Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
LOSE


__ADS_3

"No! Ayah!!" teriak Kimura histeris.


Pria itu melotot tak percaya, ayahnya ditembak madam Yora tepat di dahinya. Tuan Yashimoto mati mengenaskan di tangan wanita keji itu.


Daichi yang melihat itu membulatkan matanya, ia yang sedang bertarung dengan Hugo sampai terjungkal ke belakang akibat tendangan pria besar itu.


Daichi tak peduli lagi, sekuat tenaga ia meraih senapan laras panjangnya, dan menembaki dengan membabi buta, untuk mencari jalan mendekati Tuan Yashimoto.


Naas,


Dari kejauhan, sebuah timah panas pun ikut mengejar kepala bagian belakangnya.


DUAR


Daichi langsung jatuh tersungkur ke depan. Mati sebelum meraih tubuh Tuan Yashimoto.


Kimura yang melihat itu syok bukan main, dengan nafas menderu, ia berlari dan menembaki musuhnya. Ini tidak bisa dibiarkan, ia sudah sangat marah sekali kali ini, tapi sebuah tarikan tangan membuatnya ia berhenti seketika.


"Tahan Bos!" cegah Zen.


Mata Kimura memerah. Perasaan marah dan sedih menjadi satu. Ia merasa gagal menjadi seorang pemimpin.


"Lepaskan Zen, aku harus membunuh wanita itu."


"Tidak. Sebaiknya kita segera pergi dari sini Bos." ujar Zen. Bagaimana pun ia harus melindungi ketua klan saat ini.


"Jangan konyol kamu. Pergi sana sendiri! aku tak bisa membiarkan mereka berbahagia atas kematian keluargaku!" desis Kimura.


"Tidak Bos. Ingat! Kenta membutuhkan anda."


Kimura tertunduk sedih. Bagaimana ini, apa yang harus ia lakukan sekarang. Ini berlawanan dengan hati nuraninya, ia bukan pengecut yang hanya bisa bersembunyi saat anak buahnya mati matian bertarung melawan musuh sendiri, apalagi ini di dalam markasnya sendiri. Bagaimana bisa ia seperti itu.


Tak berselang lama. Dua orang pria juga sudah membekuk istri Tuan Yashimoto dan Naomi. Dua wanita itu diseret dan dilemparkan ke arah madam Yora bersamaan.


"Tahan serangan!!!" ujar madam Yora terdengar keras.


Seketika anak buahnya yang tersisa langsung memisahkan diri dan bergabung dengan ratu mereka.


Suasana mendadak hening seketika. Para yakusa yang melihat Bos besarnya telah tewas, menunduk sedih melihat hal itu. Pertanyaan besar dalam otak mereka, dimana Kimura saat ini, bahkan dua wanita tak berdosa itu kini telah menjadi tawanan musuh.


Kimura mengepalkan tangannya. Ia masih bersembunyi bersama Zen dan menatap marah kejadian didepannya.


"Letakkan semua senjata kalian dan tiarap!" seru madam Yora.


Para Yakusa langsung melakukan perintah wanita itu, karena tidak ingin dua wanita itu tiba-tiba dibunuh oleh mereka.


"Kalian, rampas senjata itu!" lanjut madam Yora pada anggotanya.


Anggotanya segera melakukan apa yang wanita itu mau. Dan sekarang para Yakusa itu tak bisa ada yang bisa berkutik. Mereka dijadikan tahanan perang.


"Dimana Kimura!" teriak madam Yora.


Tidak ada yang bersuara. Para Yakusa itu hanya diam saling melirik. Mungkinkah Bos mereka telah kabur menyelamatkan diri.


"Dimana Kimura!" teriak madam Yora lagi.


"Oke. Tidak ada yang tahu!"

__ADS_1


DUAR


Satu tembakan mengenai kepala istri Tuan Yashimoto tanpa perlawanan. Semua tak menyangka jika wanita itu akan langsung menembak tawanannya tanpa sebuah peringatan.


Para Yakusa melebarkan matanya menatap kejadian didepan matanya. Mereka tidak bisa berbuat apapun untuk menolongnya.


"Dimana Kimura!" teriak madam Yora lagi.


Kimura yang hendak menghampiri madam Yora langsung dicegah Zen kembali. Pria itu kembali menggelengkan kepalanya pelan.


Kimura sudah sangat marah sekali, bahkan air matanya terjun bebas ketika melihat ibunya dibunuh didepan mata kepalanya sendiri. Ini sudah sangat keterlaluan. Ini harus segera dihentikan. Ia sudah tidak bisa bersembunyi lagi.


"Jangan menghalangiku Zen." ucap pelan Kimura.


"Tidak Bos. Jangan lakukan itu." cegah Zen. Pria itu juga sedikit mengusap ekor matanya yang tiba tiba basah. Ia juga merasa sedih menyaksikan pembantaian itu terjadi tanpa bisa berbuat apapun.


"Jika aku tak keluar, mereka akan membunuh semuanya. Kasian mereka Zen." ujar Kimura lemah.


Tiba-tiba,


"Kimura! jika dalam hitungan ke tiga kamu tak keluar, aku akan tembak kepala wanita ini dan aku pastikan akan memburu bayi perempuanmu!" teriak madam Yora marah.


"Satu!"


Kimura semakin mengeraskan rahangnya. Ia harus segera keluar dari tempat persembunyiannya, tapi tangan Zen masih mencekal kuat tangannya.


"Zen, please jaga Kenta untukku. Maaf aku tidak bisa tinggal diam. Tolong jangan cegah aku."


"Jangan Bos." cegah zen semakin kuat mencengkeram tangan Kimura.


Naomi yang sedang ditawan merasa hidupnya sebentar lagi akan berakhir, ia sudah ikhlas menerima takdir kematiannya. Ia juga tidak bisa berbuat apapun. Tubuhnya sudah lemah dengan banyak sayatan dan luka luka lainnya saat menghadapi musuh di dalam bunker bersama ibu mertuanya. Ia tak menyangka jika akan mati seperti ini. Wanita itu jadi teringat akan putrinya yang sudah lebih dulu ia amankan.


"Ti.."


Naomi semakin memejamkan matanya, kematiannya sudah diujung lidah wanita itu.


"Tunggu!!" seru Kimura berdiri dengan raut merah padam.


DUAR


Seketika Naomi mengejang karena ditembak di bagian kepalanya.


Madam Yora tersenyum jahat.


Kimura yang melihat itu, tak kuasa menahan tubuhnya untuk tidak luruh dan bersimpuh di tanah. Pria itu menangis dan memukuli dadanya yang teramat sesak. Hatinya sangat hancur sekali.


Syok, marah, sedih, kecewa pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa wanita itu sekejam itu pada istrinya. Apa salah wanita itu padanya.


Hiks hiks


"Maafkan aku Naomi, maafkan aku. Harusnya kau tak terlibat dengan semua ini. Aku pria gagal. Ayah, ibu, maafkan aku..hiks hiks."


Kimura terus meraung melihat kematian keluarganya. Ia tak bisa melakukan apapun untuk mencegah semua ini. Bukan seperti ini yang ia mau. Kenapa takdir jahat sekali padanya.


Zen menghampiri Kimura dan memeluknya erat. Ia ikut bersedih melihat kejadian yang menimpa klan nya. Apalagi mendengar tangisan Kimura yang begitu menyayat hati. Hatinya ikut hancur bahkan ikut menyayat jiwanya.


"Bang sat kau Yora!!!!! Baji/ngan!!! Akan ku bunuh kau! akan ku bunuh!! Brengsek!! Baji/ngan! Aku mengutukmu Yora! Aku mengutukmu!!!" umpat Kimura dengan suara yang begitu menggelegar. Wajahnya merah padam, matanya melotot, bahkan semua otot ototnya ikut menegang.

__ADS_1


HA HA HA HA


Madam Yora tertawa terbahak bahak mendengarnya. Ia merasa bahagia sekali mendengar umpatan Kimura dengan penuh kefrustasian, kecewa bahkan dendam yang membara dalam hati pria itu. Ia suka sekali memainkan emosi lawannya.


"Baji/ngan kau Yora! kenapa membunuh semua keluargaku hah!! Apa salah mereka! Kenapa membunuhnya!" teriak Kimura marah. Pria itu langsung menembaki Madam Yora membabi buta, ini sudah diambang batas kesabarannya, ia sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi, mungkin saja saat ini pria itu sudah kesetanan.


Madam Yora yang mengetahui jika Kimura akan menembakinya, langsung mengambil tubuh Naomi untuk dijadikan tamengnya.


DOR..DOR..DOR..


"Aghhh!! Bang Sat kalian semua! Matilah kalian! Matilah semua!" teriak Kimura marah menembaki apapun yang berada didepannya.


DOR..DOR..DOR..


"Hentikan! Hentikan!" Teriak madam Yora marah. Kimura tak peduli, toh istrinya sudah mati, untuk apa peduli ancaman wanita itu.


"Hentikan atau aku bunuh putrimu sekarang juga!" teriak madam Yora lagi.


Deg.


Kimura mematung mendengarnya. Bagaimana bisa, bukankah putrinya sudah disembunyikan di tempat yang aman?


Seorang pria menggendong bayi perempuan yang sedang menangis kencang. Pria itu tersenyum mengejek.


"Morgan, kau datang tepat waktu." puji madam Yora menghampiri.


"Letakkan senjata kalian jika masih ingin anak ini hidup!" tegas Madam Yora.


"Oh tangisannya membuat kupingku berdenging." ujar madam Yora mengambil alih bayi perempuan itu dan memainkan belati kecil di hadapan Kimura.


"Apa maumu!" bentak Kimura.


"Letakkan senjata kalian! atau aku bunuh anak ini sekarang juga!" ancam madam Yora kesal. Susah sekali mengelabuhi Kimura pikirnya.


"Bos." lirih Zen.


"Diam Zen, jika aku tak meletakkannya, iblis itu akan membunuh bayiku." ujar Kimura pelan.


Zen tidak setuju, tapi ia juga tidak bisa berbuat apapun. Menyerah adalah pilihan satu-satunya.


"Apa maumu." ujar Kimura datar."


"Letakkan senjatamu!" bentak madam Yora. Ia sedikit menggoreskan belatinya ke tangan mungil bayi itu dan membuatnya semakin menangis kencang.


Kimura meneteskan air matanya, bagaimana bisa ia menjadi laki-laki pecundang. Tak punya pilihan lain, perlahan ia dan Zen meletakkan senjatanya dan langsung dirampas oleh anggota gagak hitam.


Kimura tidak bisa membiarkan bayi tidak berdosa itu mati ditangan wanita keji itu. Lebih baik menyerah, lagi pula apa yang ia harapkan saat ini.


Madam Yora tersenyum licik. Ini saatnya yang di tunggu, ini saatnya menguasai klan itu dengan semua sumber dayanya. Ini adalah kemenangannya.


"Tanda tangani semua berkas itu!" seru Madam Yora.


.


.


.

__ADS_1


$$$$$$


__ADS_2