
Udara malam begitu dingin menyapa kulit begitu rombongan Edward keluar dari mobil menuju pesawat yang akan mereka tumpangi.
Edward lebih dahulu masuk dan duduk sembari mendekap tubuh mungil Reyhan yang tidur dengan wajah damainya. Pria itu tak terlihat keberatan saat Alex menitipkan bocah itu padanya.
"Wajahmu lebih menggemaskan daripada ayahmu." gumam Edward. Pria itu dengan sengaja mencolek pipi Reyhan dengan gemas.
"Bos. Semua sudah siap." Lapor Alex lalu duduk di sebelah Edward. Pria itu melirik anaknya sejenak.
"Hem.. Istirahatlah. Besok masih banyak yang harus kita kerjakan." beritahu Edward.
Besok?
"Besok kita akan kedatangan tamu." lanjut Edward.
"Tamu?" beo Alex.
"Hem. Aku sudah mengutus seseorang untuk menjemput tamu kita." Edward memejamkan matanya sejenak.
"Tugasmu menyelesaikan pekerjaanku. Aku tak ingin Aurora marah padaku. Apa kamu sanggup?"
Alex masih diam, pikirannya menebak kemana arah pembicaraan Edward.
Memangnya siapa tamu itu?
.
.
Aurora menyambut kedatangan Edward dengan senyum mengembang. Wanita itu bersyukur, suaminya pulang dengan selamat.
"Apa semua baik-baik saja? Dimana Reyhan. Kenapa tak pulang bersamamu?" tanya Aurora.
"Ya. Seperti yang kamu harapkan. Anak itu bersama Alex." jawab Edward apa adanya.
Aurora mengangguk dan membawa suaminya duduk disofa.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu."
Aurora mengerutkan kening. "Sepertinya serius sekali."
Edward mengangguk pelan. "Aku sudah mengetahui dalang dibalik kecelakaan waktu itu."
Deg.
Aurora mematung mendengar pernyataan Edward. Potongan kejadian itu berputar seperti kaset rusak dalam memorinya.
"Apa yang akan kamu lakukan untuk memberi pelajaran pada orang itu."
"Aku akan menembak kepalanya dengan tanganku sendiri." ujar Aurora penuh dendam. Matanya bahkan memerah menahan tangis.
Edward terdiam. Pria itu sangat tak yakin jika Aurora bisa melakukannya.
Ditempat lain, seorang pria dan wanita dihajar habis-habisan oleh Kevan dan Kevin. Mereka berdua menghajar seperti tak memiliki belas kasihan.
"Ampun? Apa kau memberi ampun saat melakukan itu pada King kami hah!! BangSat!"
DUAK
Kevan sampai terengah-engah memberi pelajaran pada orang itu. Dia belum puas menghajar,tapi jika dilanjutkan takut tawanannya mati. Apa boleh buat selain menghentikan kegilaannya.
__ADS_1
Jingmi hanya duduk menonton dari kejauhan sembari menikmati rokok. Pria itu puas sekali menyaksikan adegan didepannya. Salah sendiri kenapa harus merebut apa yang menjadi miliknya.
"Sebentar lagi wanita yang kau nikahi akan jadi milikku. Setelah kematianmu, aku yang akan menggantikan posisimu." gumam Jingmi. Pria itu tak sabar menantikan kedatangan Edward.
Ya, utusan yang dimaksud Edward adalah Jingmi. Pria itu yang menculik Henry Lim dan Claire. Pria itu juga yang membawa mereka ke markas GL untuk diadili.
"Brengsek! lepaskan aku! kenapa membawaku kemari! Apa salahku! Siapa kalian" teriak Henry marah. Tubuh pria itu sudah lebam sana sini, tapi masih saja bisa berteriak.
"Simpan saja suaramu untuk berteriak nanti. Jika aku beritahu sedang berada kamu saat ini, aku takut kamu bundir sebelum mereka menyiksamu." ejek Jingmi.
"Wajahmu lumayan cantik, sayangnya tak seperti hatimu. Apa kamu berpikir kejahatan mu tidak akan pernah ketahuan nona? Sayang sekali, anda kurang teliti dalam memilih lawan." ujar Jingmi pada Claire.
Kejahatan apa, memangnya siapa lawannya?
"Sekutumu bahkan sudah berhari-hari berada disini." bisik Jingmi.
"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Aku tak pernah melakukan kejahatan. Lepaskan aku!"
Jingmi terkekeh.
"Siapa yang biasa kamu panggil Madam Yora. Sungguh kau tak mengenalinya? Oke Aku ingatkan."
Jingmi meminta Kevan memutar cctv yang menampilkan keberadaan madam Yora. Wanita itu rupanya sedang digantung diatas crane.
Terkejut tentu saja. Bagaimana mungkin. Apa wanita itu sudah buka suara.
Henry yang melihat itu terbelalak tak percaya. Pria itu tiba-tiba menyadari sesuatu.
Aurora.
"Sekarang ingat kesalahan kalian bukan? Sekarang aku tanya, kenapa kalian melakukan itu pada mereka."
"Maafkan kami, aku dulu sangat terobsesi pada Aurora, tapi bukan aku yang menyuruh pembunuh bayaran itu. Claire yang menyewanya." jawab Henry.
Claire melotot tak percaya. "Brengsek! kau yang menyuruh!" teriaknya.
Henry tersenyum miring. "Aku tak melakukan apapun. Kau yang sudah bertindak kelewatan!"
"Kau yang menyuruhku bangSat!" teriak Claire tak terima.
Jingmi yang mendengar itu terkekeh pelan.
"Kalian berdua akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Aku pastikan Edward tak akan mengampuni kalian berdua."
Dua orang itu saling memandang.
Edward? Bukankah orang itu sudah mati?
Tiba-tiba dari arah pintu, Edward, Aurora dan Alex masuk dalam ruangan itu. Semua mata mengarah pada ketiga orang itu.
Jingmi tersenyum dan menjabat tangan Edward sebentar.
"Terima kasih dude." ucap Edward.
Jingmi hanya mengangguk saja. Pria itu juga sama-sama punya kepentingan dalam hal ini.
Henry dan Claire terdiam, bahkan mengambil nafas pun tiba-tiba susah ketika melihat Edward masih hidup bahkan baik-baik saja.
Apa yang tidak aku ketahui. Sial! gumam Henry dalam hatinya.
"Apa kabar Tuan Henry, Nona Claire. Kalian terkejut melihat saya." tanya Edward yang lebih dulu melangkah maju.
__ADS_1
"Sayang sekali ya, ternyata takdir berkata lain. Rencana kalian gagal." Edward terkekeh.
"Sudah lama sekali aku ingin menghajarmu." Edward tersenyum sinis dan,..
DUAK
"Itu karena kau selalu mengganggu istriku."
DUAK
"Itu karena kau mengusik keluargaku."
DUAK
Edward terus menendang Henry, tak peduli orang yang ditendangnya merintih kesakitan.
Aurora diam saja melihat itu, walau hatinya terjadi pergolakan batin, tetap saja ia membiarkan perbuatan suaminya. Masalah yang mungkin akan timbul setelah ini, akan ia pikir nanti.
Aurora memilih mendatangi Claire dan langsung menjambak hingga kepala wanita itu mendongak ke atas.
Jangan tanya bagaimana wajah Aurora saat ini, yang terlihat hanya wajah kemarahan dan tak nampak wajah ramah seperti biasanya.
"Kenapa kau mengusikku hemm.."
"Karena kau merebut Aldi dariku!" jawab Claire sekenanya.
"Kau bilang apa, kau bilang aku merebut Aldi?" Aurora semakin kencang menarik rambut Claire.
"Ah lepaskan!"
"Dengar. Sedikitpun aku tak pernah memiliki rasa pada pria itu. Kau sudah salah memilih lawan nona, bukankah Anda dulu sudah aku peringatkan?" Aurora tersenyum sinis.
"Alex, bawa wanita itu ke kandang Lion. Biarkan dia mencabik cabik kulit wanita ini hingga dia menyadari kesalahannya! Cepat!"
Alex segera saja menyeret Claire walau wanita itu terus memberontak. Pria itu juga tak terlihat belas kasihan, karena gara-gara wanita ini, ia harus menanggung masalah ini.
Aurora ganti berjongkok didepan Henry. Wanita itu menatap pria itu penuh kebencian.
"Harusnya sedari awal aku sudah menghabisimu. Kali ini aku tak akan sungkan seperti sebelumnya. Sebelum anda mati, katakan kenapa anda begitu jahat kepada kami."
Henry tertawa dalam kesakitan. "Kau bilang aku jahat, Hahaha... Suamimu lebih jahat daripada aku! Dia iblis Aurora!"
"Tutup mulutmu!"
Aurora berdiri dan mengokang pistol kesayangannya. Tidak perlu ada drama penyiksaan dari Alex. Wanita itu rupanya sudah malas melihat wajah Henry.
"Katakan selamat tinggal pada dunia ini." ujar Aurora dingin.
Edward dan Jingmi diam saja melihat itu. Mereka berdua tidak yakin jika Aurora akan mampu melakukan itu.
Benar saja,
"Aurora! Hentikan Aurora!"
.
.
.
######
__ADS_1