Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Semua akan baik-baik saja


__ADS_3

Didalam pesawat.


Aurora masih sibuk dengan laptopnya setelah mendapat kabar jika sinyal GPS milik dua putranya tidak bisa terlacak. Wanita itu terlihat sangat serius sekali. Sesekali matanya melirik kearah Brian yang mencoba membobol data di ATC untuk melacak keberadaan helikopter yang membawa dua adiknya.


Drrtt..drrtt..


Getaran ponsel Aurora mengalihkan fokusnya. Benda pipih itu terus bergetar karena pemiliknya sendiri enggan menjawab panggilan. Entah dari siapa, tapi Aurora hanya melirik sekilas lalu dibiarkan begitu saja.


Edward yang mendengar itu langsung mengangkat panggilan, tanpa peduli tatapan tidak suka dari pemilik ponselnya.


Diam sejenak. Edward sengaja tak bersuara. Ia ingin tahu apa yang diinginkan sang penelfon. Lagi pula untuk apa Henry menghubungi istrinya. Mencurigakan.


Suara bas menyapa indra dengar Edward, tapi pria itu tak menjawab sapanya.


"Nona Aurora, kenapa diam saja. Saya hanya ingin mendengar suara merdu anda sebelum saya berstatus menjadi suami orang. Atau jangan-jangan anda cemburu mendengar saya akan segera menikah dengan sahabat anda. Saya bisa membatalkan pernikahan ini jika kamu yang memintanya."


Edward menekan geliginya kuat kuat. Kenapa harus berbicara menyebalkan disaat seperti ini. Tidak bisa dibiarkan.


"Jangan pernah mencoba mengganggu istriku jika tak ingin berurusan denganku." ujar Edward dengan nada menggeram. Panas sekali dadanya mendengar omong kosong Henry. Memangnya dia siapa.


Henry diseberang sana mengerutkan dahi. Menilik ponselnya, takut jika yang dihubungi bukan Aurora.


"Tolong berikan ponselnya pada Nona Aurora. Saya ingin berbicara sebentar dengannya." ujar Henry yang mengubah intonasinya menjadi datar.


"Jangan harap aku membiarkanmu berbicara dengannya. Ingat baik-baik. Aurora sudah bersuami dan jangan pernah menghubunginya lagi. Apa anda paham dengan perkataanku? Saya rasa anda bukan orang yang tuli hingga saya harus menggunakan bahasa isyarat."


Edward langsung memutus panggilan. Malas sekali meladeni pria itu.


Aurora yang melihat itu langsung menutup laptopnya. Ia saja tidak meladeni, kenapa suaminya malah menanggapinya. Kebakaran jenggot sendiri bukan.


"Apa yang dia katakan. Apa dia memberi clue keberadaan putra kita?"


Edward menggeleng. Ia sudah panas duluan hingga tak menanyakan untuk apa Henry menghubungi Aurora.

__ADS_1


Aurora menghela nafasnya. Kenapa semakin kesini semakin rumit saja.


Ponsel Edward kini ganti yang bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Dion membuatnya mengernyit heran. Ada masalah apalagi ini.


"Emm, Tuan Felix. Bisakah saya berbicara dengan nona Aurora. Ponselnya tidak bisa saya hubungi. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan." ujar Dion terdengar cemas.


Edward menyerahkan ponselnya pada Aurora tanpa sepatah kata. Entah apa yang sudah terjadi pada perusahaan.


"Ada apa Dion. Kamu tidak tahu aku sedang berada di pesawat."


"Maaf nona. Hanya sebentar saja. Lagi pula ini tentang dua putra anda."


Diam sejenak.


"Tadi ada yang menghubungi saya. Katanya dia akan mengembalikan putra anda dengan syarat pertukaran. Mereka menginginkan Kenta. Saya tidak tau siapa Kenta jadi saya mengabaikannya, tapi mendengar kasus putra anda yang menghilang dan belum ditemukan, mungkinkah jika mereka yang menculiknya nona?"


Aurora melebarkan matanya. "Kamu becanda!"


"Tidak nona. Dia memang mengatakan hal itu.Sebentar, saya akan mengirimkan nomor ponsel dan rekaman pembicaraan orang itu."


Aurora memandang Edward dengan nafas yang memburu. Ia tidak tau tindakannya selama ini benar atau tidak, tapi kali ini ia seperti makan buah simalakama. Ia tidak tau harus seperti apa jika sudah begini.


Edward yang melihat perubahan mimik wajah Aurora langsung mengambil ponselnya. Dan kebetulan pesan dari Dion baru saja masuk pada ponselnya.


Edward menatap tajam istrinya usai mendengar percakapan itu. Ini akibatnya jika terlalu baik dengan musuh.


"Berikan saja Kenta padanya. Nyawa putraku jauh lebih penting dari anak sialan itu. Dia tidak akan membunuhnya. Sudah bisa ditebak, dia menculik putraku hanya untuk mengambil harta Kimura lewat Kenta." ujar Edward dingin.


Aurora menggeleng. Ia tak sampai hati mengorbankan anaknya yang lain untuk menuruti keinginan madam Yora.


"Jangan keras kepala Aurora! Al dan El jauh lebih berharga dari pada anak sialan itu! Kenta bukan anakmu!" bentak Edward emosi. Masalah yang datang bertubi tubi membuatnya tidak bisa mengontrol emosi.


Orang yang berada di dekat mereka berdua hanya bisa diam dan saling memandang. Mereka memasang kuping dan mendengarkan dengan baik apa yang sedang diributkan pasangan itu.

__ADS_1


"Jangan kak. Kasihan. Dia sedang sakit. Aku sudah susah payah mengobatinya. Dia bisa terluka jika bersamanya." ujar Aurora menahan tangis. Bagaimana Edward bisa bersikap seperti itu.


"Lalu kau mengorbankan putramu sendiri hanya untuk anak seorang baj/ingan! Pikir Aurora! Sudah seberapa sering Kimura berbuat ulah dengan keluarga kita! Dan kau masih melindunginya! Apa kamu buta! Tidak bisa melihat!" Edward semakin meninggikan suaranya.


Aurora menangis.


"Ya, tapi Kenta tak bersalah dalam hal ini. Yang bersalah adalah orang tuanya. Kimura bahkan sudah kehilangan banyak keluarganya dan parahnya hingga sampai sekarang dia belum siuman. Apa itu belum cukup kak. Dimana rasa empatimu sebagai seorang ayah. Aku tidak bisa membiarkan kamu membawa Kenta. Tidak akan."


"Jangan egois Aurora! Lalu bagaimana dengan putramu sendiri!"


Aurora menggeleng. Ia tidak tau harus berbuat seperti apa. Pasti ada cara lain membebaskan putranya.


"Tidak tau bukan! Lain kali jangan membawa duri kedalam rumah tangga kita. Menyusahkan saja!" sindir Edward sinis.


Aurora tidak bisa berkata kata. Dia hanya bisa menangis mendengar kata demi kata yang diucapkan suaminya. Ia tidak rela jika harus mengorbankan anak yang lainnya hanya untuk menyelamatkan anak kandungnya, tapi ia harus apa sekarang.


Alex dan Brian yang mendengar itu saling berpandangan. Sepertinya dua orang itu punya pemikiran yang sama.


"Bos. Sebaiknya tenangkan dirimu. Kita tidak boleh gegabah menanggapi hal itu. Bisa saja ini hanya pancingan mereka, tapi jika memang benar, kita bisa gunakan Reyhan. Bukankah usianya hampir sama? Dia pasti tidak tau bukan." ujar Alex mencoba mengutarakan pemikirannya.


"Kau gila! kamu sama gilanya dengan Aurora. Bagaimana bisa kamu berpikir untuk mengorbankan putramu sendiri hah!" Bentak Edward yang semakin menjadi. Pria itu marah. Kenapa semua orang malah membela Kimura.


"Please kendalikan dirimu. Amarah tidak menyelesaikan masalah. Kita bisa pikirkan strategi untuk membebaskan tanpa melukai ketiganya. Jika kita membawa Kenta, dia bisa mati sebelum bertemu dengan madam Yora."


Edward terdiam. Entah mengapa ucapan Alex ada benarnya.


Brian mengusap punggung tangan Aurora lalu tersenyum. "Semua akan baik-baik saja Mom. Kita pasti bisa menyelamatkan adik adik. Maafkan Daddy, dad hanya terbawa emosi. Ingat Dad pernah cedera pada kepalanya? Mungkin itu salah satu sebabnya, kita berpikiran positif saja."


Aurora menggigit bibir dalamnya. Kenapa Brian bisa berkata seperti itu. Itu sebabnya, ia begitu menyayanginya tanpa membedakan kasih.


.


.

__ADS_1


.


######


__ADS_2