Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Goyah


__ADS_3

"Lalu kemana istrinya Edward, apa kondisinya juga sama dengannya?"


Beni melirik ke ranjang pasien, belum ada tanda tanda Edward akan segera sadar dari tidur panjangnya. Hanya monitor elektrokardiograf yang terdengar dan menampilkan grafik yang menunjukkan aktivitas listrik jantung.


"Nona Aurora sedang melakukan pengobatan untuk kakinya. Nona tidak akan kembali dalam waktu dekat jika anda ingin bertemu dengannya." ucap Lukas.


"Hah, syukurlah jika begitu, Setidaknya ada istrinya yang akan memegang kendali perusahaan Edward, Ayah Edward sudah terlalu tua jika harus bolak balik perjalanan bisnis, apalagi kondisi kesehatannya yang mulai menurun. Setidaknya ada kamu juga yang akan membantu mengurusnya. Lalu bagaimana dengan perusahaan baru yang dibangun Edward, siapa yang menangani, hah harusnya masalah ini tidak datang sekarang." Beni merasa pusing sendiri , padahal ia baru memikirkannya.


Lukas tersenyum kecut, tentu saja dinya yang akan menangani, siapa lagi yang bisa diandalkan. Menunggu Aurora pulih juga masih lama, apalagi dengan kondisi kehamilannya. Belum lagi dengan perusahaan pribadinya, perusahaan keluarganya dan usaha baru rintisannya. Lukas menghela nafasnya pelan, ia berpikir jika punya banyak perusahaan besar harusnya punya banyak keturunan agar bisa meneruskan perusahaan. Apalah daya, kadang anak pun memilih kehidupannya sendiri. Hah, kehidupan Tuan dan Nona memang rumit pikir Lukas.


"Anda tenang saja, saya yang akan membantu menghandle semuanya. Saya juga lulusan yang sama dengan Tuan Edward. Masalah perusahaan barunya, saat ini masih dalam tahap pembangunan. Itu bahkan masih akan sangat lama pengerjaannya."


"Ya kau memang yang selalu bisa diandalkan. Edward tak salah memilihmu." Beni menepuk bahu Lukas. Ia sedikit bangga akan kesetiaannya pada keluarga Edlyn.


.


.


Di mansion Tuan Admaja.


Bunda Yuli duduk melamun memandangi langit hitam kelam tanpa adanya bintang dan bulan yang menghiasi, langit malam itu sudah seperti suasana hatinya saat ini.


"Ah apa yang sedang aku pikirkan, tidak! semua itu tidak benar, aku hanya menjalankan peranku sebagai seorang ibu, melindungi anak dan keluargaku. Ya itu sudah benar." gumam Bunda Yuli dan terus mengulang kalimatnya.


Ingatannya kembali beberapa hari yang lalu, saat teman sosialitanya menjenguk suaminya dirumah sakit. Sejak saat itu, wanita lima puluh lima tahun itu selalu melamunkan ucapan teman temannya. Entah benar atau tidak, ia hanya ingin melindungi keluarganya.


Flassback


"Jeng Yuli, tabah ya. Jeng sedang menjalani ujian. Kita kita turut mendoakan supaya lekas membaik keadaannya. Jeng harus kuat." ucap satu teman sosialitanya.


Bunda Yuli tersenyum kecut. Ia memandangi suaminya dari jarak jauh. Saat itu Tuan Admaja sedang pulas dalam tidurnya, mungkin itu pengaruh dari obat yang baru saja diminum.


"Terima kasih kalian sudah datang." ucap Bunda Yuli singkat.

__ADS_1


"Gimana keadaan putra dan menantumu? Apa sudah membaik, maaf kami tidak bisa menjenguknya, tidak semua orang diperbolehkan datang menjenguk. Mereka dijaga ketat banyak polisi dan pengawal putramu." sesal salah satu temannya, padahal dalam hatinya ia ingin diliput media.


"Maaf, memang seperti itu protokolnya, pelaku percobaan pembunuhan masih berkeliaran bebas diluar sana. Kami takut akan melukai mereka lagi." jawab bunda Yuli.


"Hah, jeng sih ndak percaya sama kita. Cucu angkatmu itu pembawa sial. Keluarga mereka dari sononya keluarga pembawa sial. Ibu cucumu pasti wanita penghibur, bapak cucumu aja tidak jelas asal usulnya gitu. Jeng tau, kita aja ikut kena sialnya hanya gara gara berhubungan dengan mereka. Cucu tidak jelas asal usulnya kok mau maunya mengakui. Saya saja menyesal sudah mempekerjakan Selly waktu itu, gara gara dia, aku kehilangan uang milyaran, ya walaupun sekarang sudah diganti sih. Heran juga sama mantumu itu, bisa bisanya seorang bodyguard bisa jadi CEO perusahaan. Sekolahnya juga gak bagus bagus amat." ucap Nyonya Dina dengan gaya congkaknya.


"Iya betul itu jeng, gara gara cucu angkatmu itu kan bisa kecelakaan begitu. Bukankah putramu itu sedang perjalanan bisnis, andai saja putramu tak mengajak cucumu, pasti keadaan ini tidak akan terjadi." ucap satu temannya lagi.


"Sebaiknya Jeng kembalikan sama keluarganya saja deh, daripada nanti kena sial lagi. Awas lho kalo tiba tiba keadaan perusahaan keluargamu bangkrut. Gak takut miskin Jeng, lihat.. suamimu masih butuh banyak uang untuk terapi penyembuhan, putramu juga butuh biaya pengobatan." teman lainnya ikut komentar.


"Kita tidak ingin teman kami semakin terpuruk. Pikirkan ucapkan kami baik baik, keluarga mereka keluarga pembawa sial, uang kami saja raib begitu saja dibawa lari sama bapaknya Selly, sayang sekali mereka sudah mati, jika belum mati, akan aku tuntut biar dipenjara seumur hidup, untung saja pemilik perusahaan yang baru mau mengembalikan walau hanya separuhnya. Hah beruntung aku tak jadi miskin. Huh.. mengingatnya saja membuatku kesal." ucap satu temannya lagi.


Bunda Yuli hanya mendengarkan teman temannya terus menjelek jelekan keluarga Selly yang sudah lama mati, ia sendiri juga tidak tau tentang kebenaran dari cerita itu. Mau bertanya pada yang bersangkutan juga bukan ranahnya. Selly jadi orang kepercayaan Aurora juga bukan kuasanya. Pasti ada pemikiran yang matang dari Aurora, tidak mungkin asal asalan. Tentang keluarga pembawa sial, ia juga tak terlalu paham. Asal usul Ayah Brian juga masih abu abu. Ia juga tak pernah bertanya pada putranya. Tapi memang benar sejak kehadiran Brian dirumahnya, banyak masalah yang muncul hingga keadaan saat ini. Entah benar atau memang suatu kebetulan.


"Anak terlahir suci tak ada dosa. Apa salahnya dia terlahir dari keluarga pembawa sial, itu juga bukan keinginannya Justru kita yang tua ini adalah pendosa. Sebaiknya kita yang introspeksi diri. Maaf ya jeng, kita kok malah bicara yang tidak tidak." sesal satu temannya.


"Hah, kamu bisa bicara seperti itu karena kamu tak mengalaminya. Coba kamu jadi kita." sindir nyonya Dina.


"Iya betul itu,!" sahut yang lainnya


flassback off


"Bunda, apa yang bunda pikirkan? Apa ada masalah? kenapa tak berbagi cerita denganku. Apa karena aku sakit?" tanya Tuan Admaja dengan suara baritonnya.


Bunda Yuli terkejut dan lamunannya buyar seketika. Ia menoleh kearah suaminya yang sudah disampingnya duduk dikursi roda.


"Maaf, apa aku mengejutkanmu? Sayang kemari dan peluklah aku. Aku tau kamu sedang banyak pikiran." ucap Tuan Admaja menarik lembut tangan istrinya.


Hiks.. hiks.. hiks..


Bunda Yuli merengkuh tubuh suaminya yang sudah mulai menua. Ia menangis dibahu suaminya. Ia merasa beban hidupnya semakin berat saja.


Tuan Admaja mengusap punggung istrinya yang bergetar, mencoba menyalurkan rasa tenang yang dimilikinya.

__ADS_1


"Katakan apa yang membebani hatimu. Sayang dengarkan aku, Tuhan tidak akan membebani beban berat jika kita tak mampu menanggungnya, percayalah semua masalah butuh waktu untuk penyelesaiannya. Maaf, apa aku sekarang menjadi beban hidupmu, apa aku tak lagi bisa menjadi sandaranmu?" ucap Tuan Admaja sendu.


Bunda Yuli mengurai pelukannya. Ia menghapus air mata yang sudah membasahi pipi yang mulai nampak kerutan kerutan.


" Tidak! jangan berkata seperti itu, aku mencintaimu jadi mana mungkin kamu menjadi beban hidupku. Kita sudah berjanji untuk saling mencintai, melengkapi dan menua bersama sampai ajal menjemput kita."


"Jadi apa masalahmu, kenapa kamu menangis hem.." tanya Tuan Admaja lembut.


"Aku sedang memikirkan keluarga kita, Edward belum juga sadar hingga sekarang, harapan hidupnya sangat tipis, siapa yang akan memimpin perusahaan saat ini, kamu juga sedang sakit, bagaimana jika perusahaan jatuh ketangan orang lain." jawab Bunda Yuli dengan senyum kecutnya.


Tuan Admaja tersenyum, "Jadi istriku takut miskin hem..,"


"Tidak, bukan seperti itu."


"Tenang saja, kamu tak perlu khawatir masalah itu. Aku masih bisa bekerja, ya walaupun aku sudah tua, tapi kemampuanku masih sama. Masih ada Aurora yang akan membantu. Doakan saja, putramu segera sadar dan pulih. Semua akan baik baik saja, semua akan kembali seperti sedia kala."


"Apa Ayah sadar yang ayah ucapkan..!! No, Aurora sedang hamil. Jangan membebaninya.! Dia sendiri juga punya perusahaan yang harus diurus. Kasian cucu kita." ucap Bunda Yuli tidak setuju.


Tuan Admaja tersenyum kembali.


"Aku sudah membicarakannya, perusahaan besan kita akan dipegang sementara oleh anak Tuan Haidar, artis tampan yang sedang hiatus dari dunia Entertainment itu. Tenang saja, mantu kita punya banyak orang yang bisa diandalkan. Aurora hanya akan bekerja dari balik layar sampai kondisinya membaik, mungkin sampai ia melahirkan nanti."


"Lalu kapan Brian akan pulang kerumah ini, aku sudah merindukannya. Kenapa dia tidak pulang kemari?" tanya Tuan Admaja.


Deg


Raut wajah bunda Yuli berubah, tak tau apa yang akan ia sampaikan pada suaminya. Akankah suaminya akan memarahinya setelah ini. Ingatannya berputar kembali saat kemarin menjenguk Brian di rumah sakit pusat. Ia menunduk melamun.


.


.


.

__ADS_1


####


__ADS_2