Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Rencana


__ADS_3

Keesokan harinya Vivian terbangun dengan tubuh lemahnya. Wajahnya terlihat pucat dengan suhu tubuhnya yang masih panas. Ia melihat disebelahnya ada Kim yang masih tertidur dengan begitu pulasnya. Ia mendesah pelan saat menyadari jika dirinya belum terbalut pakaian.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku. Sialan kau Alex, awas saja akan aku balas perbuatanmu!" gumam Vivian sambil memijit kepalanya yang masih terasa pusing.


"Kau sudah sadar, apa kau masih menginginkannya lagi? Aku bisa melakukannya lagi untukmu." ucap Kim tak tau malu. Ia malah mempertontonkan keperkasaannya pada Vivian.


Vivian berdecih. Menatap sebal wajah Tuan Kim.


"Wajahmu jelek sekali. Jika tidak ada aku semalam, mungkin saja kamu sudah mati pagi ini. Kau berhutang nyawa padaku, dan kau harus membayarnya!" ucap Tuan Kim ketus.


"Wow..! Bukankah kita sama sama menikmatinya?"


"Dasar bodoh! Kau tau cairan apa yang disuntikkan Alex padamu! Racun! dan kau tau, berapa uang yang aku keluarkan untuk membeli anti racun itu? tujuh ribu dolar Vivian! Jadi jaga sikapmu padaku!"


"Racun? Sialan! Ternyata pria itu sangat berbahaya. Aku harus berhati hati setelah ini." batin Vivian.


"Sudahlah! Kamu dari dulu memang wanita bodoh sekaligus ceroboh! Itu akibatnya jika kamu tak mau menuruti keinginanku. Aku akan pulang ke Jepang siang nanti. Kau disini saja dan jangan membuat ulah selagi aku pergi. Awas saja jika kau membuat kekacauan lagi." ancamnya.


Vivian menatap rumit Kim, banyak pertanyaan yang muncul dalam otaknya, tapi ia enggan bertanya pada pria itu.


"Kamu tidak bertanya kenapa aku pulang?" Kim memicingkan matanya melirik Vivian.


Vivian menggeleng lemah.


"Jangan sakit hati. Aku pulang karena aku akan menikah dengan orang yang dijodohkan oleh orang tua ku. Aku harus segera mengambil alih kekuasaan Ayahku."


Deg.. deg..


"Menikah?" beo Vivian.


"Ya." jawab santainya.


Vivian menundukkan kepalanya. Kepalanya sudah pusing dan sekarang semakin pusing mendengar teman ranjangnya akan menikah.


"Kenapa? Apa kamu cemburu?" Ledek Kim


Lagi lagi Vivian menggeleng lemah.


"Okey kalau tak cemburu. Kamu harus ingat, juniorku ini mungkin bukan milikmu seutuhnya lagi setelah aku kembali dari sana."


"Hem." Vivian mengangguk lemah.

__ADS_1


"Selamat atas pernikahanmu. Segeralah kembali dan bantu aku membalas dendamku, setelah itu aku akan segera pergi dari kehidupanmu. Kamu bisa hidup tenang setelah ini." ucap Vivian.


"Apa.! Kamu masih ingin melanjutkan dendam konyolmu itu! Ck..ck..ck..! Kamu memang wanita gila.!" Kim geleng geleng kepala tak percaya.


"Ya, aku gila karena cinta. Cinta yang membuatku seperti ini."


"Apa rencanamu!" tanya Kim penuh selidik.


"Tentu saja memisahkan Aurora dan suaminya. Aku belum puas jika salah satu diantara mereka masih hidup. Aku tak rela berbagi cinta dengan siapa pun." Ucap Vivian


"Kau memang bodoh Vivian. Edward sampai detik ini masih dinyatakan koma. Untuk apa melanjutkan rencanamu!" Kim lama lama kesal sendiri. Ia saja sedikit khawatir jika berurusan dengan mereka setelah tau kesadisan Alex. Bahkan ia sangat bersyukur tidak terlibat atas kecelakaan yang menimpa Edward waktu lalu. Tanpa dirinya mengotori tangannya sendiri, sudah dibereskan pihak lain yang semisi dengannya.


"Tentu saja agar anak anak mereka tak memiliki ayah. Harusnya dia mati saja saat kecelakaan itu terjadi, jadi aku tak perlu repot repot lagi."


"Vivian,. aku ingatkan sekali lagi. Aku akan membantumu untuk terakhir kalinya. Jika kamu gagal lagi, aku tidak mau ikut campur lagi dengan dendammu itu. Aku sudah banyak kehilangan anggotaku dan dolarku!"


"Cih! kamu lupa siapa yang membantu perusahaanmu berdiri besar dinegara ini. Itu juga berkat usaha ayahku!"


"Terserah dengan pemikiranmu! Aku mau mandi.!"


BRAK..


.


.


Ditempat lain, Aurora bersama ketiga anaknya sedang menikmati waktunya. Tampak Brian sedang menciumi pipi dua bayi kembar itu bergantian. Brian terkekeh ketika senyum kedua bayi itu terbit dikala tidurnya.


"Hai Al dan El, mimpi apa sih sampe senyum senyum gitu? Lagi mimpi ketemu daddy ya? Coba celitakan pada Kak Ian, daddy sedang ngapain? Bilang sama daddy kalau ada kak Ian dan mommy yang akan menjaga kalian. Sampaikan salam lindu kakak ya dek?" ucap Brian sambil mengusap pipi Al dan El.


Aurora yang mendengar itu langsung menghentikan kegiatan mengetiknya. Ia menghela nafasnya yang terasa berat, dirinya merasa kasihan dengan Brian. Aurora kemudian mendekati Brian dan memeluknya erat.


"Kuatkan hatimu. Doakan Daddymu, dia sedang berjuang untuk kembali bersama kita. Mom tau jika kamu merindukan Daddy, mom pun juga begitu. Kita bisa menjenguknya jika kamu ingin." ucap Aurora


Brian terdiam dalam dekapan Aurora. Hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah.


"Mom, bisa tidak jika daddy dibawa pulang saja?" celetuk Brian tiba tiba.


Aurora melonggarkan pelukannya, ia mengerutkan dahinya, menatap rumit wajah Brian yang terlihat polos.


"Dibawa pulang?"

__ADS_1


"Hem, siapa tau jika dibawa pulang daddy akan segela sadal. Kasihan daddy disana sendilian, hanya ada om Kevan dan om Kevin. Blian gak bisa kesana telus telusan kalna halus jagain adik bayi."


Aurora masih terdiam memikirkan ucapan Brian yang memang ada benarnya. Dirinya juga sempat berpikir seperti itu, tapi dirumah sakit itu jauh lebih aman dibandingkan dirumah jadi ia mengurungkan niatnya.


"Blian ada sedikit tabungan untuk membeli alat alat medis yang daddy gunakan." ucap Brian lagi.


"Bukan masalah uang sayang, tapi keamanan daddy jauh lebih penting. Kamu tau, diluar sana masih banyak orang yang menginginkan kematian daddy. Dirumah sakit, keamanan daddy jauh lebih terjamin dibanding dirumah."


"Kita bisa melakukan penjagaan yang ketat mom. Bukankah anggota GL selalu siap?"


Aurora tersenyum dan mengusap rambut Brian dengan sayang.


"Benar, tapi bolehkah mom diberi waktu untuk memikirkan hal ini dulu? Kita harus membicarakan ini dengan banyak orang. Termasuk dokter yang menangani kesehatan daddy. Kakekmu sedang merencanakan dokter dari luar negeri untuk membantu pemulihan daddy. Dan mungkin akan tiba minggu depan."


"Baiklah, Blian akan menunggu kabal baiknya." ucap Brian dengan senyum merekah.


"Good boy. Baiklah, jangan ganggu tidur adik adikmu ya, mom ada tugas penting untukmu. Bawa laptopmu kemari, dan bukalah email yang sudah mom kirimkan."


"Tugas,..? wow.. dengan senang hati akan Blian keljakan."


Aurora hanya menggelengkan kepalanya. Tersenyum melihat Brian yang terlihat antusias menyalakan laptopnya. Ia pun kembali ke meja kerjanya, menyelesaikan pekerjaannya sebelum kedua putranya terbangun dan menyita banyak perhatiannya.


"Mom! Tugas apa ini!" seru Brian sambil men-scroll kebawah gambar gambar dimonitornya.


"Pelankan suaramu nak, pekerjaan mom belum selesai."


"Maaf.." Brian membekap mulutnya, menyadari kesalahannya.


"Jadi apa yang halus aku keljakan mom..?"


"Benarkah kamu belum tau apa yang harus dikerjakan?"


Brian menggeleng dengan lugunya. Menggaruk kening dengan telunjuknya, mencoba menebak apa maksud dari mommynya. Pasalnya yang dikirim Aurora adalah gambar gambar bangunan beserta denah rumah bukan code code seperti biasanya.


.


.


.


####

__ADS_1


__ADS_2