Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Sikap Willi


__ADS_3

"Ada apa memanggilku kemari Kak..! Aku kan sudah bilang, aku tidak mau kerja diperusahaan.!Kenapa masih memaksa. Huh..!!"


Willi kesal bukan main, saat dirinya sedang menghabiskan waktu liburannya dimarkas tiba-tiba Chen datang dan memintanya untuk menemui kakaknya, ketika dirinya bersikeras menolak ajakan Chen, dirinya langsung diseret paksa oleh orang orang kakaknya.


Jingmi memicingkan matanya, orang itu tampak tidak suka dengan cara bicara adiknya pada dirinya. Seperti tidak menghargai orang yang lebih tua.


"Kak Fe..ada apa memanggilku kemari. Semoga bukan masalah perusahaan yang akan kakak bicarakan padaku. Kuping ku sudah panas mendengar omelan Papa tentang pekerjaanku, makanya aku kabur ke markas, jadi Kak Fe jangan menambah kupingku lebih panas. Okey, kakakku yang baik hatinya, ada apa kamu memanggilku kemari..apa ada masalah.." Willi akhirnya menurunkan nada bicaranya.


Jingmi tersenyum tipis.


"Apa liburanmu masih lama?"


"Emm, ya sekitar tiga hari kedepan aku balik ke Seoul." jawab Willi sembari mengusap dagunya.


"Apa kamu benar benar mencintai gadis itu. Kalau tidak serius, sebaiknya kamu jangan menyakiti hatinya lebih dalam, ingat, dia berasal dari keluarga terpandang dan keluarga baik baik. Aku tak mau kamu menjadi laki laki pecundang." ucap Jingmi datar, memandang wajah adiknya yang semakin tampan sejak menjadi artis.


Willi terdiam, ia tidak tau dirinya cinta sungguhan atau hanya cinta monyet, tapi ia juga merasa nyaman didekatnya dan membuat jantungnya berdebar debar ketika hendak bertemu dengannya. Apalagi ciuman pertama itu begitu membekas dihatinya. Walaupun dirinya berjauhan, tapi mereka masih saling memberi kabar. Bahkan jika tidak ada kabar darinya, ia akan merasa malas melakukan syuting.


Jingmi memicingkan matanya. Yang ditanya malah diam, melamun. Apa yang dipikirkan batinnya.


"Iya. Aku mencintainya Kak, tapi ketika bicara pernikahan, rasa rasanya aku belum siap Kak, aku baru merintis karir. Lagian aku belum boleh menikah untuk saat ini, setidaknya ketika usiaku 30 aku baru bisa menikah."


"Masalah pernikahan aku tidak akan ikut campur, itu keputusan kalian berdua. Nanti malam kakak akan bertolak ke Indonesia, kamu ikutlah dengan kami. Kakak ada tugas buat kamu."


Willi tersenyum lebar. "Benarkah...!!? Ah aku jadi ingin bertemu dengan Amelia. Ah pasti dia akan terkejut melihat kedatanganku."


Jingmi mengerutkan keningnya.


"Apa kamu tidak tau musibah yang dialami keluarga kekasihmu?"


"Hah..Apa, aku tidak tau. Musibah apa yang kakak bicarakan. Amel juga tidak memberitahuku." bingung Willi.


"Ck.. berita viral dan menghebohkan didunia jagad maya tidak tau. Kamu itu gaptek atau apa..!! ish.."


"Apa, aku tak tau apapun. Bukankah keluarga kekasihku hanya keluarga kaya biasa. Yang mana yang menghebohkan. Tidak ada Kak Fe. Yang ada keluarga pengusaha ekspor impor itu yang lagi viral." ucap Willi menscroll ponselnya.


Jingmi diam saja, ia memejamkan matanya. Entah kenapa adiknya satu ini begitu bodoh sekali. Kekasihnya anak pengusaha terkaya dinegara itu saja tidak tau. Apa yang dia ketahui tentang pacarnya itu. Bagaimana bisa Papa dan mamanya memiliki anak seperti Willi yang polosnya gak ketulungan, bikin tepok jidat.


"Kak Fe..!! yang mana yang viral..!! gak ada kok selain berita kecelakaan keluarga Tuan Edward bersama istri dan putranya." tanya Willi yang masih sibuk menscroll mencari berita, barangkali terlewat.

__ADS_1


"Willi, jika mamamu mengijinkan, sekarang juga Kak Fe akan tenggelamkan kamu di laut samudra. Kamu bodohnya kok gak hilang hilang ya."


Jingmi yang geram, langsung melemparkan ponsel miliknya kehadapan adiknya, "Lihat dan amati baik baik siapa disana. Jika masih belum paham , kakak panggilkan Chen untuk membantumu." Jingmi memijit pelipisnya.


"Oh.. Astaga.. kenapa Amelia bisa berfoto dengan mereka. Dia terlihat manis sekali.." Willi malah terpesona dengan foto Amelia.


"CHEN..!!!" Teriak Jingmi frustasi.


Chen masuk ruangan dengan tergopoh gopoh begitu mendengar teriakan Bos besarnya. Ia sudah terbiasa dengan hal ini, jika Bos besarnya bertemu dengan adiknya, maka dirinya akan berjaga didepan pintu ruang kerja bosnya. Adik dari Bosnya memang sudah sering kali membuat orang naik darah.


"Yes King.."


"Chen, tolong jelaskan pada artis bodoh ini tentang berita viral itu dan hubungannya dengan keluarga Amelia. Aku sedang malas berdebat dengannya."


Jingmi beralih kesofa panjang, ia rebahkan punggungnya dan menutup matanya dengan sebelah tangannya. Ia ingin mengistirahatkan tubuh dan otaknya.


"What...!!!" pekik Willi kaget, tak percaya setelah mendengar penuturan Chen. Amelia yang ia kenalnya sebagai sosok sederhana, bahkan masuk kampus karena bea siswa, ternyata dia seorang cinderela anak sultan tajir melintir tujuh turunan, tujuh tanjakan. Ia tak menyangka jika dirinya telah dibodohi gadis kecil itu.


"Apa itu tidak salah..!! Kak Fe..!!" Teriak Willi butuh penjelasan.


Jingmi bergeming. Malas meladeni adiknya.


Chen mempersilahkan Tuan mudanya segera keluar dari ruang kerja Bos besarnya. Ia tidak mau mengganggu waktu istirahat Jingmi. Bisa bisa ada peluru nyasar dikakinya.


"Kak Fe.. !!!"


.


.


Dirumah sakit pusat.


Dua orang paruh baya berjalan tergesa melewati lorong rumah sakit. Tampak terlihat jelas wajah tegang dan khawatir dari mereka. Disebelahnya ada Andi yang menjemput mereka dari Bandara membawa barang bibinya.


David dan Lukas langsung berdiri ketika melihat pasangan itu berjalan mendekat kearahnya.


"Bagaimana keadaan putriku, dimana dia, apa sudah siuman?" Tanya Tuan Hardy begitu mendekat kearah mereka.


"Nona Aurora dan Tuan Edward di ruang ICU, mereka berdua belum sadarkan diri." jawab David

__ADS_1


Tuan Hardi lemas seketika, ia duduk dikursi tunggu.


Sedangkan Mama Riyanti menatap sendu putrinya dari balik kaca.


"Nyonya, Tuan, anda bisa melihatnya dari dekat. Tapi hanya diijinkan satu orang yang masuk. Anda bisa bergantian masuk, didalam ada Kiran dan Alex yang menjaga mereka." lanjut David


Nyonya Riyanti mengangguk. Ia akan masuk terlebih dahulu untuk melihat anak anaknya.


"Apa yang terjadi, kenapa mereka berdua belum sadar, bagaimana dengan Brian, dimana anak itu? Apa dia baik-baik saja." tanya Tuan Hardy menatap lekat David asisten putrinya.


"Kami belum tau kenapa nona Aurora belum sadar, jika Tuan Edward beliau baru saja melakukan operasi besar dan masih dalam pengaruh obat bius. Sedangkan Brian, dia diruang perawatan anak bersama Selly, Brian tak mengalami luka serius ditubuhnya, tapi kejadian itu membuatnya trauma mendalam pada psikisnya. Tapi dibalik musibah itu, ada sedikit kabar gembira untuk kita semua."


David tersenyum tipis melihat wajah Tuan Hardy tak setegang tadi.


"Apa..?" tanya Tuan Hardy lirih


"Nona Aurora dinyatakan positif mengandung. Usia kandungannya sudah 8 minggu."


Tuan Hardy tersenyum bahagia, ia tak menyangka jika dibalik kesedihannya masih diselipkan kebahagiaan lewat janin kecil yang dikandung putrinya.


"Tapi..." Lanjut David


"Nona Aurora tidak bisa melakukan operasi pada kakinya." ucap David, ia merasa kasihan pada Nona mudanya. Kakinya sudah membengkak dan hanya dibalut dengan perban dan papan.


Tuan Hardy menghela nafas panjang,


"Tak apa, kita bisa melakukan pengobatan alternatif setelah kondisinya membaik. Kita juga tidak bisa menggugurkan kandungannya. Lalu dimana keluarga anak mantuku?aku tak melihatnya disini."


"Tuan Admaja sedang dirawat di rumah sakit GL. Beliau terkena stroke, setelah mendengar kabar mengejutkan itu."


Tuan Hardy mengusap wajahnya. Ia tak menyangka jika akan ada kejadian yang akan mengubah hidup semua orang dalam waktu sekejap. Ia memikirkan banyak hal dalam benaknya, bagaimana menghadapi keadaan selepas ini, bagaimana dengan kondisi kesehatan anaknya, bagaimana dengan perusahaan, siapa yang akan menghandle jika dirinya kembali ke London, Bagaimana dengan perusahaan yang disana, asistennya Doni juga sedang terkena musibah, Bagaimana dengan anak mantunya, semua hanya ada bagaimana yang ada dipikirannya.


.


.


.


###

__ADS_1


__ADS_2