
"Aku akan ke EG hari ini. Ada yang harus aku selesaikan bersama Lukas." ujar Edward setelah ia selesai memakai pakaian formalnya. Pria itu hanya melirik Aurora dari cermin. Entah mengapa ia masih saja kesal pada istrinya walau wanita itu sudah mengatakan maaf puluhan kali, tapi seakan kata maaf itu tiada arti baginya.
Aurora mendekati Edward dan memeluk pinggang pria itu. Bau parfum Edward tercium jelas di hidungnya, bau wangi yang selama ini dirindukannya kini berada dalam pelukannya.
"Aku ingin ke Paris."
Edward yang melupakan ingatan tentang paris hanya membisu. Memangnya ada apa di Paris, kenapa tiba-tiba istrinya ingin kesana.
Aurora melepas pelukan itu dan membalik tubuh tegap itu. Di pandangi wajah Edward yang telah mengenakan topeng sintetisnya, sesungguhnya ia lebih menyukai wajah Edward yang sebenarnya. Ia berasa sedang memeluk pria lain.
"Apa kau melupakan Paris?"
Edward tak menjawab. Pria itu masih saja berwajah ketat.
"Aku sudah di tunggu. Sebaiknya nanti siang kamu pergi ke rumah sakit, dokter Jun menunggumu disana. Dia akan menyampaikan hasil analisisnya, semoga saja Kenta bisa disembuhkan."
"Dokter Jun?" Aurora mengerutkan dahinya.
"Ya. Aku hanya bisa merekomendasikan dokter itu, aku sudah memintakan ijin pada Jingmi untuk membantu pengobatan Kenta. Tapi kamu tahu sendiri, Jingmi bukan pria yang mau merugi. Minta Kimura untuk membayar biayanya, karena Jingmi tidak mau menerima uang dari kita. Aku rasa kamu sudah cukup membantu anak itu. Biarkan anak itu hidup bersama ayahnya. Dan satu lagi! jangan coba coba menghalangi Kimura membawa putranya apalagi menjadikan dia putra ke empatmu! Karena aku juga tidak sudi menjadi ayah angkatnya!"
Aurora bungkam. Entah mengapa ia menjadi sedih setelah Edward mengatakan hal itu.
"Sebaiknya kamu mengajak David, jadikan dia asistenmu lagi, lalu tarik Jenny ke perusahaan ayahmu. Jangan mempersulit keadaanmu. Aku tahu kamu pasti akan meminta Dion mencarikan asisten lagi."
"Aku memang meminta Dion mencarikan asisten, mana bisa aku memimpin perusahaan sebesar itu. Kamu tidak tau beratnya aku selama ini. Harusnya kamu yang memimpin perusahaan itu lagi." Aurora menunduk dan memalingkan wajah.
"Tunggu sebentar lagi. Sementara ini bertahanlah di induk perusahaan. Setelah sudah saatnya aku muncul di publik, aku akan mengambil alih posisimu bersama Lukas dan kamu bisa memimpin EG bersama David dan Dion. Sedangkan Amelia mungkin akan ikut ke Willi ke Seoul setelah pernikahannya. Atau kamu ingin kembali ke HC? Jika tidak mau, kamu juga bisa menjadi asistenku. Terserah kamu ingin bekerja dimana."
__ADS_1
"Aku ingin dirumah dan menunggumu pulang kerja. Tidak bolehkah aku tidak bekerja?"
"Terserah inginmu, tapi jangan sampai kamu cemburu jika aku bersama wanita lain. Tidak menutup kemungkinan aku bisa jatuh cinta lagi bukan."
Edward menaikkan alisnya. Apa dia pikir hanya istrinya saja yang bisa bermain api. Ia merasa, Aurora juga harus merasakan panasnya terbakar cemburu.
"Aku tak menolak jika ada suami ingin berpoligami. Apalagi pria itu mampu dari segi lahir dan batin seperti dirimu. Aku sama sekali tak masalah jika itu bukan suamiku. Kamu boleh mendua, kamu boleh jatuh cinta dengan wanita lain, kamu bisa jajan sembarangan, kamu bisa memasukkan wanita itu di rumahmu tapi ceraikan aku dulu. Sampai kapan pun, aku tak bisa menerima penghianatan. Jika di dalam kata-katamu barusan ada maksud terselubung, aku harap kamu bisa memikirkannya baik-baik. Ingat perselingkuhan tidak akan terjadi jika kamu tak membuka diri. Silahkan saja, toh aku sudah terbiasa sendiri."
Aurora duduk disofa, sejenak ia menenangkan hatinya. Ia pikir kenapa banyak sekali masalah yang harus dihadapinya. Ia sudah lelah dengan ini semua.
"Apa yang sedang kamu inginkan. Apa kamu berpikir untuk bercerai dariku! Setelah semua ini kamu ingin bercerai dariku Aurora! Kenapa kamu tak mau mengerti perasaanku hah! Apa kamu pikir aku tak sakit hati ketika kamu dicium pria lain hah! tidak bolehkah aku membalasmu sedikit saja! Ah kenapa wanita ingin benar sendiri!"
Emosi yang dari semalam di tahan Edward akhirnya meledak juga pagi itu. Aurora sampai menangis mendengar bentakan suaminya. Tidak pernah Edward seemosial itu padanya.
"Kamu tidak tau bagaimana aku berjuang untuk bisa pulih dan berkumpul bersama kalian. Kamu tidak tau bukan jika ucapanmu kemarin sangat melukai harga diriku. Apa kamu pikir aku ingin dalam keadaan seperti itu hah! Apa kamu pikir aku bisa menghadapi kelumpuhan? Tidak Aurora! Tidak!"
Mata Edward tampak memerah, hatinya terlalu sedih. Ia ingin sekali menangis di depan istrinya, ia ingin meluapkan semua isi hatinya.
"Berhentilah minta maaf. Apa kamu pikir dengan minta maaf bisa dengan mudahnya menyembuhkan sakit hati ini! Aku kecewa padamu Aurora!"
"Kamu salah paham padaku. Aku..aku berkata seperti itu karena aku merasa kamu meragukan kesetianku padamu. Jika memang aku wanita murahan, sudah sedari dulu aku menikah bodoh! Apa kau tidak menghargai sedikitpun penantian ini hah! Hanya karena aku dicium pria itu, kamu semarah ini? Apa kabarnya kamu yang pernah tidur bersama Viona hah! apa kamu pikir aku tidak sakit hati!"
"Aurora...!" Edward menggeram marah.
"Apa! Apa! Kamu mau bilang kalau kamu di jebak hah! Lalu apa bedanya denganku! Aku sudah menceritakan semuanya padamu. Jika aku tahu kita akan bertengkar seperti ini, aku tak segan menembak kepala pria itu di depan matamu!" ujar Aurora dengan nafas memburu. Edward telah memancing kemarahannya kali ini.
Edward diam saja. Hatinya semakin kacau. Ia tak menyangka jika cemburu itu rasanya sesakit itu. Pria itu tiba-tiba keluar dan membanting keras pintu kamarnya. Ia sudah tidak tahan dengan kemarahan dalam hatinya. Ia pikir daripada menyakiti hati istrinya, lebih baik ia pergi menghindar.
__ADS_1
Brian, Al dan El yang sedang menunggu di meja makan terkejut mendengar pintu itu dibanting dengan begitu kerasnya. Ketiganya menatap satu sama lain dengan pemikiran yang berbeda beda.
Al yang penasaran dengan analisanya semalam, dengan cepat anak itu berlari dan memanggil Edward ketika pria itu hendak membuka pintu utama.
"Daddy Edward berhenti!"
El dan Brian terperangah mendengarnya. Dua anak itu juga ikut berdiri. Entah apa yang akan terjadi, Brian tampak cemas sendiri. Ia tahu jika daddynya sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Ia jadi menghawatirkan adiknya.
Edward yang di panggil langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Brian penuh selidik, tapi Brian langsung menggelengkan kepalanya. Bukan ia yang membocorkan rahasianya. Sayang sekali kode itu berhasil di tangkap oleh netra El yang berdiri di belakang Brian.
Tanpa sepatah kata dari Edward, pria itu langsung berbalik dan berjalan cepat keluar. Ia sedang dalam kondisi marah, ia tidak bisa bersama dengan putranya, ia takut menyakiti anak anaknya.
Al tak putus asa. Ia juga berlari cepat dan segera memeluk kaki jangkung itu.
"Jangan pergi daddy." Al menggelengkan kepalanya.
Edward memejamkan matanya. Ia benci dengan keadaan ini.
"Apa daddy sedang marah dengan mommy? Akan Al ceritakan sesuatu yang bisa membuat emosi dad mereda, tapi janji jangan pergi okey?"
Edward berjongkok dan mengusap kepala Al. "Masuklah ke dalam mobil, tapi sebelumnya ajak kakak dan adikmu."
Al mengangguk dan segera menemui kakak dan kembarannya. Ia tidak tahu akan diajak kemana, tapi dengan tidak adanya penolakan dari bibir pria itu, sudah bisa disimpulkan jika analisanya memang benar. Bolehkah ia merasa sangat senang kali ini. Tunggu kelanjutan di bab selanjutnya.
.
.
__ADS_1
.
######