Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Pria jawa


__ADS_3

Akhirnya mobil mereka sudah masuk ke halaman rumah orang tua Ajeng. Ajeng segera turun,


rumah itu sudah mengalami banyak perubahan, sudah lebih besar.


“Ini benaran rumah bapak sama ibuk, kok jadi gini, kapan renovasinya? Terakhir kali


aku pulang nggak gini, saat mbak Diah nikah nggak sebesar ini!”


“Suka?”


“Ini perbuatannya mas Al?”


“Bukan aku sepenuhnya sih …, tapi hanya sebagian kecilnya saja, suaminya Diah yang


paling banyak. Kata Dika, suaminya Diah kaya banget!”


“Mas Al …., mulai deh …, nggak usah banding-bandingin gitu dong. Kata mas Al kekayaan itu milik Allah …!”


“Astagfirullah …., mas khilaf!”


“Ya udah mas …, kita ketuk pintunya ya!”


Mereka mengetuk pintu itu, sepertinya penghuni rumah sedang ada di rumah, terdengar sahutan dari dalam. Tak berapa lama pintu itu pun terbuka.


“Assalamualaikum, ibuk!”


“Waalaikumsalam, Ajeng …, nak Al!”


Bu Kasih segera memeluk putri bungsunya itu, ia begitu merindukan putrinya itu. Dia dulu


begitu manja dan sangat nakal dan sekarang sudah menjadi istri seseorang.


“Masuklah …, masuklah nak …!” ucap bu Kasih setelah melepaskan pelukan pada putrinya itu.


Mereka segera masuk , bu Kasih begitu senang ia dengan sangat tergesa-gesanya


memanggil suaminya yang berada di halaman belakang. Sekarang pak Darman sudah


tidak menjadi buruh tani lagi, ia sudah punya sawah sendiri. Kambingnya juga


lumayan banyak.


“Pak …., lihatlah siapa yang datang!” teriak bu Kasih.


“Sopo to buk (Siapa sih buk)!” Tanya pak Darman yang sedang asik dengan


kambing-kambingnya.


“Ajeng pak, Ajeng …, Ajeng karo bojone teko (Ajeng dan suaminya datang)!”


“Tenan to buk? Bapak wes kangen tenan lo buk karo cah nakal kae ( Benarkah buk? Bapak


sudah rindu sekali lo buk sama anak nakal itu)!”


“Iyo pak (Iya pak)!”


Pak Darman segera mencuci tangannya yang kotor dan mengelapnya. Setelah itu mereka


segera menghampiri Ajeng dan Al.


“Bapak! Pripun kabare pak (Bagaimana kabarnya pak)?” ajeng segera mencium punggung tangan pak Darman begitu juga dengan Al.


“Bapak sama ibuk baik nduk …, pye penggaweanmu? Lancar to? (Bagaimana pekerjaanmu?


Lancar kan)?”


“Alhamdulillah …, mas Al telaten banget bimbing Ajeng!”


“Terimakasih nak Al, Ajeng sekarang sudah mendi lebih baik karena nak Al!” ucap pak Darman pada Al.


“Mboten pak, kulo namung nglampahaken nopo engkang dados kewajiban kulo supados tiang

__ADS_1


jaler, pak (tidak pak, saya hanya menjalankan apa yang menjadi kewajiban saya


sebagai seorang suami, pak)!” ucap Al begitu santun pada pak Darman membuat pak


Darman trenyuh dengan ucapan menantunya itu. Ia tidak menyangka anak muda


seperti Al bisa bicara begitu santunnya pada orang tua dengan bahasa krama


alusnya.


“Bapak seneng nak …, Ajeng menemukan pria sepertimu!”


“matur nembah nuwun pak, kulo semanten ugi. Menawi kulo nggadahi kalepatan utawi


kekirangan kawulo nyuwon bimbingan deneng bapak [terimakasih pak, saya juga


senang. Jika saya ada kesalahan atau kekurangan saya minta bimbingan dari


bapak]!”


“Mesti le …, mesti …! Yo wes … ayo gek maem. Ibukmu mau koyok e kok masak tewel karo


nggoreng gereh, sego ampok [pasti nak …, pasti …., ya sudah …, ayo kita makan.


Ibukmu tadi kayaknya masak sayur nangkan dan goreng ikan asin, nasi ampok]!”


“Niku malahan sekeco sanget, pak!  monggo …. [Itu malah enak sekali, pak! mari ….]!”


Ajeng dan bu Kasih sudah berada di meja makan menyiapkan makan siang untuk mereka.


Mereka segera menikmati makan siang yang sudah sangat langka, mereka sudah


jarang menemukan makanan seperti itu di kota. Hal kecil seperti itulah yang


sering Ajeng rindukan saat jauh dari orang tua.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, bu kasih menyuruh Ajeng dan menantunya untuk


istirahat karena mereka telah melakukan perjalanan jauh. ajeng pun mengajak


Kasih dan Ajeng sudah membersihkannya selagi pak Darman dan Al mengobrol


santai.


Al mengelilingi kamar itu, sekarang kamar itu sudah lebih luas. Yang dulu ukurannya


hanya dua kali dua meter sekarang sudah menjadi tiga kali tiga meter. Dulu


tidak ada dipan, hanya ada spon lantai sekarang sudah ada dipan, lantainya juga


sudah keramik.


“Ini kamar kamu?” Tanya Al  sambil berjalan


menuju ke jendela, ia sengaja membiarkan jendela itu terbuka. Saat jendela


terbuka kamar itu langsung terhubung pada hamparan sawah yang sangat luas.


Walaupun masih ada jarak dengan sawah kira-kira dua puluh meter. Tapi tidak ada


yang menghalangi pandangan saat ingin melihat sawah, di belakang kamar Ajeng


hanya ada beberapa tanaman seperti cabai, terong, sawi, kangkung yang di tanam


di dalam polibag dan tertata begitu rapi.


Ajeng pun mengikuti langkah suaminya, melihat suaminya yang begitu senang melihat


pemandangan belakang rumahnya, ia pun tertarik untuk ikut melihatnya, ia pun


berdiri di samping suaminya, dengan sigap tangan Al langsung terulur di

__ADS_1


pinggang istrinya, melingkarkan ya di sana.


“Ini yang aku suka, asri dan menyegarkan!” ucap Al sambil tersenyum menatap


istrinya.


“Tetap sama ….!” Ucap Al lagi. Mendengar ucapan Al yang seperti itu membuat ajeng


terkejut.


Tetap sama ……, maksudnya? Kapan


mas Al pernah melihat kamarku?Batin Ajeng, ia mengerutkan keningnya tak mengerti.


“Memang mas Al pernah masuk ke sini? Di kamar ini?”  Tanya Ajeng kemudian.


“Pernah dulu, dulu sekali …!” ucap Al mantap. Ia lagi-lagi tersenyum pada Ajeng dan


mengelus pucuk kepalanya seperti menepuk kepala anak kucing.


“Hah ….!” Ajeng benar-benar di buat terkejut, ia berusaha mengingatnya tapi tak


juga  menemukan jawabannya.


“Kenapa kaget seperti itu, dek?”


Mendengar panggilan yang di sematkan Al kepadanya membuatnya terbengong, mulutnya sampai membuka sempurna hingga ia harus menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya


yang seketikan mendapat ekspresi aneh dari Al.


“Ih …, mas Al panggil dek kok lucu ya!” ucap Ajeng kemudian sambil menepuk bahu Al


gemas.


“Lucu bagaimana?” Tanya Al tak mengerti.


“Rasanya mas Al itu kayak orang jawa beneran aja!” ucap Ajeng sambil tersipu, ia tidak


menyangka mendapat panggilan seperti itu dari orang yang sangat modern seperti


Al, suaminya.


“Aku udah dari kecil sayang tinggal di jawa, berarti aku orang jawa dong, aku pria jawa!” ucap Al.


ia sudah terlalu cinta dengan tanah jawa, walaupun orang tuanya berasal dari


Jakarta.


“Tapi aku suka kok mas Al panggil Ajeng, dek …., rasanya gimana gitu!” ucap Ajeng


kemudian sambil tersenyum, ia mengusap pipi suaminya yang sedikit di tumbuhi


bulu.


Mendengar ucapan Ajeng, Al begitu senang. Ia sampai menunjukkan jari kelingkingnya dan


ajeng pun segera menautkan jari kelingking mereka.


“Baiklah …, deal …., mulai hari ini dan seterusnya Aldevaro Kenzie akan memanggil


Diajeng kartika dengan ‘dek’ ….!”


visual mas Al



Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘


__ADS_2