
"Nona,.." Edward menangkap pergelangan tangan Aurora.
Aurora terkejut melihat Edward terbangun dari tidurnya. Ia gelagapan seketika.
"Apa yang kau lakukan nona." tanya Edward lirih.
"I..itu, aku ... aku hanya ingin mengelap peluhmu. Apa yang terjadi? Kamu mengigau, apa kau mimpi buruk?" tanya Aurora terbata.
Edward tak menjawab, ia malah menarik tangan Aurora dan menciumnya. "Terima kasih sudah menghawatirkanku."
Aurora membulatkan matanya. Ia terkejut bukan main.
"Apa yang kau lakukan!"
Edward duduk dan merengkuh pinggang Aurora. Ia mendudukkan Aurora di bed dan berhadapan dengannya. Edward tersenyum tipis.
"Sayang, maafkan aku. Aku mohon maafkan aku. Aku rasa aku tak bisa menyembunyikan ini lebih lama darimu. Aku sudah lama menanggung rindu ini. Lama lama aku tak kuat menahannya."
Aurora mengerjapkan matanya. Masih berusaha menelaah ucapan asistennya.
"Aku suamimu."
Deg
Aurora mematung mendengarnya. Bagaimana bisa pikirnya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri suaminya sudah dikuburkan.
Air matanya menetes begitu saja. Ia teringat kenangan indah bersama suaminya.
"Maafkan aku. Maafkan aku, gara-gara aku kamu menderita." Edward mengusap air mata Aurora dengan ibu jarinya.
"Apa kamu benar menggunakan topeng? Tapi kenapa? apa yang terjadi?" tanya lirih Aurora.
Edward menunduk dan membuka perlahan topeng wajah sintetisnya.
Aurora sangat tegang melihatnya. Jantungnya sudah berdegup tak karuan. Rasanya ia pingsan saat itu juga.
"Sayang, masihkah kamu mengenali wajah ini." Edward menaikkan dagunya.
"Ka..kakak.. Kak Edward." Jantung Aurora seakan langsung berhenti berdetak. Rasanya seperti tersambar petir disiang bolong. Tubuhnya kaku, matanya bergerak gerak mengamati wajah didepannya.
"Benarkah?" Aurora mengusap wajah itu dengan tangan bergetar. Tak percaya dengan apa yang dipegangnya.
Edward mengikis jarak. Ia mendudukkan Aurora dipangkuannya, kemudian mengecup kening Aurora lama.
Aurora menangis sesegukan saat Edward mencoba memeluknya. Wanita itu memukuli dada Edward melampiaskan kekesalannya.
"Kamu jahat! Kamu jahat sekali. Kenapa kamu tega sekali padaku. Hiks.. hiks.."
Edward mengusap punggung Aurora. Ia sangat merasa sangat bersalah pada istrinya.
"Jangan pergi lagi, kau tau betapa hancurnya hatiku saat aku kehilanganmu?" Aurora masih belum bisa menghentikan tangisannya.
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku."
Edward merebahkan Aurora di bed, lalu menyelimutinya.
"Tidurlah, kamu terlihat sangat lelah sekali. Jangan menangis lagi. Nanti kita bicarakan lagi."
Aurora menggeleng lemah."Tidak aku tidak ingin tidur, aku takut bangun dari mimpi ini. Aku tidak ingin kembali kehilangan suamiku. Jangan menidurkan aku. Aku .. aku takut.."
"Sshhhh, tidak. Jangan takut apa pun itu. Aku tidak akan pergi lagi. Tidurlah, pejamkam matamu. Aku disini menemanimu." Edward mengecup mata Aurora.
Aurora mengeratkan pelukannya seakan takut kehilangan suaminya. Lama lama wanita tidur dalam dekapan Edward yang senantiasa mengusap punggungnya.
"Terima kasih sayang, kamu masih bisa menerimaku dengan baik. Hatimu begitu murni dalam mencintaiku. Kamu mempercayaiku dengan begitu mudahnya padahal aku belum menceritakan apapun padamu. Aku mencintaimu." batin Edward bermonolog.
Setelah Edward memastikan Aurora tertidur dengan begitu lelapnya, Edward beranjak dari bed. Ia mencabut jarum infus yang menempel pada punggung tangan kirinya lalu menuju kekamar mandi. Ia ingin mandi menyegarkan tubuhnya.
Edward keluar dengan tubuh segarnya dan memakai topeng wajah sintetisnya. Ia membuka pintu dan mendapati Kevin dan beberapa bodyguard sedang tertidur. Edward menepuk bahu Kevin pelan.
"Tuan, anda sudah siuman." Kaget Kevin berjingkat.
"Maaf mengejutkanmu. Kevin, aturkan kepulanganku. Selesaikan administrasinya. Kita istirahat dirumah saja. Dan kalian siapkan mobil kami. Aku akan membopong nona."
"Tapi.."
"Jangan membantahku Kevin. Yang tau keadaanku adalah aku sendiri. Diam dan laksanakan perintahku."
Kevin menundukkan wajahnya. Entah kenapa pria itu menggangguk tanpa membantah lagi. Ia segera membalik badan dan menyelesaikan tugasnya.
Sampai di dalam mobil, Edward menyandarkan kepala Aurora di bahunya. Pria itu mengusap lengan Aurora tat kala wanita itu menggeliat. Edward tersenyum kecil melihat wajah damai istrinya yang tak terusik dengan kebisingan di sekitarnya.
Mobil melaju kencang menuju kediaman Aurora. Jalanan masih tampak lenggang karena hari masih gelap, matahari pun belum menampakkan sinarnya.
Edward segera membopong tubuh Aurora begitu mobil berhenti dihalaman rumah Aurora. Ia mengabaikan tatapan anggota GL yang saat itu sedang bertugas.
Edward membaringkan tubuh Aurora perlahan di ranjang besar miliknya. Tak lupa ia menyelimuti dan mengecup keningnya.
"Tidurlah, aku ada urusan sebentar. Aku akan segera kembali."
Usai mengatakan itu, Edward keluar dari kamar Aurora dan segera pergi dari rumah itu. Ia pergi menuju apartemennya, ia ingin membahas sesuatu yang crucial bersama Jingmi.
.
.
Di apartemen Jingmi, tampak pria itu masih bergelung dibawah selimut bersama seorang wanita. Ia tak menyadari jika Edward sudah berdiri di dekat ranjangnya.
Edward mengguncang bahu Jingmi pelan. Pria itu menggeliat dan mengerjapkan matanya. Sontak ia terduduk dan menarik selimutnya tinggi.
Jingmi melotot tak percaya. "Apa yang kau lakukan disini!" seru jingmi tanpa suara.
"Aku ingin bicara padamu. Bisa keluar sebentar."
__ADS_1
Edward bicara lugas. Ia menghiraukan tatapan kesal Jingmi yang terlihat seperti akan mencabik cabiknya.
"Tunggu diluar. Aku akan menemuimu 15 menit lagi."
Edward mengangguk dan berjalan keluar. Ia menuju kamarnya untuk sekedar berganti pakaian. Pria itu juga memasukkan beberapa baju ke dalam tas, ia berniat akan tinggal dirumah Aurora.
Suara ketukan pintu mengalihkan atensinya. Edward berjalan dan membuka pintu. Jingmi berdiri berkacak pinggang. Terlihat jelas wajah kesal dari pria itu. Namun pria itu mengabaikannya.
"Ada apa." tanya Jingmi
Edward kembali duduk dan merapikan barangnya. Jingmi memicingkan matanya, rasanya gemas bukan main. Ia ingin sekali menampol kepala Edward dengan sandal slipper yang dipakainya.
"Duduklah. Kenapa masih berdiri seperti itu."
Jingmi mengalah dan duduk disofa. Ia menunggu Edward berbicara. Ia tahu benar jika Edward sudah bersikap seperti itu, artinya pria itu ingin bicara serius.
"Apa kalian tadi sedang malam pertama."
Jingmi mendelik tak percaya. Kenapa pria itu malah kepo terhadap urusannya.
"Bukan urusanmu!" Ketus Jingmi membuang muka.
"Kau harus menikahinya. Kamu sudah merusak mahkota wanita. Dia masih gadis bukan?"
Edward menoleh menatap Jingmi yang bergeming.
"Aku tidak suka dengan perbuatanmu dude. Aku tau kamu mencintainya, tapi aku tak membenarkan perbuatanmu. Kamu harus segera menikahinya."
"Aku tahu." Jawab singkat Jingmi.
"Dude, mulai hari ini mungkin aku tak tinggal disini lagi. Aku akan tinggal bersama Aurora dan anak anak. Aurora sudah mengetahui penyamaranku. Aku tidak tega membuatnya sedih berulang kali."
"Lalu?"
"Aku akan melakukan rencana yang sudah kita susun. Aurora sudah mengumpankan para Yakusa itu untuk menyerang markas Madam Yora. Hari ini Alex akan melakukan pertemuan dengan Kimura. Aku hanya minta kau tetap mendukungku. Aku butuh serum itu untuk menyembuhkan anaknya yang kini sedang dirawat Aurora. Kimura bukan orang bodoh, pria itu pasti meminta imbalan lebih atas kerja kerasnya. Jadi aku pikir aku ingin memberikan serum itu padanya. Aku merasa sangat kasihan pada anak itu."
"Oke. Lalu apa imbalan untukku? Kau tau bukan harga serum itu sangat mahal?" Jingmi memicingkan matanya.
Edward mengela nafasnya. Kesal tentu saja.
"Apa maumu!"
Jingmi tersenyum licik. Ia menatap Edward penuh arti.
.
.
.
#####
__ADS_1
Tinggalkan ❤❤❤ kalian