
7 bulan berlalu.
Kehidupan mulai berjalan normal. Brian sudah seperti biasanya, menjadi anak ceria dan semangat. Anak itu selalu menemani Aurora kemana pun pergi dan membantu Aurora melakukan banyak hal. Kehidupannya jauh lebih bahagia walaupun tidak ada sosok Edward ditengah tengahnya. Sejak saat itu pula ,ia juga tak pernah menceritakan kejadian sebenarnya tentang Ibu Ayahnya yang tak mengakui dirinya dan mengatakan jika dirinya pembawa sial. Ia takut Aurora kepikiran dan berakibat pada adik adiknya. Ia bahkan sudah memaafkan neneknya, Aurora yang selalu mengatakan untuk tidak menjadi orang yang pendendam. Ia berpikir jika neneknya saat itu sedang khilaf karena banyak tekanan, dan tak bisa berpikir jernih hingga sampai tega hati mengatakan kalimat itu.
Sedangkan Aurora, setelah tujuh bulan berlalu, kini kondisi kakinya telah membaik. Setiap hari ia bekerja dari rumah dan menemani Brian. Perusahaannya sementara dipegang oleh Andy dibantu David dan Kiran. Ia hanya mengecek laporan yang membutuhkan persetujuannya saja. Ia bersyukur memiliki rekan kerja yang solid.
Dan sejak kejadian tujuh bulan yang lalu, perusahaan Edward juga tak mengalami masalah yang serius hingga Aurora harus kembali ke kota itu seperti keinginan ayah mertuanya. Semua bisa dihandle dengan baik oleh Lukas dan Tuan Admaja dibelakangnya, walaupun tidak mendapatkan keuntungan sebanyak jika dipegang Edward, setidaknya perusahaan itu masih berdiri kokoh.
Hal itu juga dikarenakan Alex selalu membantu mereka. Ia tak segan segan menyingkirkan batu sandungan yang akan menghalangi jalan usahanya. Ia bahkan berani mengancam dan membunuh musuh yang tak mau mengikuti keinginannya. Ia tak mau kecolongan lagi.
Sementara Edward, ia masih setia dengan tidur panjangnya. Hanya alat alat medis yang menemaninya, tubuhnya bahkan terlihat kurus. Semua orang menatap iba padanya. Hanya bunda Yuli yang selalu menjenguk Edward sampai saat ini. Wanita tua itu sudah nampak lelah menjenguk putranya yang tak kunjung sadar. Sedangkan Aurora, sejak pamit pada suaminya akan pergi ke luar kota, sampai saat itu pula, ia juga belum menjenguk suaminya lagi. Kandungnya yang tak mengijinkan bepergian jauh.
Hari ini, Aurora bersama Brian memutuskan untuk kembali pulang. Kandungan Aurora memasuki usia sembilan bulan, ia berencana untuk melahirkan dirumah sakit tempat suaminya dirawat.
Setelah mengudara selama satu jam, Aurora dan Brian turun dari pesawat. Senyum Aurora merekah bisa kembali ke kota itu dengan kondisi yang baik. Ia tak sabar segera bertemu suami tercinta.
Disana sudah ada David yang menjemput mereka berdua. Senyumnya merekah melihat Aurora yang sudah kembali pulih.
"Selamat datang kembali nona, Tuan muda kecil. Bagaimana kabar anda? Apa ada masalah selama penerbangan?" tanya David dengan senyumnya.
"Tidak ada, terima kasih sudah menjemput kami. Kita langsung ke rumah sakit. Aku ingin bertemu suamiku dulu." ucap Aurora.
"Baiklah, mari.."
Mereka langsung menuju rumah sakit GL. Hati Aurora berdebar debar ingin segera memeluk dan mencium orang yang paling ia rindukan. Setelah menempuh perjalanan satu jam. Mereka sampai di rumah sakit GL.
Aurora berjalan bersusah payah, kandungannya terasa lebih besar dari ibu ibu hamil lainnya. Ia meletakkan tangan kanannya diperut bawahnya saat perutnya terasa mengencang, ia menghiraukan rasa itu karena sering terasa seperti itu.
Brian menggenggam erat tangan kiri Aurora. Ia juga berdebar debar, takut jika disana ada nenek Yuli yang sedang menunggui daddynya. Ia tak mau membuat Aurora syok.
"David, apa masih jauh.?" tanya Aurora
__ADS_1
"Tidak nona, Tuan ada diruang sebelah sana. Apa anda lelah?" tanya David khawatir.
"Tidak, punggung bawahku hanya sedikit nyeri. Mungkin aku kelelahan." ucap Aurora dengan senyum tipisnya.
Aurora membuka pintu tempat dimana Edward dirawat. Disana ada Kevin yang setia menunggunya. Ia tersenyum hangat menyambut kedatangan Aurora siang itu.
"Selamat datang kembali nona. Bagaimana keadaan anda?" tanya Kevin bahagia.
"Aku baik. Bagaimana keadaan suamiku?"
"Seperti yang anda lihat, masih sama. Baiklah kami akan keluar sebentar. Silahkan anda menemui beliau, mungkin anda sedang ditunggu Tuan. Saya permisi." ucap Kevan dan mengajak David keluar dari ruang itu.
Aurora dan Brian mendekat ke ranjang suaminya. Tiba tiba air matanya mengalir begitu saja. Ia sangat merindukan suaminya ini.
Begitu pula Brian, ia langsung mengecup dahi Edward. Ia menangis melihat kondisi Edward.
"Daddy, kami pulang. Kami melindukanmu,.." ucap Brian sedih.
Aurora menggenggam tangan Edward, ia arahkan kepipinya yang telah basah dengan air matanya.
"Sayang, kau tau.. didalam perutku ini, ada dua anakmu . Apa kau tak ingin menyambut kedatangannya?" Aurora mengarahkan tangan suaminya untuk mengusap perut buncitnya.
"Hei, coba rasakan..!! anak kita merespon. Kamu merasakan bukan tendangannya."Seru Aurora pada suaminya.
"Segeralah sadar, tiga putramu menunggumu bermain. Mereka butuh sosok seorang ayah. Ingat jangan pergi meninggalkan kami. Kau sudah janji pada kami."
Aurora mengusap rambut suaminya . Ia berharap sentuhannya direspon baik oleh Edward, tapi nyatanya masih tetap sama. Edward tetap bergeming.
"Mom, apa daddy akan begini telus? Kenapa tidak sadal sadal?" tanya Brian mengusap air matanya.
"Kita doakan saja. Kita tidak tau rencana Tuhan. Tetaplah jadi anak baik seperti yang Daddy katakan. Dan ingatlah, mom akan slalu menyayangimu walau kelak adik adikmu nanti akan menyita perhatian mom. Jangan berkecil hati, kamu tetap putra mommy."
__ADS_1
"Telima kasih mom, aku menyayangimu."
Aurora tersenyum, ia berharap putra kandungnya akan sama baiknya seperti Brian.
"Mom, apa mom baik baik saja,!?" tanya Brian khawatir. Ia melihat dahi Aurora bercucuran keringat, padahal diruang itu ber-AC.
"Tenanglah, ini hanya sedikit nyeri, tapi tak apa. Mom sudah biasa." ucap Aurora dengan senyum tipisnya.
"Ayo mom, kita peliksa saja. Siapa tau debay mau kelual.." Brian tak percaya begitu saja ucapan mommynya.
"Hei mom baik baik saja. It's ok."
"Ck.." Brian berkacak pinggang. Lalu keluar memanggil David dan Kevin. Ia takut terjadi sesuatu pada Aurora. Ia tak ingin disalahkan lagi.
Kevin dan David berjalan tergesa. Mereka juga takut terjadi sesuatu pada Aurora.
"Nona ada apa? apa yang anda rasakan? apa anda akan melahirkan.?" tanya David panik.
"Entahlah, aku juga tidak tau. Punggung bawahku terasa nyeri, tapi hilang timbul. Biasanya sih juga begitu. Jangan khawatir aku baik baik saja."
"Mom!!" Brian tak suka bila momnya mengatakan baik baik saja padahal sedang menahan sakit.
"Baiklah, mom turuti keinginanmu. Ayo Kak Ian antarkan mom ke dokter kandungan." ucap Aurora menggoda Brian.
Brian menyebikkan bibirnya. Tak suka jika Aurora memanggilnya Ian. Tapi ia tetap menggandeng tangan Aurora keluar dari ruang perawatan Daddynya. Ia ingin segera memastikan jika keadaan momnya baik baik saja.
"Ah anak ini memang sulit dipercaya." gumam David berjalan dibelakangnya.
.
.
__ADS_1
.
####