
πΊπΊπΊπΊ
Setelah cukup lama berfikir, Al memilih kembali ke rumahnya, rumah orang tuanya, bukan rumah yang biasa ia tinggali dengan Ajeng. sangat sulit untuknya pulang sendiri tanpa Ajeng.
Al tidak menginginkan ini, ia berfikir hal yang lain. Mungkin jika ia bisa menikah dengan Ajeng sekarang ia akan sangat bahagia.
Sebelumnya ia bahkan sudah mengatakan niatnya pada kedua orang tuanya untuk menikahin Ajeng, orang tua Al begitu bahagia mendengar keputusan Al, mereka penasaran dengan hasilnya.
Al memasuki rumahnya, ia langsung di sambut oleh mama dan adiknya, kebetulan papanya sedang di luar kota, jadi ia tidak bisa ikut mencerca pertanyaan pada putra sulungnya itu.
Al mendudukkan tubuhnya di sofa, menghela nafas, .mencoba mengatakan pada semuanya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Bagaimana nak?" Tanya mama Al. "Apa Ajeng menerimanya?"
"maafkan Al ...!"
"Kenapa?" mama Al memegang tangannya, memberi kekuatan pada putranya agar tidak bersedih.
"Ajeng belum bersedia ma!"
"Sabar ya sayang ...., Semua butuh proses!" Mama Al mencoba memberi semangat pada putra sulungnya.
"Abang sih ada-ada aja, Ajeng itu bukan cewek sembarangan bang, nggak semudah itu mendapatkan hatinya!" Dika yang juga berada di sana ikut menimpali.
"Dik, jangan membuat abangmu tambah prustasi!" protes mamanya.
"Dika sudah mau menyerah demi Abang, jadi jangan siakan dia!" Dika masih tak terima jika abangnya menyerah sampai di sini. Masih banyak waktu untuk mendapatkan hati Ajeng.
"Baiklah ...., Abang masih punya tugas untukmu lagi!" ucap Al, ia membetulkan posisi duduknya.
"Apa lagi sih bang?" ia tahu jika abangnya akan sangat merepotkannya lagi.
__ADS_1
"Masuklah ke universitas yang sama dengan Ajeng!"
Benarkan .....
Dika sudah menduganya, akan sangat merepotkan jika berhubungan dengan abangnya yang keras kepala itu.
"Hah ...., Mana mungkin bang, aku punya pilihan sendiri bang, aku pengen ngelanjutin kuliah di Bandung!"
Ikut kuliah di tempat Ajeng bukan impiannya, ia ingin hidup jauh dari keluarganya. Ia ingin mandiri, kalau cuma di Malang, bukankah sama saja di tempat tinggalnya.
"Ayolah ...., Bantu Abang sekali lagi, Abang akan sangat berhutang padamu untuk itu!"
"Memang kenapa sih bang, aku harus masuk universitas yang sama dengan universitas Ajeng?"
"Abang tidak mau dia di dekati oleh pria lain!"
"Dasar ...., Abang ini bener-bener sudah terobsesi sama Ajeng!"
"Sama aja!"
"Ayolah ....!"
"Apa untungnya buatku?" Dika mencoba bernegosiasi. Pasti ada keuntungan yang mungkin ia bisa dapat selain bisa tetap dekat dengan Ajeng.
"Kau boleh minta apa aja, asal jangan meminta Ajeng!"
"Heh ...., dasar bucin .....!"
"Bagaimana setuju ya ....!"
"Baiklah ...., Demi Abang, tapi jangan salahkan aku jika aku jatuh cinta lagi sama Ajeng!"
__ADS_1
"Kalau sampai itu terjadi, aku akan membunuhmu!" Ancam Al pada adiknya itu. "Sekarang katakan, apa permintaanmu!"
"Emmmm ....., apa ya?" Dika harus memikirkan yang sangat di inginkan, bukan sebuah keinginan yang biasa saja.
"Ayolah ....!" Al sudah tidak sabar.
"Bagaimana kalau setelah ini, aku di ijinkan untuk memimpin satu perusahaan Abang!"
"Kau masih harus banyak belajar!"
"Ya sudah kalau tidak mau!"
"Baiklah ...., tapi jangan membuat perusahaan Abang Koleb, aku akan mempertimbangkan untuk selanjutnya!"
"Nah itu baru abangnya Dika!"
"Dasar bocah ....!"
Setelah melakukan perdebatan yang cukup sengit itu, mereka pun kembali ke kamarnya masing-masing. Al harus mempersiapkan diri untuk keberangkatannya ke London, ia akan melanjutkan kuliahnya dan mendapatkan gelar doktor.
Menyerahkan sebuah perusahaan kepada Dika adalah hal yang sulit, bukan karena Dika masih terlalu muda untuk itu, tapi Dika bukan orang yang betah dalam satu suasana dalam waktu yang lama, ia takut di tengah jalan Dika akan bosan dan meninggalkannya begitu saja.
Tapi demi Ajeng ia merelakannya, setidaknya ia juga harus melihat kemampuan Dika.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku
Tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading πππππ