Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Benarkah itu Nona!


__ADS_3

"Sebelum membahas Brian, aku ingin membahas organisasi dulu. Aku berencana menarik semua anggota DQ untuk pulang bersamaku hari ini, termasuk Selly. Bagaimana menurutmu."


Yudha terdiam ketika tiba-tiba wanita itu bilang akan menarik anggotanya. Bukan apa apa, tapi jujur saja, ia butuh mereka untuk membantu dirinya selama berada di Jepang, tidak mungkin dirinya tiba-tiba merekrut orang asing untuk bekerja dengannya. Selain ia tidak mudah percaya, melatih mereka pasti juga butuh waktu lama.


"Bolehkah saya membeli anggota DQ nona? Saya akan membayar mereka dengan harga yang pantas. Jujur, saya membutuhkan kemampuan mereka. Tidak banyak, sepuluh saja sudah cukup."


Aurora menaikkan dua alisnya, lalu menggeleng. Apa maksudnya membeli. Apa dia tidak tau peraturan di DQ. Jika memang ingin membeli, kenapa tidak menggunakan jasa GL. Mereka bahkan mempunyai tingkatan level yang bisa di sewa sesuai budget dan kebutuhan.


"Aku tidak setuju. Aku tidak menjual anggotaku jika kamu lupa. Mereka sudah terikat sumpah pada organisasi. Mereka pasti juga tidak mau, kalau tidak percaya bisa tanya Mira, dia yang selama ini mengurus hal hal seperti ini. Jika kamu memang menginginkan mereka, cukup beri mereka gaji seperti yang aku berikan pada mereka. Tidak perlu kamu memberiku nominal, tapi ingat! mereka berada di bawah kendali organisasiku dan aku bisa menarik anggotaku kapan saja jika aku sedang membutuhkannya. Kamu juga tidak bisa mencegah mereka." Jelas Aurora.


Yudha menggangguk mengerti. Tak menyangka jika Aurora akan berbaik hati padanya, setidaknya ia masih punya waktu membuka rekrutan sampai semua anggota DQ kembali ke pemiliknya.


"Lalu mengenai Brian." Aurora melirik suaminya yang sedari tadi diam sibuk dengan ponselnya, entah pria itu menyimak atau malah memikirkan hal lain, ia juga tidak tahu, tapi pria itu terlihat serius sekali.


"Ada apa dengan Brian, apa dia membuat masalah?"


Yudha berkerut kening. Anak itu selalu menjadi anak baik, jadi masalah apa yang ingin dibicarakan Aurora.


"Entah kamu tahu atau tidak. Brian sebenarnya punya trauma mendalam Yudha."


Trauma?


"Peristiwa kecelakaan malam itu, kamu pasti tahu beritanya, bahkan dulu kamu pasti salah satu orang yang senang atas musibah yang menimpa kami."


Aurora tersenyum masam, ingatannya kembali pada kejadian mengerikan yang pernah mereka alami. Ia pikir dirinya sudah tidak bisa bertemu Edward lagi, nyatanya pria itu masih duduk disampingnya.


Yudha mendatarkan wajahnya. Memang benar seperti yang dikatakan Aurora. Dulu ia salah satu orang yang senang atas kejadian itu. Tapi sekarang, ia bahkan merasa tertampar mendengar sindiran itu.


"Saya minta maaf." Yudha menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu akan akibat dari perbuatannya dulu akan berdampak di masa sekarang.


Aurora tersenyum, jika tidak mengingat Brian, pria ini pasti sudah mati sedari dulu. Untung saja dirinya bukan Edward atau Alex yang bisa menghabisi musuhnya dengan mudah.


"Lupakan, kita bahas Brian saja. Aku juga tidak ingin mengungkit kenangan buruk itu. Yang lalu biarkan berlalu. Lagi pula aku sekarang sudah baik-baik saja. Dan aku harap, kamu benar-benar tulus padaku."


"Anda bisa memenggal kepalaku jika saya berhianat!" tegas Yudha.

__ADS_1


Aurora hanya mengangguk. Apa pria itu tidak berpikir sebelum berucap, bagaimana bisa seenteng itu mengucapkannya.


"Aku akan membawa Brian ke Austria untuk melakukan pengobatan. Aku ingin menghilangkan sebagian ingatannya agar dia bisa hidup dengan baik. Sebenarnya aku sudah pernah melakukan itu, tapi ternyata tidak berhasil. Jadi aku memutuskan untuk membawanya ke sana. Nanti aku kirim alamatnya ke email mu jika kamu ingin mengecek atau menyelidiki tempat itu."


"Tunggu sebentar nona, maksud anda hipnoterapi? Bagaimana jika dia tidak mengingatku." Cemas Yudha menatap Aurora dengan berkerut kening, banyak pertanyaan muncul dalam hatinya.


"Jangan khawatir, aku hanya menghapus ingatan tentang kecelakaan waktu itu dan sedikit ancaman yang sudah ia terimanya. Dua hal itu sangat mengganggu pola pikirnya. Jika trauma itu tidak dihilangkan, aku rasa itu tidak akan baik kedepannya. Aku hanya ingin anak itu meraih mimpi-mimpinya."


Yudha tercenung memikirkan. "Apa anda sudah membicarakan hal ini pada Brian?"


"Aku rasa tidak perlu. Biarkan saja ia tidak tahu apapun. Itu jauh lebih baik. Jika kamu setuju, aku akan menjadwalkan pertemuan pertama mereka setelah pernikahan adik iparku. Mungkin jika pengobatan ini berhasil, aku baru akan menyekolahkan dia ke asrama, sekolah para anak-anak jenius. Anak anak akan lebih aman berada di tempat yang tidak banyak disorot publik, lagi pula disana ia akan lebih mudah mengembangkan bakatnya."


"Beri saya waktu untuk menyelidikinya dulu." ujar Yudha ragu.


"Aku tidak setuju!" tegas Edward menyela, pria itu menatap Aurora dengan pandangan tidak sukanya. Ia tidak ingin kehidupan dimasa kecilnya terulang pada anak-anaknya, dulu orang tuanya juga mengatakan hal seperti itu, nyatanya sampai sekarang masih saja masalah datang silih berganti.


"Kenapa?" tanya Aurora.


"Kasihan. Kamu tidak tau bagaimana kehilangan kehangatan sebuah keluarga Aurora. Jangan sekolahkan dia di asrama. Biarkan dia sekolah di tempat dia mau, bukankah akhir akhir ini dia sekolah privat?Sama saja bukan! Masalah keamanan, kita bisa menjaganya 24 jam. Dia punya tiga bodyguard yang siap ia perintah, lalu apalagi? Aurora! masalah tidak akan ada habisnya. Kamu menjauhkan diri dari Brian, maka kamu kamu akan kehilangan masa kanak-kanaknya. Kamu mau dia bernasib sama sepertiku? Kamu tidak ingat hal itu?"


"Kenapa kamu jadi berpikiran seperti itu!" tanya Aurora lagi.


"Ck! Jangan membantahku Aurora. Biarkan mereka bertiga tumbuh bersama. Aku tidak ingin menganggap jika kita pilih kasih!"


Aurora mendengus. Ia menatap Yudha yang menatapnya bingung.


"Kalian suami istri?" tanya Yudha ragu.


"Iya!" jawab Edward tiba-tiba.


Aurora melotot pada suaminya dengan tatapan tidak percayanya. Baguslah jika memang seperti itu, ia juga tidak perlu berpura-pura.


Yudha menahan tawanya saat melihat ekspresi Edward, tidak percaya tentunya. Jika Aurora menikah, pasti dirinya juga tau. Jawaban konyol apa itu. Memangnya siapa yang ia kelabuhi.


"Benarkah itu nona?" tanya Yudha pada Aurora.

__ADS_1


Aurora mengangguk membenarkan. Apa tidak salah lihat mataku ini! Aurora mengangguk? Yudha menatap Max yang sama terkejutnya dengan dirinya.


"Jangan coba coba mendekati apalagi merayu istriku. Jaga batasanmu!" ujar Edward penuh dengan ancaman.


Yudha hanya bisa melihat dua orang didepannya bergantian, ia tidak pernah terbesit menyukai Aurora, tapi bagaimana bisa Aurora menyukai asistennya sendiri. Ini rasanya tidak mungkin.


"Aku tau kebingunganmu, tapi aku tidak bisa menjelaskan sekarang. Satu lagi! tutup mulutmu rapat rapat, atau aku akan minta Alex menghajarmu." lanjut Edward.


Aurora menyenggol lengan Edward untuk menghentikan kekonyolannya. Apa maksudnya coba, kenapa harus mengancam Yudha segala. Sedari tadi ia bahkan tidak menunjukkan gejala cari perhatian. Ia rasa suaminya sudah terkena sindrom cemburu berlebihan.


"Yudha bagaimana keadaan mereka?" Tanya Aurora mengalihkan pembicaraan.


"Ah ya." Yudha yang tadi sibuk dengan pemikirannya, langsung memperbaiki posisi duduknya.


"Baik. Kimura bahkan sudah dipindahkan ke ruang perawatan, tapi belum siuman. Sedangkan asistennya sudah sadar, tapi kondisinya juga masih lemah."


"Jaga pria itu baik-baik. Jangan sampai mereka kembali menghabisinya lagi." ujar Aurora.


Yudha mengangguk.


"Aku rasa pembicaraan ini sudah cukup. Kamu boleh kembali. Sekali lagi terima kasih. Kamu bisa menghubungi Selly untuk anggota yang kamu minta. Sedangkan persenjataan, itu hubungannya dengan Alex. Karena senjata yang kalian bawa adalah milik mereka."


"Baiklah."


"Max, minta anggotaku yang tersisa untuk berkumpul di Bandara nanti malam. Suruh mereka untuk bersiap."


"Baik. Segera saya laksanakan."


Brian yang mendengar semua pembicaraan dari lebah kecil yang ia pasang sebelum ia pergi dari kamar Aurora, langsung melepaskan earphone dari telinganya. Anak itu menatap langit langit seperti merencanakan sesuatu.


.


.


.

__ADS_1


######


__ADS_2