
“Dik!” setelah terdiam karena capek terus tertawa, ajeng kembali membuka suara.
“Iya?”
“Aku tahu masalah mama Renna dan papa Adi!” mendengar ucapan Ajeng, Dika pun
tercengang. Ia tidak menyangkan jika Ajeng akan mengetahuinya, kemarin Ajeng
hanya mengatakan kalau mama menyesal dia pergi tapi tidak pernah mengatakan
alasannya dan sekarang Dika baru tahu, ini maksudnya.
“dari mana kamu tahu?”
“Aku ketemu sama papa Adi! Tapi Dik, sepertinya tidak seperti yang kita duga, mungkin papa Adi punya alasan lain!”
“Sudah jangan di pikirin, bukan urusan kamu juga!” ucap Dika, ia tidak mau sampai
ajeng kepikiran dan mempengaruhi kesehatannya juga bayi dalam kandungannya.
“Ini urusanku juga Dik, kamu nggak nganggap aku sebagai bagian dari keluarga kamu?”
“Bukan seperti itu maksudku!”
“Papa Adi sepertinya sungguh-sungguh mengatakannya!”
“Dia punya selingkuhan!”
“apa kau punya buktinya?”
“Punya, dia sampai membelikan rumah pada wanita itu!”
“aku tahu itu!”
“Jadi kamu tahu papa beli rumah baru untuk wanita itu?”
“Iya …!”
“lalu kenapa masih ragu kalau dia tidak punya selingkuhan!”
“apa yang kita lihat belum tentu seperti apa yang sebenarnya, mungkin ada hal lain
yang mengharuskan papa Adi melakukan hal itu!”
“Terserah kamu saja, pokoknya jangan bahas itu lagi!”
“mana mungkin aku nggak bahas itu lagi, mama setiap hari nangis. Aku harus ikut
campur dong, aku nggak mungkin biarin masalah ini berlarut-larut!”
Dika hanya bisa menghela nafas, ia sudah faham dengan sifat Ajeng. Ajeng tidak akan
berhenti penasaran sebelum ia tahu kebenarannya.
“Oh iya Dik! Kemarin di acara reoni aku ketemu sama Rita!”
“Rita?!” Dika terdengar sangat terkejut, ekspresi wajahnya berubah tangannya mengepal.
“Kamu kenapa Dik?”
“Nggak pa pa! ada apa dengan Rita?”
__ADS_1
“Rita sikapnya jadi aneh, ia tidak mau mengenal aku lagi. Aku yakin pasti ada masalah,
aku mengenal Rita lebih dari diriku sendiri, tapi saat aku ke rumahnya, ternyata
rumahnya sudah kosong!”
“Jangan cari dia lagi!”
“Kenapa? Dia kan sahabatku, sahabat kita!”
“Lebih.baik jika kita tidak mengenalnya lagi!”
Saat Ajeng hendak protes lagi, ucapannya terhenti ketika pintu itu terbuka. Al
kembali, ajeng tersenyum senang melihat kedatangan Al.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!” Al segera mendekat ke arah ajeng dan meninggalkan ciuman di kening dan seluruh wajah Ajeng membuat Dika hanya bisa memalingkan wajahnya, walau
bagaimanapun ia masih menyimpan rasa itu begitu dalam.
“dari mana saja mas?’ tanya Ajeng kahwatir.
“Ada urusan sebentar sayang, tapi sekarang sudah selesai!”
“tapi kenapa wajah mas Al pucat? Mas Al sakit ya?" tanya Ajeng setelah memperhatikan
wajah suaminya yang pucat itu.
“tidak pa pa dek, mungkin hanya kecapekan istirahat sebentar pasti juga sudah kembali
pulih. Bagaiman keadaanmu?”
“Syukurlah kalau begitu!”
Dika yang sedari tadi memperhatikan abangnya, ia pun mendekat pada abangnya itu.
"Bang ..., bisa kita bicara sebentar?" ajak Dika, Al pun mengangguk. ia pun berpamitan pada Ajeng dan keluar dari kamar Ajeng.
"Ada apa Dik?"
"Jujur sama Dika, sebenarnya abang baru dari mana?"
"Abang dari bertemu dokter, dokter memintaku untuk beristirahat beberapa waktu!"
"Lalu kenapa abang ke sini?"
"Abang tidak perlu istirahat Dik, yang abang perlukan saat ini adalah bisa selalu dekat dengan Ajeng, itu sudah cukup!"
"Tapi tetap jaga kesehatan abang!"
"Iya pasti, terimakasih ats perhatiannya ya!"
"Ya sudah bang, Dika pulang dulu ya. Mau mandi dan ganti baju, kasihan juga mama belum bisa ketemu aku!"
"Iya hati-hati ya!"
"Salam buat Ajeng, maaf nggak bisa pamit langsung!"
Karena Al sudah kembali, kini gantian Dika yang akan pulang. ia akan mandi dan ganti
__ADS_1
baju juga menemui mama Renna. Lagi pula ia tidak mau Ajeng terus menanyainya,
jika ia berusaha menghindar dari Ajeng, maka ajeng tidak bisa terus
menginterogasinya.
Dika segera meninggalkan rumah sakit itu, kini tinggal Al dan ajeng. Al kembali masuk dan menempati tempat duduk yang tadi di duduki Dika, tangannya meraih tangan Ajeng menggenggamnya begitu erat, mencium punggung tangan itu beberapa kali.
“Mas Al kenapa?’ tanya Ajeng lagi.
“Mas hanya ingin terus berlama-lama sama kamu seperti ini, agar nanti mas Al tidak
merasa kekurangan!”
“kekurangan apa?”
“kekurangan menatapmu, kekurangan mencintaimu, kekurangan menjagamu!”
“Ini lebih dari cukup mas, mas Al yang terbaik!”
“Aku tahu, dan aku ingin menjadi satu-satunya yang terbaik di hatimu!”
Ajeng pun bangun dan memeluk tubuh suaminya itu, memeluknya begitu erat, entah
kenapa kali ini ada perasaan takut untuk melepasnya.
“augh …!” tiba-tiba Al terpekik seperti merasakan sakit yang amat, Ajeng pun segera
melepaskan pelukannya. Al memegangi dada sebelah kirinya, memejamkan matanya
dengan wajah pucat itu.
“mas Al kenapa?’ Ajeng begitu cemas, terlihat keringat yang mulai mengucur di
pelipis Al. setelah sekian detik barulah Al membuka matanya, ia kembali
tersenyum.
“Aku tidak pa pa …, hanya sedikit sakit …, tapi bukan hal yang serius!”
“benarkah?”
“Percayalah …, semua akan baik-baik saja!”
Walaupun masih ragu tapi ajeng tetap berusaha mempercayai ucapan suaminya. Al terus
tersenyum dan meyakinkan Ajeng bahwa semuanya baik-baik saja.
Dika tidak kembali lagi ke rumah sakit sampai ajeng di ijinkan untuk pulang, setelah
ada pemberitahuan dokter, barulah Dika datang kembali bersama mama Renna untuk
menjemput Al dan Ajeng.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘❤️❤️