Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Brian 2


__ADS_3

Sayang sekali Brian tak menggubris ucapan Daddynya. Ia terus berjalan menyusuri lorong itu. Tujuannya satu, ia harus segera bertemu kakeknya. Menurutnya memotong ranting itu harus didahulukan sebelum mencabut akarnya. Ah otak Brian rupanya bukan otak anak anak lagi mungkin dia keturunan William James Sidis, salah satu orang terpintar didunia ini. Atau jangan jangan dia anak biologisnya.


"BRIAN...! Ah kacau..!!" Edward berjalan tergesa mengejar Brian. Dibelakangnya ada bodyguard Edward yang bingung melihat Tuannya berjalan tergesa mencari Brian, tapi mereka tetap mengikuti Tuannya.


"Ck.. kemana anak itu..!" kesal Edward bertolak pinggang. Brian hilang dari pandangan matanya.


Bodyguardnya menghampiri Edward, "Tuan.."


"Ck, jangan mengikutiku...! Cari putraku..!!" sentak Edward karena kesal.


Bodyguardnya saling memandang , salah satu dari mereka menekan alat dibelakang telinganya dan mengkonfirmasikan perintah Edward pada yang lain lalu mengikuti kemana Tuannya pergi. Mereka semua sudah seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Bagi mereka, melindungi Tuannya adalah tanggung jawab terbesarnya, kalau tidak mau dihajar habis habisan oleh Alex, tangan kiri Edward yang kejamnya melebihi King mereka sendiri.


Lukas dari belakangnya berjalan tergesa dan menepuk bahu Edward. Edward menoleh karena terkejut.


"Tuan.. Anda dipanggil Tuan besar. Beliau ada di Hall bersama Brian. Anda diminta segera kesana. Ada hal penting yang harus dibicarakan."


"Apa yang mereka lakukan disana.!" Edward mengerutkan dahi.


"Tidak tau Tuan.!"


###


Dari jauh Edward sudah melihat bodyguard ayahnya berada di depan pintu masuk. Mereka serempak memberi salam saat Edward melewatinya disusul Lukas asistennya. Bodyguard yang mengikutinya bergabung bersama bodyguard ayahnya.


Ceklek


Edward bersama Lukas menghampiri Tuan Admaja dan Brian yang sudah duduk di kursi dengan meja panjang dihadapannya. Ruang pertemuan tampak memang sudah disiapkan untuk rapat pertemuan, karena ada kabel kabel menjalar dan layar Lcd yang sudah menyala.


"Ada apa ayah, kenapa memanggilku kemari, kenapa tidak diruang kerja Ayah saja." tanya Edward dengan pandangan menyelidik, dan sekilas melirik Brian yang acuh dengan kedatangan ayahnya.


"Duduklah.!" ucap Tuan Admaja tenang.


"Sebenarnya ayah sudah tau tentang masalahmu. Ayah rasa ini sudah saatnya menjebloskan mereka semua.." ucapnya tenang.


"Apa yang ayah katakan. Tidak Aku tidak setuju. !"

__ADS_1


"Semakin lama kamu menunda, semakin mengakar pula masalahmu. Kamu harus membersihkan dulu mulai dari sini. Ayah sudah memanggil semua yang terlibat, mereka akan segera kemari. Brian kau sembunyilah dibawah kolong meja. Jangan keluar sebelum ini semua selesai." perintah Tuan Admaja tegas.


"Baik kakek.." Brian menurut dan menelusup di bawah kaki ayahnya. Edward tidak bisa berkata kata. Ia mendengus kesal.


Lukas mendadak tubuhnya tegang. Ia tidak tahu yang akan terjadi kedepannya. Firasatnya akan ada kejadian buruk setelah ini. Ia tahu betul berapa banyak yang akan dipecat hari ini.


"Ayah aku mohon pertimbangan niatan Ayah, kalau kita memutuskan ranting itu sekarang, mereka bisa mengganti rencananya. Rencanaku yang sudah aku susun bisa berantakan. Ini pasti akan menimbulkan masalah baru..!" Edward memijit pelipisnya frustasi.


"Jangan membantah Ayah Edward, mencabut akar itu sulit, kita lakukan yang bisa kita lakukan sekarang. Jika tindakan ini menimbulkan masalah baru, ya kita hadapi saja, untuk apa kita lama lama bersembunyi. Kau umumkan pada anggotamu, kita akan perang terbuka. Ayah sudah gedheg dengan perilaku mereka.." ucap Tuan Admaja geram.


"Lalu apa ayah sudah menyiapkan semuanya, jika terjadi kericuhan diperusahaan, bagaimana dengan pihak media? Hah.. namaku pasti dibawa bawa setelah ini.!" keluh Edward mengusap wajahnya.


"Tenang saja, ayah sudah menghubungi pihak keamanan dan mafioso mu, untuk pihak media biarkan saja mereka tau, itu jauh lebih baik."


"Bagaimana bisa baik?! Nama perusahaan bisa tercemar karena masalah ini. Reputasiku juga akan jelek dimata mereka Ayah. Apa ayah lupa..!!?"


"Turunkan intonasimu Edward, Ayah sudah memikirkannya konsekuensinya. Bersiaplah , mereka akan segera datang.!" Tuan Admaja membenarkan dudukannya.


Dari arah pintu, para karyawannya mulai masuk. Mereka belum tau untuk apa mereka dikumpulkan, apalagi mereka bergabung dengan petugas kebersihan dan security, untuk apa mereka disini pikirnya. Mereka yang mengenal sekutunya tampak saling memandang dan memberikan kode lewat matanya. "Apa kita ketahuan!" mungkin seperti itu dalam benak mereka.


Edward mengerutkan dahi, mencoba mengenali siapa pria dibalik masker itu. Belum menemukan jawaban dari pertanyaannya, masuklah satu kompi bodyguardnya bersama Alex dan Kevan sebagai ketua tim.


Ruangan yang tadi masih tampak sepi semakin riuh karena kehadiran bodyguard Edward. Wajah mereka sudah harap harap cemas .


Tuan Admaja mengambil mikrofon,


"Selamat siang saudara saudara. Kalian pasti bingung bukan kenapa dikumpulkan ditempat ini ?" Tuan Admaja menjeda kalimatnya.


"Saya tidak habis pikir dengan kalian. Bagaimana bisa kalian bekerja di perusahaan ini, tapi bekerja sama dengan perusahaan lain untuk menghancurkan perusahaan ini. Apa yang ada diotak kalian." Tuan Admaja berhenti sejenak.


"Apa gaji kalian kurang? Bahkan gaji di perusahaan ini yang tertinggi diantara perusahaan lain. Aku tak mengerti dengan pikiran kalian. Mulai hari ini, kalian semua tidak perlu bekerja diperusahaan ini. Kalian semua dipecat..!"


Ruangan hening mendadak riuh, mereka melontarkan kalimat kalimat buruk kepada pimpinan mereka, mereka belum paham atas kesalahan apa yang membuat mereka dipecat.


"Brengsek.!! apa salah kami..!"

__ADS_1


Dua orang bermasker, lantas memutarkan video untuk membungkam mulut mereka. Semua terdiam, menyadari jika aksi mereka telah diketahui oleh pimpinan mereka.


"Aku kembalikan kalimat buruk itu untuk kalian. Aku tak menyangka kalian sepicik itu. Atas dasar apa kalian menghianati kami.!"


"Tuan, anda jangan hanya menyalahkan kami. Saya begitu karena diancam. Bagaimana bisa musuh kalian malah memanfaatkan kami sebagai pionnya, lalu kami dipecat begitu saja. Saya begitu juga karna ingin melindungi keluarga kami. Bagaimana nasib keluarga kami Tuan. Ini tidak adil..!!" seru salah satu dari mereka.


"Tuan Edward, saya tidak melakukan yang dituduhkan, bukankah loyalitas saya dalam bekerja sangat tinggi. Saya tidak melakukan melakukan penghianatan pada keluarga anda Tuan...!!" seru dari mereka yang melakukan penjilatan pada pimpinan mereka.


Edward masih bungkam ketika mendengar pembelaan dari mereka. Biarkan saja mereka terus menggonggong sampai mereka puas pikirnya.


"Kalian akan dihukum sesuai dengan kadar perbuatan kalian. Kepala Hrd yang akan mengurus pemecatan kalian. Alex seret mereka semua ke kantor polisi..!" perintah Tuan Admaja


"Tuan, jangan lakukan ini Tuan. Bagaimana dengan anak saya dirumah Tuan.. Ampuni saya Tuan ...!! seru dari mereka.


"Apa kamu berpikir sebelum melakukan tindakan bodoh kalian. Aku sudah menunggu kalian lama. Tidak sadarkah kalian selama ini kami awasi. Katakan pada tuanmu, aku menantangnya dengan tangan terbuka.." ucap Edward dingin


"Tuan, anda akan menyesal telah melakukan ini padaku. Aku akan membalasmu Tuan...!!!" teriak satu dari mereka.


Edward bergeming, lalu memejamkan matanya sejenak. "Alex seret mereka pada tempatnya. Bawa bukti bukti ini untuk menjebloskan mereka semua. Pastikan tidak ada yang kabur.!" perintah Edward dingin


"Baik Bos."


Semua diborgol dan diseret keluar oleh bodyguard Edward, sebagian ada yang menolak dan memberontak. Mereka malah berkelahi dengan para bodyguard.


"Segera buatkan surat pemecatan untuk mereka semua. Bayar sampai dimana mereka bekerja. Aku tak mau berhutang keringat pada mereka. Lukas kau urus sisanya setelah ini. Dan Ayah, bawa pulang Brian bersama kalian. Aku kembali keruanganku..!" perintah Edward dingin.


Tidak ada yang membantah ucapan Edward. Brian dibawah kolong meja merasa cemas, ia baru mengetahui sosok Edward ketika sedang marah, lebih baik ayahnya bersikap marah marah daripada bersikap dingin seperti itu. Itu melukai jiwa Brian yang melirik sepatu Edward menjauhi ruang pertemuan padahal masih ada diantara mereka yang belum selesai berkelahi.


"Huh..dad maafin aku, aku memang belsalah padamu." batin Brian bersedih


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2