
Ajeng pun memutuskan untuk mencari bibi di dapur, ia tidak akan kembali ke kamar
karena kalau ke kamar pasti Al akan tahu jika dia sedang memikirkan sesuatu,
kalau tidak mendapat jawaban dari ajeng, Al pasti akan mencari tahu. Jika
sampai mencari tahu, pasti masalahnya akan semakin serius.
Langkahnya terhenti ketika melihat wanita paruh baya itu seperti sedang membuat adonan. Ajeng tersenyum, ia kembali teringat dengan ibunya walaupun baru kemarin ia bertemu dengan ibunya, tapi rasa rindu itu semakin besar saja di kala ia jauh.
Tapi kasih sayang seorang ibu memang selalu menyertai kemanapun anak-anak nya pergi.
Ajeng pun kembali melanjutkan langkahnya, ia perlahan mendekati wanita paruh baya itu.
“Bi …, lagi ngapain?” tanya Ajeng saat sudah sampai di dapur. Ajeng duduk tepat di depan bibi. mengamati apa yang sedang di lakukan oleh wanita patuh baya itu.
“Ehhh…, neng Ajeng …, bibi nih bingung kalau jam segini mau ngapain, dari pada nganggur, ya bibi buat cemilan aja, siapa tahu ada yang suka!” ucap bibi itu dengan penuh keluwesan. memang kalau di kampung orang seumuran bibi ini sangat susah kalau hanya di suruh diam saja di rumah, mereka pasti akan sibuk mencari-cari pekerjaan.
Mendengar penuturan bibi, Ajeng tersenyum. Ia begitu memaklumi tingkah bibi yang seperti itu. untuk memasak makan malam juga masih lama jadi bibi pasti mencari kesibukan.
“Buat cemilan apa bi?” tanya Ajeng sambil mencoba menirukan apa yang di lakukan bibi, ia ikut membuat bulatan-bulatan isian kacang hijau yang sudah hilang kulitnya.
“Onde-onde!” jawab bibi senang karena merasa memiliki teman ngobrol.
“Wahhh Ajeng suka tuh makan, tapi nggak bisa buatnya. Mbaknya Ajeng pinter banget bi
buat jajanan tradisional kayak gitu, namanya mbak Diah. Tapi sekarang orangnya sudah jauh jadi jarang ketemu deh ....!” Ajeng malah bercerita panjang lebar hingga ia melupakan tujuannya menemui bibi.
“Kalau neng Ajeng mau mah …, pasti bibi ajari!"
"Beneran bi ....? Ajeng seneng banget!!!"
Oh iya ....., aku ke sini kan bukan buat kursus onde-onde, aku kan mau wawancara bibi ......, dasar Ajeng suka banget lupa ......
Ajeng mengeluh pada dirinya sendiri karena hampir melupakan tujuannya yang semula.
"Ayo neng bibi ajari ...,.!" ajak bibi lagi.
“Iya tapi kapan-kapan aja ya bi. Sebenarnya Ajeng ke sini mau tanya sesuatu!”
“Tanya apa?” bibi yang tadinya biasa saja kini jadi tampak serius melihat wajah serius Ajeng.
"Jangan natap Ajeng kayak gitu bi, Ajeng kan jadi takut .....!"
"Maaf ....., maaf neng, nggak sengaja!"
“Duduk dulu bi, biar ngobrolnya enak!”
Ajeng mengajak bibi duduk di bangku yang ada di ruang makan.
"Bentar neng, bibi cuci tangan dulu!" ucap bibi sambil menunjukkan tangannya yang penuh dengan adonan.
Setelah membersihkan tangannya dan mengambil lap yang tergantung di samping lemari es, bibi pun kembali menghampiri Ajeng.
Mereka duduk berhadapan di meja makan, di tempat duduk yang tadi Ajeng duduki.
"Mau nanya apa neng, serius sekali sepertinya?" tanya bini lagi begitu penasaran.
__ADS_1
"Maaf bi ini sebenarnya sikapnya pribadi, Ajeng takut jika membuat kesalahan dengan menanyakan hal ini pada bibi, tapi jika Ajeng tidak bertanya. rasa penasaran Ajeng memuncak!"
"Apa sih neng? Ya nanti kalau itu sebuah kesalahan, bibi akan bantu mengingatkan neng kalau itu salah!"
"Makasih ya bi!" bibi pun tersenyum dan mengangguk. Ajeng menghembuskan nafas dalamnya sebelum memulai bertanya.
“Bibi pasti tahu kan tentang papa?” pertanyaan Ajeng seketika membuat bibi terkejut. ia tidak menyangka jika menantu di rumah ini akan menanyakan hal itu juga.
“Bapak?”
“Iya…, bagaimana hubungan mama sama papa?”
Sebelumnya bibi sempat ragu untuk bercerita, tapi melihat tekat yang besar dari Ajeng membuat bibi merasa iba. Bibi pun mulai bercerita.
“Memang beberapa tahun ini bapak jarang pulang mbak, tapi seperti biasa ibuk nggak
pernah mau cerita!”
“Masalahnya apa?”
“Kalau bibi sih nggak tahu, tapi sebelum mas Dika ke jogya sempat terjadi keributan
antara bapak sama mas Dika!”
“jadi menurut bibi? Dika tahu sesuatu?”
“Mungkin saja neng! soalnya mas Dika berangkatnya dengan wajah yang begitu sedih dan penuh amarah!"
"Apa aku harus bertanya sama dika ya tentang hal ini!?" gumam Ajeng.
"Oh iya …, pas bibi nyuci celananya bapak, bibi nemuin sesuatu!” ucap bibi setelah teringat pada sesuatu.
“Sebentar, bibi ambil dulu!” Ajeng mengangguk.
Bibi pun beranjak dari duduknya, ia berlalu meninggalkan Ajeng tapi tak berapa lama
kembali lagi dengan membawa secarik kertas.
“Ini neng Ajeng!” bibi menyerahkan kertas itu.
“Ini sepertinya kuitansi pembelian rumah, rumah siapa dengan harga semahal ini?”
Bibi tak bisa menjawab pertanyaan Ajeng, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya tanda
jika dia juga tidak mengetahuinya.
“Baiklah bi, sekecil apapun petunjuknya ini sangat berarti. Ajeng akan mencari tahu
sendiri!”
"Semoga semuanya baik-baik saja!"
"Makasih ya bi, Ajeng ke kamar dulu!"
Ajeng pun meninggalkan bibi dengan penuh tanda tanya, ia segera kembali ke kamarnya.
Melihat suaminya sedang tertidur pulas, sepertinya dia sangat lelah. Ajeng
__ADS_1
segera menyimpan kertas itu ke dalam tas yang selalu ia bawa kemana-mana.
“Aku harus mencari rumah ini!!” gumam Ajeng karena di dalam kuitansi itu ada alamat sebuah rumah.
Ajeng pun menyusul suaminya, tapi tetap saja ia tidak bisa tidur karena pikirannya
sedang melayang kemana-mana. Ia hanya duduk di samping suaminya sambil
memikirkan langkah selanjutnya.
Hingga sore hari, ajeng membangunkan suaminya. Sebenarnya tidak tega karena Al sangat pules tidurnya tapi pasti Al akan marah jika sampai tertinggal sholatnya.
“mas …, mas Al …, bangun sudah sore!” Ajeng menggoyangkan punggung Al. al pun
mengeryitkan matanya mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.
Al tersenyum saat benar-benar membuka matanya karena wajah yang pertama kali di
lihatnya adalah wajah yang begitu ia cintai.
“Senangnya bangun sudah bisa melihat wajah istri tercinta!” ucap al dengan suara seraknya
khas bangun tidur.
“Lebih seneng lagi kalau liat mas Al segera bangun terus mandi …, Ajeng sudah lapar
banget!”
Mendengar keluahan istrinya, Al seketika beranjak bangun, mengelus pipi Ajeng dengan
penuh cinta.
“Maafin mas ya, Adek jadi kelaparan …, mas pasti tidurnya lama banget. Baiklah mas mandi
trus kita sholat dan makan!”
Tanpa menunggu jawaban Ajeng, Al langsung ngiprit ke kamar mandi membuat Ajeng tersennyum.
Sebenarnya ia tidak begitu lapar, tapi melihat sebegitu pedulinya suaminya
padanya membuatnya begitu senang sekaligus terharu. Dulu dia sempat takut jika
menikah dengan pria yang berbeda usia sangat jauh kehidupannya tidak akan
bahagia, tapi ternyata apa yang dia dapat lebih dari segalanya. Suami yang
begitu mencintainya, memperhatikannya, membimbingnya. Hubungan mereka semaikn
istimewa saat pria introvert itu ternyata penuh dengan kejutan.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 😘😘❤️❤️