
Dibelahan bumi lain, Aurora dan David sudah sampai di Bandar Udara Internasional Tan Son Nhat, Ho Chi Minh, Vietnam. Mereka berdua bersama sama pergi ke hotel yang sudah direservasi sebelumnya .
Setelah mendapatkan kartu akses masuk, Aurora dan David menuju kamar masing masing untuk meletakkan barang bawaannya.
"David, jam berapa kita meeting.!?
"Setelah makan siang nona, jam satu." ucap David seraya melihat kearah jam tangannya.
"Baiklah, temui aku jam 12 , kita makan siang bersama."
"Baik nona."
Setelah mengatakan itu, Aurora masuk kedalam kamarnya . Ia menghidupkan televisi dan membuka kran air untuk menghilangkan rasa sunyi dalam kamar itu.
Ia merebahkan punggungnya sejenak. "Aghh.. aku lelah sekali," gumamnya sambil memejamkan matanya sejenak.
Aurora kemudian bangkit dan membersihkan diri sebelum menyelesaikan pekerjaannya. Tubuhnya kembali segar setelah merendam tubuhnya dalam bathtub.
Aurora membuka laptop dan mengerjakan kembali pekerjaan kantornya hingga suara ketukan pintu terdengar dari luar. David sudah rapi dengan tampilan busana kerjanya, berdiri didepan kamar Aurora sambil menenteng tas kerjanya.
"Wow, kau tampan sekali Tuan David, tidak biasanya." ejek Aurora
"Apa anda mengejek saya nona?"
"Tentu saja tidak, Baiklah tunggu sebentar aku akan mengganti baju mengambil tasku dulu."
Aurora keluar dari kamar dengan tampilan smartnya, terlihat sekali jika ia adalah wanita berkelas. Ah sayang sekali pasangan tampannya tak sedang bersamanya.
David mengekori Aurora sampai di lantai restoran dari hotel itu. Aurora mengambil makanan dan minuman, lalu duduk menghadap sebuah jendela besar yang menampakkan kota itu.
Dari arah jauh, pria yang ditugaskan Edward untuk menjaga Aurora, mengamati setiap hal yang di lakukan oleh Aurora dan David.
Tangannya mengarahkan kamera untuk membuat laporan pada bosnya. Tanpa diduga, David melambaikan tangannya kearah kamera yang merekam kegiatan mereka.
Pria itu saling berpandangan, entah apa yang mereka pikirkan. Secepat itukah mereka ketahuan. Bagaimana bila Nona mudanya mengetahuinya, mungkin itu yang ada dalam otak mereka.
Selepas makan siang, Aurora dan David menuju perusahaan tempat mereka meeting. Keduanya berjalan memasuki dimana ruang meeting berada.
Tampak disana sudah ada beberapa orang yang hadir. Senyum Aurora terkembang dan menyalami satu persatu orang yang hadir disana.
Mereka berdua duduk dibangku yang disediakan. David sang asisten mulai menyalakan laptopnya.
Para peserta rapat yang hadir saling berbisik menatap Aurora. Mereka penasaran dengan sosok cantik dihadapannya. Pasalnya mereka belum tau pergantian ceo baru di perusahaan Hardy's Company.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya memasuki ruang meeting bersama seorang pria dewasa. Wanita itu mengukir senyum saat melihat kehadiran Aurora dalam ruang meeting .
Mereka berbicara dalam bahasa Inggris.
"Selamat Siang semua, selamat datang di cabang perusahaan kami. Terima kasih untuk semua yang sudah hadir. Baiklah langsung saja, sebelumnya perkenalkan wanita cantik disebelah sana. Mungkin sebagian ada yang sudah mengenal, beliau adalah putri dari Tuan Hardy, ceo baru Hardy's Company. Perusahaan beliau yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita seperti tahun tahun lalu. Nona Aurora, mohon perkenalkan diri anda dan persentasikan proposal anda." ucap wanita itu tersenyum hangat.
"Terima kasih Nyonya, .."
.
.
Langit berubah hitam, menandakan hari sudah berganti malam. Angin berhembus cukup kencang dimalam itu,tapi sedikitpun tak mengurungkan niatnya untuk sekedar beranjak dari tempat itu.
Aurora menatap gedung gedung tinggi menjulang dihadapannya. Kota dengan hiruk pikuk dan hilir mudik kendaraan yang tak ada henti hentinya.
Aurora mengalihkan pandangannya saat ponsel disakunya bergetar . Edward sang suaminya melakukan VC.
"Hallo Sayang, lagi ngapain, kenapa belum tidur, kamu sedang dimana..? tanya Edward beruntun ketika melihat wajah sang istri dalam ponselnya.
"Aku sedang dihotel, lihatlah, ini indah bukan.." ucap Aurora yang memutar kameranya agar Edward melihat apa yang sedang ia lihat.
Edward tersenyum simpul memandang wajah cantik Aurora dalam ponselnya. Ia begitu merindukan pelukan seorang Aurora.
"Indah, tapi tak seindah wajahmu sayang, segera masuklah kekamarmu, ini sudah malam, angin malam tak baik untukmu." ucap Edward mengingatkan.
"Aku tau, sebentar lagi aku kembali."
"Bagaimana pekerjaanmu, apa semua berjalan lancar, apa ada yang menyulitkanmu?" tanya Edward dengan nada seriusnya.
"Semua berjalan lancar, apa kau tau.." ucapan Aurora terputus saat melihat David yang berjalan sempoyongan dengan memegang kepalanya frustasi melintas didepannya.
"Ada apa sayang , apa yang terjadi? Ada apa dengan wajahmu??" tanya Edward khawatir yang melihat perubahan mimik wajah istrinya.
"Tak ada, baiklah nanti ku telfon kembali. Ada yang harus aku selesaikan. Bye.." Aurora langsung menutup telfonnya dan menghampiri David yang begitu berantakan.
"Hei David, apa yang terjadi padamu..! Kau mabuk...!!" seru Aurora dengan berkacak pinggang.
"Maaf nona, aku harus segera kembali kekamarku. Aku tak enak badan." ucap David yang berjalan kembali dengan sempoyongan dengan wajah memerah dan terkadang tubuhnya tersentak bergetar serta keringat yang berucuran.
__ADS_1
Aurora menarik nafasnya dalam dalam. Ia menatap punggung David yang mulai menjauh dari pandangannya, otaknya berfikir apa yang sedang terjadi pada pada tubuh David.
Dahi Aurora mengerut saat melihat seorang pria imut memapah tubuh David,
"Apa dia sekarang pemain?" batin Aurora penasaran. Segera ia menggeleng mengusir pikiran buruknya.
Aurora melangkahkan kakinya sedikit tergesa gesa menuju kekamarnya yang berada di sebelah kamar David. Ia hanya penasaran apa yang sedang terjadi pada asistennya itu.
"David..!" seru Aurora saat dua orang itu hendak masuk dalam kamarnya.
"Iya nona,." ucap David tenang dengan menahan keadaan tubuhnya yang sudah gusar .
Aurora memandangi Tubuh David dari atas hingga bawah, hingga pandangannya tertuju pada inti David yang sedikit menonjol.
"Maaf nona, sepertinya Tuan ini sedang sakit. Sebaiknya saya letakkan dulu dikamarnya." ucap Pria itu menatap tidak suka pada Aurora.
"Baiklah, antarkan ia kedalam dan lekaslah keluar." ucap Aurora datar. Pria itu mengangguk dan tiba-tiba ia menutup pintu dengan kakinya.
Blamm..
Aurora terkejut dan memegangi dadanya yang terkejut. Ia semakin penasaran dengan pria itu.
"Apa dia terkena pengaruh obat perangsang?" batinnya bertanya tanya. Ia mondar mandir didepan pintu kamar David, pasalnya pria yang sedari tadi didalam tak kunjung keluar.
"Sial..!!Apa yang sebenarnya terjadi.!" batin Aurora frustasi. Ia begitu penasaran.
Aurora masuk kekamarnya sendiri dan duduk ditepi ranjang. Ia menekan panggilan menelfon suaminya.
"Hallo Sayang, ada apa denganmu?" tanya Edward diseberang sana.
"Hallo, sayang aku mau tanya, apa yang terjadi saat tubuhmu terkena obat perangsang!" ucap Aurora to the point.
Edward diseberang sana mengerutkan dahinya. Ia masih mencerna kemana arah pembicaraan istrinya.
"KAKAK..!! Jangan diam saja..!!" seru Aurora yang mulai gelisah.
"Ada apa denganmu? Apa kau baik baik saja?" tanya Edward balik khawatir, takut istrinya terjadi sesuatu yang buruk.
"Aku baik baik saja, tapi tidak dengan David. Aku merasa ada yang tidak beres dengannya. Jadi katakan padaku, apa yang terjadi pada tubuhmu saat terkena obat sialan itu.!" seru Aurora yang mulai tak sabar.
Edward pun menceritakan keadaannya saat dirinya terkena pengaruh obat sialan itu. Cukup singkat penjelasan Edward yang membuat mata Aurora membulat saat sadar yang diucapkan suaminya mengarah pada keadaan David saat ini.
"Astaga,.." gumam Aurora pelan menutup mulutnya.
"Kakak, aku tutup telfonnya dulu. Gawat, dia sedang bersama seorang pria dikamarnya. Bagaimana jika ia seorang gay..!!" seru Aurora panik.
"Tidak, perasaanku berkata lain. Aku tutup telfonnya, nanti kuhubungi kembali."
"Baiklah,jaga dirimu baik baik."
Aurora diam sebentar, ia keluar membuka pintu kamarnya, ia akan turun kebawah meminta kunci cadangan pada pihak hotel.
Langkahnya terhenti saat mengingat pintu kamarnya yang terhubung dengan kamar David. Ia segera masuk kedalam kamarnya dengan tergesa.
"Ah Aurora, kau begitu bodoh saat panik." gumam Aurora yang membuka pintu perlahan.
Ceklek..
"Astaga.." lirih Aurora terkejut melihat pemandangan didepannya.
Ia bingung, ia tak tau harus melakukan apa. Keadaan didepannya adalah sesuatu yang tak sepantasnya ia lihat. David terlihat sedang dicumbu oleh pria itu, bahkan mereka berdua sudah polos tanpa sehelai benang. Aurora menutup matanya sejenak.
"Maafkan aku suamiku. Aku menodai mata ini " Batin Aurora
"David..!! apa yang kau lakukan..!!!" seru Aurora
"No..nona." ucap David dan segera membalut tubuhnya dengan selimut.
"Hai nona cantik, apa kau mau bermain dengan kami?" ucap pria itu santai memamerkan kejantanannya yang tegak berdiri menantang.
"KAU GILA...!!!" pekik Aurora
"Hahahaha... sayangnya aku tak tertarik padamu, aku hanya tertarik pada pria tampan itu." ucap Pria itu dengan seringainya.
Aurora membulatkan matanya, nafasnya mulai menderu. Ia benci keadaan ini, tapi ia harus menolong asistennya.
"KAU BODOH DAVID...!!" pekik Aurora kesal.
"Tutup burungmu atau ku tembak selang kanganmu..!!" ucap Aurora geram sambil mengokang pistolnya dan mengacungkan pada pria itu.
Pria itu tak takut dengan ancaman Aurora, ia berjalan maju mendekati Aurora dengan kedua tangannya terangkat keatas.
"Letakkan senjatamu nona, ini bukan wilayahmu, apa kau ingin berurusan dengan aparat disini?!" ucap pria itu menakut nakuti.
"Bang SAT..!! MENJAUH DARIKU..!!" Bentak Aurora
__ADS_1
Aurora yang geram, langsung menghadiahi tendangan tepat di bawah perut pria itu.
Duak..
Pria itu tersungkur kebelakang meringis menahan ngilu pada batangnya.
"CEPAT PAKAI BAJUMU...!!" ucap Aurora sambil melempar pakaian pria itu.
Aurora mendekati ranjang David, ia terkejut mendapati tubuh David semakin gelisah tak karuan. Butir keringat membasahi tubuhnya menahan rasa tak nyaman pada dirinya. Bahkan tubuhnya terasa panas.
"Kalau cuma pengaruh obat sialan itu,kenapa dia demam..?" batin Aurora bertanya tanya.
"DAVID...!! Cepat kekamar mandi. Tuntaskan hasratmu disana...!!!! Kau jangan menjadi bodoh DAVID...!!" Pekik Aurora yang melihat tangan David bergerak berirama didalam selimut. Bahkan ia tak peduli lagi dengan kehadiran Aurora.
"Tolong saya nona, saya sudah tidak tahan. Ini tidak nyaman sekali. Saya sudah keluar berkali kali, ini sangat menyakitkan nona. Tolong saya nona. Aaaaaaghhhh..." Lenguh David melengkung.
Aurora yang geli hanya meringis melihat wajah David.
"Bang SAT..!! Apa yang kau lakukan pada asistenku..!!" ucap Aurora sembari menodongkan pistolnya.
"Hahaha..aku menyukai asistenmu nona, biarkan aku bersamanya, biarkan aku yang menyembuhkannya nona."
"Dasar GILA..!!" pekik Aurora
Tiba tiba saja pintu kamar David dibuka paksa oleh dua orang pria berbadan kekar. Aurora terkejut bukan main.
"Siapa kalian,..!! Kenapa masuk kekamar ini.." Seru Aurora dengan mata menajam.
"Maaf nona, kami diperintahkan Tuan Edward untuk melindungi anda ." ucap salah seorang pria.
"Suamiku.." beo Aurora
"Iya nona."
Aurora tersenyum senang,
"Singkirkan pria gila itu dari hadapanku. Beri dia pelajaran sampai dia meminta ampun padaku. Jangan lepaskan sebelum aku perintahkan. Apa kalian mengerti..!!" ucap geram Aurora
"Mengerti nona,"
"Tunggu,..!! telfonkan dokter juga untuk asistenku.!!"
"Baik nona."
"Hahaha...ingat nona, hanya aku yang bisa menyembuhkan asistenmu nona. Hahaha...!!"
"Dasar Gila..." desis Aurora
Aurora mendekati David yang semakin tampak kacau. Tangannya terus saja bergerak didalam selimut. Entah sudah keberapa kalinya dia melenguh. Telinga Aurora semakin geli saja.
"Tenanglah David, hentikan tanganmu...!!'' pekik Aurora
"Tidak bisa nona..tidak bisa.. Aaaaaaghhhh.. " Lenguh David
Aurora yang geram langsung mengikat tangan David dengan dasi. Ia rentangkan kekanan dan kekiri tempat tidur.
David semakin frustasi, tubuhnya berkeringat hebat. Badannya memberontak ingin dilepaskan. Panggulnya melengkung keatas ingin penyaluran kembali. Ia kembali meraung raung.
"Nona...!!! Lepaskan saya nona...!!tolong saya..saya tidak kuat nona..!! Aaaaaaghhhh...nona..!!"
"Nona..!!! Agggghhhhhttt Bang Sat...!!"
Aurora memijit pelipisnya, ia tidak tau apa yang terjadi pada asistennya. Ini bukan obat sialan biasa pikirnya.
Lama menunggu dokter datang, Aurora juga semakin frustasi. "Apa aku bawa ke rumah sakit saja ya,." batin Aurora
"Nona, kalau kau tak melepaskan aku, bunuh saja aku nona..!!ini sangat menyiksaku..!!" rancau David
Aurora mendekati ranjang David, ia berencana akan membuat David pingsan . Baru tangannya akan memukul tengkuk David, dokter langsung masuk bersama seorang pria suruhan Edward.
"Apa yang terjadi..!" tanya dokter itu.
"Lihatlah sendiri, aku tadi hanya ingin membuatnya pingsan,aku kasihan padanya, berhubung dokter sudah disini, aku serahkan padamu. Aku menunggumu disana." ucap Aurora melenggang pergi.
Dokter terkejut dengan keadaan pasiennya, banyaknya cairan putih tercecer disana membuatnya ia geleng geleng kepala. Ia kemudian menyuntikkan cairan kedalam tubuh David. Perlahan tubuhnya kembali tenang.
"Bagaimana dokter, apa yang terjadi padanya.?" tanya Aurora khawatir
"Sepertinya dia mengkonsumsi obat perangsang ilegal, saya belum tau jenis yang seperti apa, tapi bisa dicek di laboratorium bila anda mengizinkan. Ini ada obat, bila nanti dia terbangun, minumkan padanya." ucap Dokter itu.
"Baiklah terima kasih banyak dokter, berikan nomor rekening dokter pada pria itu. Aku akan segera mentranfernya."
"Baiklah, terimakasih nona. Saya permisi,"
.
__ADS_1
.
.