Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kebenaran


__ADS_3

"Diam! Siapa yang menyuruh kalian tertawa!" sinis Alex menatap tajam bawahannya.


Mereka sontak menutup mulutnya rapat rapat. Menunduk dan melirik kearah kawannya.


"Hei, kalian! Pindahkan pria songong itu ke ruang sebelah! Aku ada pertunjukan untuknya! Dan kau Lion ikuti mereka, jaga Kimura baik-baik, jangan biarkan dia kabur. Gigit saja kakinya jika pria itu berulah. Kau mengerti!"


Roarhhh


"Gluk." Kimura menelan ludahnya susah payah. Binatang itu menurut sekali pada Alex. Ia sendiri bahkan tak bisa berbuat apa apa.


"Sial!" rutuknya pelan.


Kimura diseret dan ditarik paksa oleh anggota GL. Dirinya yang sudah tak punya tenaga hanya bisa pasrah saat mereka membawanya. Ia berharap ayahnya segera datang untuk membebaskannya.


Alex hanya tersenyum miring melihat keadaan Kimura. Ia masih ingin memberi pelajaran pada manusia licik itu, tapi ia masih harus menyelesaikan masalah asistennya terlebih dahulu.


"Kalian keluarlah!" perintah Alex pada anggotanya yang tersisa.


Didalam ruangan itu hanya tersisa Alex, Kevin dan Yudha. Alex memberi kode pada Kevin untuk segera memutar video yang ia buat.


Layar Lcd besar mulai menampakkan gambarnya. Kevin juga penasaran dengan video yang di buat bosnya. Ia juga melihat tampilan itu dengan seksama.


Sementara Yudha yang dari tadi tertunduk mulai mengangkat kepalanya saat suara Alex kembali berseru padanya.


"Lihatlah baik baik, kau tak perlu repot repot mencari tau keberadaan putramu. Aku berbaik hati bukan? Pasang telinga dan matamu baik baik. Catat dan rekam dalam memori pintarmu. Karna Aku tidak akan melakukan siaran ulang!"


Yudha hanya menatap datar. Tak menyahuti ucapan Alex. Ia hanya fokus kedepan memandang layar lebar itu. Tiba tiba matanya terbelalak saat melihat video rekaman dirinya sedang bercinta dengan wanita beberapa tahun lalu. Ia menutup mulutnya tak percaya. Ia bahkan sudah lupa dengan wajah wanita itu. Ia melirik Alex dengan berbagai opini dikepalanya.


"Sial. Darimana pria itu mendapatkan bukti rekaman itu. Mana mungkin kamar hotel ada kamera tersembunyi, atau jangan jangan pria germo itu yang memasang." batin Yudha bertanya tanya.


Alex hanya tersenyum sinis melihat ekspresi Yudha.


Kemudian ditampilkannya kehidupan menyedihkan yang dijalani wanita yang disebutnya ja lang dari kehidupannya dulu hingga kondisi paska kebangkrutan perusahaan ayahnya serta penyakit yang dideritanya. Kematian ayah dan ibunya serta kehidupan terlunta lunta yang dialami wanita itu. Lalu video tentang kehidupan wanita itu saat kehamilannya hingga melahirkan bayinya. Dan berakhirnya kehidupan wanita itu karena penyakit yang dideritanya.


Yudha menggeleng lemah. Tak percaya dengan yang dilihatnya.


"Kalianlah yang pertama kali menghancurkan kehidupan mereka. Kalian dengan seenak perut mengambil yang bukan hak kalian. Menghancurkan perusahaan yang tak bersalah pada kalian dengan tangan orang lain. Dasar manusia licik! Biadap! Katakan hukuman apa yang pantas aku berikan padamu!" sengit Alex.

__ADS_1


Yudha memilih tidak menanggapi ocehan Alex. Ia masih fokus menonton video yang menampakkan bayi lucu dan menggemaskan serta pertumbuhannya dari masa ke masa.


"Ini tidak mungkin." gumamnya pelan.


Lalu menampakkan sebuah video bocah imut sedang liburan di Singapura bersama Edward dan Aurora sebelum kecelakaan naas itu terjadi. Serta hasil tes DNA dirinya dengan bocah kecil itu yang menunjukkan jika anak itu benar putranya.


Kevin terhenyak menatap Lcd itu tanpa berkedip. Bahkan ia sempat menahan nafasnya melihat kebenaran itu. Ia melirik ke arah Alex, yang biasa saja. Ia malah tersenyum miring menatap Yudha dari kejauhan. "Benarkah jika Tuan muda kecil anak dari pria itu. Ah ini membuatku terkejut. Apa anak itu juga sudah mengetahuinya. Tapi jika diperhatikan seksama, wajah mereka memang mirip. Oh God.. " batin Kevin menatap rumit Yudha.


Nafas Yudha menderu, matanya melotot seakan tidak percaya jika ia telah mempunyai anak dari ja lang yang ditidurinya beberapa tahun lalu. Berkali kali ia menggelengkan kepalanya walau tak dipungkiri air matanya menetes tanpa permisi. Ia begitu terkejut dengan kenyataan itu.


"Tidak , ini tidak mungkin." gumam Yudha pelan. Matanya masih terpaku pada wajah tampan putranya.



"Kevin matikan!" seru Alex yang membuat Yudha menatap kearah Alex.


"Bagaimana, kau suka dengan kejutan dariku?" ejek Alex dengan senyum remehnya. Ia menatap benci pada pria itu.


"Tidak! itu tidak mungkin! kalian pasti telah merekayasanya! Aku tidak bisa kalian bodohi!" bantah Yudha dengan airmatanya.


"Lepaskan aku! Aku akan membunuh anak dari ja lang sialan itu!" Teriak Yudha sambil memukul mukul jeruji besi.


"Wowh..!! Tidak tau diri!" ejek Alex.


Brian dan Selly masuk dalam ruang itu. Dua orang itu menatap tajam pria itu. Hati Brian terasa sakit mendengar mulut kotor ayahnya. Ia hampir saja meneteskan airmatanya.


Kevin terperangah melihat kehadiran dua orang itu. Ia menggeleng kepalanya pelan. Sedangkan Alex tersenyum lebar melihat kedatangan dua tamunya.


"Kau memang tidak pantas disebut ayah Tuan Yudha. Kau yang menodainya, kenapa kau menyebut mamaku seolang ja lang. Kau yang belbuat dan kau juga tak beltanggung jawab. Apa kau tak melihat pendelitaan mamaku? Halusnya kau melenyapkannya saja paman Alex, plia itu tak pantas dikasihani. Dan sampai kapanpun aku tak akan sudi memaafkannya. Dan aku pun tak sudi menyebutmu ayah bahkan mengakuimu sebagai ayahku." ucap Brian dingin. Ia benar benar marah dengan pria didepannya.


"Kau dengar he, bahkan putramu saja tak keberatan jika aku membunuhmu!" sahut Alex.


Yudha terkekeh melihat wajah Brian. Ia mengingat pertemuan pertamanya saat di mall waktu itu. Ia tak menyangka jika anak itu putranya.


"Kenapa kau membunuh daddyku. Orang yang sudah melawatku selama ini. Apa kamu tak punya rasa balas budi? Kau memang ayah yang jahat. Telkutuklah kau ayah!!!" seru Brian dengan suara bergetarnya.


Yudha menggeleng kepalanya. Ia menangis walau tak bersuara. "Putraku..Benarkah kau putraku." gumamnya

__ADS_1


"Matilah kau dalam penyesalanmu. Sampai kapan pun aku tak akan menganggapmu sebagai ayahku. Bagiku ayahku adalah daddy Edward dan tidak akan ada yang bisa menggantikan posisinya dalam hatiku. Selamat tinggal. Aku harap kau menyesali perbuatanmu."


Brian berbalik dan menggandeng Selly yang sedari tadi diam menatap tajam Yudha. Entah apa yang dipikirkan wanita itu.


"BRIAN TUNGGU!! AKU MOHON MAAFKAN AKU!! MAAFKAN AYAH!" Seru Yudha


"Hahaha...! Kau dengar, kau akan mati dalam penyesalan. Ah bocah itu menggemaskan sekali. Tidakkah kau ingin memeluk sebentar anak itu? Ah sayangnya dia sudah pergi. Hehehe.."


"Kevin, panggil yang lain. Seret pria itu ke penjara bawah tanah! Biarkan ia mendekam di penjara itu seumur hidupnya."


.


.


Ditempat lain, Brian menangis tersedu setelah keluar dari ruangan dimana kebenaran itu terungkap. Hatinya sakit melihat keadaan itu.


"Ssshh.. tenangkan dirimu. Masih ada kami yang akan menyayangimu." Selly memeluk tubuh Brian.


"Jahat sekali dia. Dia yang selama ini mencelakai daddy. Hiks hiks.. ayah macam apa dia." rancau Brian.


"Ayo, kita pulang saja. Kasian mommy Aurora, Ia pasti menghawatirkanmu. Anak laki-laki harus kuat. Jangan membencinya walaupun dia sudah jahat dengan kita. Bagaimanapun juga pria itu yang berperan atas kehadiranmu ke dunia ini. Biarkan paman Alex yang mengurusnya."


Brian mengusap air matanya kasar. "Apa Aunty tidak marah dengannya?"


Selly tersenyum kecut. "Entahlah. Marahku sekarang, rasanya sudah tak berguna lagi. Nyatanya mamamu tak akan hidup kembali. Kakek dan nenekmu juga tak mungkin bangkit dari kuburnya. Apa yang terjadi saat itu mungkin karena iman kami yang lemah. Kami tak mampu bersabar menjalani ujian hidup. Tapi lihatlah sekarang, hidup kita sekarang baik baik saja. Ini sudah takdir kita. Jika tidak ada kejadian itu, mungkin sekarang lain ceritanya. Kamu juga tak mungkin lahir ke dunia ini dan bertemu Daddy dan mommymu. Bersyukurlah atas kehidupanmu saat ini. Maafkan ayahmu. Dia juga tidak tau jika ia bukan meniduri ja lang. Mereka berdua sama sama korban."


"Ikhlaskan hatimu. Mamamu pasti sedih jika kamu membenci ayahmu. Ingat! kejadian hari ini juga akan menentukan takdirmu di masa depan. Semoga kamu berbesar hati dengan masalah ini."


"Baiklah ayo kita pulang. Kasihan Al dan El pasti sudah menunggumu."


.


.


.


#####

__ADS_1


__ADS_2