Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Mengunjungi


__ADS_3

Usai melakukan pemeriksaan keseluruhan oleh dokter Lui, dokter Jun dan dokter lainnya, akhirnya alat alat yang selama ini terpasang ditubuh Edward mulai dilepas hanya meninggalkan jarum infus di pergelangan tangan Edward.


Mereka begitu lega melihat pasiennya pulih lebih cepat dari perkiraannya. Benar benar sebuah keajaiban yang tak semua orang mendapatkannya. Apalagi melihat semangat untuk sembuh membuat mereka semakin bahagia, karena mereka yang ditunjuk khusus untuk pemulihan kasus Edward akan mendapatkan bonus besar oleh Jingmi selaku penanggungjawab pasien. Dan pastinya bonus itu tidak main main jumlah nominalnya. Mungkin saja bisa untuk membeli mobil mewah atau bahkan hunian mewah.


Jingmi hanya tersenyum ketika mendengar celetukan dokter yang ditunjuknya mengenai bonus yang ia berikan. Mereka hanya tidak tahu saja jika yang memberikan mereka bonus bukanlah dirinya, melainkan tangan kiri Edward. Alex yang setiap bulan mengirimkan jutaan dolar untuk pengobatan Edward.


Jingmi hari ini sengaja tidak pergi ke kantor karena menunggu kedatangan Kwan dan Alex yang akan berkunjung dikediamannya paska mereka mendapatkan kabar baik darinya semalam. Entah mereka akan tiba siang nanti atau malam, ia juga belum mengetahuinya.


"Tuan, " Sapa dokter Lui


"Hem,"


"Saya akan mulai menjadwalkan terapi untuk pasien. Kemungkinan tim dokter akan sampai ke sini esok pagi. Bagaimana menurut anda?"


"Terserah bagaimana baiknya. Lakukan dengan baik. Dan ya, rahasiakan identitas pasien. Aku tak mau dia terluka kembali ketika masih dalam masa pemulihan."


"Saya mengerti."


"Pergilah. Aku ingin bicara dengan Edward dulu." usirnya.


"Baik."


Jingmi mendekati ranjang empuk milik Edward dan duduk disebelahnya. Tangannya terulur mengambil ponsel dalam saku kemeja yang dipakainya.


"Aku ada sesuatu untukmu. Pakailah, tapi jangan kau gunakan untuk menghubungi siapapun kecuali aku, Alex dan Kwan. Kamu mengerti!" Jingmi memberikan ponselnya.


Edward mengerutkan kening. "Aku tidak mengerti kenapa kau memberiku ponsel jika aku tak boleh menggunakannya." ucap Edward, sebenarnya batinnya bingung, diberi ponsel tapi tidak boleh menghubungi siapapun. Dia bahkan tidak mengenal dua orang yang Jingmi sebutkan.


"Tentu saja untuk stalking istrimu." jawabnya lempeng.


Senyum Edward langsung terbit secerah mentari. Ia jadi teringat wanita cantik yang ditunjukkan padanya kemarin.


"Cih." Jingmi berdecih kesal melihat kelakuan Edward yang seperti Abg jatuh cinta.


"Kak Fe, berapa usiamu. Sebenarnya aku sedikit risih jika kau memintaku memanggilmu kakak! Sepertinya kita sepantaran."


"35 dan kamu seharusnya 31 jika aku tak keliru."


"Sudah menikah?"


"Belum."


"Wow, Benarkah? Ck.. ck.. bahkan anakku saja sudah 3." Edward terkekeh mengingat dirinya sudah menjadi seorang daddy.

__ADS_1


"Jangan menyebalkan. Jika saja Aurora tak memilihmu menjadi suaminya, pasti saat ini kami sudah menikah!" ucap Jingmi ketus.


"Whats!! Jadi kau menyukai istriku! Jangan coba coba ya.! Atau aku akan memukul kepalamu dengan pantat panci!" ancam Edward sambil menunjuk Jingmi.


"Ha ha ha ha!!" Jingmi tergelak mendengar ucapan konyol Edward. Baginya, Edward yang sekarang menjadi aneh, ia bahkan tak melihat Edward yang dulu.


"Apa kau seorang wanita? Apa kau juga kehilangan ingatan tentang seni bertarungmu hem, aku tak menyangka seorang King Leon akan memukulku menggunakan pantat panci. Kau sungguh menggelikan dude ."


"Apa yang kau bicarakan. Apa maksudmu dengan King Leon."


"Lupakan, kau pasti bingung dengan keadaan ini. Tunggu teman temanmu berkunjung. Mereka yang akan menceritakan padamu. Aku tidak tahu menahu soal dunia kalian."


"Apa maksudmu Alex dan Kwan?" tanya Edward


"Benar sekali. Dude besok kau akan melakukan terapi pertamamu. Semangat dan berjuanglah sebisa mungkin jika kau ingin segera sembuh. Kami sengaja mendatangkan dokter terbaik dari luar negeri untukmu. Jadi gunakan waktu itu sebaik mungkin. Kau mengerti?"


"Kenapa harus dokter luar negeri, aku tak punya uang untuk membayarnya. Pasti itu bukan jumlah yang sedikit. Perusahaan ayahku juga belum begitu besar buddy."


Jingmi meringis mendengar pernyataan Edward. Sebenarnya ia sendiri bingung, Edward melupakan ingatan yang bagian mana.


"Edward, kau melupakan ingatanmu. Perusahaan kalian bahkan menjadi perusahaan nomor 1 di negaramu bahkan perusahaan ku saja diurutan nomor 4. Kau tidak perlu memusingkan biaya. Fokus saja pada kesembuhanmu. Sudah ada yang memikirkan semua itu."


"Kau gunakan ponsel itu sebaik mungkin dan jangan bilang kau tidak tau cara menggunakan ponsel." imbuhnya.


"Entahlah. Aku juga tidak tau. Aku juga tidak mengenalmu."


"Jika tidak mengenalku, kenapa kau merawatku! Ah kau manusia menyebalkan dude, kenapa kau tak memberi tahuku semuanya dan membuatku selalu bertanya padamu. Sudahlah, aku akan cari tau sendiri." Edward memalingkan wajahnya dan mulai membuka ponsel pintarnya.


"Dulunya kita memang tidak saling mengenal dude, wajar saja jika aku tak mengenalmu. Perusahaan kita bahkan juga tak bekerja sama. Istirahatlah, aku masih ada sedikit urusan." Jingmi beranjak dari duduknya.


"Ya, pergilah, tapi jangan coba coba mendekati istriku jika kau tak ingin aku melubangi kakimu. Dan tolong berikan aku kursi roda elektrik. Aku akan kesulitan jika aku menggunakan itu. Apalagi alat pembuanganku sudah dilepas. Ah ini sebenarnya menyebalkan untukku, tapi mau gimana lagi. Kakiku belum bisa digerakkan. Semoga saja sistem reproduksiku masih normal."


"Terserah kau saja."


.


.



Alex sudah tiba di Bandara lengkap dengan penyamarannya. Ia tidak ingin ada orang yang menguntit perjalanannya. Disebelahnya ada Lukas yang bingung dengan kelakuan Alex yang juga menyuruhnya menyamarkan penampilannya, tapi ia juga menurut saja. Ia bahkan juga tidak tahu menahu tentang kunjungannya ke negara yang mempunyai julukan mutiara dari timur itu.


Alex dan Lukas duduk menunggu di terminal kedatangan. Ia menyalakan ponselnya untuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Hallo, Ada dimana sekarang."


"____"


"Baiklah, aku mengerti."


Lukas diam saja melihat Alex. Belum sempat bertanya kita mau kemana padanya, sudah ada dua orang berbadan tegap menyapa mereka penuh hormat.


"Selamat malam. Anda sudah ditunggu Tuan. Mari ikuti kami." ucap pria itu.


Lukas menoleh kearah Alex yang mengangguk. Ia menyenggol lengan Alex, " Siapa?" bisiknya.


Alex hanya menaikkan bahunya yang membuat Lukas memutar bola matanya malas. "Lalu apa tujuanmu kemari?"


"Nanti kau juga tau. Siapkan saja jantungmu. Aku harap kau tidak pingsan. Jika itu terjadi, itu akan sangat memalukan dude." ucap Alex lèmpeng.


Alex dan Lukas diantar ke sebuah rumah mewah. Didepan pintu sudah ada Kwan yang berdiri dengan senyuman mengembang.


"Kenapa baru sampai malam begini.?" tanya Kwan sambil bersalaman dengan gaya pria.


"Sibuk. Istriku hamil." jawab Alex sekenanya.


Dua orang itu seketika menatap Alex dan melebarkan matanya. Keduanya terpekik kaget. "Whats!!!"


"Kau gila! Kapan kau menikah!" tanya Lukas melotot.


Alex hanya tersenyum miring. Tidak mau menjawab pertanyaan kedua temannya.


"Diamlah, aku akan meresmikan jika keadaan sudah membaik. Maaf aku tidak mengundang kalian, lagian aku menikah masih dibawah tangan. Kalian pasti tau tujuanku kenapa aku belum meresmikan. Sudahlah jangan membahasku." Alex mengibaskan tangannya tidak ingin ditanya lagi.


"Alex kau berhutang penjelasan padaku!. Awas saja kau.!" sungut Lukas


"Okey, tapi tidak sekarang."


"Baiklah ayo kita masuk. Kita sudah ditunggu didalam. Jangan membuat mereka lama menunggu." Ucap kwan menengahi.


.


.


.


#####

__ADS_1


Jeng.. jeng... 🎸🎸🎸


__ADS_2