
"Mas ....., bisakah aku minta tolong?" tanya Ajeng dengan wajah memerah menahan malu, ia benar-benar malu untuk mengatakannya.
"Katakan ada apa?" Al mengelus pipi Ajeng.
"Aku butuh itu ...., anu .....!"
"Jangan ragu, ayo katakan akan aku carikan untukmu!"
"Aku butuh pembalut dan ****** *****! aku tidak membawa ganti!"
"Pembalut ....?"
"Iya ...., yang biasa wanita kenakan saat tamu bulanannya datang!"
"Jadi sekarang dia datang?" tanya Al dengan wajah memelasnya dan Ajeng pun mengangguk.
Astaga ...., kenapa dia datang di waktu yang tidak tepat sih .....
"Sudah ku duga, pasti mas Al nggak mau ....!" Ajeng merasa kalau Al keberatan dengan permintaannya, padahal yang sedang pria itu pikirkan saat ini bukan itu tapi hal lain.
"Bukan seperti itu, sayang ....!" ucap Al sambil mengusap pipi Ajeng lembut. "Diamlah di sini, biar aku ke mini market dekat rumah!"
Ajeng pun mengangguk, ia menuruti permintaan suaminya. Al segera melepaskan sarungnya melipatnya , dengan hanya mengenakan celana selutut ya ia kembali turun, untung saja mini market hanya berada di seberang jalan di ujung gang, tidak terlalu jauh, jadi tidak butuh waktu lama untuk berjalan kaki.
Setelah menyeberang jalan, Al sudah sampai di halaman mini market.
"Eh ...., mas Al kapan pulangnya?" tanya seorang pria yang sepertinya juga seumuran dengan Al sedang memakai jaket tanpa lengan berwarna orange, sepertinya dia tukang parkir di mini market itu.
"Ah iya ...., baru tadi siang! Aku masuk dulu ya!"
"Iya mas silahkan ....!"
Al pun memilih untuk segera masuk, ia kasihan pada istrinya jika terlalu lama menunggunya.
Al mengambil keranjang belanja, ia mengitari setiap lorong, mencari benda yang ia cari, akhirnya ia menemukannya di lorong terakhir, tapi di sana begitu banyak jenisnya, ia bahkan tidak tahu harus mengambil yang mana.
"Aku harus ambil yang mana ini?" Al hanya memandangi rak itu, begitu banyak sehingga membuatnya bingung.
"Ada yang bisa saya bantu, mas?" tanya salah satu karyawan mini market yang sedang merapikan barang-barang.
"Bisa beritahu aku, pembalut yang biasa di gunakan wanita saat datang bulan?"
Karyawan mini market itu pun mengambilkan beberapa bungkus dengan warna yang berbeda-beda.
"Mas bisa memilih, mau yang panjangnya 36 cm atau yang lebih pendek, jika paling panjang ini biasa di gunakan di waktu malam hari, kalau yang lebih pendek biasa di gunakan pada siang hari agar lebih nyaman dalam bergerak!"
"Dan yang ini yang ada sayapnya, kalau ini tidak!"
"Kalau begitu aku ambil semuanya saja, ambilkan aku ****** ***** sekalian, apa di sini ada?"
"Yang ukuran berapa mas?"
__ADS_1
"Aku lupa menanyakannya! baiklah ambilkan semua ukuran!"
"Baik mas ....!"
Karyawan itu melakukan seperti apa yang di minta oleh Al. Setelah selesai, Al membawa barang belanjaan itu ke kasir, ibu-ibu yang berbelanja saling berbisik. Sepertinya salah satu dari mereka ada yang mengenal Al, dan belum tahu jika pria itu sudah menikah.
"Mas Al!"
"Iya?" Al menoleh pada sumber suara.
"Beli pembalut untuk siapa mas?"
"Untuk istriku!"
"Istri?"
"Iya ....!"
"Kapan mas Al menikah?"
"Siang tadi Bu, ya sudah saya permisi kasihan istri say menunggu lama!"
"Oh iya silahkan mas ....!"
Al tak mau berlama-lama di sana, ia sudah cukup lama berada di mini market itu. Al berjalan dengan cepat menuju ke rumahnya.
Ia memberi salam pada Ajeng, Ajeng segera menyahutnya, ia bangun dari duduknya dengan bersemangat. Tapi ia begitu terkejut saat melihat betapa besarnya kantong belanjaan Al.
"Itu pembalut dan ****** *****!"
"Iya .... , aku tahu tapi kenapa banyak sekali?"
"Aku tidak tahu pembalut mana yang kau butuhkan, makanya aku membeli semuanya. Dan ****** ***** itu, aku belum tahu berapa ukuran mu!"
Seketika wajah Ajeng memerah karena malu, iya Al benar, ia bahkan tidak memberi tahu apapun tentang hal itu.
"Cepatlah bersihkan dirimu!" ucap Al Sambil mengusap puncak kepala Ajeng. Ajeng dengan cepat menuju ke kamar mandi, ia membawa semua pembalut dan ****** ***** itu ke kamar mandi.
Tapi Ajeng lupa satu hal, ia tidak punya baju ganti. celananya sudah kotor terkena noda darah. Ajeng akhirnya memilih keluar dari kamar mandi memakai handuk.
Ceklek
Saat pintu kamar mandi terbuka, Al yang sedang asik membaca di atas tempat tidur, matanya teralihkan. seketika aliran darahnya mengalir lebih deras saat melihat penampilan istrinya itu, handuk itu terlalu kecil untuk menutupi tubuh Ajeng. Ajeng terlihat begitu seksi.
"Mas bisa bantu aku satu lagi?!" ucapan Ajeng tak berhasil mengalihkan tatapan Al, membuat Ajeng mengulang pertanyaannya. Ajeng mendekat ke arah Al.
"Mas .....!"
"Ahh ...., iya ....!"
"Bisa pinjami aku celana atau apapun yang bisa aku pakai, aku tidak membawa baju!"
__ADS_1
"Iya ....!" Al pun segera turun dari atas tempat tidur, ia menuju lemari pakaian yang sempat Ajeng buka tadi.
"Pilihlah ini sesukamu!" ucap Al sambil menunjukkan baju-baju itu, ia tidak berani menatap Ajeng.
"Aku nggak mau!" jawab Ajeng dengan tegas membuat Al terkejut.
"Kenapa?"
"Itu pasti baju ceweknya mas Al kan, kenapa dia meninggalkan semua bajunya di lemari mas Al, apa yang mas Al coba sembunyikan dariku?"
Astaga ....., dia salah paham ternyata .....
Al berjalan mendekati Ajeng, ia menarik tangan Ajeng dan membawanya mendekat ke arah lemari itu.
"Lihatlah baju-baju ini ...., ini semua masih baru, aku sengaja membelinya untukmu!"
"Benarkah? Mas Al tidak mencoba membohongiku kan?"
"Demi Allah ...., hanya kau yang ada di hatiku!"
"Tapi ini baju-baju nya bukan gayaku! ini semua dress, aku tidak terbiasa memakai dress!"
"Tak apa, kau bisa memakainya sekarang dan besok kita bisa beli sesuai selera mu!"
"Lalu ...., baju-baju ini?"
"Kau boleh menyimpannya atau membaginya untuk orang lain!"
"Aku akan mencoba membiasakan memakai baju-baju ini!"
"Jangan di paksakan, sayang!"
"Jika membahagiakan suami adalah ibadah, kenapa aku harus terpaksa!"
"Terimakasih sayang ....!" Al mengecup kening Ajeng. "Pilihlah salah satu dan segeralah memakai baju, hawanya sangat dingin, kau bisa masuk angin!"
Ajeng pun mengangguk dan mengambil satu untuk ia kenakan, Ajeng kembali ke kamar mandi dan mengenakannya.
Ajeng keluar dari kamar mandi dengan memakai dress itu, Ajeng begitu cantik dengan dress itu, Al kembali tercengang dibuatnya. Al mendekati Ajeng.
"Ada yang masih kurang!" ucap Al sambil mendekat ke arah Ajeng, ia mengangkat tangannya dan mengalungkannya ke leher Ajeng, membuat Ajeng terpaku. Ternyata Al melepaskan kunciran Ajeng dan menyisir rambut Ajeng dengan jari-jarinya.
"Nah ...., kalau begini kau begitu cantik sayang ....!"
Mendengar ucapan Al, lagi-lagi Ajeng di buat tersipu.
Bersambung
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 😘😘😘😘