
Akhirnya mobil mereka sudah masuk ke halaman rumah orang tua Ajeng. Ajeng segera turun,
rumah itu sudah mengalami banyak perubahan, sudah lebih besar.
“Ini benaran rumah bapak sama ibuk, kok jadi gini, kapan renovasinya? Terakhir kali
aku pulang nggak gini, saat mbak Diah nikah nggak sebesar ini!”
“Suka?”
“Ini perbuatannya mas Al?”
“Bukan aku sepenuhnya sih …, tapi hanya sebagian kecilnya saja, suaminya Diah yang
paling banyak. Kata Dika, suaminya Diah kaya banget!”
“Mas Al …., mulai deh …, nggak usah banding-bandingin gitu dong. Kata mas Al kekayaan itu milik Allah …!”
“Astagfirullah …., mas khilaf!”
“Ya udah mas …, kita ketuk pintunya ya!”
Mereka mengetuk pintu itu, sepertinya penghuni rumah sedang ada di rumah, terdengar sahutan dari dalam. Tak berapa lama pintu itu pun terbuka.
“Assalamualaikum, ibuk!”
“Waalaikumsalam, Ajeng …, nak Al!”
Bu Kasih segera memeluk putri bungsunya itu, ia begitu merindukan putrinya itu. Dia dulu
begitu manja dan sangat nakal dan sekarang sudah menjadi istri seseorang.
“Masuklah …, masuklah nak …!” ucap bu Kasih setelah melepaskan pelukan pada putrinya itu.
Mereka segera masuk , bu Kasih begitu senang ia dengan sangat tergesa-gesanya
memanggil suaminya yang berada di halaman belakang. Sekarang pak Darman sudah
tidak menjadi buruh tani lagi, ia sudah punya sawah sendiri. Kambingnya juga
lumayan banyak.
“Pak …., lihatlah siapa yang datang!” teriak bu Kasih.
“Sopo to buk (Siapa sih buk)!” Tanya pak Darman yang sedang asik dengan
kambing-kambingnya.
“Ajeng pak, Ajeng …, Ajeng karo bojone teko (Ajeng dan suaminya datang)!”
“Tenan to buk? Bapak wes kangen tenan lo buk karo cah nakal kae ( Benarkah buk? Bapak
sudah rindu sekali lo buk sama anak nakal itu)!”
“Iyo pak (Iya pak)!”
Pak Darman segera mencuci tangannya yang kotor dan mengelapnya. Setelah itu mereka
segera menghampiri Ajeng dan Al.
“Bapak! Pripun kabare pak (Bagaimana kabarnya pak)?” ajeng segera mencium punggung tangan pak Darman begitu juga dengan Al.
“Bapak sama ibuk baik nduk …, pye penggaweanmu? Lancar to? (Bagaimana pekerjaanmu?
Lancar kan)?”
“Alhamdulillah …, mas Al telaten banget bimbing Ajeng!”
“Terimakasih nak Al, Ajeng sekarang sudah mendi lebih baik karena nak Al!” ucap pak Darman pada Al.
“Mboten pak, kulo namung nglampahaken nopo engkang dados kewajiban kulo supados tiang
__ADS_1
jaler, pak (tidak pak, saya hanya menjalankan apa yang menjadi kewajiban saya
sebagai seorang suami, pak)!” ucap Al begitu santun pada pak Darman membuat pak
Darman trenyuh dengan ucapan menantunya itu. Ia tidak menyangka anak muda
seperti Al bisa bicara begitu santunnya pada orang tua dengan bahasa krama
alusnya.
“Bapak seneng nak …, Ajeng menemukan pria sepertimu!”
“matur nembah nuwun pak, kulo semanten ugi. Menawi kulo nggadahi kalepatan utawi
kekirangan kawulo nyuwon bimbingan deneng bapak [terimakasih pak, saya juga
senang. Jika saya ada kesalahan atau kekurangan saya minta bimbingan dari
bapak]!”
“Mesti le …, mesti …! Yo wes … ayo gek maem. Ibukmu mau koyok e kok masak tewel karo
nggoreng gereh, sego ampok [pasti nak …, pasti …., ya sudah …, ayo kita makan.
Ibukmu tadi kayaknya masak sayur nangkan dan goreng ikan asin, nasi ampok]!”
“Niku malahan sekeco sanget, pak! monggo …. [Itu malah enak sekali, pak! mari ….]!”
Ajeng dan bu Kasih sudah berada di meja makan menyiapkan makan siang untuk mereka.
Mereka segera menikmati makan siang yang sudah sangat langka, mereka sudah
jarang menemukan makanan seperti itu di kota. Hal kecil seperti itulah yang
sering Ajeng rindukan saat jauh dari orang tua.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, bu kasih menyuruh Ajeng dan menantunya untuk
istirahat karena mereka telah melakukan perjalanan jauh. ajeng pun mengajak
Kasih dan Ajeng sudah membersihkannya selagi pak Darman dan Al mengobrol
santai.
Al mengelilingi kamar itu, sekarang kamar itu sudah lebih luas. Yang dulu ukurannya
hanya dua kali dua meter sekarang sudah menjadi tiga kali tiga meter. Dulu
tidak ada dipan, hanya ada spon lantai sekarang sudah ada dipan, lantainya juga
sudah keramik.
“Ini kamar kamu?” Tanya Al sambil berjalan
menuju ke jendela, ia sengaja membiarkan jendela itu terbuka. Saat jendela
terbuka kamar itu langsung terhubung pada hamparan sawah yang sangat luas.
Walaupun masih ada jarak dengan sawah kira-kira dua puluh meter. Tapi tidak ada
yang menghalangi pandangan saat ingin melihat sawah, di belakang kamar Ajeng
hanya ada beberapa tanaman seperti cabai, terong, sawi, kangkung yang di tanam
di dalam polibag dan tertata begitu rapi.
Ajeng pun mengikuti langkah suaminya, melihat suaminya yang begitu senang melihat
pemandangan belakang rumahnya, ia pun tertarik untuk ikut melihatnya, ia pun
berdiri di samping suaminya, dengan sigap tangan Al langsung terulur di
__ADS_1
pinggang istrinya, melingkarkan ya di sana.
“Ini yang aku suka, asri dan menyegarkan!” ucap Al sambil tersenyum menatap
istrinya.
“Tetap sama ….!” Ucap Al lagi. Mendengar ucapan Al yang seperti itu membuat ajeng
terkejut.
Tetap sama ……, maksudnya? Kapan
mas Al pernah melihat kamarku?Batin Ajeng, ia mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Memang mas Al pernah masuk ke sini? Di kamar ini?” Tanya Ajeng kemudian.
“Pernah dulu, dulu sekali …!” ucap Al mantap. Ia lagi-lagi tersenyum pada Ajeng dan
mengelus pucuk kepalanya seperti menepuk kepala anak kucing.
“Hah ….!” Ajeng benar-benar di buat terkejut, ia berusaha mengingatnya tapi tak
juga menemukan jawabannya.
“Kenapa kaget seperti itu, dek?”
Mendengar panggilan yang di sematkan Al kepadanya membuatnya terbengong, mulutnya sampai membuka sempurna hingga ia harus menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya
yang seketikan mendapat ekspresi aneh dari Al.
“Ih …, mas Al panggil dek kok lucu ya!” ucap Ajeng kemudian sambil menepuk bahu Al
gemas.
“Lucu bagaimana?” Tanya Al tak mengerti.
“Rasanya mas Al itu kayak orang jawa beneran aja!” ucap Ajeng sambil tersipu, ia tidak
menyangka mendapat panggilan seperti itu dari orang yang sangat modern seperti
Al, suaminya.
“Aku udah dari kecil sayang tinggal di jawa, berarti aku orang jawa dong, aku pria jawa!” ucap Al.
ia sudah terlalu cinta dengan tanah jawa, walaupun orang tuanya berasal dari
Jakarta.
“Tapi aku suka kok mas Al panggil Ajeng, dek …., rasanya gimana gitu!” ucap Ajeng
kemudian sambil tersenyum, ia mengusap pipi suaminya yang sedikit di tumbuhi
bulu.
Mendengar ucapan Ajeng, Al begitu senang. Ia sampai menunjukkan jari kelingkingnya dan
ajeng pun segera menautkan jari kelingking mereka.
“Baiklah …, deal …., mulai hari ini dan seterusnya Aldevaro Kenzie akan memanggil
Diajeng kartika dengan ‘dek’ ….!”
visual mas Al
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘