
Setelah pulang dari rumah sakit,
Al semakin protektif saja. Ia tidak membiarkan Ajeng melakukan apapun sebelum
usia kandungannya mencapai empat bulan. Dika kembali ke Jogja setelah Ajeng sudah
membaik, sedangkan masalah mama Renna dan papa Adi harus terlupakan dulu untuk
beberapa waktu sampai al mengijinkan Ajeng kembali beraktifitas, ia hanya butuh
keterangan dari dokter yang menyatakan kalau dia boleh beraktifitas seperti biasa.
Hari ini tepat usia kandungan ajeng
menginjak usia empat bulan, perutnya yang rata sudah mulai terisi walaupun jika
tidak di lihat secara detail tidak akan kelihatan. Tapi baju-baju Ajeng sudah
berganti dengan baju-baju yang longgar, ia tidak lagi mengenakan celana,
sekarang Ajeng memakai dress selutut.
“Bagaimana kata dokter nak?” tanya
mama Renna setelah melihat Ajeng dan Al baru saja pulang dari periksa kandungan.
‘kata dokter, Ajeng sudah boleh
beraktifitas seperti biasa ma, iya kan mas?” tanya Ajeng pada Al yang sebenarnya
tidak begitu ikhlas membiarkan istrinya beraktifitas seperti biasa, karena ia
tahu bagaimana aktifitas istrinya biasanya, istrinya paling tidak bisa diam.
“Iya …, tapi tetap dengan batas yang
wajar kan!”
“Iya …, nggak mungkin lah mas, ajeng
manjat pohon atau genteng!”
“bagus …., kalau begitu lusa mama
mau ngadain acara syukuran empat bulanan, sekalian mau ngundang bapak sama ibuk
kamu!”
“Tapi ma …!”
“ada apa sayang?”
“Papa?”
“tanpa papa!”
Ucapan mamanya yang tegas tentang
keberadaan papa nya membuat al terpancing untuk bertanya, selama ini ia hanya
diam dan menunggu wanita yang telah melahirkannya itu untuk bicara, tapi tetap
saja tidak ada yang mamanya katakan walaupun ia sudah sangat curiga tentang
papanya yang tak pernah pulang.
“Ma …, sebenarnya ada apa?” tanya Al
membuat mama Renna dan Ajeng terdiam.
“Tidak ada mas, papa kan sedang di
luar kota makanya mama nggak mungkin nunggu papa pulan, iya kan ma?”
“Iya sayang!”
“kalian tidak menutupi apapun sama
Al kan?”
__ADS_1
“Ajeng capek mas, bisa anter Ajeng
istirahat!”
“Iya …, ayo kita ke kamar!”
Setelah mengajak Ajeng ke kamar, al
segera mengganti pakaiannya seperti hendak pergi,
“Mas Al mau kemana?” tanya Ajeng
yang penasaran.
‘Mas ada urusan sebentar, kamu mau
apa? Pumpung mas keluar biar mas cariin!”
‘sebenarnya ajeng pengen banget buah
kedondong! Tapi kayaknya sulit, nggak usah aja deh mas!”
“Pasti mas cariin, ya udah mas pergi
dulu ya. Assalamualaikum!”
‘Waalaikum salam!”
Entah apa yang di kerjakan al, tapi
ia begitu sibuk. Hingga menginjak usia kandungan Ajeng yang ke empat bulan ini,
Al sampai menyuruh Dika untuk pulang beberapa bulan. Ia meminta Dika untuk
bekerja dari rumah saja, perusahaannya juga tidak terlalu besar jadi tidak
membutuhkan waktu banyak di kantor, tugas Dika hanya mengecek keuangan,
pengeluaran dan pemasukan selebihnya sudah ada yang handle.
Setelah memastikan semuanya
percetakan abangnya yang di Blitar dan sesekali mengurusi urusan desain milik
ajeng.
🌺🌺🌺🌺
Pagi ini ajeng berencana keluar
rumah, ia sudah minta ijin pada suaminya. Sebenarnya ijinnya untuk ke
percetakan tapi sebenarnya ada hal lain yang ingin Ajeng kerjakan. Kali ini
ajeng tidak pergi dengan motor karena motor di larang keras di pakai oleh ajeng
selama hamil. Ajeng pun akhirnya memilih memesan taksi online.
“Taksi atas nama mbak ajeng!”
“Iya …, itu saya mas!” ajeng pun
segera masuk ke dalam taksi, ia mengeluarkan secarik kertas dari tasnya dan
menunjukkannya ke sopir taksi online.
“Kita ke alamat ini ya mas!”
‘baik mbak!”
Setelah satu jam akhirnya taksi yang
di tumpangi Ajeng sampai juga di depan rumah seseorang. Tapi Ajeng terkejut
saat melihat mobil seseorang di sana.
“Itu kan mobil Dika, jangan-jangan
Dika cari masalah ya!” ajeng pun bergegas untuk turun setelah menyerahkan
__ADS_1
uang pada sopir taksi. Ia dengan cepat menghampiri mobil itu, Ajeng melihat ke
dalam mobil, tapi ternyata mobil itu sudah kosong. Tak jauh dari tempatnya
berdiri sekarang ia melihat dua orang yang sedang berdebat.
“Dika …, Rita …!”
Ajeng pun segera menghampiri mereka,
tapi sepertinya mereka tidak menyadari kedatangan ajeng.
“kamu sama ibu kamu memang sama!’
“Kamu nggak berhak ya ngomong buruk
tentang ibu aku, semua tidak seperti yang kamu tuduhkan!”
“Buktinya sudah cukup, jangan
memungkirinya lagi!”
“Kamu memang tidak pernah bisa
melihat bagiamana perasaanku padamu, makanya kamu terus saja mencari
kesalahanku! Di hatimu Cuma ada Ajeng, ajeng dan ajeng saja!”
‘Ini tidak ada hubungannya dengan
Ajeng, jangan mengalihkan pembicaraan!”
Mendengar perdebatan itu, membuat
Ajeng tercengang di tempatnya. Ia tidak menyangka jika ternyata selama ini Rita
masih merasa cemburu padanya walaupun kini ia sudah punya seorang suami.
“ada apa ini?” pertanyaan seseorang
yang berada tepat di belakang ajeng membuat dua manusia yangs edang berdebat
itu menghentikan perdebatannya dan menoleh pada sumber suara, begitupun dengan
Ajeng, ajeng segera menoleh ke belakang.
“Papa Adi!” ucap Ajeng.
“Papa!”
“Om Adi!”
Ucap Dika dan Rita bersamaan, kali
ini mata Dika dan Rita mengarah pada wanita yang ada di depan papa Adi.
“Ajeng!” ucap Dika dan Rita
bersamaan lagi.
“Ada masalah apa ini, jika ada
masalah diselesaikan di dalam. Kalian nggak malu apa jadi tontonan warga? Ayo
masuk!”
Mau tak mau mereka pun masuk bersama
papa adi setelah melihat sekeliling mereka ada banyak orang.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰😘😘
__ADS_1