
Edward kembali keruang kerjanya. Ia duduk sambil memijit pelipisnya. Ia begitu pusing dengan keputusan yang ayahnya ambil.
"Ayah, kita akan mendapatkan masalah setelah ini. Tidak tahukah kamu, yang kalian pecat sebagian senior perusahaan ini."
"Hah, ini semua sudah terjadi. Apapun itu, aku akan menghadapi semua ini. Persaingan bisnis membuat mereka hilang akal. Mereka menghalalkan segala cara,tapi aku tak akan membiarkan kalian menyentuh keluargaku."
"Aku akan menghancurkan perusahaan kalian sedikit demi sedikit. Jangan harap kalian bisa menang melawan Tuam muda Edlyn. Tidak semudah itu ferguso." Edward menyeringai angkuh. Dalam otaknya sudah ada rencana rencana kedepannya.
Ia kemudian memutuskan menelfon istrinya untuk menenangkan gejolak dalam hatinya. Menurutnya mendengar suara istrinya adalah obat dari kegelisahan hatinya.
###
Disisi lain, Diperusahaan Tuan Kim
Tuan Kim meremas kertas dihadapannya. Laporan dari asistennya membuat menggertakkan giginya kesal. Rencana menipu daya perusahaan Edward terancam gatot, gagal total. Padahal ia merasa sudah melakukan serapi mungkin.
"Lalu dimana orang orang bodoh itu..!" tanya Tuan Kim kesal.
"Dari keterangan, mereka ada yang dibawa ke kantor polisi ada yang dibawa kemarkas besarnya1. Kita bisa mengeluarkannya jika anda ingin." jawab Yudha asistennya.
"Ya, aku akan mengeluarkan satu atau dua diantara mereka, selidiki dan pilih orang yang punya dendam besar pada Edward atau pak tua itu.! Kita akan menghancurkan mereka lewat tangan mereka.!" perintah Tuan Kim dan diangguki Asistennya.
" Edward juga menantang kita dengan terbuka, apa kita akan menanggapinya Tuan,,?"
"Tentu saja, tapi tidak sekarang. Segera bebaskan yang aku perintahkan, kita akan memulai plan B. Kembali keruanganmu lalu panggilkan Vivi. Aku butuh dia sekarang.!" perintah Tuan Kim tegas
"Baik, akan segera saya panggilkan. Saya permisi."
"Dasar, kalau sedang marah pasti pelampiasannya berhubungan b#dan. Aku harap anda tak sepenuhnya percaya pada wanita ular itu. Semoga saja anda tidak digigit olehnya." batin Yudha yang sudah meninggalkan ruang kerja Bosnya.
Ditempat Vivi berada, ia sedang berada di istana milik Tuan Kim. Ia mendengus kesal saat asisten Yudha menelfon untuk segera datang keperusahaan. Dengan perasaan dongkol, ia mengganti bajunya dengan gaun indah yang dibelinya, dan parfum wangi pemikat hati untuk menarik simpati Tuan Kim.
"Wajah doang yang ganteng, sayangnya dia kelainan.! Oh, tubuhku,aku harap kamu masih bisa bertahan dengan siksaan pria itu." gerutunya sambil menuruni anak tangga.
Tuan Kim memang menderita kelainan Sadomasokisme. Dia sering menyakiti lawannya bercinta untuk mendapatkan kepuasan. Entah itu hukuman atau kutukan bagi seorang Vivi, yang jelas ia masih ingin mendapatkan bantuan dari pria itu.
Sadomasokisme adalah perilaku kelainan seksual di mana seseorang merasakan kenikmatan dan kepuasan seksual ketika menyakiti atau disakiti.
Sadomasokisme memiliki tingkatan, ada yang hanya sampai pada tahapan memukul atau menggigit hingga meninggalkan bekas lebam. Namun pada tahapan yang sudah parah bisa menyebabkan luka-luka parah yang disebabkan alat-alat atau benda tajam.
__ADS_1
Kelainan seksual ini bisa menyebabkan kematian karena dalam kondisi tertentu ketika masokis (yang disakiti) dan sadis (yang menyakiti) akan mendapatkan klimaks ketika menempatkan nyawa di ujung tanduk, misalnya dengan melakukan pencekikan.
"Ngeri juga ya.." gumam vivi memegang tengkuknya. Belum apa apa dia sudah gelisah sendiri memikirkan nasibnya setelah ini.
Satu jam kemudian, ia sudah sampai dikantor Tuan Kim. Ia langsung membuka pintu ruang kerja pria itu. Dengan santainya ia duduk dipangkuan Tuan Kim dan memeluknya manja. Kegiatan yang disukai Tuan Kim, tapi menyebalkan menurut Vivi.
"Aku dengar kau membutuhkanku hem.." bisik Vivi ditelinga Tuan Kim dan meniup telinganya.
Perbuatan vivi sukses membangkitkan gairah Tuan Kim.
"Aku sedang banyak pekerjaan, lakukan tugasmu dengan baik..!" perintahnya sambil menjongkokkan Vivi dibawah meja kerjanya.
Tuan Kim segera mengendorkan ikat pinggangnya dan menurunkan retsleting celana panjangnya.
Vivi mendengus kesal melihat barang yang akan dipuaskan. Tapi itu lebih baik dari pada ia disiksa tubuhnya.
" Ck , pria terhormat tidak melakukan kegiatan seperti ini dikantor." Sindirnya sambil memainkan barang milik Tuan Kim.
"Diam dan bekerjalah dengan baik..!" geram Tuan Kim, memajukan kursi yang dipakainya membuat Vivi terjatuh kebelakang dengan kepala membentur kayu dibelakangnya.
"Aduh.." Vivi mengusap kepalanya.
Vivi meringis kesal tapi tetap melakukannya. Ia mulai mengulum dan menghisapnya. Ia melakukannya bagai anak kecil yang makan es krim kesukakannya. Kim semakin lama semakin menggelinjang keenakkan. Merancau dan terus mendesah nikmat. Niatnya tadi ingin fokus pada pekerjaannya, nyatanya fokusnya teralihkan pada hisapan Vivi. Tidak mengerti dengan otak pria ini. Kalau memang ingin, sebaiknya hentikan pekerjaan, kunci pintu dan buka kamar. Bukannya seperti ini. Apa apaan..!!
Memang dasar Kim yang kelainan, semakin ia keenakan semakin kuat ia menjambak rambut vivi. Vivi yang mengeluh kesakitan pun bahkan tak dihiraukannya. Apa dia tidak sadar dengan perbuatannya yang menyakiti orang lain.
"Aghh.. yes baby..."
"Dasar Bang Sat..!" umpat vivi dalam hati.
Dari luar, pintu ruangannya diketuk. Yudha asistennya datang membawa berkas yang harus segera ditandatangani bosnya. Dengan wajah tak berdosanya, Yudha duduk dihadapan Tuan Kim dan menyodorkan map itu padanya. Ia tidak tau saja, jika Tuan Kim kesal karena kegiatan mereka terganggu.
Tuan Kim menatap tajam asistennya. "Ada apa, kau mengganggu kesenanganku..!"
"Kesenangan?" beo Yudha dalam hati.
"Emm maaf Tuan, berkas ini sedang ditunggu, kami butuh tanda tangan anda." ucap Yudha lugas.
Tuan Kim mulai membaca berkas itu, dahinya terkadang mengerut, matanya terkadang memejam, dahinya berkeringat menahan sesuatu didalam sana. Dia tampak kesusahan menahan desahannya.
__ADS_1
"Aghh.. ssshh.."
Yudha memicingkan matanya mendengar desahan lirih yang keluar dari bibir pria itu.
"Apa anda sakit? Apa vivi belum sampai kemari..?"
Pertanyaan Yudha sukses mengalihkan perhatiannya, lalu segera menandatangani berkas didepannya.
"Tak apa, keluarlah. Jangan biarkan orang lain menemuiku. Satu lagi, kau buat berita skandal untuk menjatuhkan nama baiknya lagi. Lakukan sebaik baiknya, berlindunglah pada pihak media. Aku tak ingin kegagalan kali ini.!"
"Baik Tuan, segera saya laksanakan. Saya permisi.!"
"Hem.."
Setelah kepergian asistennya, Tuan Kim langsung menjambak rambut vivi dan menyeretnya ke sofa, ia menjatuhkan tubuh vivi dengan keras.
Brukk
"Aghh..!"
"Beraninya kau menggigitku hah...!"
"Ampun.. jangan memukulku lagi..!"
Plak
"Agghh.."
Miris, itu yang saat ini dia rasakan. Kim yang tampak baik pada mulanya, kini menjadi iblis kejam yang menyiksa dirinya jika ia melakukan kesalahan. Mungkin bukan hanya penyimpanan yang dideritanya, mungkin saja dia seorang psikopat gila. Psikopat yang mampu menyiksa tanpa kasihan saat mendengar jeritan orang yang disiksanya.
Kim terus memburu tubuh Vivi hingga terkulai lemas, ia tersenyum kemenangan, hasratnya telah terpenuhi , otaknya kembali segar. Ia mencium pipi vivi sekilas,
"Bersihkan tubuhmu, aku menunggumu makan siang. Jangan lama lama." ucapnya dan berlalu meninggalkan vivi.
"Dasar..!! Tunggu pembalasanku Kim.. Akan ku potong burungmu jika misiku sudah selesai. Aku akan membalasmu..!" geram Vivi sambil mengepalkan tangaannya mendesis kesal.
.
.
__ADS_1
.