
Seorang pemuda dengan setelan eksklusifnya berjalan gagah memasuki area perkantoran. Pria itu tersenyum tipis menyapa orang yang memandanginya penuh minat.
Edward berdiri di meja resepsionis dan mengatakan tujuannya. Tak lama setelah itu, Dion datang menghampiri dengan senyum tipisnya.
"Semoga kali ini Nona Aurora cocok dan bertahan lama dengan pria ini. Wajah dan bentuk tubuhnya sangat menjual, pria ini terlihat cerdas dan berkelas. Bahkan mungkin Tuan Lukas pun kalah darinya." Batin Dion sambil mengamati sosok Edward yang mengenakan topeng sintetis.
"Selamat datang di perusahaan ini Tuan Felix Fernando. Mari saya antar menemui Nona Aurora, kebetulan nona sudah ada diruangannya." ucap Dion sembari menyalami Edward.
Edward hanya mengulas senyum dan mengangguk. "Panggil saja Felix." kata Edward
"Baiklah Felix. Perkenalkan saya Dion, saya sekretaris yang membantu direktur utama di perusahaan ini. Anda sudah tahu bukan posisi yang akan anda tempati.?"
Dion berjalan beriringan menuju lift.
Edward mengangguk pelan.
"Jika saya boleh tau, apa hubungan anda dengan Tuan Lukas?"
"Ah hanya saudara jauh, kebetulan saya lagi nganggur dan butuh pekerjaan." jawab singkat Edward.
"Sudah menikah?" tanya Dion lagi.
Edward tersenyum dan mengangguk pelan. Dion hanya mangut manggut mengerti. Tak butuh waktu lama, mereka berdua sudah sampai didepan ruang kerja milik Aurora.
Tiba tiba jantung Edward berdetak kencang. Ia begitu gugup karena akan menemui istrinya setelah sekian lama. Edward berkali kali menarik nafasnya dalam dalam untuk mengilangkan groginya.
Dion hanya melirik dan tersenyum tipis. "Jangan gugup begitu. Nona Aurora tidak segalak yang dirumorkan, anda hanya butuh kesabaran untuk menghadapinya. Ayo."
Dion masuk keruang kerja Aurora setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Edward hanya mengekori Dion di belakangnya. Ia menatap Aurora yang sedang menunduk entah sedang mencari apa.
"Nona, ini asisten baru yang akan membantu anda mulai hari ini." ucap Dion menginterupsi.
Aurora yang semula menunduk, meluruskan pandangannya menatap dua pria di depannya. Dahinya mengkerut mencoba menganalisisa pria asing didepannya. "Perkenalkan dirimu!"
"Perkenalkan saya Felix Fernando. 34 tahun_"
Deg
Aurora terpaku mendengar suara Edward yang mengaku sebagai Felix. Ia menatap tajam pria asing didepannya.
"Mengapa suara pria ini seperti suara suamiku. Apa aku sedang berhalusinasi. Tidak tidak, ini pasti karena aku merindukannya hingga membuatku seperti ini." batin Aurora.
"Apa kamu saudara Lukas!"
__ADS_1
"Ah, ya. Saya saudara jauh."
Aurora mengangguk, "Oke, berhubung kamu rekomendasi dari Lukas, saya tidak akan bertanya lebih banyak. Saya akan menggaji kamu 1 M dalam setahun jika kinerja kamu bagus dan sesuai ekspektasiku. Jika tidak, kamu hanya akan mendapatkan 30 juta tiap bulan.
"Gila, nominal fantastis." batin Dion
"Pekerjaanmu hanya menjadwal kegiatanku sehari hari dari pagi hingga malam. Menyiapkan semua yang berhubungan dengan pekerjaanku, mengantar jemput ke kantor. Dan mengikutiku kemana pun aku pergi termasuk ikut aku meeting dengan klien serta membantuku menyelesaikan pekerjaan kantor. Bagaimana apa kamu setuju!"
"Gaji besar tapi melelahkan." batin Dion menatap kasihan pada Edward.
"Satu lagi. Saya butuh asisten yang cekatan dan kritis dalam berpikir. Saya tidak suka bekerja dengan orang yang lelet seperti ulat bulu." Kata Aurora lagi.
"Kamu bisa ilmu bela diri? Menembak? Jika belum bisa kamu wajib ikut pelatihan bersama anggota GL lainnya."
Edward mengangguk. "Saya bisa nona."
"Bagus. Kamu harus tau dunia bisnis ini. Persaingannya sangat ketat. Musuh sangat banyak. Bahaya mengancam sewaktu waktu. Banyak orang yang pura-pura baik ternyata hanya musuh dalam selimut. Dan jangan mudah percaya pada orang lain. Oke sekarang putuskan! jika tidak, silahkan pintu keluar ada di sebelah sana." Aurora mengangkat tangan kanannya menunjuk pintu ruangannya.
Edward pura pura berpikir. Dalam hatinya, mau digaji berapaun yang penting dirinya bisa tiap hari bertemu Aurora dan melindungi wanita cantik itu sudah cukup menurutnya.
"Oke saya setuju."
Aurora mengangguk puas.
"Dion, segera siapkan kontrak kerja, dan urus ke bagian HRD. Aku sudah mengirimkan Email padamu tentang poin poinnya. Jika sudah selesai segera berikan padaku!" titah Aurora
"Baik nona." Dion langsung keluar dari ruangan Aurora dan menghembuskan nafasnya dalam dalam. Ia berjalan sambil memandangi atap langit langit dan menggelengkan kepalanya, entah apa yang dipikirkannya.
.
.
Didalam ruangan itu, Edward nampak canggung. Hatinya berdesir tak kala matanya bersirobok dengan wanita itu. Ia mengakui bahwa pesona istrinya tak terbantahkan. Wajar saja jika wanita itu disukai banyak pria.
"Emm Edward _"
"Ya." jawab Edward. Edward tersadar lalu menggigit lidahnya. Ia lupa perannya.
Aurora mengerutkan keningnya. "Sorry maksudku Felix. Suaramu mengingatkanku pada mendiang suamiku."
"Suamimu ada didepanmu sayang." Batin Edward.
"Ah ya, semua orang yang mengenal beliau pasti mengatakan seperti itu." Edward tersenyum tipis.
__ADS_1
"Felix, apa hari ini kamu membawa setelan formal"
"Tidak."
"Lain kali harus selalu sedia. Kamu harus selalu membawa pakaian formal. Mengerti! Aku akan memberikan pakaian suamiku padamu. Mudah mudahan cukup. Sepertinya tubuh kalian sama."
Edward tersenyum tipis dan mengangguk. " Terima kasih."
Aurora beranjak dari duduknya menuju almari tempat penyimpanan baju ganti milik suaminya. Tangannya sibuk memilih yang menurutnya cocok dengan Felix. Ia tersenyum setelah mendapatkan apa yang ia mau. Setelan jas warna hitam dipadukan dengan kemeja warna putih.
"Pakailah! Dan gantilah disana." Aurora mengulurkan benda itu pada Edward.
"Terima kasih nona. Anda baik sekali."
Aurora hanya tersenyum tipis. Dan kembali ke meja kerjanya . Ia merapikan laptop dan dokumen penting lainnya lalu memasukkan kedalam tas kerjanya.
Menunggu Edward berganti pakaian, Aurora membaca sekilas surat kontrak kerja yang belum ditandatangani Felix. Ia tersenyum menyeringai. Entah jebakan apa yang dibuat wanita itu.
"Nona, apa ini tidak terlalu berlebihan?"
Aurora memandang takjub. Jika saja itu wajah suaminya, pasti ia akan segera berhambur memeluknya.
"Tidak. Hari ini kita akan bertemu investor asing. Pakaian itu sudah cocok untuk pertemuan kali ini. Kamu sudah seperti eksekutif muda. Wah karyawanku wanita pasti akan melirikmu penuh minat."
"Anda bisa saja."
"Duduk dan tanda tangani kontrak kerjamu. Setelah itu kita akan segera berangkat!"
Tanpa membuang waktu, Edward langsung mengambil pena dan membubuhkan tanda tangan tanpa membaca isinya lagi lalu menyerahkan kembali kertas itu pada Aurora.
"Oke. Ayo berangkat!" Aurora menyerahkan tas kerjanya pada Edward dan berjalan lebih dulu. Edward mengekori di belakangnya.
Sampai didalam lift, Edward sampai menahan nafasnya. Jantungnya berdetak kencang saat posisinya terlalu dekat dengan istrinya. Ia bahkan bisa merasakan aroma wangi dari rambut wanita itu.
"Oh, cobaan apa lagi ini. Kau ada didekatku, tapi aku tak kuasa menyentuhmu sayang. Sial! Sepertinya aku harus merubah rencana Jingmi." Batin Edward.
.
.
.
__ADS_1
#####
Please tinggalkan jejaknya. Like like like and like.