
"Daddy...!!!" seru Brian yang melihat Edward diparkiran mobil sedang duduk menyender di bagian depan mobil dengan bersedekap dada.
Aurora tersenyum senang melihat suaminya datang menyusulnya. Seperti biasa, Eksekutif muda itu tampak menawan walau hanya dengan sweter dan celana jeansnya.
"Hallo boy, apa harimu menyenangkan?" tanya Edward yang berjongkok didepan Brian.
"Tentu saja. I love u dad." Brian mengecup pipi Edward sekilas.
Edward tersenyum mengacak rambut Brian gemas, "Setelah ini apa masih ada yang ingin kamu kunjungi lagi? Kalau ada mari kita kesana sekarang."
Brian mengangguk cepat, matanya berbinar senang, ia masih ada punya satu tempat yang ingin ia kunjungi, tempat dimana dirinya bisa melihat keindahan dari kota itu, bahkan bisa melihat dua negara lainnya. Gemerlap lampu dimalam hari pasti akan terlihat sangat indah bila dilihat dari sana. Dia sudah tidak sabar untuk segera berangkat kesana. Dia berjingkrak senang dan segera menggandeng tangan Edward menuju mobilnya. Ia begitu bahagia memiliki sosok ayah seperti Daddynya.
"Ayo cepatlah Dad, Blian ingin ke Singapore Flyer..!" serunya antusias. Edward hanya mengekor di belakang tubuh Brian.
Aurora bersedekap dada melihat keakraban mereka. Edward bahkan lupa belum menyapa istrinya. Dia diacuhkan begitu saja oleh mereka. Aurora pura pura memasang wajah sebalnya. Dia masih diam ditempat ketika yang lain beranjak kedalam mobil masing masing, tak terkecuali bodyguard suaminya.
"Dad, mommy.." Brian meringis menunjuk Aurora dengan dagunya.
"Aigo .. Dad lupa. Bentar ya sayang.!" tanpa menunggu jawaban Brian, Edward berjalan menuju kearah Aurora. Ia meringis tak enak hati.
"Maaf," ucap Edward meringis.
Aurora tersenyum manis, manis sekali. Lalu mendelikkan matanya sebal. Tanpa berkata apapun dia langsung naik mobil di bangku belakang tanpa mempedulikan suaminya. Biarkan saja dia duduk menyetir mobil sendiri pikirnya.
Edward yang melihat itu tak kekurangan ide, dia langsung memberi kode bodyguardnya untuk mengemudikan mobilnya. Rupanya dia juga tidak mau duduk berjauhan dengan istri dan anaknya.
"Jangan jauh jauh dariku." Bisik Edward setelah naik mobil dan duduk disebelah Aurora.
Aurora tersenyum, dia tidak terlalu menanggapi bisikan suaminya itu. Dia malah menyederkan kepalanya kebahu suaminya.
***
Mata Brian berbinar senang melihat keindahan malam dari tempat itu. Mereka bertiga sedang menaiki kapsul bersama dengan yang lainnya, termasuk sebagian bodyguard ayahnya, pasalnya memang satu kapsul diisi dua puluh delapan orang. Dan mereka harus berbagi dengan yang lain.
Aurora menyandarkan kepalanya kedada suaminya. Ia juga bahagia dengan suasana malam itu. Edward langsung merengkuh pinggang Aurora dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menggendong tubuh Brian.
Brian mengeratkan pelukannya ke leher Edward. Ia merasa nyaman dalam gendongan Ayahnya. Ia tidak ingin rasa itu cepat berlalu, bahkan meninggalkannya begitu saja. Ia begitu menyayangi keluarganya.
"I love u sunshine, Don't ever leave me, stay by my side like this." bisik Edward ditelinga Aurora
Aurora tersenyum, suami tampannya selalu saja mengucapkan kata cinta padanya. Ia tak menyangka jika suami selalu romantis kapanpun dan dimanapun.
"You are half my breath, how could I leave you. I love u hubby." ucap Aurora.
Edward langsung mengecup pipi Aurora, ia tidak peduli dengan orang lain yang menatapnya. Bila memungkinkan, ia juga ingin memagut bibir istrinya. Hatinya begitu bahagia dipenuhi bunga bunga cinta. Hatinya yang sempat resah, menguap begitu saja. Cinta itu yang selalu menjadikannya dasar dari kekuatan untuk menghadapi segalanya.
Brian yang melihat itu hanya tersenyum, hatinya iri kenapa dirinya tidak dilahirkan dari pasangan suami istri itu. Mengapa takdirnya harus begitu buruk. Lahir tanpa sosok seorang ayah disampingnya, bahkan ibu yang melahirkannya ikut pergi meninggalkannya. Ia berpikir jika dia anak pembawa sial untuk orang tua mereka. Kalian jahat sudah meninggalkan anak seorang diri didunia ini.
"Jangan berpikiran buruk, kami berdua sangat menyayangimu. Apapun itu, kamu katakan saja pada kami, kami adalah orang tuamu. Jangan mengutuk diri sendiri. Kamu dengar hemm.." ucap Edward seolah tahu yang dipikirkan putranya.
"Maaf.." cicitnya.
__ADS_1
Edward langsung memberi banyak kecupan pada pipi Brian. Ia tak ingin anaknya iri pada mommynya. Ia juga sangat menyayanginya anak itu.
.
.
"Nona Aurora.." Sapa seorang pria yang menarik pergelangan tangan Aurora saat berpapasan dengannya didepan loby hotel.
Aurora yang semula menunduk ketika melihat ponselnya, sontak mendongakkan kepalanya melihat siapa yang berani menghentikan langkahnya.
"Anda...?"
Pria itu tersenyum menatap wajah cantik Aurora. Wanita yang menurutnya sedikit sulit didekati, tapi selalu membuatnya penasaran. Baginya Aurora adalah tantangan besar yang harus ditakhlukkan. Dia pria keras kepala, semua keinginannya harus terpenuhi apapun itu risikonya. Termasuk tamparan yang waktu itu diberikan oleh Aurora rupanya tak membuatnya jera.
"Mari kita duduk disana. Tidak elok rasanya jika berbicara sambil berdiri begini. Apalagi banyak orang berlalu lalang ditempat ini." Pria itu menjulurkan telapak tangannya kesamping mempersilahkan Aurora untuk berjalan dulu.
Aurora menatap rumit Pria itu. Tidak enak menolak , tapi enggan mengiyakan. Aurora terpaksa duduk disofa loby.
Aurora yang melihat bodyguard suaminya langsung memanggil dengan melambaikan tangannya dan berbisik lirih ditelinganya.
"Panggil suamiku kemari, jaga Brian sebentar."
Bodyguard itu mengangguk dan menjalankan tugasnya.
Pria itu hanya menatap datar, tidak mau berkomentar atau bertanya kenapa bicara berbisik didepannya. Padahal baginya itu merupakan sebuah penghinaan.
"Bagaimana kabar anda Nona, senang bertemu anda, sedang ada pekerjaan disini atau liburan?" tanya pria itu setelah bodyguardnya meninggalkan mereka.
"Liburan. Bagaimana dengan anda Tuan Henry..? Kenapa anda berada disini?" tanya Aurora basa basi, bibirnya memberikan senyum siputnya.
"Saya rasa itu tidak perlu Tuan, lagi pula saya kemari bersama keluarga saya. Anda tidak perlu repot repot begitu. Sudah ada akomodasi yang mengaturnya." Aurora bicara apa adanya.
"Ya, Baiklah . Anda memang wanita mandiri. Saya salut dengan anda. Wanita secantik dan semuda anda bisa memimpin perusahaan besar. Lalu bagaimana dengan bisnis kita? Apa ada kendala?" tanyanya dengan wajah penuh kagum menatap Aurora walau hanya menggunakan pakaian santai, dan riasan sederhana.
"Terima kasih pujiannya, tapi anda berlebihan dalam menilai saya. Untuk masalah bisnis semua berjalan lancar seperti yang kita harapkan, saya rasa asisten saya sudah memberi laporannya kepada anda Tuan. Jika anda lupa, saya akan kirimkan kembali copy-annya." Aurora masih dengan santai dalam menanggapi pria didepannya.
Henry mendengus tidak suka dengan perkataan Aurora, tapi tetap ia tahan dalam hatinya. Wajahnya selalu tersenyum dihadapan Aurora.
"Anda mau minum apa? Biar saya pesankan."
Aurora melihat jam dipergelangan tangannya, "Maaf sepertinya saya tidak bisa lama lama , saya sebentar lagi cek out dari hotel ini. Kapan kapan kita bisa mengobrol santai lagi. Pesawatnya juga sudah menunggu." Aurora bicara sambil bangkit berdiri lalu mengulurkan tangannya kearah Henry.
Henry masih duduk memandangi Aurora yang berdiri didepannya. Ia masih enggan berpisah dengan wanita itu. Rasanya baru sebentar ia bersua. Ia belum puas memandangi wajah cantik Aurora. Entah mengapa dia sangat terobsesi wanita cantik. Apalagi wanita itu adalah Aurora.
Henry menjabat tangan Aurora, lalu menariknya kedepan hingga tubuh Aurora terjerembab kedalam pelukannya. Henry tersenyum licik.
"Ehh..." pekik Aurora kaget.
Posisi yang sangat intim bagi orang yang melihatnya. Henry yang saat itu memposisikan kedua kakinya melebar untung banyak malam ini. Tubuh Aurora menempel lekat pada badannya, sedangkan kepalanya berada di bahunya. Henry kemudian dengan sengaja merengkuh pinggang Aurora.
"Apa anda sedang menggodaku nona." bisik pria itu. Aurora panik dan menolehkan wajahnya .
Cup
__ADS_1
Bibir Henry menempel tepat dibibir Aurora. Aurora terkejut dan mendelik marah. Ia bergegas bangkit dan melepaskan diri. Tak disangkanya, Aurora justru bangkit dengan salah satu tangannya menekan bagian pusat inti tubuh Henry, alhasil benda itu mengeluarkan reaksinya. Pria itu sekilas memejamkan matanya. Entah apa yang sedang dirasakan, entah itu sakit atau malah keenakan. Aurora sendiri merutuki atas kebodohannya. Ia tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu.
Henry tersenyum miring, "Aku akan mendapatkanmu nona cantik. Tak kusangka tubuhmu wangi sekali. Ah itu membuat milikku terangsang akibat tindakan spontanmu tadi." batin Pria itu.
Edward yang melihat itu merasa gusar . Dengan langkah cepatnya ia menghampiri mereka. Ia tidak terima jika istrinya disentuh pria lain. Ia mengepalkan tangannya dan bersiap menghabisi pria kurang ajar itu.
"Tuan,.." panggil Edward dari belakang Henry yang masih dalam posisi duduk.
Ketika Henry menoleh, satu bogeman mentah mendarat dengan sempurna dipipi pria itu.
Bugh
Henry memalingkan wajahnya, hidungnya mengeluarkan darah segar. Ia segera bangkit dari duduknya. Ia tidak terima wajahnya dipukul begitu saja.
"Anda telah melewati batasanmu Tuan. Apa maksud anda melakukan itu pada istriku..!!" ucap Edward menggeram marah.
"Jangan salah paham Tuan, ini tidak seperti yang anda pikirkan.!" ucap Henry mengelak.
"Bang SAT... apa kamu pikir aku buta HAH...!! Aku jelas jelas melihatnya sendiri.!!" tunjuk Edward matanya menyalak marah.
Aurora masih diam melihat pertengkaran didepannya. Ia tidak tau harus melakukan apa, ia tau jika suaminya sedang marah, tak satupun yang bisa menghentikan kegilaannya. Ia hanya takut jika ada paparazi yang melihat kejadian ini, pasti masalah akan bertambah panjang, apa lagi sudah ada sebagian orang yang ikut menonton. Manajer hotel yang datang melerai juga dicegah oleh bodyguard Edward. Bahkan security ditempat itu hanya bisa diam tanpa melakukan apapun karena takut pada ancaman yang diberikan bodyguard Edward.
"Tanya saja pada istrimu. Aku tidak melakukan apapun.!" seru Henry tidak terima.
Cih..
Edward yang sudah geram langsung menuntaskan kekesalannya. Ia menghajar pria itu hingga babak belur. Bodyguard Henry yang datang hendak menolong bos mereka langsung ditahan dengan bodyguard Edward.
Bugh ... bugh... bugh...
Henry tidak terima dengan pukulan yang sekali lagi mendarat diwajahnya, ia pun membalas pukulan dari Edward. Dia mengeluarkan sebagian dari kemampuannya. Ia tidak mau menghabiskan seluruh kekuatannya untuk melumpuhkan serangan dari Edward, ia merasa rugi sendiri. Ia akan mengalah kali ini, tapi tidak untuk lain kali. Henry jatuh terduduk dilantai saat Edward menendang perutnya.
Bugh...
"Itu peringatan dariku. Jangan macam macam dengan istriku. Awas kau berani melakukannya lagi...!!" ancam Edward dan langsung menyeret Aurora dari tempat itu.
Henry mendengus kesal. Hatinya dipenuhi dengan iri, benci dan dendam. Ia tidak terima dipermalukan didepan umum, walau itu memang salahnya sendiri. Dalam hatinya ia sudah mempunyai cara untuk menyingkirkan suami Aurora. Dia tersenyum licik.
"Tunggu pembalasanku Edlyn..."
.
.
.
###
Image : source Google
Yeyyy... maap terlambat up... Aku sudah berusaha ditengah tengah kesibukanku buat baju pengantin. Hehehe.. Maap ya, thank you so much untuk reader yang masih mau menunggu kelanjutan cerita ini. 🤗
Please tinggalkan jejakmu kawan. Love u All.
__ADS_1
Arigato.