
"Bagaimana Ma, kapan Aurora akan pulang?" tanya Tuan Hardy pada istrinya.
"Tidak tau Pa, Aurora tidak mengatakan apapun."
"Apa terjadi sesuatu diperusahaan Pa, kenapa Papa menanyakannya? ingat putrimu sudah bersuami.Jangan mengganggunya dulu."
"Hah, sebenarnya bukan ada atau tidak ada masalah. Diperusahaan sedang ada banyak sekali jadwal meeting dengan perusahaan asing, dan mereka meminta untuk tidak diwakilkan. Entah apa yang dilakukan anak itu disana, baru beberapa hari menikah dengan Edward sudah banyak yang mengajukan kontrak kerja sama." ucap Tuan Hardy sambil menyeruput kopi buatan istrinya.
"Benarkah..! Apa Andi tidak bisa menggantikan Aurora?"
"Bukan tidak bisa Ma, tapi mereka tidak mau."
"Aneh, mereka mau kerja sama apa mau kenalan dengan Aurora. Ah kasian sekali Aurora, setelah pulang nanti dia harus melakukan perjalanan bisnis keluar negeri lagi. Lagian ini juga salah Papa..!"
"Lah..kenapa jadi Papa yang disalahkan?"
"Lalu mama harus menyalahkan siapa? Dulu Papa yang melarang mama hamil lagi kan.. Kalau saja kita punya dua anak kan bisa membantu Aurora."
"Sekarang katakan sama Papa, apa mama mau hamil lagi? kalau iya ayo kita kekamar lagi. Kita buatkan adik untuk putri kita. Berudu Papa masih bisa membuahi ovum mama. Ayo, Papa jadi semangat..!" ucap Tuan Hardy yang menggoda istrinya.
Mama Riyanti langsung mendelik dan mencubit pinggang suaminya.
"Papa..belum tau rasanya cubitan kepiting ya.. Nih rasakan...!!" desis Mama Riyanti
"A..a..a..a..ampun Ma..sakit ma, lepaskan ma..!" seru Tuan Hardy dan sesekali menertawakan istrinya.
"No rations for tonight, got it ..!!"
" Tidak. Kasian koboy ku Ma, sudah seminggu dia kedinginan diluar gara-gara sarangnya kebanjiran. Ini sarangnya sudah kering, malah tak diijinkan masuk. Kasian Mama.." ucap Tuan Hardy memelas.
"Biarin, ..!" ketus mama Riyanti
"Apa mama rela kalau koboy Papa pindah sarang yang lebih kecil dan lebih hangat..?!" goda Tuan Hardy.
"Awas ya, kalau Papa macam macam. Bakal tak potong koboy Papa terus mama gantung dihalaman depan biar jadi makanan serangga." ancam mama Riyanti
"No mama, papa cuma minta satu macam,..dan mama pasti tau." ucap Tuan Hardy dengan seringainya.
Mama Riyanti yang tau gelagat suaminya berinisiatif lari menuju dapur. Naas, belum sempat melangkahkan kakinya, tubuhnya sudah melayang dalam bopongan suaminya.
"Papa....!!!!" teriak mama Riyanti
"Ssstttt ....! jangan teriak teriak,atau Papa akan menciummu disini."
Alhasil kalimat ajaib itu langsung membungkam teriakan istrinya. Tuan Hardy tersenyum kemenangan. Ia berhasil memperdaya istrinya.
__ADS_1
"Hahaha..."
.
.
Diperusahaan Hardy's Company, Andi sang wakil CEO berkacak pinggang sambil menatap tajam karyawannya. Ia geram karena merasa disepelekan bawahannya. Mereka menganggap Andi tidak sekompeten Tuan Doni yang dipindah tugaskan.
"Tutup mulutmu...!! Sekali lagi kau berbicara kurang ajar kepadaku, aku pastikan besok kau tak bisa membuka mulutmu kembali..!" kecam Andi.
Orang orang yang mendengar bentakan wakil CEO mereka langsung menundukkan kepalanya. Mereka sangat menyayangkan keberanian rekannya yang dengan berani menjatuhkan nama baik Andi didepan wajahnya langsung. Benar benar cari mati menurut mereka.
"Maaf Tuan, saya hanya mengkritisi kinerja anda dalam memimpin perusahaan. Saya bekerja diperusahaan ini jauh lebih lama dari pada Anda. Saya tahu betul, langkah apa yang harus dilakukan perusahan untuk mengatasi masalah ini. Anda belum lama menjabat diperusahaan ini, sebelumnya anda bahkan belum pernah terjun langsung di perusahaan, anda hanya seorang artis. Lihatlah ijazah terakhir anda Tuan. Broadcasting and Entertainment, apakah cocok dengan pekerjaan anda Tuan??!" sindir pria tua itu.
Nafas Andi menderu mendengar pernyataan bawahannya. Matanya memerah menahan amarah yang ingin diluapkan. Tangannya mengepal erat hendak meninju pria tua itu. Suasana tiba tiba hening saat Tuan Hardy masuk ruang rapat dengan wajah dinginnya.
Tuan Hardy mengetahui perdebatan itu dari asistennya, ia begitu geram karena ada hubungan tidak sehat dalam tubuh perusahaan. Ia yang melahirkan dan membesarkan perusahaan ini, ia tidak akan membiarkan adanya perpecahan ditubuh perusahaan. Tuan Hardi duduk dikursi kebesaran milik Aurora.
"Katakan yang terjadi..! Apa orang berpendidikan harus bersikap seperti brandalan..! Katakan masalahnya padaku..!!" tegas Tuan Hardy yang menatap tajam semua pemilik mata dalam ruang rapat itu.
Andi menyenderkan kepalanya dan memejamkan matanya. Entah apa yang akan dijelaskan pada pamannya itu.
Salah seorang Kepala Bagian Pemasaran mencoba memberi tahu duduk masalahnya pada Tuan Hardy. Sedikit takut karena mendapatkan tatapan tajam dua orang yang berselisih.
"Begini Tuan Besar, siang ini memang diadakan rapat bulanan untuk evaluasi. Kepala Bagian Produksi melaporkan adanya cacat pada barang yang dikirim ke luar negeri. Mereka mengeklaim kerusakan tersebut , minta dibayar murah atau diganti yang baru. Tapi kalau ganti yang baru, mereka tidak mau membayar biaya akomodasinya. Kami belum mengetahui sebab kain satu kontainer itu bisa cacat dalam pengiriman. Padahal semua kain sudah terkemas dengan rapi dan aman. Kepala Bagian Produksi meminta saran dari wakil Ceo, dari hasil perhitungannya dibayar murah atau diganti baru sama sama merugikan perusahaan dalam jumlah besar." ucap Pria itu sambil melirik Andi yang masih menatapnya.
"Wakil Ceo menyarankan untuk menarik kain yang cacat kembali kepabrik dan menggantikan dengan yang baru. Dengan alasan, kain kain itu masih bisa didaur ulang menjadi pakaian pakaian branded, karena cacatnya kain bukan karena proses pemintalan, tapi karena noda. "Noda masih bisa diperbaiki dengan pewarnaan kembali , kita punya garment, kenapa tidak dimanfaatkan", begitu katanya. Alasan lain karena menurut beliau, ini adalah sabotase entah siapa yang melakukannya. Kalau dijual murah kepada mereka, mereka yang untung karena mendapat bahan murah dari kita. Mereka bisa saja sepemikiran dengan wakil ceo. Lalu perusahaan ini yang rugi besar. Menurut beliau, lebih baik rugi sedikit dipengiriman daripada memberikan keuntungan besar pada lawan." ucap Pria itu dan melirik lagi kearah Andi takut takut.
"Teruskan..!" perintah Tuan Hardy yang diam diam tersenyum mendengar cara berpikir keponakannya itu.
" Manajer keuangan tidak menyetujui saran yang diberikan wakil CEO, karena nilai bahan satu kontainer 40 feet yang berisi 1542 Roll kain mencapai nilai 13 miliar belum ditambah biaya masuk dan pajak lainnya sekitar 2 miliar. Kalau bahan tersebut ditarik dan diganti yang baru akan menghabiskan dana perusahaan sebesar 18 miliar ditambah barang cacat 13 miliar. Jadi perusahaan akan menanggung kerugian bulan ini sebesar 31 miliar. Bagaimana dengan dana untuk gaji buruh dan karyawan. Padahal uang itu bisa digunakan untuk menggaji mereka. Lebih baik dijual murah 7 miliar daripada perusahaan rugi 31 miliar. Perusahan masih mendapat pemasukan 7 miliar daripada tidak sama sekali." ucap Pria itu menjelaskan.
Tuan Hardi tampak berpikir serius dan menganggukkan kepalanya. Ia juga senang dengan pemikiran kritis manajer keuangan.
"Lanjutkan..!" perintah Tuan Hardy
"Begini Tuan.." ucap manajer keuangan yang ingin melanjutkan penjelasan.
"Diam. Biarkan dia menjelaskan padaku..!" tegas Tuan Hardy.
"Baik Tuan." ucap manajer keuangan menunduk.
"Manajer keuangan mencemooh wakil CEO tentang kepemimpinannya dan riwayat pendidikannya, katanya Tuan Andi hanya lulusan Broadcasting and Entertainment, beliau merasa tidak pantas menjabat sebagai wakil ceo karna sebelumnya beliau adalah artis yang sama sekali belum pernah terjun dalam perusahaan. Manajer keuangan mengkritik kinerja Tuan Andi. Karena manajer keuangan berpedoman dengan kebijakan lama yang sudah ada jika terjadi masalah dalam perusahaan. Sedangkan Tuan Andi membuat gebrakan baru dalam perusahaan dengan mendaur ulang kain cacat dengan menyulapnya dengan teknologi yang ada, bisa dengan pewarnaan atau textil painting, itu akan menghasilkan nilai lebih menurutnya." ucap Pria itu.
"Aku sangat menyayangkan atas kejadian siang ini, ini bisa dibicarakan baik baik. Jangan saling mencemooh orang lain. Akan aku jelaskan, pertama , wakil ceo kita pendidikan terakhirnya bukan di Broadcasting and Entertainment, memang benar dia pernah kuliah di jurusan itu sampai S1, tapi dia meneruskan pendidikan S2 nya di universitas Harvard Business School mengambil jurusan manajemen. Dia adalah lulusan terbaik tahun itu. Jadi jangan meragukan kemampuannya." ucap Tuan Hardy
__ADS_1
Para peserta rapat dibuat terkejut mendengarkan penjelasan Tuan hardy. Sebagian dari mereka menunduk malu, sebagian merasa bangga .
"Kedua, sebelum memutuskan menjadi artis, Wakil CEO pernah menjabat sebagai wakil CEO juga di perusahaan Bain & Company, merupakan perusahaan konsultan manajemen yang masuk 3 besar di Inggris . Jadi jangan meragukan kemampuannya dalam memanajemen perusahaan. Aku bahkan mempercayainya." ucap Tuan Hardy
"Yang disampaikan Manajer keuangan juga tidak sepenuhnya salah, karena beliau sudah lama bekerja di perusahaan ini. Beliau juga bisa memperhitungkan keuntungan dan kerugian perusahaan dalam setiap transaksinya. Yang jadi masalah disini adalah, manajer keuangan masih meragukan kemampuan wakil ceo karena belum tau latar belakangnya, benar begitukan??" tanya Tuan Hardy
"Benar Tuan."
"Tuan Kusnendar, kita sudah tua...sekarang waktunya anak anak muda yang berkarya. Kita hanya bisa menasehati , membimbing dan membantunya. Biarkan anak anak muda memberikan gebrakan terbarunya. Mungkin jika saya yang masih memimpin perusahaan ini, saya akan menyetujui pendapat anda, karena kita satu pemikiran. Maafkan keponakan saya jika menyinggung anda." ucap Tuan Hardy
"Maafkan saya Tuan, saya cuma tidak ingin terjadi masalah kedepannya. Saya sudah ikut perusahaan ini puluhan tahun, saya hanya menjaganya agar tetap berjaya dan tidak mengalami kebangkrutan. Maafkan saya Tuan Andi, harusnya saya lebih bijaksana." ucap Tuan Kusnendar sang manajer keuangan.
"Maafkan saya juga Tuan, saya terlalu emosi karena ada yang berani merendahkan saya tanpa mencari tahu dulu latar belakang saya."
Skak mat.
Senyum sinis Andi pun terbit, ia sudah geram mendengar ejekan manajer keuangan, akhirnya bisa menunjukkan taringnya tanpa dia harus repot-repot menjelaskan.
"Sekarang Tuan Andi, bisa anda jelaskan, darimana perusahaan akan mendapatkan suntikan dana untuk menutupi kerugian perusahaan? Terus terang saya juga sangat tertarik dengan ide anda." ucap Tuan Hardy.
"Begini Tuan Hardy, kebetulan perusahaan kita sedang mendapatkan banyak tawaran kerja sama dari perusahaan asing. Dana itu nantinya bisa digunakan untuk menutupi kerugian perusahaan dan biaya produksi. Saya berencana untuk menyulap bahan cacat itu menjadi busana pesta.
Saya akan menggandeng desainer dan perusahaan perusahaan pakaian sponsor saya waktu menjadi artis untuk membantu mempromosikan.
Kita juga bisa mendapatkan keuntungan dari bisnis baru ini. Dan membantu pemerintah mengurangi pengangguran.
Ini akan menjadi daya tarik tersendiri dan menambah inkam perusahaan tentunya."
Prok..prok..prok...
Semua orang bertepuk tangan dengan ide Andi. Tuan Hardy mengulas senyum tipis, bangga terhadap keponakannya.
"Baiklah, rapat kita akhiri. Diskusikan dengan bagian produksi dan pemasaran . Dan Tuan Kusnendar tolong awasi keuangan perusahaan. Saya percaya padamu. Andy, apa kau juga akan menjadi modelnya?" tanya Tuan Hardy
"Bila diijinkan, dengan senang hati saya akan melakukannya." ucap Andy dengan senyum lebarnya.
"Terserah kau saja, yang penting masalah perusahaan selesai."
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, like and komennya guys. Thank you ❤