
Edward berjalan gontai, jam menunjukkan pukul 12 malam, dan ia masih berada di dikediaman Aurora setelah membantunya menyelesaikan pekerjaan yang akan dipresentasikan esok hari.
"Apa tidak ingin menginap di sini saja?" tanya Aurora dari ambang pintu.
Edward menoleh lalu tersenyum. "Tidak. Jangan khawatir. Saya seorang pria. Sudah biasa pulang malam sendiri."
"Aku tau kamu seorang pria. Aku tidak mengatakan kamu wanita."
Edward mengusap tengkuknya. Ingin rasanya ia mengecup bibir wanita itu tapi tak punya keberanian. Jangankan bibir, mencium tangannya pun tak sanggup. Menggemaskan sekali pikirnya.
"Emm ini sudah malam. Saya pamit dulu, tidak baik wanita dan pria berduaan malam malam begini. Takut khilaf."
Aurora mengangguk. "Oke hati hati dijalan. Besok jangan lupa datang pagi pagi."
Edward tersenyum kemudian langsung masuk mobilnya.
Sepanjang jalan, ia mengulum senyum mengingat hari ini ia menghabiskan banyak waktunya bersama keluarga. Jarak tempuh yang jauh seakan tak terasa baginya.
Setelah memarkirkan mobilnya di basement, ia langsung naik ke lantai tertinggi digedung itu. Belum sempat membuka pintu apartemennya, seorang pria menepuk pelan pundaknya.
"Jam segini baru pulang, apa yang kau lakukan disana. Apa kau mengambil jatah tertundamu?" ucap Jingmi bersedekap dada.
Edward tidak menjawab dan langsung masuk kedalam. Ia melepas pakaiannya dan langsung menuju kamar mandi. Badannya terasa lelah dan sudah tak punya tenaga untuk berkata lagi.
Jingmi hanya menghela nafasnya. Pasti terjadi sesuatu pikirnya.
Keesokan harinya, Edward sudah rapi dengan setelan kerjanya. Pria itu duduk di kursi sambil memakan sarapan. Jingmi menaikkan sebelah alisnya.
"Apa ada masalah?"
"Tidak ada. Bagaimana apa ada info terbaru?"
"Hem, seminggu lagi kelompok itu akan melakukan misi di negara ini. Anak buahku sedang mengintainya."
Edward mengangguk. " Apa wanita itu yang akan turun tangan sendiri?"
Jingmi hanya menaikkan bahunya.
Edward menghela nafas lalu meletakkan sendoknya. "Aku akan menghubungi Alex. Aku tidak ingin keluargaku yang jadi korbannya. Dan tolong cari tau siapa targetnya kali ini."
Jingmi mengangguk malas.
"Kau tidak bekerja?" tanya Edward yang melihat Jingmi masih mengenakan pakaian santai.
"Tidak. Adik sialanku akan berkunjung. Mungkin saja dia ingin meminta restumu untuk melamar adikmu." kata Jingmi santai.
"Aku akan merestuinya asal adikku bahagia bersamanya. Tapi semua keputusan ada ditangan Ayah. Aku tak bisa membantu lebih jika mereka tak merestuinya."
__ADS_1
"Ok. Aku harus berangkat. Sampai jumpa."
"Tunggu!"
Edward yang semula hendak membuka pintu, menoleh sejenak kearah Jingmi.
"Berhati hatilah pada putra sulungmu. Pastikan saat kamu pulang tak membawa apapun. Kemarin malam aku menemukan kamera pengintai diluar mobilmu." ucap Jingmi seraya memamerkan hasil temuannya . Sebuah alat berbentuk lebah yang sudah ia hancurkan kepalanya.
Mata Edward membulat sempurna. Tak percaya jika Brian akan bertindak sejauh itu.
"Hati hati, mungkin anak itu juga mengirimkan mata mata untuk menyelidikimu. Dia anak yang tidak mudah percaya pada orang lain, terlebih ia masih ingat betul suaramu. Aku akan berusaha menangkap wanita itu dan kamu bisa kembali pada keluargamu."
"Terima kasih. Jangan memikirkan masa depanku terus. Pikirkan juga masa depanmu. Kapan kamu akan menikahinya."
" Sudahlah, berangkat sana. Jangan membahasku." kesal Jingmi melangkah pergi. Edward hanya terkekeh mendengarnya.
.
.
Sampai di rumah Aurora, Edward langsung melangkah masuk ke dalam. Seorang pelayan menyambutnya ramah.
"Silahkan tunggu sebentar Tuan, nona sedang diatas, mungkin sedang memberi obat Tuan muda Brian. Saya akan buatkan minuman dulu untuk anda."
"Tidak perlu. Saya akan melihatnya ke atas. Dimana kamar Brian."
Edward yang takut terjadi sesuatu pada Brian langsung masuk kamar sebelah kiri sesuai petunjuk pelayan itu karena kebetulan kamar itu pintunya sedikit terbuka . Ia tidak menyadari jika barisan sebelah kiri ada dua kamar lainnya.
Edward menggigit lidahnya sendiri. Pemandangan yang sudah tak lama ia lihat, kini ia lihat kembali. Aurora yang hanya mengenakan tanktop dan shot pendek terkejut bukan main.
"Apa yang kau lakukan disini!" sentak Aurora.
Edward langsung memejamkan matanya dan membelakangi Aurora. "Maaf, saya kira ini kamar Brian. Saya tadi mendengar jika Brian sedang sakit, jadi saya ingin melihat keadaannya, kebetulan kamar ini tidak tertutup, jadi saya langsung masuk. Maafkan saya nona. Saya tidak sengaja."
Aurora yang mendengar itu mendengus kesal. Ia segera menuju kamar mandi dan melanjutkan berpakaian. Sedangkan Edward memilih keluar kamar karena tak mendengar suara apa pun di belakangnya.
Edward memandangi dua kamar tersisa. Ia mencoba menebak kamar yang ditempati Brian. Sebelumnya ia mengetuk pintu.
Tak ada jawaban. Ia menghela nafasnya pelan. Ia menarik handle pintu pelan takut salah kamar lagi. Edward mengeryit tak ada siapapun di dalam.
"Apa ini." Edward bergegas menuju kamar mandi.
"Bry... are you oke!" Seru Edward
Tok tok tok
"Bry.."
__ADS_1
"It's oke Dad!" seru Brian dari dalam.
Edward menggigit bibirnya. Tak tau harus bagaimana dalam bersikap. Anak itu kekeuh pada pendiriannya.
Brian tersenyum menatap Edward yang nampak cemas. "It's oke Dad, jangan khawatir, mommy sudah memberiku obat."
Edward mengulum bibirnya. " Kamu muntah?"
"Sudah tidak." Brian kembali berbaring di ranjangnya.
"Akan saya panggilkan dokter, tunggu sebentar. Kamu harus diperiksa."
Brian menggenggam tangan Edward. Lalu menciumnya. "Terima kasih sudah menghawatirkanku. Jangan khawatir, aku akan baik baik saja. Tak perlu panggil dokter lagi. Aku sudah diperiksa oleh dokter Rian."
Edward kemudian duduk di tepi ranjang. Ia mengusap pelan rambut putranya. "Lekaslah sembuh."
Brian mengangguk haru. Ia meneteskan air matanya. Ia begitu rindu usapan lembut itu.
"Kenapa menangis hem, ada yang sakit?"
Brian menggeleng. "Kemana saja selama ini Dad, aku begitu merindukanmu. Aku bahagia melihatmu baik baik saja walau kau tak mengakui ku sebagai putramu. Aku bersyukur kau masih hidup daddy. Jangan tinggalkan aku lagi. Aku sudah penuhi janjiku padamu, aku sudah menjadi kakak yang baik untuk adik adik." lirih Brian
Edward memejamkan matanya sejenak, menghirup nafasnya dalam dalam. Tak tega membohonginya tapi ia harus melakukan. "Kamu anak baik, tapi maaf, aku bukan daddymu. Mungkin suara kami sama, tapi percayalah kami orang yang berbeda."
"Jangan membohongiku dad. Lihatlah warna mata itu. Sama persis bukan?" Brian menunjuk foto dalam figura.
Edward diam mematung.
"Daddy kau memang bisa membohongi semuanya, kau bisa mengelabuhi semuanya, tapi tidak denganku. Jangan lupakan jika aku anak jenius. Aku bisa membuktikan kebenarannya. Ayo kita lakukan tes DNA. Namamu Felix Edlyn bukan Felix Fernando." ucap Brian tidak terima.
"Jika masih tak mau mengaku juga, aku akan membicarakan hal ini pada mommy. Mommy pasti tidak sampai berpikir kearah sana." ancam Brian.
Edward hanya tersenyum. Ia bangga anaknya bisa menebak dengan tepat, tapi rencananya sudah ia susun matang matang. Ia tidak bisa mengakuinya sekarang.
"Istirahatlah. Jika masih belum percaya kamu bisa meminta mom kamu melakukannya. Saya akan siap melakukan tes itu kapan saja."
Edward bangkit dan berjalan keluar. Dadanya begitu sesak melihat keadaan Brian. Diam diam pria itu menitikkan air matanya.
"Pergilah Dad. Kau memang tak menyayangiku! Kau ayah yang egois. Kau tak mementingkan perasaan kami.! Kau selalu membuang air mata ini sia sia. Pergilah Dad, Pergilah dan jangan kembali. Pergi seperti kau melakukan itu empat tahun yang lalu!!" Teriak Brian dari dalam sambil menangis tersedu.
Edward yang masih berada dibalik pintu hanya bisa mengelus dadanya.
.
.
.
__ADS_1
######