
"Berhenti menggodaku Yora." ujar Tuan Erick menggeram ketika tangan nakal wanita itu terus merayap ke bagian yang tak seharusnya.
Madam Yora terkekeh kecil melihat reaksi Tuan Erick yang tak berdaya karena ulahnya.
"Oke. Aku akan berhenti menggodamu, tapi setelah ini."
CLEB
Tuan Erick melotot saat merasakan jarum suntik itu tiba-tiba menancap di lengan kanannya.
"Apa yang kau lakukan!"
Madam Yora menyeringai.
Tentu saja aku akan melumpuhkan keras kepalamu untuk membantuku menjalankan misi. Memangnya apalagi.
Madam Yora menepuk bahu Tuan Erick lalu duduk didepan pria itu dengan gaya bossy.
"Tenang saja, itu hanya cairan yang akan membuatmu mengerang ingin. Aku rasa kamu membutuhkan itu untuk menaikkan libidomu Erick. Kamu pemain yang buruk bukan?"
Tuan Erick menggeleng. Pria itu bangkit dan langsung menampar wajah madam Yora.
"Jangan melampaui batasanmu!" tuding Tuan Erick bengis.
Madam Yora tersenyum miring. Wanita itu menggerakkan jarinya memberi kode anak buahnya untuk mencekal pria itu dan membawanya ke dalam kamar.
"Apa yang kalian lakukan! Lepaskan aku!"
Madam Yora diam saja. Wanita itu mengikuti mereka di belakangnya.
Dari jauh Hugo menatap madam Yora dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan.
"Erick. Kamu sudah tau aku wanita seperti apa. Kenapa kamu tidak segera menjalankan apa yang sudah aku perintahkan. Kamu mau berhianat padaku?"
Tuan Erick diam saja.
"Jawab!"
"Tidak! aku tidak akan melakukannya untukmu lagi!"
Wajah madam Yora seketika memerah marah. Wanita itu memberi kode anggotanya untuk mengikat Tuan Erick di sandaran ranjang. Ia ingin sedikit bermain dengan pria itu.
"Apa yang kau lakukan! lepaskan aku!" teriak Tuan Erick. Pria itu memberontak, tapi tenaganya tak sebanding dengan para anak buah madam Yora.
"Ssstt jangan berisik. Lagi pula bodyguardmu sudah aku amankan. Percuma kamu berteriak sekencang itu."
Tuan Erick menggertakkan giginya. Marah tentu saja. Memangnya siapa yang membawa mereka ke pulau ini, kenapa sekarang ia yang jadi tawanannya.
"Kalian keluarlah! Jangan masuk sebelum aku perintahkan!"
Mereka serempak mengangguk dan menutup pintu.
__ADS_1
"Erick. Aku tanya sekali lagi. Kenapa kamu tidak segera membantai semua keluarga Admaja. Bukankah itu pekerjaan yang mudah buatmu."
Tuan Erick lagi lagi hanya bergeming.
"Jawab!" Sentak madam Yora. Wanita itu mengambil jarum suntik dan menyedot cairan berwarna merah kedalamnya. Wanita itu tersenyum iblis.
"Berhenti disana! Apa yang akan aku lakukan! Aku sudah melakukan semua yang aku bisa!" jawab cepat Tuan Erick.
Madam Yora tersenyum remeh.
"Oh ya. Kita tambahkan dosisnya jika begitu."
"Berhenti! Jangan lakukan itu padaku!" Teriak Tuan Erick.
Aghh..
"Itu hukuman karena kamu tidak berhasil melakukan tugas yang aku berikan dengan baik."
"Brengsek kau Yora! Aku sudah melakukan semua yang kau mau! Aku sudah mencelakai Edward, Aurora, bahkan Brian! Aku yang menyelamatkanmu ke pulau ini! Apa usahaku sama sekali tak bernilai dimatamu? Aku sudah berusaha menghancurkan keluarganya, perusahaannya, lalu apa ini! Apa yang kau lakukan padaku!"
Rasa panas semakin lama semakin menjalar di tubuh Tuan Erick. Pria itu mengerang, wajahnya memerah, nafasnya memburu bahkan keringat sudah bercucuran dari kepalanya. Kondisi ini sama seperti yang dialami Hugo waktu lalu. Menyedihkan.
Madam Yora tersenyum kecil. Wanita itu meletakkan sebuah minicam diatas nakas lalu berjalan mendekati Tuan Erick yang menggelinjang tak karuan diatas ranjang.
"Mau aku bantu?"
Tuan Erick terbelalak.
Madam Yora tidak peduli. Wanita itu terus melakukan apa yang dia mau.
Aku akan menghancurkan keluarga dan reputasimu jika sampai misiku sampai gagal, Erick. Aku memegang kartu As mu.
.
.
Seorang laki-laki berjalan tergesa bersama asistennya usai mengurus semua administrasi rumah sakit Kimura dan Zen. Pria itu diminta Brian untuk membantunya.
Baru saja masuk ke dalam rumah Aurora. Pria itu dibuat terkejut melihat Edward yang sedang duduk bersama Lukas dan Alex yang entah sedang membicarakan apa. Dia bahkan sampai mundur dua langkah kebelakang saking syoknya.
"Di..a."
Yudha menggeleng tak percaya. Bagaimana ada orang yang mati bisa hidup kembali.
"Di..a."
Edward menyeringai. Pria itu mendekati Yudha yang masih berdiri terbengong melihatnya.
"Kenapa, syok melihatku?"
"Anda masih hidup Tuan Edward." tanyanya bergetar.
__ADS_1
"Menurutmu?"
Yudha terkesiap. Berharap jika yang dilihatnya bukan hantu di siang hari.
"Ayah! kenapa masih disana. Cepat kemari!"
Suara Brian dari lantai tiga tiba-tiba mengejutkannya.
"Dad! Biarkan ayah kemari. Sebaiknya dad susul mommy ke Pulau Simping!"
"Apa maksudmu!" seru Edward.
Brian tak menjawab. Anak itu membalik tubuhnya dan kembali ke dalam ruang kendali karena sudah terlalu lama ia meninggalkan komputernya.
Lima orang dewasa itu saling berpandangan. Edward bergegas mengejar Brian. Tampaknya pria itu penasaran dengan apa yang baru saja dikatakan putranya.
Yudha dan Max mengikuti dibelakang mereka.
"Apa maksud ucapanmu tadi."
Brian tak menjawab. Dia hanya menunjuk layar monitor yang masih menampakkan visual Aurora yang sedang berada di helikopter dan bersiap untuk membidik dari udara.
Edward terbelalak.
Pria itu mengambil headphone yang dipakai Brian dan menyingkirkan tubuh kecil itu.
"Aurora, apa yang kamu lakukan!"
"Please jangan mengajak debat aku sekarang. Tunggu saja dirumah. Aku akan membawa putra kita pulang hari ini."
"Kau gila! Kenapa pergi tidak ijin padaku!" bentak Edward emosi. Bagaimana jika terjadi sesuatu disana.
Aurora tak menjawab.
"Tunggu aku! Jangan melakukan hal yang akan membahayakanmu! Aku akan menyusulmu!" putus Edward.
"Lukas, Alex, bawa heli dari markas kemari. Siapkan anggota kita. Kita berangkat sekarang!" perintah Edward.
"Baik!"
"Saya ikut!" ujar Yudha menghentikan langkah Edward.
"Kamu temani Brian disini. Jangan sampai anak itu hilang lagi. Awas saja jika itu terjadi lagi. Aku tidak akan segan segan memenggal kepalamu." ucapnya garang.
Yudha langsung terdiam. Padahal Brian adalah putranya sendiri. Bagaimana bisa Edward berbicara seperti itu.
.
.
.
__ADS_1
#####