Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Insiden kecil


__ADS_3

Edward yang merasa diawasi seseorang setelah menutup pintu mobilnya diam sejenak. Telinganya menangkap sebuah suara dan pergerakan aneh. Edward langsung menekan tombol dibelakang telinganya lalu menginstruksikan perintahnya pada bodyguard Aurora untuk tetap waspada terhadap ancaman.


"Nona!" Teriak Edward, ia langsung berlari dan menarik pinggang Aurora.


DOR


Terlambat. Nyatanya peluru itu menyerempet kulit lengan Aurora.


"Tanganmu berdarah." Edward cemas.


Bodyguard Aurora langsung berhambur dan membuat formasi untuk melindungi Aurora dan sebagian mencari penembak itu. Pagi yang sangat sial untuk anggota bodyguard yang hari ini berjaga, mereka dipastikan akan kena amukan Alex karena lalai menjaga Aurora.


"Aku tak apa. Kita masuk kedalam dulu." Aurora menegakkan tubuhnya dengan tangan kirinya menekan lengan kanannya.


Edward langsung membopong tubuh Aurora dan berjalan cepat masuk ke butik, ia takut jika masih ada serangan lagi.


Aurora terdiam saat sebelah pipinya menyentuh dada bidang Edward. Entah apa yang dipikirkan wanita itu, yang jelas perasaannya sangat nyaman dalam pelukan pria itu.


Edward kemudian mendudukkan Aurora di sofa panjang itu. Ia kemudian membantu Aurora melepaskan blazer yang dipakainya.


"Aku ingin melihat lukamu."


Seorang pegawai butik mengulurkan kotak obat pada Edward.


"Dimana mama?" tanya Aurora.


"Nyonya belum kemari nona. Apa saya harus memberi tahu kejadian ini nona?" tanya salah satu pegawai mamanya.


"Tidak perlu. Sebaiknya kalian tutup saja butik ini setelah aku pergi. Aku akan bicarakan ini dengan mama. Sebaiknya kalian siapkan baju pesananku dan segera berkemas. Satu lagi, tolong pilihkan aku blazer baru."


"Baik nona."


Edward masih fokus mengobati luka Aurora dan membalut lukanya dengan perban.


"Untung peluru itu tak sampai menembus dagingmu. Setelah ini kita kerumah sakit."


"Tidak perlu. Ini akan membaik dengan sendirinya. Sebaiknya kita segera ke perusahaan. Klien kita mungkin sudah menunggu."


"Apa yang anda katakan, luka ini harus segera diobati oleh ahlinya."


"Jangan membantahku! Perusahaan lebih penting dari sekedar luka ini. Aku bisa kehilangan uang triliun an jika aku membatalkan rapat pagi ini! Kamu baru kerja dua hari saja sudah mau mengaturku!"


Edward terdiam saat mendengar perangai Aurora. Tak percaya jika istrinya sekarang bisa berkata seperti itu terhadap bawahannya. Ia merasa Aurora sudah banyak berubah, dia bukan wanita yang lembut seperti dulu.


"Pantas saja dia selalu gonta ganti asisten." batin Edward.

__ADS_1


Bodyguardnya hanya saling memandang tak berani berkomentar.


"Setidaknya tunggu keadaan membaik. Bodyguard sedang mengejar pelakunya."


Aurora langsung mengambil ponselnya. Ia menghubungi Selly.


"Selly, retas cctv di sekitar butik mama. Temukan orang yang sudah berani mencoba membunuhku! Segera kirimkan datanya padaku!"


Aurora menghembuskan nafasnya kasar. Ia memijit pelipisnya. "Sial, siapa penghianat yang berani memberontakku. Ini pasti ulah orang intern, bagaimana mereka bisa tau jadwalku pagi ini."


Edward tidak menjawab, ia masih sibuk dengan analisanya, pikiran buruk menghantuinya, juga tentang wanita yang dibicarakan Jingmi waktu lalu akan melakukan operasi di minggu minggu ini dan ia juga belum mendapatkan datanya. Baru hari ini ia akan menghubungi Alex tapi sudah ada kejadian seperti ini.


"Felix apa yang kamu pikirkan!" Aurora membuyarkan lamunan Edward.


"Tidak ada."


"Nona apa anda selalu dalam posisi terancam seperti ini? Dan siapa orang yang mungkin anda curigai saat ini. Mungkin saya bisa memecahkannya."


"Hah..." Aurora membuang kasar nafasnya, lalu menatap mata Edward.


"Sudah sedari kecil aku melihat dan mengalami keadaan seperti ini. Tidak mengherankan jika ada kejadian seperti ini lagi. Menjadi orang yang terlahir dengan sendok emas ditangannya selalu mendapatkan ancaman bahaya sewaktu waktu. Bahkan aku sampai kehilangan suamiku. Hidupku tidak menyenangkan, aku bahkan tidak bisa bebas seperti hidup orang lain." Aurora melirik Edward.


"Jangan merasa kasihan denganku. Aku tidak selemah yang kamu pikirkan. Mereka terlalu pengecut! coba saja jika mereka tidak menikamku dari belakang. Aku pastikan mereka akan babak belur di tanganku."


"Anda wanita hebat nona."


"Jika aku hebat, aku tidak akan kehilangan suamiku."


"Anda sepertinya sangat mencintai suamimu nona."


"Tentu saja aku sangat mencintainya. Pria itu sudah mengorbankan hidupnya untuk kami. Sayang sekali umurnya tak panjang. Lagi lagi karena orang yang tidak menyukai kami. Pergilah Felix, jika kamu takut bekerja bersamaku. Aku tidak memaksamu."


"Tidak. Saya tidak akan pergi."


"Kenapa? Kau tidak takut dengan ancaman ini? Hidupmu juga akan dalam bahaya jika kau menjadi asistenku. Asistenku yang lalu mengundurkan diri juga karena hal ini. Rumor yang kalian dengar tidak sepenuhnya benar. Tapi biar sajalah, aku juga tidak ingin mengklarifikasi. Kau tau, hanya dua asistenku yang bisa bertahan lama denganku. Sayangnya mereka tidak bisa bekerja bersamaku saat ini."


Edward diam. Sesekali menatap mata Aurora yang nampak suram. Kesedihannya begitu kentara walau wanita itu tutupi dengan kata kata yang ketus dan wajah yang galak.


"Hah, sudahlah. Ayo kita kembali. Aku tunggu surat pengunduran dirimu." Aurora beranjak dari duduknya dan memakai blazer barunya. Sambil menenteng paper bag, Aurora berlalu menuju mobil bersama bodyguardnya meninggalkan Edward yang masih terbengong menatap kepergian Aurora.


"Nona tunggu!"


"Aish. Wanita itu benar-benar ya." gumam Edward berjalan cepat menghampiri Aurora.


Bodyguardnya membukakan pintu untuk Aurora dan ia ikut masuk kedalam. Edward duduk di sebelah Aurora.

__ADS_1


"Ngapain duduk disini!"


"Anda tidak melihat di bangku depan." Edward menaikkan sebelah alisnya.


Aurora mendengus kesal, tapi membiarkan Edward duduk disebelahnya.


"Kalian, apa sudah mendapatkan pelakunya? Dimana bodyguard yang mengejar penembak itu? Apa mereka sudah kembali?"


"Maaf Tuan, mereka sudah kembali. Kami gagal menangkap pelakunya, dari laporan dia seorang wanita Tuan. Kasus ini akan dilanjutkan tim investigasi lapangan Tuan. Kami sudah menghubungi Tuan Alex dalam hal ini. Kami di perintahkan kembali dan mengawal nona."


"Bagaimana dengan anak anak?" tanya Aurora


"Mereka aman nona."


"Hah syukurlah. Aku bisa bekerja dengan tenang."


Aurora menyandarkan punggung di kursi. Memejamkan matanya sejenak mengurai keruwetan masalah dalam otaknya. Edward terdiam mengamati jalanan sekitar, tidak ada pembicaraan dari keempat penumpang itu.


Dua bodyguard yang duduk di depan hanya saling melirik, entah apa yang mereka berdua pikirkan. Mobil melaju dengan kecepatan penuh, mengejar waktu yang semakin siang. Mereka tidak ingin Aurora mengamuk tiba dalam rapatnya.


Mobil berhenti tepat didepan loby perusahaan. Dion yang menunggu kedatangan Aurora langsung tersenyum lebar.


"Selamat datang nona, anda sudah ditunggu banyak orang didalam. Kita terlambat 30 menit. Apa ada masalah? Tidak biasanya anda terlambat." tanya Dion berjalan di sebelah Aurora.


"Hem, ada insiden kecil di jalan. Kau sudah menyiapkan semuanya di dalam?"


"Sudah nona."


"Kembalilah, aku akan bersama asistenku saja. Handle pertemuan yang lain."


"Tapi.." Dion melirik Edward yang berwajah datar minim ekspresi.


"Kau pikir siapa yang menyiapkan semua bahan itu. Asistenku yang membuatnya." kata Aurora seolah mengerti pikiran Dion.


"Oke maafkan saya, saya akan kembali."


Dion menghela nafasnya. Menggaruk keningnya namun tak gatal. Ia memandangi punggung Aurora dan Edward dari kejauhan. Entah sesuatu apa yang dipikirkannya.


"Aku seperti pernah melihat figur tubuh itu, tapi dimana ya, rasanya seperti tidak asing dimataku. Apa seperti Tuan muda ya, mirip jika dilihat dari belakang, tapi wajahnya? Ah ini memang membingungkan." Gumam Dion sebelum memutuskan kembali keruang kerjanya.


.


.


.

__ADS_1


######


__ADS_2