
"Selamat siang nona, maaf kami datang tidak membuat janji sebelumnya. Apa anda sekarang ada waktu?" tanya Jenny menyapa Zanitha yang saat itu sedang berbincang dengan seseorang dihadapannya.
Zanitha tersenyum dan berdiri.
"Silahkan duduk nona nona." Zanitha mengarahkan tangannya ke tempat duduk lain.
"Sebentar ya," bisik Zanitha pada pria itu. Ia kemudian berjalan menuju sofa dimana dua tamunya berada.
"Ada yang bisa kami bantu,?" tanya Zanitha ramah.
"Perkenalkan, Saya Joya dan ini Jenny."
"Begini nona, kami membutuhkan jasa EO anda untuk acara aqiqah besok lusa , apakah bisa?"
Zanitha tersenyum, lalu menggeleng lemah.
"Maaf, tapi hari itu kami sedang ada event besar. Semua crew kami akan pergi kesana,." sesal Zanitha.
Joya langsung melirik Jenny.
"Kami akan membayarnya sepuluh kali lipat nona. Saya mohon bantulah kami..Jika tidak, kami pasti akan dihukum bos kami. Bos kami galak sekali nona.." pinta Jenny memelas.
"Waduh ..gimana ya.. Kami juga tidak bisa membatalkannya begitu saja. Saya juga takut dihukum jika kami berani membatalkannya. Mereka juga orang orang penting. Bagaimana jika harinya anda undur." ucap Zanitha merasa tidak enak hati.
"Tidak bisa nona. Kalau saja ini acara kami, pasti sudah saya undur dihari lain." sahut Joya menimpali.
"Emm bagaimana jika saya rekomendasikan teman saya. Mereka juga sama bagusnya dengan punya kami." Zanitha mencoba memberi saran.
"Boleh, jika anda tidak keberatan untuk menghubungi rekan anda." Jawab Jenny. Daripada ia harus berputar putar mencari, lebih baik menerima dan tunggu hasilnya.
Zanitha meraih ponselnya, mencari kontak teman EO nya yang bisa ia hubungi. Berkali kali menelfon tapi dengan jawaban yang sama. "Maaf tidak bisa". Zanitha meletakkan ponselnya dan menghela nafasnya.
"Bagaimana nona, ada yang bisa?" tanya Jenny.
Lagi lagi Zanitha tersenyum lalu menggeleng . "Maaf."
"Hah.. sudah ku duga, jika Bos Lukas bisa menemukan EO itu sendiri, tidak mungkin meminta bantuan kami. Biasanya apa apa ia kerjakan sendiri, pasti orang itu sudah frustasi hingga melimpahkan pekerjaannya pada kita. Pantas saja, tadi bilang akan memberikan bonus. Tau gini enakan mengerjakan tugas kantor." Batin Jenny mengeluh.
"Bagaimana ini, kita bisa digantung Bos Lukas dan bos Alex jika kita tidak mendapatkan EO.." bisik Joya, tapi didengar oleh Zanitha.
"Alex..!? Apa kalian utusan Tuan Alex?"
Zanitha mengerutkan kening, lalu melirik kearah pria yang duduk membelakanginya.
"Bukan.!"
"Iya.!"
"Apa ini bos kalian?" Zanitha menunjuk punggung pria dibelakang kursinya.
Jenny dan Joya saling memandang, tapi hanya saling menaikkan bahunya.
Pria itu kemudian membalikkan badan dan menghampiri Zanitha yang tengah tersenyum menatapnya.
Jenny dan Joya terperangah melihat bos mereka ada didepannya. Berkali kali joya mengedipkan matanya, takut ada yang salah pada penglihatannya.
__ADS_1
"Apa kamu mengenal mereka?" tanya Zanitha pada Alex yang diam menatap datar dua perempuan didepannya
"Hemm, mereka anak buah Lukas. Kalian harus dihukum karena sudah mengataiku galak." ucap Alex datar.
Jenny dan Joya menelan ludahnya susah payah, ingin sekali mereka segera menghilang dari tatapan Alex. Walau wajah Alex berkali kali tersenyum manis dihadapan Zanitha , tapi itu terasa menakutkan bagi dua perempuan itu.
"Maaf Tuan." ucap Jenny dan Joya.
"Pulanglah, masalah itu biar aku yang mengurusnya, sampaikan pada Tuan Lukas, untuk mentranfser tiga kali lipat ke rekening pribadiku. Apa kalian paham?"
"Paham Tuan. Baiklah kami permisi. Terimakasih atas bantuannya."
"Hemm."
Selepas kepergian Jenny dan Joya, Alex menatap serius Zanitha, sedangkan yang ditatap merasa salah tingkah sendiri. Zanitha berkali kali menundukkan pandangannya, tak kuat jika lama lama dipandangi seorang pria.
"Benarkah esok lusa kamu tidak bisa?" tanya Alex tanpa melepas pandangannya pada Zanitha.
"Be..benar." gugup Zanitha
"Batalkan.!"
"Eh.. mana bisa begitu.! mereka yang lebih dulu memesan, bahkan uangnya sudah masuk semua.!" tolak Zanitha memalingkan wajah.
"Aku akan kembalikan uang mereka.!"
"Tuan, anda jangan seperti itu. Saya harus profesional dalam bekerja."
Zanitha kembali duduk ditempatnya, ia membuka laptop dan kembali meneruskan pekerjaannya. Ia harus segera mengirim konsep pada klien yang sudah memesan EO nya.
Alex yang merasa diabaikan, ia berjalan kearah Zanitha dan menarik lembut tangan wanita itu. Alex mengajak berdiri dan mengungkung tubuh Zanitha.
Zanitha menundukkan wajahnya, tak kuat bertatapan dengan netra pria itu. Bahkan wanita itu tak bisa bernafas dengan baik jika dalam posisi seperti itu. Zanitha mendorong dada Alex agar bisa sedikit menjauh darinya.
"Maaf,"
"Pulanglah Tuan, saya sedang sibuk sekali."
"Katakan padaku siapa orang yang sudah memesan EO mu lebih dulu hingga kamu tidak bisa membatalkannya." tanya Alex tanpa melepas kungkungannya.
"I..itu..sebenarnya yang memesan Tuan Andi, artis yang lagi hengkang dari dunia Entertainment, katanya untuk acara keponakan kembarnya." ucap Zanitha dengan wajah tersipu.
"Kamu menyukainya?" tanya Alex menatap tajam.
"Ah, bukan menyukai, tapi lebih ke fansnya."
"Aku akan menghukummu karena kau sudah membuatku kesal Zanitha." ucap Alex dengan seringainya.
Zanitha mendadak gugup. Dengan gerakan cepat, ia menurunkan tubuhnya dan melangkah kesamping, menghindari kungkungan Alex.
Alex yang tidak ingin kehilangan buruannya, dengan gerakan tak kalah cepat, ia menarik pergelangan tangan Zanitha dan membawa kepelukannya.
"Agh.." pekik wanita itu
"Menghindar, he.." Alex menekan pinggang Zanitha.
__ADS_1
"Lepaskan aku. Apa yang ingin kau lakukan.!" panik Zanitha hingga mendelikkan matanya.
Satu tangan Alex menekan tengkuk leher Zanitha dan disambut oleh kecupan bibir Alex.
Cups
Alex tersenyum tipis. "Terima kasih."
Alex menyatukan bibirnya. Menjilat pelan bibir merah itu, lalu mengulum dengan bibirnya. Zanitha terdiam tanpa membalas pagutan Alex, ia malah menutup bibirnya rapat rapat.
Alex melepas pagutannya dan tersenyum kecil menatap Zanitha. "Kenapa?"
"Sebaiknya jangan lakukan hal ini padaku lagi. Aku tau hatimu sedang bimbang. Aku bukan pilihan yang tepat untukmu."
"Apa maksudmu berbicara seperti itu. Bimbang apa?"
"Tuan, katakan sejujurnya padaku, kau sedang main hati bersama ceo AR programer bukan? Nona Selly.!" Zanitha menatap tajam mata Alex.
"Apa,? apa yang kamu pikirkan? Apa kamu cemburu padanya? Apa kamu cemburu dengan kedekatan kami? Hei, itu hanya sebatas pekerjaan.!"
Zanitha terdiam, entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Sebaiknya kamu pikirkan matang matang tentang calon istrimu. Jangan sampai kamu menyesalinya. Aku bahkan tak secantik dirinya."
"Jangan coba coba menguji emosiku Ze,.!"
"Maaf," Zanitha menunduk.
"Tapi kamu lebih cocok jika bersanding dengan nona Selly. Jangan memaksa hubungan jika anda tidak benar benar mencintaiku. Jangan memberiku harapan palsu. Kejarlah cintamu, dan jangan temui aku lagi. Jangan sampai disaat aku benar benar jatuh cinta padamu, hatimu malah berpaling dengan wanita lain. Maaf,aku tidak sekuat itu."
Alex menggertakkan giginya. Ia sangat kesal sekali mendengar pengakuan Zanitha. Ia berbalik dan berjalan keluar begitu saja. Tampaknya ia benar benar marah pada dirinya sendiri. Ia takut tidak bisa mengendalikan emosinya.
Zanitha hanya menatap datar pintu kaca didepannya. Hatinya sakit tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Visual Zanitha
.
Visual Selly
.
Visual Alex
.
.
.
__ADS_1
####
Ilustrasi: Pinterest