
Disebuah balkon kamar, telah terjadi pembicaraan serius oleh dua orang tua yang tak lagi muda. Dua orang itu duduk ditemani teh hangat dan keindahan malam. Mereka berdua tampak sedang menunggu super moon yang malam hari ini bisa dilihat keindahannya.
"Pokoknya bunda tidak setuju..!!"
"Bunda bunda.. Amel dan Willi hanya pacaran, bukan menikah. Kenapa respon bunda berlebihan begitu."
"Berlebihan gimana, orang tampangnya aja tidak menyakinkan begitu."
"Bunda, kenapa menilai dari tampilan fisiknya sih. Tidak semua orang begitu. Bunda lupa dengan Ayah waktu muda ?"
"Ihh Ayah nggak ngerti perasaan bunda deh, firasat bunda mengatakan kalau dia bukan pria baik untuk putri kita. Masa masih nggak ngerti juga sih."
"Terserah bunda sajalah, kamu nasehati sendiri putrimu, tapi jangan sampai melukai hatinya. Dia baru pertama jatuh cinta, jangan sampai dia trauma dan tidak mau menikah." ucap Tuan Admaja sambil menyeruput tehnya.
"Bunda tu pengennya Amel sama Lukas, bukan sama si Willi itu. Belum juga bunda ngomong, eh sudah punya pacar."
Uhuk ... uhuk .. uhuk ...
"Siapa bunda? Lukas? nggak salah bun." Tuan Admaja tersedak tehnya gara gara mendengar nama Lukas.
"Ya nggak lah, Bunda nggak pernah salah menilai orang. Lukas itu sosok yang tepat untuk Amel."
"Apa lebihnya? Lukas bahkan masih kalah tampan dengan Willi." bela Tuan Admaja
"Cih, tadi bilang jangan menilai dari fisiknya, sekarang beda bedain orang, gimana sih nggak konsisten."
Tuan Admaja tersenyum malu.
"Ayah tau, Lukas itu pria yang manis, Bunda tau kalau ada cinta dimata Lukas. Makanya bunda mau jodohin mereka."
"Idih manis gimana, orang hitam begitu, bagusan Willi, putih kaya si Edward."
"Ck, maskulin begitu dibilang hitam, punya Ayah tu yang hitam." sindir bunda Yuli sambil melihat bagian bawah suaminya.
Ha ha ha ha
Tuan Admaja tertawa terbahak bahak mendengar penuturan istrinya,
"Ah, ayah jadi pengen. Boleh minta sekarang nggak sih Bun, mumpung suasana lagi romantis begini." ucap Tuan Admaja menaik turunkan alisnya.
Bunda Yuli seketika mendelik kesal.
"Sudah tua masih mau macem macem, mau saingan sama anaknya.!"
Ha ha ha ha
"Anak mana yang aku saingi, orang si sulung saja bininya masih di luar negeri, mana bisa dia begituan. Paling juga main sama sabun." ucap Tuan Admaja
"Ck, jangan menjadi tua yang menyebalkan ya.!"
Ha ha ha ha
"Bunda, lihat deh diatas sana, bulannya sudah kelihatan." tunjuk Tuan Admaja
"Wah, super moon. Ini indah sekali." ucap Bunda Yuli kagum.
"Tapi lebih indah wajah bunda." celetuk Tuan Admaja
"Apaan sih, gak perlu gombalin bunda deh."
__ADS_1
"Bunda,.."
"Hem.."
"Bunda adalah satu satunya wanita yang ayah cintai sampai setua ini. Walaupun kata orang orang banyak laki laki yang akan puber kedua, dan akan jatuh cinta lagi, tapi cinta Ayah hanya sama bunda. Bunda masih mencintaiku bukan?" tanya Tuan Admaja yang sudah menarik bahu istrinya agar lebih dekat dengannya.
"Bunda juga mencintai Ayah, terima kasih sudah melewati hari hari sulit bersama bunda, membesarkan dan merawat anak anak. Menemaniku disaat sakit, membantuku disaat kerepotan, dan yang penting masih setia dengan Bunda. " ucap Bunda Yuli yang sudah memeluk suaminya dari samping.
Tuan Admaja merengkuh tubuh Bunda Yuli dengan sayang dan mencium keningnya. Pasangan tua itu begitu menikmati malam ini. Baginya , mau tua mau muda,semua perlu ruang yang namanya romantisme agar hubungan tidak terasa hambar dan tidak berakhir dengan perselingkuhan. Seperti itulah cerita cinta mereka.
.
.
Tidak jauh dari tempat pasangan tua itu berada, Edward, Amel dan Brian sedang duduk di tepi kolam ikan sambil memandangi bulan yang tengah bersinar.
Amel dengan santainya menyandarkan kepalanya kebahu kakaknya, sedangkan Brian asik dengan ponselnya setelah puas melihat super moon. Mereka bertiga duduk saling bersebelahan.
" Kak,."
"Hem,.."
"Apa kakak sedang rindu dengan kakak ipar?" tanya Amel ambigu
"Kenapa bertanya seperti itu, jelas saja kakak rindu dengannya. Dia kan tidak dalam jangkauan kakak." ucap Edward sambil menerawang wajah cantik istrinya.
"Aku juga rindu dengan Mas Willi," celetuk Amel
Ha ha ha ha
"Siapa tadi tante? Mas Willi..." ucap Brian tertawa karena geli mendengar kata Amel yang menurutnya asing ditelinganya.
Edward tersenyum mendengar celetukan adiknya.
"Hemm," Amel menganggukkan kepalanya.
"Apa kakak merestui hubunganku dengan mas Willi?"
Ha ha ha ha
"Kau tau tante, bahasamu itu sangat menggelikan. Mommy aja yang sudah punya suami gak panggil daddy mas, gimana bisa tante sepelti itu. Apa tadi, mas Willi.. ha ha ha ha..."
Edward mengulum senyum mendengar Brian yang menertawakan adiknya.
"Diam kamu bocil. Tau apa kamu urusan orang dewasa. Belajar dulu tuh mulut cadel mu. Bilang R aja belum bisa mau ngetawain tantenya. Huh..!" ucap kesal Amel.
" Sudah, jangan ribut disini." ucap Edward menengahi.
"Amel, aku sebagai kakak lelakimu tidak melarang kamu berhubungan dengan laki-laki manapun, tapi ingat jaga dirimu baik baik. Jangan merusak tubuhmu. Kalau masih sebatas pacaran, bolehlah saling mengenal, tapi kalo untuk dijadikan suami, kakak masih harus menyelidikinya lebih dulu. Kamu paham bukan maksud kakak.."
"Paham kak."
"Apa ayah sudah mengetahui hubungan asmaramu?"
"Sudah, "
"Gimana tanggapannya?"
"Sama seperti kakak, boleh pacaran, tapi belum boleh menikah. Kalian satu frekuensi."
__ADS_1
"Ya, seperti itulah kami kaum lelaki. Kami lebih mengutamakan rasional daripada perasaan." kata Edward yang menanggapi ucapan adiknya.
"Daddy, Blian ngantuk, boleh Blian bobok di pangkuan daddy?" interupsi Brian.
"Boleh,.. kenapa tidak tidur dikamar saja?" tanya Edward sambil membelai rambut Brian.
"Blian mau bobok ditemani mama, mama lihat Blian dari sulga. Kata Aunty Selly, kalau sedang lindu dengan mama, Blian halus lihat ke langit, disana ada mama yang sedang telsenyum melihat Blian. Blian lindu mama."
Edward terdiam mendengar perkataan putranya, sebegitu rindunya anak itu pada mamanya.
"Daddy, telima kasih sudah melawat Blian. Blian menyayangimu."
"Daddy juga menyayangimu. Tidurlah, hari sudah malam." Edward mengusap pipi Brian hingga tertidur.
"Kak, apa yang membuat kakak begitu mencintai kakak ipar, bahkan teman wanita kakak juga cantik cantik." tanya Amel yang masih menyender dibahu Edward.
Edward tersenyum mendengar pertanyaan adiknya.
"Kamu tau, selain dia cantik, dia satu-satunya wanita yang membuat kakak merasa nyaman, dia wanita ramah walaupun kadang kadang cerewet, wanita mandiri walaupun masih membutuhkan sosok laki laki, wanita yang membuat kakak ingin slalu melindunginya. Satu hal lagi yang membuat kakak jatuh cinta padanya, yaitu kebaikan hatinya, dia sangat menghargai kakak, ah kamu,,.. kakak jadi kangen dia kan jadinya."
"Yee, siapa suruh kakak menghayal. Aku kan cuma nanya. Hayo jangan jangan Junior kakak lagi on fire ya.." ejek Amel.
"Apa sih kamu...!"
"Gimana sih kak rasanya pertama gituan sama kak Aurora."
"Kamu masih kecil, belum saatnya tau." ucap Edward yang memalingkan wajahnya.
"Ck,,jawab aja pelit, tinggal bilang enak atau tidak gitu aja susah."
"Menurutmu..?" Edward memicingkan matanya.
"Enak."
"Sudah tau kenapa nanya..!" kesal Edward
"Jadi beneran enak Kak.. Aaah... aku bakal punya keponakan baru ni. Yeyy.." seru Amel
Edward terdiam mencerna pertanyaan Amel.
"Kau menjebakku..!"
"He he he sorry Kak, bunda tadi yang suruh tanyain." Amel berkata sambil meringis, takut takut dijitak kepalanya .
"Ameellll...." desis Edward menatap tajam adiknya
"Aaaaa kabuuuurrrr...."
Amel berlari menjauhi kakaknya yang menggeram marah karena mengelabuhi dirinya. Dari jauh ia tertawa terbahak bahak sambil mengejek kakaknya. Sedangkan Edward hanya mendengus kesal karena ada Brian dipangkuannya. Itulah keluarga mereka.
.
.
Kakak beradik selalu begitu ya, gimana dengan kalian? Ada yang suka kabur saat akan dimarahi kakaknya..
.
.
__ADS_1
please tinggalkan jejaknya.
love love love