Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Plakat Singa


__ADS_3

"Selamat datang di markas besar Golden Lion Tuan Kimura. Wah, saya merasa sangat tersanjung dengan kehadiran anda ditempat ini, cukup punya nyali juga anda bisa berani datang ke kandang singa. Kalian pria pria hebat." ucap Alex sembari bertepuk tangan.


Sinar laser merah langsung membidik kesemua tubuh pengikut Kimura. Mereka sedikit gugup menyadari hal itu, tapi tidak dengan Kimura. Ia malah menatap tajam Alex.


"Jadi apa yang membawamu kemari Tuan Kimura? Apa kau ingin menyerahkan diri atas perbuatanmu pada kami?" ejek Alex dengan senyum miringnya.


"Dimana kau sembunyikan Vivian!" tanya Kimura datar.


"What!! Siapa kau bilang? Vivian?" Alex terkekeh mendengar itu.


"Jangan bertele tele Tuan Alex. Aku tidak suka berbasa basi!"


Alex tersenyum miring. "Tamu tidak terhormat. Pria rendahan berhati busuk. Bahkan kelakuanmu sama dengan keledai. Mulut sampah!"


"Jaga bicaramu Tuan Alex! Kami datang kemari baik baik!" sentak Yudha tidak terima.


"Wow!! Kau! Yudha wiratama. Pria brengsek yang menghamili wanita dan tak tanggung jawab! Banci! Pengecut!" tuding Alex dengan gaya tengilnya.


Nafas Yudha menderu, tidak menyangka jika Alex mengetahui perbuatannya dimasa lalu. Dia sendiri bahkan tidak tau jika mempunyai anak dari wanita ja lang itu.


"Tutup mulutmu! aku tak pernah menghamili siapa pun!" tegas Yudha dengan mata menyalaknya.


"Wow. Oke. Terserah. Yang penting aku sudah memberi tahumu. Laki laki ba jingan seperti kalian memang tidak pantas dikasihani. Aku akan menghukum kalian sesuai dengan perbuatan kalian pada kami. Jangan dikira aku tidak tau konspirasi yang kalian mainkan. Hukuman penjara tidak cocok untuk kalian. Laki-laki biadab yang suka main belakang. Katakan padaku, sudah berapa kali kau mencoba mencelakai King kami.! Aku sudah mengetahui semua kebusukan kalian."


" Kalian...!!!" Tunjuk Alex pada Kevin dan anggota lainnya.


"Seret dua pria itu masuk ke penjara bawah kita.!! Pastikan dua pria itu tidak kabur.!" Seru Alex


"Siap Bos!"


"Berhenti!" Seorang ajudan Kimura menghadang langkah mereka dengan katana panjangnya. Pria Jepang itu menatap bengis .


"Berbuatlah santun pada kami. Kami datang kemari baik baik. Begitukah cara menghormati tamu." hardik pria itu.


Alex terkekeh mendengarnya. " Kau! Pengikut setia Yashimoto bukan? Katakan pada pak tua itu! Pria ini..."tunjuk Alex pada Kimura dengan tatapan sinisnya.


"Dia telah melakukan banyak kejahatan pada King kami, melakukan beberapa kali percobaan pembunuhan pada King , memasukkan penyusup dalam perusahaan dan markas kami, pencucian uang, penyabotasean di perusahaan milik istri King dan terakhir wanitanya meracuni King kami hingga mengakibatkan kematian King kami. Katakan pada pak tua itu, hukuman apa yang pantas untuk orang seperti dia!" seru Alex


" Aku tidak percaya! Atas dasar apa anda menyuruhku!" seru pria itu.


"Kevin berikan benda itu padanya! Mulai hari ini kita akan saling bermusuhan pada yakusa itu dan antek anteknya. Hentikan kerja sama kita. Tutup semua akses masuk mereka ke negara kita. Jemput semua anggota kita yang berada di negaranya.! Pastikan yakusa itu tidak ada yang hidup di negara kita! Bunuh mereka jika melawan.!!!!" ancam Alex.


"Siap Bos."


Kevin maju selangkah dan memberikan sesuatu pada pria itu. Sesuatu yang akan membuat para yakusa itu bertekut lutut tanpa harus adu otot. Alex hanya tersenyum keji.


Pria Jepang itu terkesiap saat melihat benda bulat berwarna emas itu ditangannya. Gambar ukiran singa dengan katana di bagian dalamnya terpampang nyata dihadapannya. Benda keramat perjanjian kuno untuk tidak saling mengusik. Hukumannya penggal kepala jika sampai hal itu terjadi. Ia menelan ludahnya sendiri.

__ADS_1



(Gambar sumber Pinterest)


"Ampuni kami Tuan. Maafkan atas kelancangan kami." ucap pria itu berjongkok dan menunduk hormat pada Alex.


Para pasukan Yakusa yang melihat pemimpinnya menundukkan kepalanya pada Alex, mereka juga ikut melakukan gerakan yang sama.


"Ampuni kami Tuan." ucap mereka bersama.


Alex tersenyum lebar. "Wah!!! Plakat sakti!" ucap Alex bertepuk tangan.


"Hei apa yang kalian lakukan!" pekik Kimura. Kevin bersama anggota lainnya langsung membekuk Kimura dan Yudha sebelum mereka melakukan perlawanan.


"Lihatlah Kimura, anak buahmu saja tak menurut pada perintahmu." ejek Alex dengan seringainya.


"Kau siapa namamu!" tanya Alex menunjuk pria Jepang itu.


"Daichi Tuan." ucap pria itu.


"Hubungi Tuan Yashimoto. Katakan padanya yang terjadi disini. Juga katakan padanya, kami GL akan melakukan penyerangan jika menolak putranya untuk dihukum!" tegas Alex.


"Baik baik. Akan saya sampaikan."


"Kevin bawa dua pria itu ke ruang Lab kita. Aku ingin uji coba pada dua manusia ini, aku ingin mendengar seberapa kuat teriakannya, apa sama dengan anak buahnya yang mereka susupkan kemari, lebih kencang atau bahkan tak bersuara. Hehe,.."


"Brengsek kau Alex! Lepaskan aku! Aku tidak bersalah!"


"Simpan tenagamu. Tidak berguna kau meneriaki Bos Alex. Yang ada lidahmu akan jadi sasaran empuknya. Anda masih ingin bisa bicara bukan!" bisik Kevin menakut nakuti.


"Brengsek. Awas kalian! aku akan membalasmu!"


Alex tidak peduli pada umpatan Kimura. Dia dengan santainya menghisap rokok sambil mengamati pasukan yang dibawa Kimura yang masih berlutut dibawah sambil menundukkan kepala.


"Tuanku. Tuan Yashimoto ingin bicara dengan anda." Pria yang bernama Daichi menyerahkan ponselnya.


"Hem.."


"Tuan Alex, anda boleh menghukum putraku, tapi mohon jangan membunuhnya. Saya akan segera bertolak kesana. Maafkan ketidaktahuan saya atas insiden ini. Saya akan memberinya hukuman tegas pada putra saya."


"Aku tidak janji."


"Kami akan memberikan apapun itu asal bukan nyawa Kimura." jawab cepat Yashimoto


"Mencoba menyuapku heh!"


"Ah, bukan.. seperti itu. Mungkin saja anda membutuhkan bantuan kami. Kami bersedia membantu anda, apa pun itu."

__ADS_1


"Oke. Aku butuh pasukanmu jika waktunya tiba. Kemarilah dan bawa anakmu pergi dari negara ini. Aku tidak ingin dia berada di negara ini lagi. Apa anda mengerti!!"


"Mengerti. Mengerti Tuan."


.


.


Sedangkan dinegara lain, Jingmi sedang berbicara serius dengan para ilmuwan serta dokter yang menangani kasus Edward. Mereka semua berkumpul di kediaman Jingmi.


"Jadi bagaimana kesimpulannya."


Mereka saling melirik sesama kawannya. Seorang pria seumuran dengannya mengangkat tangannya.


"Katakan!"


"Saya melihat ada respon baik dari tubuh pasien. Saya yakin jika pasien bisa bangun dari tidur panjangnya, tapi.."


"Tapi apa?"


"Kemungkinan pasien akan mengalami kelumpuhan dan kehilangan memorinya. Masih bisa disembuhkan, tapi juga tergantung kerusakan pada otaknya. Kami sudah mengupayakan yang terbaik. Jika diijinkan, kami akan menyuntikkan serum terbaru buatan anda untuk menyadarkan pasien itu." ucap pria itu.


"Maaf menyela!" Seorang pria paruh baya mengangkat tangannya.


"Katakan!" ucap Jingmi


"Dokter Jun, saya tidak setuju jika anda menggunakan serum itu. Serum itu belum pernah diuji coba pada manusia. Itu akan sangat berbahaya untuk kondisi pasien. Apalagi pasien sedang tidak sadarkan diri. Saya pikir lebih baik kita melakukan pembedahan ulang untuk melihat seberapa jauh kerusakannya.


Jun : "........"


Lui : "....."


Jingmi masih menyimak perdebatan mereka. Ia masih menimbang nimbang untuk menarik kesimpulan.


"Oke. aku saja yang mengambil keputusan. Jangan lakukan pembedahan lagi. Itu akan sangat menyakitkan pasien. Lagian sejauh ini pasien merespon dengan baik obat obatan yang kita berikan. Masalah efek samping dari kerusakan otak itu bisa kita pikirkan sambil berjalan, yang penting sadar dulu."


"Kita akan melakukan uji coba serum itu dulu. Tugas kalian, carikan pasien yang kasusnya hampir mirip dengannya. Yang keluarganya sudah benar benar ikhlas jika dia pergi. Kita akan bayar mahal untuk itu. Benar kata Lui, jangan ada yang menguji coba pada temanku. Jika gagal, kita bisa dituntut keluarganya. Ini akan sangat buruk jika sampai itu terjadi."


"Lakukan tugas kalian seperti biasa. Sambil carikan referensi dokter terbaik untuk menangani paska pasien sadar nanti."


.


.


.


####

__ADS_1


__ADS_2