambah kesan segar dan sensual. Ajeng yang melihat suaminya seperti


itu tak bisa mengalihkan tatapannya dari dunianya. Suaminya adalah dunianya


saat ini, tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaan suaminya.


            “Dek …., suka banget lihat mas kayak


gitu! Mas tahu mas ini memang tampan tapi nggak gitu juga litany!” ucap Al


sambil mencubit hidung Ajeng yang sedari tadi hanya terdiam di tempatnya dengan


mata yang tak berkedip.


            “Auhg …., sakit mas …, kejam banget


sama istri!” keluh Ajeng sambil memegangi hidungnya yang memerah karena ulah

__ADS_1


suaminya.


            “Apa perlu hari ini aku sarapan yang


ini dulu?” goda Al dan seketika mendapat pukulan dari Ajeng.


            “jangan macam-macam ya …., atau mau


Ajeng getok pakek ini!” ucap Ajeng sambil menunjukkan sebuah ulekan kea rah


suaminya.


            “Iya …, ampun adek ku sayang …..!


baiklah kalau gitu kita sarapan trus lanjut nyusulin bapak sama ibuk ke sawah!”


            Mereka pun akhirnya duduk di meja


makan berdua, sarapan dengan menu-menu orang desa, Al begitu lahap dengan


sarapannya, lagi-lagi hal itu membuat Ajeng tercengang. Ia benar-benar nggak


nyangka orang kota seperti Al bisa hidup sederhana di desa, sepertinya dia juga


sangat menikmati kehidupannya di desa.


            “kenapa suka sekali menatapku


seperti itu?” Tanya Al saat ia sadar jika istrinya sedari tadi malah fokus


menatapnya bukan memakan makanannya.


            “Mas Al …., emang papa mas Al pernah


ngajak mas Al tinggal di desa?”


            “Kenapa? Penasaran banget ya?”


            “Banget!”


            “Minggu depan kita gentian menginap


di rumah mama ya, trus kamu Tanya langsung sama mama!”


            “Penasarannya sekarang, malah di


suruh nunggu minggu depan!” keluh Ajeng.


            Akhirnya mereka menyelesaikan


sarapannya, Ajeng segera membereskan piring kotor dan menyiapkan makanan yang


            “Biar aku bantu ya, yang mana yang


harus mas masukin?” Tanya Al, ia sudah memegang sebuah rantang.


            “Itu aja mas, sayur nya dulu lalu di


rantang berikutnya lauknya dan yang terakhir nasinya. Nanti minumnya biar ajeng


aja yang siapin!” ucap ajeng memberi petunjuk pada suaminya, ia masih sibuk


mencuci piring dan merebus air.


            “memang minumnya apa, dek?” Tanya al


lagi setelah selesai dengan pekerjaannya. Al juga sudah menyusun


rantang-rantang itu.


            “Nih …, ajeng sudah rebusin air buat


bikin kopi!”


            “Kopi aja?”


            “Nggak sih sama air putih!”


            “Ya udah kalau gitu air putihnya


biar aku yang nyiapin, apa tempat airnya?”


            ‘Itu botol besar yang ada di rak


paling atas!” ucap Ajeng sambil menunjuk rak paling atas. Al p[un segera


mengambilnya dan menuangkan air di dalamnya.


            Setelah selesai dengan semuanya, Al


dan ajeng segera menuju ke sawah, mereka memakai motor milik bapak karena Al


lupa tidak meminta orang untuk mengambilkan motornya di rumah orang tuanya.


Mereka berboncengan naik motor, menyusuri jalan desa hingga sampai di sawah


milik pak Draman, sekarang pak Darman bahkan punya sawah sendiri, ia tidak

__ADS_1


perlu menggarap sawah milik oreang lain lagi. Sebenarnya Ajeng dan Diah sudah


melarang bapak dan ibunya bekerja, tapi mereka menolak. Mereka bekerja agar


tidak suntuk di rumah saja, bekerja di sawah hanya sebagai hiburan karena


setiap bulannya Ajeng dan Diah mengirimkan jatah bulannan untuk mereka.


Walaupun sering menolak tapi Diah dan ajeng tetap mengirimkannya, jika sampai


kiriman itu tidak di ambil mereka akan sangat marah.


            “Sudah sampai, dek!” ucap Al saat


menghentikan motornya, dari jalan sudah terlihat bapak dan ibunya sedang sibuk


dengan kegiatannya masing-masing. Pak Darman sedang menyangkul mengikuti si


pembajak sawah, karena di bagian pematang sawah yang tidak bisa di jangkau oleh


mesin pembajak sawah harus di cangkul secara manual. Sedangkan bu Kasih sedang


menyemai padi, supaya besok saat sawahnya sudah siap untuk di tanami, mereka


tidak kerepotan menyemai tinggal menanamnya saja.


            “Baiklah …, kalau gitu mas tungu di


sini saja, biar ajeng yang ke sana!”


            “Mana ada aturan seperti itu, mas


itu ke sini mau bantu bapak!”


            ‘mas Al mau nyangkul?”


            “Iya …, biar nanti adek sayang bisa


banggain mas sebagai suami kamu, suami yang siap nglakuin apa aja buat


istrinya!”


            “Nggak gitu juga kali mas, ini bukan


bidang mas Al. mas Al pengusaha, jadi nggak usah mencoba menjadi orang lain


demi aku!”


            “Kekuatan cinta ini yang akan


menuntu mas …, jadi jangan khawatir, ok!”


            Al pun segera menarik tangan Ajeng dan


mengambil rantang yang ada di tangan Ajeng, membawakannya dan membantu istrinya


berjalan di pematang sawah yang sempit itu.


            ‘Bapak …, asal kulo rewangi [boleh


saya bantu]?”


            “Loh …, ojo …, engko reget [jangan


…, nanti kotor]!” pak Draman berusaha melarang menantunya, tapi dasar Al yang


keras kepala, ia pun turun ke tengah sawah dan mengangambil cangkul yang


kebetulan tidak di pakai.


            “Ngeten pak [gini pak]?” Tanya Al


saat memulai mencangkul.


            “Iyo …, betul …, nggak usah di


angkat neman-neman, ngkok cepet kesel, biasa ae, alon penteng kelakon [iya ….,


betul …., nggak usah di angkat tinggi-tinggi, nanti cepat capek, biasa saja,


pelan yang penting terlaksana]!” pak Darman memberi arahan pada menantunya itu.


Semakin lama Al semakin lihai memainkan cangkul. Ajeng benar-benar di buat


terkesima, ia tidak menyangka orang seperti Al yang biasanya sangat tegas


dengan anak buahnya itu bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bahkan tak


terbayangkan sebelumnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


follow Ig aku ya


tri.abi.5249

__ADS_1


Happy Reading 😘❤️❤️❤️


__ADS_2