Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Status baru


__ADS_3

Pagi ini Al dan ajeng sudah berkemas untuk kembali ke Malang, tinggal dua hari lagi acara pameran  itu berlangsung, Ajeng memang sudah menyelesaikan pekerjaannya tapi


tinggal fitting bajunya untuk para model yang akan mengenakannya.


“Sudah nggak ada yang ketinggalan mas?”


“Nggak ada, ayo masuk. Keburu siang nanti!”


Mereka pun masuk ke dalam mobil, al segera melajukan mobilnya, memecah keheningan jalanan di pagi hari, bahkan matahari belum


menampakkan cahayanya. Al sengaja berangkat pagi untuk menyelesaikan


pekerjaannya yang ia tinggal dua hari ini.


setelah melakukan perjalanan selama satu jam


akhirnya mereka sampai juga di Malang, kota yang terkenal dengan buah apelnya


itu masih begitu dingin. Al tidak langsung mengajak Ajeng ke tempat kerja, Al


membawa Ajeng ke rumahnya yang berada di malang.


“Ini rumah siapa mas?” Tanya ajeng setelah turun dari mobil.


“Rumah kita sayang!”


“Memang kita akan tetap tinggal di sini? Sampai mas Al membeli rumah juga di sini!”


“tentu sayang …, aku tidak mungkin mematahkan cita-citamu, dengan tetap tinggal di sini di dekat impianmu, semakin mudah


untukmu meraih cita-cita kan!”


“Nanti kalau aku harus di pindahkan ke Jakarta, mas Al memang mau beli di sana juga!”


“Jika itu terjadi, tentu saja!”


“Mas Al jangan terlalu memanjakan ku!”


“Memanjakan istri adalah ibadah sayang, dan ibadah terlamaku adalah menjadi suamimu, imammu, jadi permudahlah ibadahku ini!”


"Tentu mas, untuk itu jadi tetaplah bersabar membimbingku!"


Al tersenyum dan memeluk istrinya, menumpahkan semua cintanya pada wanita yang sudah di cintanya sejak kecil itu.


Mereka pun masuk ke dalam rumah itu, rumah itu dua kali lebih luas di banding rumah mereka yang ada di Blitar. Sebenarnya Al


memilih rumah itu dengan desain inpian Ajeng. Sebuah rumah dengan taman yang


luas.

__ADS_1


Dan jendela yang di buat begitu lebar hingga bisa melihat pemandangan


taman dari dalam rumah.


“Rumahnya bagus banget mas!” ucap Ajeng sambil mengagumi keindahan arsitektur rumah itu.


“kamu suka?” Al tersenyum senang saat melihat istrinya menyukai rumah yang di desain khusus untuk istrinya itu.


“Suka sekali!”


“Alhamdulillah deh kalau gitu! Mau aku tunjukkan kamar kita!”


“Kita?”


“Iya sayang …, apa kau lupa kalau kita sudah


menikah?”


“Tidak mas, bukan begitu, tapi aku rasa kita ke


kamarnya nanti saja setelah kita ke kantor!”


“Padahal aku pengen sekali nunjukin kamar kita!”


“nanti saja mas!”


“baiklah …!”


setidaknya sebuah kecupan selamat datang, tapi sepertinya istrinya itu belum


terlalu peka. Mereka pun memutuskan untuk ke kantor setelah meninggalkan semua


barang-barang bawaan di rumah baru mereka.


“Mas …, kita masuk kantornya nggak usah barengan ya!” ucap Ajeng sebelum turun dari mobil.


“Kenapa?”


“Aku cuma belum terbiasa saja dengan status baru kita. Nggak pa pa kan?”


“Baiklah …, turunlah terlebih dulu, biar aku


belakangan!”


“Makasih ya, mas!”


Ajeng pun segera membuka pintu mobil, ia hendak turun tapi Al segera menahan tangannya membuat Ajeng kembali berbalik pada suaminya itu.


"Ada apa mas?”

__ADS_1


Al menatap Ajeng dengan sangat lembut, tatapan penuh cinta.


“Yakin nggak ada yang lupa?”


“Apa mas?” ajeng mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat duduknya.


“Nggak ada mas!”


“Beneran?”


“Iya!”


“Mau aku kasih tahu yang kelupaan apa?” ajeng pun mengangguk.


“Sini!”


Mendengarkan permintaan Al, Ajeng menggerutkan keningnya penuh tanya.


“Sini cepetan!”


Mau tak mau Ajeng pun mendekat kembali ke pada suaminya itu. Dengan cepat Al menarik tengkuk istrinya dan segera ******* bibir


istrinya membuat Ajeng membelalakkan matanya terkejut, ciuman itu berlangsung


cukup lama, mereka terlarut dalam gairah.


Setelah terasa semakin panas, Al


segera melepaskan ciumannya, ia takut jika sampai kebablasan. Ia kembali


teringat dengan tamu bulanan istrinya.


“Sudah sayang!” ucap Al sambil merapikan lipstick Ajeng yang berantakan dan mengecup kening istrinya.


“Assalamualaikum sayang ….!”


“Waalaikum salam!”


Ajeng dengan cepat berlari meninggalkan mobil suaminya, jantungnya sudah tak tertata lagi.


“Astaga …., astaga …, jantungku!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 😘😘😘😘😘


__ADS_2