Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
S2-14


__ADS_3

Dua hari kemudian, keadaan Tuan Erik semakin membaik walau masih dalam proses pemulihan. Tak sangka saja, serum penawar itu bekerja lebih cepat dari yang diperkirakan.


Saat ini Alex sedang melihat keadaan ayahnya dari ambang pintu. Pria itu hanya ingin memastikan jika keadaan ayahnya baik-baik saja.


"Kemari Lex." ujar Tuan Erik.


"Aku harus pergi. Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi. Aku harap ayah tidak berulah selama aku belum pulang." kata Alex yang terdengar datar.


"Kamu mau kemana, bisa bicara sebentar."


"Tidak bisa. Aku sudah ditunggu Tuan muda di Bandara." tolak Alex seraya melirik jam di pergelangan tangannya.


"Reyhan di bawa Darion, Alex. Kamu harus segera mencarinya."


Deg.


Darion? Jadi ... DN Darion?BangSat!


"Katakan, dimana dia membawa putraku!" Alex mendatangi ayahnya gusar.


"Ayah tidak tahu." sesal Tuan Erik


Alex menekan gerahamnya, tidak banyak kata, pria itu berbalik badan dan pergi meninggalkan ayahnya begitu saja. Pria itu harus segera sampai Bandara.


Sampai di dalam pesawat, Alex terkejut melihat banyak anggotanya yang ikut dalam penerbangan, tapi melihat Edward yang duduk serius menatap MacBook di pangkuan, membuatnya yakin jika akan melakukan sebuah misi.


Tapi apa?


"Duduklah Lex. Ada hal penting yang harus kamu tahu." ujar Edward. Pria itu menyerahkan benda pipih itu pada Alex usai pria itu duduk.


"Informan kita sudah menemukan jejak Reyhan. Putramu dibawa ke Bangkok."


"Benarkah!" Alex tentu saja terkejut, baru saja dirinya mengetahui jika putranya dibawa Darion, sekarang pria itu diberitahu keberadaan putranya. Berita bagus bukan. Sedikit demi sedikit, masalahnya akan mengurai dengan sendirinya.


"Ya. Sebaiknya kamu baca dulu, setelah itu aku akan menjelaskan misi hari ini."


Alex mengangguk, segera saja pria itu dengan serius membaca kalimat demi kalimat dalam macbook itu. Dadanya berdegup tak karuan, emosi mulai menguasai otaknya, tapi masih ia paksa untuk tetap tenang.


"Kurang ajar. Manusia itu memang harus dikasih mati."


Edward terkekeh, ia suka Alex yang seperti ini.


"Ya kamu benar, aku sudah siapkan umpan yang baik kali ini. Aku tak ikut campur masalahmu, aku akan fokus penyelamatan Reyhan saja. Dua orang itu aku serahkan padamu."


"Anda membawa Darius?"


"Tentu saja. Memang siapa lagi? Sudah saatnya mereka berdua berhenti membuat kekacauan. Selesaikan hari ini juga."

__ADS_1


Alex tersenyum miring. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Dalam hati, ia merasa senang karena Edward mau turun tangan membantunya.


Perjalanan kurang lebih 4 jam itu, mereka habiskan dengan membahas misi bersama anggota GL yang ikut dalam penerbangan. Alex yang akan memimpin misi ini.


Usai pesawat mendarat, mereka semua langsung menuju titik dimana pasukan khusus itu sedang menunggu.


.


.


"Bos! Bos! Gawat Bos!" seru anak buah Darion berlari menghampiri Darion yang sedang menyuapi Reyhan dalam pangkuannya. Pria itu terlihat asyik dan mengabaikan anak buahnya.


"Bos!"


"Diam. Apa kamu buta aku sedang apa!" Darion melanjutkan kegiatannya.


"Mereka menuju kesini Bos. Kita harus segera pergi."


Darion terdiam. Menatap anak buahnya dengan pandangan mengerikan.


"Bodoh! Mereka sudah mengintai pergerakan kita, tapi kalian tak menyadarinya!! Apa pekerjaan kalian hah!"


"Maaf Bos. Sebaiknya kita segera pergi."


Darion mengangguk. Pria itu kemudian menggendong Reyhan dan segera berlari menuruni anak tangga.


"Baik paman. Apa mereka jahat?" tanya Reyhan dengan bahasa imutnya.


"Iya. Mereka orang jahat. Mereka sudah menculik adik paman dan sekarang ingin menculik kamu."


Reyhan semakin mengeratkan pelukannya. Anak itu tentu saja ketakutan.


"Berhenti!"


Seketika langkah Darion terhenti. Beberapa pasukan khusus menodongkan senapan serbu kearahnya.


Gawat!


"Serahkan Reyhan atau hidup adikmu berakhir saat ini juga!" Ancam Alex seraya menekan ujung pistol di kepala Darius.


Dua kakak beradik itu saling pandang.


"Jangan kamu kira aku juga tak mampu melakukan itu." Darion juga menempelkan senjata api itu pada Reyhan.


"Paman,." ujar Reyhan lirih. Anak itu sudah mulai ketakutan.


"Diamlah, kamu akan baik-baik saja selama bersama paman. Mereka mau mengambilmu." bisik Darion.

__ADS_1


Alex menahan geram. Pria itu sedang berada pada posisi sulit. Salah-salah, bisa melukai putranya sendiri.


"Kembalikan putraku baik-baik maka aku akan mengampunimu, Darion!"


"Tidak akan. Bebaskan Darius dulu!"


Ketika dua orang itu sedang bernegosiasi, Edward dengan fokusnya membidik Darion dari tempat tersembunyi. Pria itu akan langsung melumpuhkan lawannya dengan menembak kepalanya.


"Lepaskan atau kau akan berakhir sia-sia Bodoh!" teriak Alex.


DOR


DOR


Reyhan seketika terjatuh. Bukan. Bukan Reyhan yang terkena peluru itu, melainkan Darion dan Darius. Dua orang itu tergeletak bersamaan. Edward menembak Darion, sedangkan Alex yang menembak Darius. Keduanya mati tanpa perlawanan.


Reyhan menjerit ketakutan. Anak itu menangis histeris.


Alex segera menggendong anak itu menjauh. Takut terkena tembakan tentunya.


"It's oke boy. Jangan menangis. Ini ayah, ayah datang menyelamatkanmu." ujar Alex yang masih berusaha menenangkan anak itu.


"A..ayah.." cicitnya sambil menangis.


Alex memeluk anak itu seraya membisikkan kalimat penenang. Nyatanya,anak itu juga tak berhenti menangis.


Perasaan Al dan El tidak seperti ini.


"Lex, berikan padaku. Aku tunggu di hotel, kamu selesaikan urusan disana."


Alex mengangguk patuh. Pria itu menyerahkan Reyhan dengan hati-hati.


"Tunggu ayah, sebentar lagi ayah akan menemui mu. Berhenti menangis, okey boy."


Edward membawa Reyhan menuju mobil yang menunggunya. Pria itu dengan tenang memangku anak Alex dan membersihkan tubuh Reyhan dengan tissue.


"Tidak apa-apa boy. Sudah, berhenti menangisnya. Apa kamu mau es krim."


Reyhan hanya mengangguk, anak itu memandang wajah Edward sebentar lalu memeluknya.


"Anak pintar."


.


.


.

__ADS_1


#######


__ADS_2