
Dibelahan bumi lainnya, tampak seorang pria berjalan dengan langkah tergesa bersama asistennya setelah turun dari pesawat. Keduanya langsung menuju dimana seseorang telah menunggu kedatangannya.
Seorang pria berpakaian militer menyambut hangat keduanya. Sebuah senyum tipis terukir dari bibir pria itu ketika Alex langsung memeluk tubuh gempal itu.
"Senang bertemu denganmu Wolf ." ujar Alex menepuk punggung pria itu.
"Bienvenidos a Honduras Alexander."
Edward terdiam melihat keduanya. Ia merasa tidak mengenal pria yang dipanggil Wolf oleh Alex. Pria berkulit hitam itu melemparkan senyum tipis saat menatap matanya.
"Wolf, apa kau mengenal pria disampingku ini."
Wolf menatap wajah Edward seksama. Ia tidak merasa memiliki ingatan dengan pria itu, tapi ketika menatap mata Edward, ia ragu akan pemikirannya.
"Mungkin kamu lupa. Dia teman kecil kita. Felix."
Wolf mengerutkan dahinya, lupa tentu saja. Sudah puluhan tahun ia tak pernah ke Indonesia.
"Alex, sebaiknya kita segera pergi dari sini." ujar Edward terdengar datar. Pria itu tidak ingin kehadirannya disadari pihak musuh dan menggagalkan aksinya.
Alex mengangguk tanpa memberi penjelasan pada Wolf. Ketiganya langsung berjalan menuju mobil penjemputan tanpa banyak basa basi. Wolf langsung membawa mereka menuju tempat yang telah direncanakan sebelumnya.
Edward turun dan memandang sejenak bangunan didepannya. Bukan seperti bangunan pada umumnya, bangunan itu tampak menyeramkan saat dilihat dari luar.
"Silahkan masuk, mungkin yang lain akan segera tiba." ucap Wolf berjalan lebih dulu. Edward hanya mengangguk dan mengikutinya.
Wolf menekan sebuah tombol disana. Ternyata itu adalah sebuah lift yang akan membawa mereka turun ke ruang bawah tanah.
Edward dan Alex terpaku sesaat, tak menyangka jika dibalik rumah seram itu di dalamnya ada ruang bawah tanah yang begitu luas , bersih dan rapi.
"Ini adalah rumah tersembunyi, rumah kamuflase lebih tepatnya. Kalian akan aman dan bisa beristirahat dengan tenang disini."
Alex mengangguk. Pria itu menatap kesana kemari melihat bangunan itu. Matanya menangkap bayangan seorang pria. Pria itu membungkuk dan memberinya salam.
"Kapan Yakusa itu datang."
Alex melirik Wolf yang mulai mendudukkan diri disofa bersama Edward. Entah apa yang akan dibicarakan keduanya.
"Semalam."
__ADS_1
Alex mengangguk dan ikut duduk bersama keduanya. Ketiganya terlibat pembicaraan serius tentang misi yang akan dijalankan malam nanti.
Alex mengeluarkan IPad dan menunjukkan lokasi lokasi yang akan dieksekusi serentak serta garis besar serangan yang akan mereka lakukan.
Wolf terlihat mengangguk mengerti, sepertinya ia tidak merasa keberatan dengan rencana mereka. Ia bahkan memberikan jaminan, jika aksi mereka tercium oleh militer.
Edward tersenyum puas, begitu juga dengan Alex. Dua orang itu saling melirik seperti memiliki pemikiran yang sama.
.
.
Kimura melirik sinis Alex yang tiba-tiba datang menghampirinya. Bagaimana pun ia masih sangat dendam sekali pada pria itu, jika bukan karena baby Kenta, enggan rasanya jika harus berhadapan dengan psikopat itu.
Alex menyeringai ketika Zen, asisten baru Kimura maju kedepan seperti sedang melindungi Tuannya.
"Tuan..."
Alex mengangkat tangannya ke atas, pria itu seperti tidak ingin basa basi.
"Kimura, seperti perjanjian sebelumnya, aku membawakan senjata yang kalian butuhkan. Queen mengijinkan kalian menggunakan teknologi dari GL untuk misi ini, tapi ingat! jangan coba coba berhianat atau kalian akan mendapat akibatnya!"
Dia adalah keturunan Yakusa, tak gentar sedikit pun jika hanya menghadapi sebuah ancaman. Ia sudah sering menghadapi hal semacam itu, tapi kali ini ia akan sportif demi putranya.
"Ngomong ngomong, akibat apa yang kau bicarakan Tuan Alexander, apa kau akan menyiksaku?" Kimura tersenyum mengejek.
"Aku bahkan akan mengulitimu hidup hidup jika sekali lagi kau membuat kesalahan. Cih! bagaimana bisa Queen memaafkanmu begitu saja. Jika aku jadi dia, aku tak segan segan menembak otak kosongmu itu !"
Kimura tersenyum bahagia. Sama sekali tidak tersinggung atas ucapan Alex. "Jangan terlalu membenciku. Aku tau, aku adalah orang licik, tapi jangan lupa orang licik ini juga yang sudah menyelamatkan Brian waktu itu. Bisa kau bayangkan jika di tempat kejadian itu tidak ada aku? Anak itu pasti sudah.." Kimura membuat gerakan tangan di lehernya.
Alex diam saja. Dalam hatinya ia masih merasa tidak suka suka saat musuh dijadikan kawan. Jika bukan karena Edward dan Aurora, ia pasti akan lebih memilih mengomandoi pasukannya sendiri untuk menyerang markas besar madam Yora.
"Simpan saja omong kosongmu itu. Kau menyelamatkan Brian juga untuk kepentinganmu sendiri. Aku tidak banyak waktu, malam ini juga kalian harus memastikan jika gudang narkotika di San Pedro Sula habis terbakar dan jangan meninggalkan jejak sedikit pun. Ingat! jangan ada yang membunuh warga sipil. Gunakan otak licik kalian untuk masuk menyelinap dan memasang bom disana. Hati hati, mereka sama liciknya dengan kalian. Mereka pasti memasang banyak ranjau disana." Alex tersenyum licik.
"Bukan pekerjaan sulit. Sekarang juga aku akan segera berangkat. Aku pastikan aku akan pulang membawa kemenangan." ujar Kimura percaya diri.
"Hati hati dengan identitasmu. Jangan sampai Yakusa milik ayahmu jadi buronan setelah ini. Aku tidak bertanggung jawab jika ada apa apa pada keluargamu, karena madam Yora masih hidup sampai saat ini dan aku sudah mengingatkanmu."
Alex langsung berbalik setelah mengatakan hal itu. Ia hanya mencoba memberi peringatan agar tak ceroboh dan menjadi senjata makan tuan. Ia juga tidak mau disalahkan jika terjadi sesuatu dikemudian hari.
__ADS_1
"Tunggu!" seru Kimura.
"Jika begitu, kenapa kau tak meminjamkan meriam lasermu saja pada kami. Apa yang akan kau lakukan pada benda itu. Kau mempersulit pekerjaanku Alex."
Kimura merasa sedikit takut jika salah satu anggotanya melakukan kesalahan yang berakibat pada keluarganya. Kelompoknya pasti akan langsung dibidik saat tau jika yang melakukan penyerangan adalah dirinya, walaupun atas perintah orang lain. Tak semudah itu menyembunyikan identitas tato di tubuh. Ia jadi menyesal sudah menato tubuh anggotanya. Kelompoknya pasti sudah ditandai kemiliteran. Ia harus hati-hati kali ini.
"Maaf. Benda itu tidak bisa dipakai disana. Disana banyak pemukiman warga sipil. Aku tak mau berurusan dengan militer. Jika terdesak, larilah ke pesisir pantai, anak buah Beni Adrian yang akan mengevakusi kalian. Mereka sedang berada di Kuba saat ini. Berpikirlah bijak Kimura. Jangan mudah menggampangkan sesuatu." ucap Alex sebelum berlalu.
Zen menghela nafasnya ketika Alex sudah keluar dari ruang itu. Pria itu menghampiri bosnya yang masih terdiam. Ia ingin tau apa yang sedang dipikirkan pria itu.
"Tuan,."
Belum sempat Kimura menjawab, anggota Gl masuk sembari mengangkat peti senjata. Diletakkannya senjata itu di depan Kimura begitu saja.
Kimura yang penasaran bentukan dari senjata yang dikirim Alex, langsung mengambil satu buah senapan laras panjang dan ditelitinya seksama.
"Sial. Ini bukan senjata pabrikan miliknya. Benar benar orang yang berhati hati dalam bertindak." gumamnya pelan.
Dari jauh Alex tersenyum miring. Mana mungkin pria itu memberikan senjata pabrikan miliknya. Kali ini ia tidak mau diliciki siapa pun. Ia bukan orang yang mudah percaya pada orang lain.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya pelan.
Alex terkejut dan menoleh ke samping.
"Bos."
"Kau melakukannya Alex." ujar Edward dengan seringainya.
"Tentu saja. Bukan kita yang membunuhnya, tapi orang lain yang akan melakukannya. Itu adalah hukuman yang pantas mereka dapatkan. Kita memang tidak bisa membunuhnya secara langsung, setidaknya keluarganya yang merasakan akibat dari keserakahannya di masa lalu. Aku sudah tak sabar menantikan hal itu."
Alex tersenyum licik. Ini adalah sebuah politik. Menghabisi musuh dengan mengkambing hitamkan musuh lainnya sudah hal biasa baginya. Dan sekarang Kimura yang akan menanggung akibatnya.
.
.
.
#####
__ADS_1
Tinggalkan vote, jempol dan komentar + kalian.