
Divisi IT Eternal Glory tiba-tiba terlihat sibuk. Mereka tampak serius kali ini. Itu terbukti dari gerakan jemari tangannya terdengar sangat cepat saat menekan tombol keyboard. Entah apa yang terjadi, tapi belum ada diantara mereka yang bisa bernafas dengan benar.
Semakin lama, peluh membanjiri dahi mereka, keringat dingin tentu saja. Hal yang tak pernah mereka duga, terjadi hari ini. Sistem komputer perusahaan tiba-tiba menjadi kacau dan mereka masih berusaha mengoptimalkannya. Harapan terbesar mereka adalah tidak terjadi sesuatu pada data perusahaan. Entah apa yang akan terjadi jika kemungkinan buruk itu benar terjadi.
Diruang lain, terlihat Lukas sedang menandatangani berkas dengan tenang. Sepertinya pria itu belum menyadari jika telah terjadi sesuatu.
Asisten Lukas datang tergopoh menghampiri. Pria itu langsung membuka pintu ruang kerja Lukas tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Tuan gawat!! sistem perusahaan telah dibajak. Beberapa file penting hilang, beberapa klien langsung mengajukan komplain dan parahnya ada sebagian perusahaan tiba tiba memutuskan kerja sama sepihak."
BRAK
"Apa! Bagaimana bisa!" Lukas menggebrak meja, kaget tentu saja. Bagaimana bisa hal ini terjadi saat Edward sedang menjalankan misi.
"Tidak tahu Tuan. Divisi IT kita sedang berusaha mengoptimalkan jaringan. Karyawan juga tidak bisa melakukan apapun selain menunggu. Semua komputer tiba-tiba eror."
Lukas menahan geram. Tampak pria itu sedang menggertakkan giginya. Ia menatap tajam asistennya, Theo.
"Kau awasi divisi IT. Laporkan apapun itu padaku. Segera pulihkan jaringannya, selebihnya data yang hilang biar aku yang memikirkannya. Setelah itu minta CMO mengirimkan Email ke semua perusahaan yang bekerja sama dengan kita jika perusahaan sedang mengalami Cyber Attack. Perintahkan karyawan untuk tetap tenang dan bekerja seperti biasanya. Satu lagi, panggilkan manajer IT kemari!" perintah Lukas terdengar cemas.
"Baik, akan segera saya lakukan."
Disisi lain.
Yudha bersama asistennya sedang menuju ke kediaman Aurora. Pria itu tampak merindukan Brian yang tak pernah berkunjung menjenguknya di rumah sakit. Ia sedikit kecewa, tapi ia pun tak bisa berbuat apapun, pikirnya Brian marah padanya.
Mobil berhenti di pelataran rumah bercat putih itu setelah anggota GL membukakan pintu gerbang lebar lebar.
Yudha berkerut kening saat mendapati dua mobil asing yang berada disana.
"Bos sepertinya nona Aurora ada tamu." ucap asistennya Max seraya melepas sabuk pengamannya.
"Biarkan saja, kita kesini untuk menemui Brian." jawab Yudha terdengar cuek. Pria itu langsung keluar dari mobil dan langsung masuk rumah Aurora yang memang pintu rumahnya terbuka lebar. Sedangkan Max tentu saja mengekor dibelakangnya.
Jingmi melirik sinis Yudha yang masuk tanpa memberi salam. Pria itu tampak tidak menyukai kehadiran Yudha di rumah itu. Rasanya ia ingin sekali menonjok mukanya saat tiba-tiba teringat jika pria itu yang telah berani membuat skandal berita miring tentang dirinya dengan Aurora beberapa tahun yang lalu.
"Sepertinya anda sudah sembuh, hingga anda bisa berkunjung kemari. Lain kali jangan jadi sok jagoan jika memang lemah dalam pertarungan." Sindir Jingmi muak. Ia tak peduli jika pria itu orangnya Aurora. Ia sampai tak habis pikir kenapa Aurora bisa dengan mudah memaafkan kesalahannya, jika itu dirinya, sudah sedari dulu ia gantung pria tidak tau diri itu di alun alun kota.
__ADS_1
Yudha hanya diam saja. Ia tidak bisa meluapkan marah di rumah itu, ia masih memikirkan perasaan Brian.
"Saya kemari hanya ingin bertemu Brian, dimana anak itu." jawab Yudha berusaha tenang.
"Aku disini. Ada apa mencariku."
Brian berdiri diatas anak tangga dan menatap datar ayahnya.
"Bisa kita bicara sebentar." pinta Yudha memohon.
"Ikut aku." jawab Brian dengan nada datar.
Yudha dan Max mengikuti kemana perginya Brian. Sesekali pria itu meringis menahan perih di dadanya karena luka bekas operasinya belum sembuh betul.
"Harusnya kau tak memaksakan diri. Jika masih sakit jangan meminta pulang paksa. Apa tujuanmu kemari." tanya Brian ketika mereka bertiga sudah duduk di sofa kamarnya.
Yudha tersenyum getir, entah mengapa hatinya tiba tiba sakit mendengar tutur kata Brian yang terdengar tak suka dengan kedatangannya.
"Ayah merindukanmu, kenapa kamu tak menjenguk Ayah dirumah sakit hem, apa mommy mu tak memberi tahumu untuk mengunjungi ku?"
Yudha tampak menarik nafas dalam dalam. Ia jadi serba salah. Padahal kejadian itu juga bukan salahnya.
"Bagaimana keadaanmu nak, apa semua baik-baik saja?Maaf Ayah tidak melindungimu dengan baik. Apa kau di siksa selama di rumah Tuan Kimura? Ayah akan membalas perbuatannya jika kamu menginginkan. Ayah tidak peduli walau dia mantan bos Ayah." ujar Yudha tenang.
"Aku mendengar jika ada yang bilang begini, 'aku tidak akan menggigit orang yang telah memberiku makan', jadi itu hanya omong kosong belaka?" sindir Brian pedas.
"I..itu.." Yudha gelagapan, bagaimana bisa putranya tahu kalimat keramat itu.
"Oke jika itu maumu, bunuh baby Kenta untukku, maka aku akan memaafkanmu." ucap Brian tersenyum menyeringai. Wajah jahatnya terlihat jelas dimata dua pria dewasa itu.
Yudha dan Max saling memandang. Mata Max mengisyaratkan untuk jangan melakukan tindakan bodoh itu. Itu sama saja mengantarkan nyawa pada Aurora.
"Maafkan ayah, ayah tidak bisa melakukan itu. Ayah tidak menggigit orang yang telah memberiku makan. Dulu Tuan Kimura adalah bos Ayah, tapi sekarang tidak. Ayah tidak ingin berhianat pada mommymu. Baby Kenta adalah anak kesayangan mommymu setelah kalian. Kesempatan hidup tidak datang dua kali Bry, ayah masih ingin melihatmu tumbuh dewasa, menikah dan ayah mempunyai banyak cucu darimu. Tak apa jika kamu belum mau memaafkan ayah, setidaknya ayah bisa melihatmu. Terima kasih sudah meminta mommymu untuk membebaskan ayah dari neraka itu." Yudha tersenyum miris mengingat betapa pedihnya siksaan yang diterimanya.
"Baiklah ayah akan pulang jika kamu sudah tidak berkenan. Jaga dirimu baik-baik."
Yudha dan Max serempak berdiri, tapi suara Brian membuatnya mereka duduk kembali.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruh kalian pergi. Duduk! Aku sudah memaafkanmu. Maaf jika aku tidak bisa bersikap hangat seperti yang ku lakukan pada daddy Edward. Tak perlu membunuh Kenta, aku tadi hanya menguji kesetiaanmu pada mommy Aurora. Ternyata ayah bisa dipercaya. Terima kasih."
Yudha tersenyum lebar mendengarnya. Walaupun Brian mengatakan tanpa ekspresi, ia merasa sudah sangat senang sekali.
"Boleh ayah memelukmu?"
"Tentu saja."
Mereka berdua saling berpelukan. Yudha menciumi kepala Brian dengan sayang, kata maaf terus saja diucapkan pria itu. Ia tidak tau bagaimana cara menebus kesalahannya di masa lalu. Suara deringan ponsel milik Brian membuat mereka mengurai pelukan itu.
"Sebentar ayah, aku akan menjawab panggilan dulu." Yudha tersenyum dan mengangguk.
"Yes uncle."
"...."
"Oke. Akan aku bantu. Paman tenang saja, aku akan memberinya pelajaran agar di ingat seumur hidupnya."
"...."
"Hem."
Setelah mematikan ponselnya, Brian segera menyalakan 3 komputernya. Anak itu langsung tersenyum jahat saat membayangkan aksinya nanti.
"Ayah bantu aku memulihkan sistem perusahaan EG. Kita beri pelajaran orang yang sudah berani mengusik keluarga kita."
"Wow, dengan senang hati. Let's play together. Ayo Max, kita habisi mereka dengan virus baru kita. Pastikan orang itu menderita luka bakar di wajahnya." Yudha terkekeh membayangkan tapi setelah itu ia meringis memegangi dadanya yang terasa nyeri.
Brian hanya menggeleng, terserah apa yang akan mereka lakukan, ia jadi penasaran virus seperti apa yang bisa meledakkan komputer, apa sama seperti miliknya atau ada yang lain. Brian mengangkat bahunya acuh.
.
.
.
#####
__ADS_1