
Sementara itu, terlihat hiruk pikuk terjadi di markas GL. Mereka sedang melakukan persiapan untuk keberangkatan nanti malam. Pesawat kargo berlogo GL baru saja mendarat dan sang co pilot telah membuka bagasi belakang untuk segera di isi muatan.
Edward memandang dari jauh para anggotanya yang sedang memasukkan berbagai jenis senjata ke dalam pesawat yang akan di terbangkan nanti malam. Matanya begitu awas mengamati gerak gerik para anggotanya.
Di tempat lain, Alex sedang memberikan briefing kepada mereka yang akan ikut dalam misi di sebuah ruangan khusus. Pria itu terlihat sangat serius saat memberikan pengarahan di layar proyektor.
Semua anggota mengangguk mengerti. Mereka bahkan terlihat tak sabar menantikan esok hari. Mereka pikir, ini adalah waktu yang tepat untuk membuktikan hasil kesungguhan saat latihan selama ini.
Pasukan khusus yang biasanya hanya terlibat dalam kasus kasus besar, mereka juga ikut dilibatkan meski tak semua karena mereka juga harus melindungi keluarga King dan Queen mereka.
Petugas IT ikut di buat sibuk. Mereka berdua sedang mengajari Selly dengan kode-kode rahasia yang harus dihafal jika kesulitan mengakses. Bahkan mereka juga memberikan sebuah alat pengacau radar pada wanita itu. Mereka berdua juga akan ikut memantau dari pacaran satelit. Selly menghargai itu dan sangat berterima kasih pada mereka berdua.
Ketika hari mulai beranjak malam, Jingmi datang bersama asistennya membawa sebuah kotak putih di tangannya. Dua pria itu tersenyum tipis dan berjabat tangan dengan Edward yang saat itu tengah menunggu di ruang kerjanya.
"Ini yang kamu butuhkan. Aku membawa seperti permintaanmu, serum anti racun. Aku harap serum-serum ini akan berguna untuk kalian."
"Apa yang kamu katakan dude, tentu saja ini akan sangat berguna. Terima kasih, sekali lagi aku akan merepotkanmu."
Edward mengambil benda itu dan meletakkan di lemari pendingin.
"It's oke. Asal sesuai dengan bayarannya."
Edward menghiraukan perkataan Jingmi, ia ikut duduk di seberang Jingmi yang tampak menyalakan rokok dengan gaya santainya.
"Dimana wanita itu sekarang." tanya Edward mengikuti apa yang dilakukan Jingmi.
Jingmi menaikkan sebelah alisnya sambil mengepulkan asapnya ke udara.
"Wanita mana yang kau maksud dude."
Edward berdecak.
"Tentu saja madam Yora dan anak buahnya!" ujar Edward pelan.
Jingmi menyeringai kecil. "Aku pikir kau membicarakan wanitaku."
Edward terkekeh pelan melihat seringai Jingmi. Chen pun hanya tersenyum tipis.
"Tenang saja, mereka masih aman di negara ini. Aku telah mengunci dan memasukkan mereka dalam daftar hitam agar mereka tak bisa kembali ke Honduras. Kalian bisa terbang dengan aman malam ini. Aku akan menyelesaikan urusan yang ada disini jika mereka berbuat ulah. Huh, sayang sekali keberadaan mereka sangat sulit di lacak. Entah mengapa mereka juga tak membuat pergerakan lagi."
Jingmi terlihat kesal saat membicarakan madam Yora. Dalam benak Jingmi, apakah mereka memiliki teknologi khusus yang tidak milikinya?, tapi teknologi yang seperti apa? mungkinkah mereka mempunyai ilmu menghilang atau malah bisa membuka pintu vorteks ke dunia lain atau bahkan mereka sebenarnya adalah siluman. Ia sampai tak habis pikir dengan wanita licik itu. Bisa bisanya mereka licin seperti belut.
"Dude, apa kau akan ikut ke Honduras?"
"Jika Aurora mengijinkan." jawab Edward seadanya.
Jingmi mengangguk. "Percayakan saja dengan Alex, dia bisa diandalkan. Lagi pula kau sudah memberi strategi perang bukan? Kalian bahkan juga membawa banyak senjata berbahaya, aku rasa itu sudah cukup apalagi hanya untuk menghancurkan kelompok tak seberapa itu."
Edward menyeringai, sepertinya pria di depannya belum tahu wilayah mana saja yang akan di bumi hanguskan oleh mereka.
"Kamu akan terkejut setelah mengetahuinya. Bukan hanya markas, tapi juga termasuk usaha ilegal yang dikelolanya."
"Wow, kau akan berurusan dengan banyak masalah jika begitu. Berhati hatilah. Aku akan mengatur keberangkatan dokter Jun untukmu. Kau harus membawanya ikut serta, aku khawatir dengan kesehatanmu."
__ADS_1
Edward mengangguk. "Terima kasih, kau selalu bisa aku andalkan. Padahal dulu kita tak pernah begitu dekat."
"Sudah takdir kita, sekarang kita bahkan akan terhubung sebagai keluarga."
Tak lama kemudian, Alex masuk dan sedikit menundukkan kepalanya memberi salam pada Jingmi dan Chen. Pria itu kemudian berjalan mendekati Edward dan membisikkan sesuatu di telinganya. Edward mengangguk menanggapi. Setelah itu Alex pamit undur diri dari ruangan itu.
Jingmi menaikkan dua alisnya, seperti penasaran dengan sesuatu yang dibisikkan oleh Alex, tapi ia berpura-pura acuh.
.
.
Di tempat Aurora berada, wanita itu tampak serius mengamati layar monitor dari pusat kendali cctv di rumahnya. Wanita itu membuka semua cctv markas dan ikut melihat kegiatan yang ada di tempat itu. Bukan memata matai suaminya, tapi ia hanya ingin memastikan jika semua berjalan dengan baik.
"Mom. Lihatlah!" Seru Brian saat ia tak sengaja membuka cctv di landasan pacu tempat pesawatnya berada.
"Bukankah itu jet pribadi milik Black dragon?" celetuk Brian memperbesar tampilan gambar.
Aurora terdiam mengamati pesawat dengan logo naga berwarna hitam sudah mendarat dengan selamat.
"Kamu benar. Itu milik Black Dragon." gumam Aurora.
Untuk apa Aldi datang kemari, apa ada urusan pekerjaan? oh! atau dia diminta kak Edward kemari. Menyebalkan! jika Al dan El tau pasti mereka ribut lagi.
"Mom."
"Apa Dad akan ikut penerbangan malam ini?" tanya Brian
"Apa yang kamu harapkan hem?"
Brian menggeleng.
Aurora tersenyum. "Apa kamu ingin ikut?"
Mata Brian seketika berbinar mendapat pertanyaan dari Aurora, tapi tiba-tiba anak itu menunduk dan menggeleng pelan.
"Tidak mom, aku tidak ingin ikut. Aku tidak ingin menyusahkan mereka, tapi aku berjanji akan membantu mereka dari rumah."
"Anak pandai. Baiklah, sekarang pergilah ke kamarmu."
Brian mengangguk dan mengecup pipi Aurora sebelum beranjak. Aurora menghela nafasnya, dan melanjutkan kegiatannya.
Aku pikir setelah suamiku kembali, keadaan akan normal seperti sedia kala. Ternyata tidak seperti yang aku harapkan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Edward telah kembali dari markas. Pria itu sekarang sedang mencari istrinya untuk membujuk agar mengijinkannya ikut dalam misi.
"Dimana istriku." tanya Edward sesaat ketika berpapasan dengan Kevin. Kevin menghentikan langkahnya dan menatap rumit pria di depannya.
"Istri?" beo Kevin menatap Edward berkerut kening.
"Emm, maksudku Nona Aurora." tanyanya sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oh, ada di lantai 3 Tuan Felix. Sejak tadi beliau masuk ke ruang cctv dan belum turun."
__ADS_1
Edward mengangguk dan berlalu begitu saja. Sedangkan Kevin menatap punggung Edward hingga hilang di balik pintu lift dengan heran. Pria itu masih menerka nerka tentang hubungan asmara yang sedang dijalin Aurora.
"Kenapa nona menjalin hubungan dengan pria beristri? mungkinkah jika nona tidak tahu? tapi masa iya, sepertinya juga tidak mungkin."
Sampai di depan ruang kendali cctv, Edward lagi lagi menghentikan langkahnya saat melihat 2 orang yang bertugas di dalam ada di depan pintu ruangan itu.
"Kenapa kalian di luar?"
"Kami di perintahkan berjaga di sini Tuan."
Edward langsung membuka pintu dan mendapati Aurora yang masih berkutat didepan layar monitor. Aurora menoleh sekilas dan kembali melakukan kegiatannya.
"Sayang kau mengabaikan aku?" Edward berjalan mendekat dan mencium sekilas pipi Aurora.
"Jangan seperti ini."
"Sayang ada yang ingin aku bicarakan." Edward duduk di kursi sebelah Aurora.
"Iya aku sudah tau. Kita bicarakan di kamar." jawab Aurora dan melangkah keluar. Edward mengusap wajahnya dan mengekori wanita itu. Kesal tentu saja .
"Ada apa." tanya Aurora setelah sampai di dalam kamar.
"Sayang bolehkah ..."
"Tidak!" tegas Aurora sebelum Edward menyelesaikan kalimatnya.
Edward langsung merebahkan punggungnya di atas ranjang begitu saja dan menghela nafasnya kasar. "Huh!"
"Kenapa?" tanya Edward lirih.
"Kakak sudah tau jawabannya, tak perlu aku memberi jawaban lagi bukan?"
Edward seketika bangun dan menarik kasar tangan Aurora hingga membuat wanita itu memekik kaget.
Edward langsung menindih tubuh istrinya dan menatap tajam wanita yang dibawah kungkungannya.
"Ap..pa yang kau lakukan!" gugup Aurora.
Edward menyeringai. Segarang apapun Aurora, ia tetap saja kalah dengan kekuatannya.
"Aku tidak akan pergi asal kau mau memberi hakku malam ini."
Mata Aurora membulat. Ia berusaha mendorong tubuh suaminya tapi tak bergeser sedikitpun. Kekuatan Edward tak mampu ia lawan walau ia mengerahkan semua tenaganya. Ingin sekali ia memukul kepala Edward, tapi ia juga tak sanggup melakukannya.
Sial.
.
.
.
####
__ADS_1