
πΊπΊπΊπΊ
Kehidupan tetap harus berjalan walaupun banyak yang terlewatkan, tapi mereka menanti yang lebih indah nanti.
Walaupun mereka saling berjauhan, kadang untuk mengobati rasa rindu Ajeng pada Al, Ajeng akan bertanya keadaan Al pada Dika.
Dan seperti biasa Dika hanya akan mengatakan sekenanya Dika seperti sengaja menutupinya, karena Al juga tidak mau Dika menceritakan tentang dirinya jika semuanya belum selesai.
"Ayo lah Dik, cetitakan sesuatu padaku!" rengek Ajeng.
"Nggak ah ....!"
Mereka sudah duduk di salah satu kursi di kantin kampus, dan seperti biasa pelayan kantin yang cantik itu sudah datang dengan membawa dua mangkuk bakso dan dua gelas minuman dingin.
Pelayan kantin sudah sangat hafal dengan pesanan mereka, karena selama tiga tahun ini mereka sama sekali tidak pernah merubah pesanannya, memesan menu yang sama.
"Terimakasih!" ucap Dika sambil tersenyum menggoda pada pelayan kantin yang cantik itu.
"Tambah cantik aja ....!"
"Mas Dika bisa aja, silahkan di makan!" timpal pelayan cantik itu dengan senyum yang tersipu seperti biasa.
Dika segera mendekatkan mangkuknya, mengaduk sebentar, menyendok kuah bakso yang masih panas itu sambil menikmatinya.
"Ahhhh ...., mantapnya!" ucap Dika sambil mengambil botol saus dan menuangkannya ke dalam mangkuk, menambahkan kecap dan dua sendok sambal.
Dika kembali mengaduk mangkuknya, dan dengan sigap melahapnya, sepertinya pria itu sudah sangat lapar. hingga kini isi mangkuknya tinggal setengah.
Gerakan Dika terhenti saat menyadari jika tidak ada pergerakan di depannya, Dika pun mendongakkan kepalanya, menatap Ajeng yang masih diam sambil menatapnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Dika mengeluh karena sedari tadi Ajeng terus menatapnya tanpa menyentuh makanannya.
"Kau belum menjawab permintaanku!" keluh Ajeng, ia hanya ingin tahu dimana pria itu sekarang.
"Aku lapar ...., pengen makan!" ucap Dika sambil melahap kembali makanannya.
"Ayolah dik, kau tega sekali denganku!" Ajeng masih dengan pendiriannya.
"Kau yang tega, kau ini sekarang sudah menjadi designer, tapi kau masih pelit padaku. Traktir aku, aku akan membayarnya dengan sedikit informasi!"
__ADS_1
"Perhitungan sekali ...., Baiklah ....aku akan mentraktirmu!" protes ajeng.
Walaupun mengeluh tapi Ajeng tetap melakukan yang Dika minta, mereka tetap bersahabat sampai sekarang, bahkan Dika yang selalu ada untuk Ajeng, kapanpun.
Akhirnya Dika memesan kembali dua mangkuk bakso, ia berhasil membuat Ajeng geleng kepala, ia sengaja sepertinya mengerjai Ajeng.
"Kau benar-benar ingin memerasku!" Keluh Ajeng.
"Karena informasi itu mahal, tiga mangkuk bakso tidak akan membuatmu miskin!" Ucap Dika sambil sibuk mengunyah makanannya.
"Sekarang ceritakan padaku!" perintah Ajeng, ia benar-benar tak sabar.
"Makan dulu makananmu, dan aku akan menghabiskan makananku dulu!" perintah Dika sambil terus mengunyah makanannya.
"Jangan membuatku kesal ya!"
"Iya aku janji, aku akan ceritakan , tapi makan dulu, kau ini seakan-akan kalau aku tidak memberimu informasi kau akan mati saja!" omel Dika membuat Ajeng segera melahap makanannya, ia tidak mau Dika menunda lagi.
Akhirnya mangkoknya kosong juga, Ajeng meneguk minumannya.
"Sudah habis!"
"Kau ini .....!"
"Kau sudah janji ya, beri aku informasi yang paling berharga!" paksa Ajeng. Dika pun meneguk minumannya, menimbang informasi yang mana yang akan di berikan kepada Ajeng.
"Bang Al sudah di Indonesia!" sebuah informasi yang akan membuat Ajeng tenang atau malah banyak bertanya.
Dan benar saja, Ajeng begitu antusias dengan informasi itu.
"Benarkah ....? Dimana?" Tanya Ajeng dengan wajah berbinar.
Dika benar-benar tidak menyangka jika sahabatnya itu akan begitu mencintai abangnya.
"Penasaran banget ya?"
Heh ....
Ajeng menghela nafas. "Dia pasti sangat keren sekarang, apa dia masih mengingatku ya ....?"
__ADS_1
Ajeng merasa kecil saat mengingat gelar yang di sandar Al sekarang.
"Jangan seperti itu, kau benar-benar membuat nafsu makanku hilang!" ucap Dika sambil meletakkan sendok dan garpunya.
"Nafsu makan hilang, tapi habis tiga porsi!" Ajeng mencebirkan bibirnya, setidaknya dengan adanya Dika, sedikit mengurangi rasa rindunya pada Al. Dika selalu berhasil membuatnya tersenyum
"Besok datang kan ke pameran?" Tanya Ajeng saat Dika sudah selesai dengan makannya.
"Tentu lah ...., Besok aku jemput!" ucap Dika , ia yang selalu datang mengantar dan menjemput Ajeng selama ini.
Ajeng berfikir, ia pun segera menggoyangkan tangannya menolak Dika.
"Nggak usah, aku udah di jemput sama mas Bara!"
"Siapa mas Bara?" tanya Dika penasaran, karena selama ini Ajeng tidak pernah bercerita tentang Bara.
"Menejer di tempat aku kerja!"
"Kamu dekat sama dia?" Dika mulai menyelidik.
"Ya Deket lah ...., Dia kan satu kantor sama aku!"
"Kamu ada perasaan sama dia?"
"Ya nggak lah, kalau dia nggak tahu ...., Ha ha ha ...!" ucap Ajeng dengan tawa renyahnya.
"Kepedean banget jadi anak!"
"Lagian kamu nanyanya sudah kaya gerbong kereta nggak putus-putus!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya sama aku
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading ππππππ
__ADS_1