
Ajeng mengernyitkan keningnya saat
merasakan ada tangan yang sedang mengelus puncak kepalanya, ia pun perlahan
membuka matanya, wajah dan senyum yang pertama kali ia lihat adaah senyum yang
dulu tidak pernah ia duga sekalipun ada dalam setiap doanya. Kini wajah dan
nama itu yang selalu ada dalam doanya.
“Bangun
dek …, sudah sore!” ucap Al sambil terus mengusap rambut Ajeng dengan penuh
kelembutan.
“Mas …,
jam berapa?”
“Jam
setengah lima!”
Ajeng begitu terkejut saat mendengar
ucapan suaminya, ia segera bagun dari tidurnya sambil memegangi selimut yang
menutup tubuhnya agar tidak terbuka.
“Mas
…,kenapa nggak bangunin ajeng sih …, ajeng jadi kesorean kan, pasti mama Renna
juga sudah pulang, kan jadi malu nggak ikut menyambut mama Renna!” keluh Ajeng,
ia terus mengomel sambil berjalan menuju ke kamar mandi. Sedangkan Al masih
tercengang di tempatnya, ia menggelengkan kepalanya, senyum juga mengembang di
bibirnya. Ia suka Ajeng yang seperti ini, ajeng yang apa adanya.
Al sudah sholat lebih dulu jadi
Ajeng pun akhirnya sholat sendiri, setelah selesai sholat ia segera membuka
mukenanya dan menyisir rambutnya yang masih basah. Al masih saja duduk di
tempatnya memperhatikan tingkah istrinya yang sedari tadi tidak mau diam,
kesana kemari seperti bola.
“Mas Al
gimana sih? Pasti sekarang mama Renna sedang masak sendiri di dapur, harusnya
Ajeng yang bantuin, tapi mas Al malah nggak bangunin Ajeng!” Ajeng terus
menggerutu dengan segala Omelan nya, tapi Al hanya menanggapinya dengan
tersenyum dan menyanggah tubuhnya dengan sebelah tangannya, memiringkat
tubuhnya menghadap Ajeng.
“Mas …,
jangans enyum seperti itu, Ajeng nggak suka ya!” ucap Ajeng sambil menatap
tajam pada Al, al pun segera mengubah ekspresi wajahnya.
“Kenapa
sekarang malah mrengut kayak gitu?” protes Ajeng lagi saat Al mengubah
ekspresinya.
“tadi
katanya nggak boleh senyum, jadi mas pura-pura ngambek aja!”
“terserah
lah …, bye …!” ajeng mengibaskan tangannya dan segera meninggalkan suaminya, ia
keluar dari kamar dan langsung menuju ke dapur. Tapi saat sampai di sana ia
tidak menemukan mama mertuanya.
“mama
Renna nggak di sini?” gumam Ajeng, di sana hanya ada bibi yang tadi.
“Eh neng
Ajeng …!” ucap bibi saat menyadari ke datangan Ajeng. Ajeng yangs empat
__ADS_1
menghentikan langkahnya di depan pintu dapur, ia pun kembali melangkahkan
kakinya dan menghampiri bibi.
“Mama
Renna?”
“Ibu
jarang masak neng, apalagi kalau bapak di luar kota. Kasihan ibu neng, kesepian
di rumah sebesar ini nggak ada yang nemenin, bapak juga jarang sekali pulang!”
“benarkah?
Tapi nggak ada apa apa kan bi?”
“Bibi
juga kurang tahu, soalnya ibu nggak pernah cerita masalahnya!”
“sama
mas Al atau sama Dika?”
“Juga
nggak pernah!”
Tapi mama Renna orangnya ceria
gitu, nggak mungkin lah kalau ada masalah …., kalau ada masalah pasti mas Al
juga tahu dan cerita kan ke aku …., batin
ajeng.
“Ajeng
…, mama cari di kamar kamu, eh ternyata sudah di sini!”
Kedatangan mama Renna membuyarkan
lamunan Ajeng, ajeng segera menoleh ke sumber suara dan terseyum padanya. Mama
Renna menghampiri Ajeng dan mengelus pundaknya.
“Kamu
“tadi
ajeng nyariin mama Renna, ternyata nggak ada!” jawab Ajeng sambil nyengir kuda.
“Mama
jarang di dapur sayang, tapi karena sekarang ada kamu sama Al, mama mau masak
deh. Kamu duduk dan liat aja mama masak ya …!”
“Nggak
ma …, ajeng mau bantu!”
“Jangan
…, nanti suamimu yang posesif itu marah loh …, nggak usah biar mama saja!”
Mama Renna pun segera membuka lemari
es dan mengeluarkan bahan-bahan yang akan di masak.
“Ma …,
boleh ya Ajeng bantu?”Tanya Ajeng dengan wajah memelasnya, mama Renna pun
menatap menantunya itu, lama-lama ia jadi tidak tega.
“baiklah
…., tapi bantu yang ringan-ringan saja. Mama nggak mau kalau sampai kamu
kecapekan!”
Ajeng
tersenyum, ia begitu senang di ijinkan untuk ikut memasak. Ia segera berdiri di samping
mertuanya dan mulai memotong-motong sayuran yang sudah di cuci oleh bibi.
Sedangkan ibu mertuanya membuat bumbu, kerja sama mereka begitu kompak, menantu
dan mertua yang komp[ak. Kehangatan sikap mama Renna membuat ajeng nyaman
berada di dekatnya.
__ADS_1
Setelah
menyelesaikan pekerjaannya, mereke segera menyiapkan di meja makan. Senyum
hangat tak pernah lepas dari bibir mama Renna. Mereka pun meninggalkan meja
makan saat azan magrib berkumandang, kali ini Al sholat berjama’ah di rumah
bersama ajeng dan mama Renna. Sambil menunggu sholat isya’ Al melakukan
tilawatil Qur’an dan ajeng mendengarkan kemerduan suara suaminya.
Setelah
menyelesaikan sholat, mereka segera menuju ke meja makan. Bibi juga ikut makan
bersama mereka. Karena selama ini teman mama Renna makan hanya bibi dan
sesekali Lukman juga ikut, tapin kali ini tidak bisa ikut karena Lukman kalau
jam seperti ini mengajar mengaji di madrasah diniyah tak jauh dari rumah mama
Renna dan akan kembali saat jam Sembilan.
“Mama
seneng bisa makan bareng sama kalian, tinggal di sini aja lah Al. mama kesepian
sekali!”
“Maaf
ma …, tapi pekerjaan Ajeng kan di Malang, trus Al juga membuka cabang di sana!”
“kalian
kan bisa kerja dari sini, lagian kan pekerjaan Ajeng nggak nuntut setiap hari
datang. Ajeng bisa mengerkjakan pekerjaannya dari rumah!”
“Al
terserah sama Ajeng aja ma!”
“Bagaimana
sayang …, kamu mau kan tinggal di sini? Mama kesepian semenjak Dika ke jogya
mama jadi sendirian!”
“Baiklah
…., Ajeng setuju!”
Mendengar
perkataan istrinya, Al segera menoleh ke pada istrinya. Ia tidak percaya
istrinya akan mengatakan hal itu, sebelumnya ia tidak pernah bertanya tentang
hal itu, ia terlalu takut jika Ajeng akan keberatan.
“dek
…, yang mas dengar ini beneran?”
“Iya
mas …, bagi Ajeng dekat dengan keluarga lebih penting dari segalanya. Lagian
kalau kita tinggal bersama mama, kita kan bisa dengan mudah berkunjung ke rumah
bapak juga!”
“Baiklah
…, kalau adek setuju. Mas akan urus semuanya!”
“Maksudnya?”
“Nanti
adek juga akan tahu sendiri!”
“Dasar
si misterius …!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 😘❤️❤️❤️❤️