Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kesedihan Brian


__ADS_3

Ingatannya berputar kembali saat kemarin menjenguk Brian di rumah sakit pusat. Ia menunduk melamun.


Flassback on


Brian yang saat itu sedang duduk dan bermain dengan ponselnya , mendongakkan kepalanya saat Bunda Yuli masuk dalam ruangan tempat Brian dirawat. Senyumnya mengembang begitu saja melihat kedatangan Bunda Yuli, tapi tidak dengan wanita tua itu.


"Dimana Auntymu?" tanyanya datar.


"Oh Aunty sedang kelual, sini nenek cantik, temani Blian. Bagaimana keadaan Daddy dan Mommy, Blian ingin menjenguk tapi belum dibolehkan." ucap Brian dengan senyum mengembang. Ini pertemuannya setelah kejadian menyedihkan waktu itu.


Bunda Yuli berwajah datar, tidak seperti biasanya. Brian juga menyadari tatapan itu.


"Mulai sekarang kamu tidak aku izinkan menemui mereka.!" ucap Bunda Yuli. Ia menatap tajam wajah polos Brian.


Brian mengedip ngedipkan matanya, otak jeniusnya sedang mencerna ucapan orang yang dianggap neneknya. Ia masih berpikiran positif.


Brian tersenyum lembut, "Telima kasih kalena nenek menghatwatilkan aku, iya Blian tau, anak kecil tidak boleh menjenguk olang sakit. Nenek takut Blian teltulal bukan. Blian janji tidak akan sakit. Tapi bolehkan Blian melihat meleka dali jauh, Blian lindu meleka."


"Mulai sekarang kamu bukan cucuku lagi. Kembalilah pada keluargamu, jangan dekat dekat putraku. Kamu anak pembawa sial. Menjauhlah dari hidup kami. Mulai sekarang kamu tak kuijinkan bertemu mereka. Jangan pernah memanggilku nenek lagi. Aku bukan nenekmu.! Gara gara kamu, putraku harus menderita karena kesialanmu!." ucap Bunda Yuli penuh dengan tekanan.


Deg


Brian mematung mendengar penuturan yang tak pernah disangkanya. Padahal selama ini, Bunda Yuli seperti tulus menyayanginya. Kenapa harus berubah secepat ini. Siapa pemicunya, kenapa dengan teganya tiba tiba memutuskan hubungan, apa salahnya.


"Nenek cantik, nenek sedang becanda bukan? Jangan memisahkan kami, Blian sangat menyayangi meleka beldua. Blian janji akan jadi anak baik." ucap Brian dengan tatapan tak percayanya.


"Sudah aku katakan jangan memanggilku nenek! aku bukan nenekmu!" bentaknya.


"Nenek.." lirih Brian meneteskan matanya.


Anak kecil itu sedih, kenapa disaat seperti ini orang yang sudah dianggap nenek kandungnya berlaku seperti itu. Apa salahnya, ia juga bukan penyebab kecelakaan itu. Kenapa harus mengatakan saat tidak ada Edward disisinya.

__ADS_1


"Maafkan aku Nyonya, aku tak bisa memilih harus tellahil dali kelualga siapa, maaf jika gala gala aku, daddy dan mommy sakit. Tapi tolong bialkan aku bertemu meleka. Bagaimana aku menahan lindu ini,.." ucap Brian menahan tangisnya.


"Sekali lagi aku tegaskan padamu. Aku yakin jika kamu mengerti yang aku ucapkan, kamu bukan bocah polos. Jauhi keluargaku! kamu anak pembawa sial. Semenjak kedatanganmu kerumahku, masalah datang bertubi tubi hingga kecelakaan itu terjadi. Semua karena kamu. Kamu anak pembawa sial.! Seandainya putraku tak mengajakmu, pasti tidak akan pernah terjadi hal semacam ini." ketus Bunda Yuli memalingkan wajahnya.


"Ampun nyonya.. kasihani anak piatu ini, aku menyayangi daddy. Maafkan aku nyonya. Hiks.. hiks..aku bukan anak pembawa sial."


Bunda Yuli bergeming. Bibirnya bergetar menahan tangis. Hatinya paling dalam tak mengijinkan berbuat kasar pada bocah sekecil itu. Ia mengetatkan rahangnya.


Sedangkan Brian menangis sesegukan, ia sangat terluka dengan ucapan Bunda Yuli. Hatinya merasa tersakiti. Anak sekecil itu harus dipisahkan dengan kedua orangtuanya. Ia kini merasa sendiri.


"Mama, apa hidupku ditakdilkan halus sepelti ini, kenapa mama meninggalkanku, kenapa kau tak mengajakku pelgi, kenapa aku halus belakhil dikehidupan daddy, apa benal kata meleka jika aku anak pembawa sial. Apa salahku mama..kenapa halus aku mama, kenapa .." tangis Brian tersedu sedu.


"Aku pergi. Ingat!! jika kamu menyayangi daddymu, jangan pernah temui mereka lagi bila tak ingin mereka kena sialmu lagi.! Jangan pulang kerumahku. Kau sekarang tak berhak tinggal dirumahku.!" ketus Bunda Yuli dan melangkah pergi.


"Nyonya..!! aku mohon jangan lakukan itu padaku. Bialkan aku beltemu meleka. Aku mohon nyonya..!!" Teriak Brian sambil menangis.


"Hiks.. hiks.. jangan jahat padaku nyonya, maafkan aku. Aku bukan anak pembawa sial. Nyonya..!!"


"Daddy, mommy.. maafkan aku.. Agggghhh...!!!"


Flassback off


"Bunda, kamu melamun lagi. Ada apa?" tanya Tuan Admaja.


"Tidak. Sudah malam, ayo kita masuk. Angin malam tidak baik untuk kita." ucap Bunda Yuli mengalihkan topik pembicaraan. Ia bangkit dan mendorong kursi roda suaminya.


Tuan Admaja mengangguk, ia sebenarnya penasaran dengan apa yang dipikirkan istrinya, tapi ia tak mau membuat istrinya tertekan. Jadi ia memilih diam, toh pada akhirnya ibu beranak dua itu pasti akan menceritakan masalahnya suatu saat nanti.


.


.

__ADS_1


Keadaan yang sama dengan Aurora saat ini. Ia menatap sendu bingkai gambar foto dirinya bersama Brian dan suaminya saat di Paris waktu lalu. Tiba tiba ia menangis sedih, entah apa yang sedang ia pikirkan.


"My sunshine, inikah takdir Tuhan. Kenapa kita harus selalu berpisah. Kapan kamu akan bangun, aku merindukanmu." tangannya mengusap foto suaminya.


"Apa kau marah denganku hingga kamu tak mau membuka matamu? Apa kamu masih cemburu padaku? Bukankah kita sudah saling memaafkan?"


"Aurora.."


Mama Riyanti datang membawakan susu untuk putrinya. Ia duduk dan mengusap punggung Aurora. Ia menghela nafasnya, ia selalu mendapati putrinya menangis ketika seorang diri.


"Berhentilah bersedih. Semua akan kembali seperti biasa. Kuatkan hatimu nak."


"Mama, dari sekian banyak wanita didunia ini, kenapa harus Aurora yang harus mengalami kejadian mengerikan itu ma, apa salahku mama. Bahkan sampai saat ini, suamiku juga belum sadarkan diri." tanyanya lirih.


"Ssssttt.. ingat, dibalik kesedihan pasti ada kebahagiaan yang menantimu. Kamu harus tegar. Banyak orang yang membutuhkanmu. Ingat Brian? anak itu, semakin hari semakin kasihan saja. Ia menutup diri dari orang lain. Tak ada wajah ceria seperti biasanya, dia bahkan jarang berbicara. Ia mengurung diri. Dia begitu terpukul atas kejadian ini, bagaimana jika dia melihatmu seperti ini. Kamu tak memikirkan perasaannya.? Dia juga sama sepertimu Aurora. Ia bahkan menolak keras tinggal di mansion Ayah mertuamu. Apa sedang terjadi sesuatu padanya.?"


"Aku akan bicara padanya. Mungkin dia masih syok. Aku akan membawanya tinggal kemari jika dia mau. Harusnya kemarin kita mengajaknya tinggal bersama." sesal Aurora .


Ia mulai memikirkan psikolog dan mungkin psikiatri terbaik untuk memulihkan trauma putranya. Ia takut jika kejadian itu akan memengaruhi perkembangannya.


"Baiklah, ini sudah malam, istirahatlah, jaga kesehatanmu. Besok kita pikirkan lagi. Kasihan cucu cucu mama. Berhentilah bersedih. Semangat."


Aurora tersenyum dan mengangguk kecil.


Selepas mamanya keluar dari kamarnya, ia mengirimkan pesan pada Selly untuk mengantarkan Brian padanya. Ia khawatir jika sesuatu buruk sedang terjadi pada putranya, apalagi saat ini posisinya sedang berjauhan dengannya. Belum lagi ia sudah berjanji pada Edward untuk melindungi Brian apapun yang terjadi.


"Ah Brian maafkan mommy,.."


.


.

__ADS_1


.


####


__ADS_2