Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Galeries Lafayette


__ADS_3

"Dad...Mom.. kalian mandi lagi??" tanya Brian dengan senyum misteriusnya.


"Eh... " Aurora gelagapan menjawab pertanyaan Brian.


Edward mengulum senyumnya melihat wajah malu Aurora. Edward melangkahkan kakinya ke lemari untuk mengganti bajunya.


"Ada apa mom, apa ada masalah?"


"Ah tidak, apa hari ini kita jadi jalan jalan sayang, kau ingin kemana?" tanya Aurora mengalihkan pembicaraan.


"Blian ingin ke Galelies Lafayette."


"Oh kesana, Baiklah mom ganti baju dulu ya . Tunggu sebentar ok."


"Ok,mom."


"Daddy, Daddy tadi habis ngapain? kenapa mandi lagi. Bukankah tadi sudah mandi?" tanya Brian curiga.


"Olahraga." jawab singkat Edward


"Hah..! Mana ada...Daddy bohong ya...!"


"Ah, yang benar saja, masa aku harus mengakui kalau aku dan Aurora habis olahraga di kamar mandi. Aishh susah juga punya anak jenius, susah dibohongi." batin Edward


"Sudahlah, sekarang sebaiknya kau bersiap, kami akan menuruti semua keinginanmu hari ini. Apa kau senang...!"


"Tentu saja senang, Blian hali ini akan menggunakan kaltu ajaib milik Daddy."


"Kau memang mata duitan Bry.." cibir Edward


"Hehehe.."


.


.


Edward menggendong tubuh Brian dilengan kanannya, sedangkan Aurora berjalan disebelah kiri Edward dengan merangkul pinggang suaminya.


Keluarga kecil itu tampak bahagia. Senyumnya menular bagi siapapun yang melihatnya.


Edward duduk di kursi kemudinya, sedangkan Aurora disebelahnya , sementara Brian duduk di kursi belakang. Edward mengaktifkan GPS dan sistem autopilot pada mobilnya, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan area hotel.


Jalan raya yang cukup padat kendaraan serta banyaknya perempatan dan pertigaaan yang mereka lalui, mengakibatkan lebih lama jarak waktu yang ditempuhnya. Harusnya hanya ditempuh waktu 17 menit perjalanan normal, ini memakan waktu 30 menit perjalanan.


"Dad, kota ini macetnya sama sepelti dinegala kita ya, dimana mana macet, bedanya disini macetnya telatul, hanya ada kendalaan loda empat. Belda dengan dikota kita, di kota kita macetnya semelawut kalena banyak pengendala sepeda motolnya. " ucap Brian


"Ya wajar saja, negara ini termasuk negara maju. Banyak yang menggunakan mobil sebagai alat transportasinya. Lagian tak aman jika kita mempunyai motor, apalagi jika diparkir disembarang tempat. Disini banyak kasus pencurian motor." ucap Edward menjelaskan.


"Aneh, negala maju masih saja ada penculian." ucap Brian bermonolog.


"Hahaha..biarkan para polisi itu punya pekerjaan Bry. Kasiankan kalau mereka bekerja tapi tidak ada pekerjaan. Gabut donk.. " jawab Edward


"Haha.., daddy benal."


Kecepatan mobil mulai menurun ketika sudah sampai dikawasan Boulevard Haussmann, Edward memarkirkan mobilnya dan mengajak mereka memasuki Galeries Lafayette.


Pandangan pertama saat memasuki gedungnya adalah "Wow Amazing."


Mereka terpana dengan keindahan kubah yang indah di gedung utama. Diam-diam Edward memikirkan rencana untuk membangun kawasan mall seperti di Galeries Lafayette.



Di gedung utama ini, tempat untuk berburu fashion dan kosmetik wanita, busana anak-anak, mainan, suvenir, kafe, dan restoran. Ada banyak merek untuk di pilih, beberapa terjangkau dan lainnya mewah.


Aurora dan Brian tentu saja sangat bersemangat berbelanja memilih ini dan itu. Sementara Edward hanya mengekor dibelakang mereka dengan membantu membawa barang belanjaan.


"Apa kalian belum puas kah..kita sudah mengelilingi gedung ini empat kali. Daddy haus sekali nak..Kita turun kelantai dua yuk. !" ajak Edward memelas.


" Mom.." panggil Brian sambil menarik ujung baju Aurora.


"Sebentar, mommy mau bayar dulu . Suruh Daddy tunggu sebentar lagi ya." ucap Aurora tersenyum lembut.

__ADS_1


"Ok,Mom. Blian sama Daddy dulu ya."


"Baiklah."


Setelah membayar semua belanjaannya, Aurora menghampiri Edward dan Brian yang sedang duduk memandangi orang berlalu lalang dari lantai atas. Wajah Edward tampak lelah dan bosan mengekori wanitanya berbelanja, tapi ia tak berani protes pada istrinya. Dia hanya tersenyum menatap sayu istrinya.


"Sudah selesai sayang.." sapa Edward


"Sudah. Maaf membuatmu menunggu lama sayang," ucap Aurora seraya mengecup pipi Edward. Dengan harapan bisa mengembalikan moodnya.


Mata Edward kembali berbinar. "Tambah satu ronde." bisik Edward


"Gampang, sekarang tolong bawakan belanjaanku dulu. Ini berat sekali, biar yang ringan aku yang bawa." ucap Aurora dengan senyum diwajahnya.


"Okey deal." ucap Edward. Dalam hati ia bersorak gembira. Malam ini ia akan memanjakan junionya kembali.


"Brian kau jalan sendiri ya, lihat tangan Daddy mu ini. Sudah penuh barang barang kalian." ucap Edward memelas


"No ,Dad.. Blian mau gendong lagi. Daddy sudah janji mau menuluti semua pelmintaan Blian.!"


"Hah..!" mereka berdua terkejut.


"Baiklah, Cepat sini naik dipunggung Daddy." ucap Edward sambil menjongkokkan tubuhnya.


"Yeiy....!!!" Brian bersorak kemenangan.


"Awas,pegangan yang erat. Jangan sampai terjatuh." ucap Edward mengingatkan


"Yuuhuu..let's go Dad..!" seru Brian.


Sampai dikafe lantai dua, Edward , Aurora dan Brian duduk dan memesan minuman dingin.


"Ah..ini sangat enak Dad. Emm yummy...!" sorak girang Brian.


"Kamu, Bry..kayak gak pernah minum beginian." cibir Edward


"Bialin."


"No Mom, Blian ingin makan nanti saja. Di lantai 6 ada lestolaan panasia , makanannya enak dan segal, katanya disana viewnya sangat bagus... Bolehkan dad..!"


"Ya boleh saja. Asal nanti kamu harus sabar saat Dad n Mom belanja." ucap Edward


"Okey, Blian setuju."


.


Setelah puas minum kopi dan croissant, mereka bertiga melanjutkan acara belanjanya. Kali ini Edward yang sangat antusias berbelanja. Karena saat ini mereka mengunjungi Homme atau bangunan pria. Digedung ini menjual semua item busana pria hingga asesorisnya, mulai dari harga terjangkau milik asli Galeries Lafayette dan harga mewah.


Edward membeli beberapa potong kemeja, celana jeans, jas, kaos polo, jaket, sepatu,pakaian dalam, topi, kacamata hitam dan jam tangan.


"Apa masih kurang Dad..!" tanya Brian yang menunggu mom n dad nya duduk bersama satu pengawal Daddynya.


"Emm.. Daddy mau beli perhiasan untuk mommy. Ikut yuk.!" Ajak Edward


"Boleh,..! tapi gendong. Gimana dengan mommy? Dimana mommy?" tanya Brian


Edward pun menggendong Brian didepan sambil menciumi pipinya, " Mommy sedang memilihkan oleh oleh untuk kakek dan opamu. Tenang saja, daddy sudah ijin dengannya."


"Kamu mau makan di restoran panasia atau makan digedung depan Bry? Disana ada restoran Spanyol dan Italia, rumah steak, lobster..."


"No Dad, Blian mau makan digedung ini saja, Blian udah lapel gala gala lama menunggu Daddy belanja."


"Baiklah, sesuai permintaanmu."


Setelah sampai ditoko perhiasan, Edward membelikan istri cantiknya sebuah kalung dengan permata ruby sebagai liontinnya. Juga sebuah gelang rantai mawar merah berpermata ruby. Sangat serasi bila dipakai bersama.


Setelah selesai acara beli perhiasan untuk istrinya, Edward dan Brian kembali menemui Aurora,yang ternyata sedang melakukan pembayaran.


Edward dan Brian menunggu di sofa yang ada di toko itu. Tak lama kemudian, Aurora datang dengan membawa banyak paper bag ditangannya.


"Kemarikan belanjaanmu sayang, aku sudah menyuruh orang untuk mengantar barang itu ke hotel kita." ucap Edward

__ADS_1


"Ah,syukurlah. Tadi aku sempat berpikir bagaimana membawanya pulang. Kita sudah overdosis dalam berbelanja." ucap Aurora


"Jangan khawatir, suamimu yang tampan ini sudah memikirkannya. Ayo, kita kelantai atas, kita makan siang dulu. Brian sudah lapar sedari tadi." ajak Edward


"Baiklah."


Mereka bertiga masuk kedalam restoran panasia.


Mereka duduk dan memesan makanan. Restoran tampak lebih ramai karena memang jam makan siang.



Mereka bertiga tampak menikmati sajian makan siangnya. Brian sangat antusias mencoba banyak makanan yang ada direstauran itu. Tak disangka mulut kecilnya menyukai semua makanan yang dipesan Mommynya.


Setelah puas makan siangnya, Edward mengajak mereka untuk mengunjungi La maison dan Le gourmet. La Maison dan Le Gourmet terletak di depan gedung pria.


Saat memasuki gedung, aroma gastronomi Perancis yang tak tertahankan membuat mereka ingin mencicipinya. Coklat, roti, keju, sosis Perancis semuanya segar dan siap dimakan.


Brian terlihat berbinar ingin segera mencicipi yang ada disana. Edward membelikan semua yang Brian inginkan untuk dibawa pulang.


"Apa kau ingin makan lagi Bry...?" tanya Edward


"Huh..seandainya pelut Blian masih cukup Dad." ucap Brian


"Hahaha salah sendiri tadi makan disana. Jadi bukan salah Daddy donk. Kalau kau mau, kita bisa membungkusnya. Apa kau mau lobster?" tanya Edward


"Boleh..!" ucap Brian yang langsung mengangguk cepat.


"Baiklah tunggu sebentar, Daddy pesankan dulu. Setelah ini Daddy mau kesana, apa kalian mau ikut?." tanya Edward


Aurora dan Brian saling memandang, "Tidak, kami akan menunggu disini saja. Jangan lama-lama." ucap Aurora


"Ok."


Sambil menunggu pesanannya Edward menuju gua bergaya untuk membeli wine. Tampilannya luar biasa seperti museum anggur mini.


Edward membeli Bordeaux untuk koleksi di bar pribadinya. Edward juga membeli cognac, Rémy Martin dalam botol kristal dan sampanye Baccarat untuk diberikan kepada kawannya yang datang berkunjung kerumahnya.


Setelah selesai membayar semua belanjaannya. Edward menghampiri Istrinya yang sedang memangku Brian. Tampak Brian terlelap dalam pangkuannya.


"Apakah aku lama?" tanya Edward dan mengecup pipi Aurora


"Tidak terlalu, ini memang jam tidurnya Brian. Jadi wajar saja kalau dia tertidur. Sebaiknya kita pulang kehotel dulu. Aku sangat lelah seharian berjalan kesana kemari." ucap Aurora


"Baiklah kita pulang sekarang. "Kemarikan Brian, biar aku yang menggendongnya."


"Baiklah, kemarikan ponselmu dulu." ucap Aurora


Edward menyerahkan ponselnya pada Aurora dan menggendong Brian yang tertidur. Aurora menekan tombol untuk melihat posisi mobilnya, kemudian menghidupkan ac dalam mobilnya.


"Ayo,.." ucap Aurora sambil meraih paper bag untuk dibawanya. Edward mensejajari langkah Aurora.


"Apa kau sudah puas berbelanja?" tanya Edward


"Sudah. Terima kasih sayang.. kau baik sekali." ucap Aurora sambil menekan bawah mobil menggunakan kakinya untuk membuka bagasi mobil dan meletakkan barang barangnya.


"Aku duduk di belakang ya, kasian Briannya." ucap Aurora sambil membuka pintu belakang.


"Baiklah."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah panas teriknya matahari. Aurora mengusap kepala Brian dengan sayang, berharap ia segera dikarunia seorang putra seperti Brian. Edward mengulum senyumnya saat pandangannya bersirobok dengan Aurora dalam spionnya. Hatinya membuncah ketika mengingat Aurora sudah menjadi istrinya. Impian 10 tahun yang lalu sudah terwujud dan bukan menjadi angan angannya belaka.


"Terima kasih Tuhan.." batin Edward


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, like and komennya guys. Thank you ❤


__ADS_2