Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Ah semoga saja.


__ADS_3

Usai memarkirkan mobilnya, Aurora berjalan tergesa menuju IGD. Edward hanya mengikuti dibelakangnya.


"Dimana Yudha!" seru Aurora menghampiri anggota GL yang mengantar Yudha ke rumah sakit.


"Masih ditangani dokter Queen. Mereka belum keluar sedari tadi."


Aurora terduduk lemas dibangku IGD. Tangannya meremas kepalanya frustasi. Ia bingung belum bisa mengambil langkah selanjutnya.


"Bagaimana kronologinya, apa yang terjadi dengan Yudha dan Dimana dua pengawal Brian yang tadi mengikutinya?" tanya Edward cemas.


"Tuan Yudha, dia terkena tembak di dada sebelah kirinya. Sedangkan dua pengawalnya tewas tertembak di kepalanya. Kami bersama Bos Alex menemukan mereka tergeletak dijalan dan orang yang menyerang mereka sudah tidak ada ditempat kejadian. Kami juga belum bisa memprediksi Tuan kecil Brian lari bersembunyi atau diculik komplotan mereka. Sebagian anggota kita sedang menyusuri tempat kejadian dan sebagian mencari keberadaan komplotan itu."


Edward mengusap wajahnya. Ia berkacak pinggang menatap Aurora.


"Nona ayo kita pulang. Kita pikirkan di rumah. Al dan El pasti sedang cemas. Kasihan mereka. Yudha biar bodyguard yang menjaganya. Kita fokus ke pencarian Brian, Yudha tentu belum bisa diajak bicara saat ini. Saya yakin lukanya pasti cukup serius."


Aurora mengangguk dan berdiri. "Pastikan Yudha diberi penanganan terbaik dan segera kabari aku jika terjadi sesuatu. Dan satu lagi! Kalian jangan memberi konfirmasi sekecil apapun pada wartawan. Kalian mengerti!"


"Mengerti Queen."


.


.


Di rumah kediaman Aurora.


Suasana rumah mendadak ramai, bodyguard tambahan yang ditugaskan Alex untuk menjaga kediaman Aurora memperketat penjagaan. Semuanya mengenakan atribut pakaian dinasnya lengkap dengan senjata api ditangan mereka.


Papa mama Aurora beserta dua mertuanya sudah sampai di rumah itu lebih dulu, mereka kesana lebih tepatnya menghawatirkan keadaan dua cucu kembarnya.


David dan Kiran yang diperintahkan Aurora untuk datang kerumah, mereka lebih memilih menunggu Aurora di teras rumah ditemani Kevan dan Kevin.


Tak lama setelah itu, mobil yang dikemudikan Edward memasuki halaman rumah dan di ikuti dua mobil bodyguard di belakangnya. Aurora turun dengan wajah tegangnya, entah kenapa ia bersikap seperti itu.


"David, Kiran! temui aku di ruang kerjaku."


"Baik nona."


Aurora bergabung bersama dua orang tuanya dan dua mertuanya yang sibuk memangku Al dan El. Ia duduk begitu saja di hadapan mereka.

__ADS_1


"Pa, Ma, aku titip anak anak. Aku akan pergi mencari Brian. Aku tidak bisa berdiam diri menunggu laporan."


"Pergilah, papa akan menjaga putramu. Hubungi papa jika terjadi sesuatu." Aurora mengangguk.


"Ayah , Bunda, jika tidak keberatan menginaplah disini. Keadaan sedang tidak baik baik saja. Temani Al dan El yang nyata nyata cucu kalian. Maaf aku tidak bisa menemani kalian. Aku harus memenuhi janjiku pada suamiku untuk menjaga Brian. Aku harus mencari anak itu. Aku pastikan akan membuat mereka menyesal sudah berhadapan dengan siapa. Tak akan aku biarkan mereka menyakiti putraku. Aku harap pelakunya bukan orang yang ada di lingkungan ku saat ini." ucap Aurora ambigu.


Mereka saling berpandangan, menatap Aurora dengan wajah banyak pertanyaan. Tapi Aurora masih diam dan mengarahkan pandangannya pada Al dan El.


"Al, El, mom akan mencari kakak kalian, kalian jangan nakal dan harus patuh selama mom pergi. Apa kalian mengerti!" tegas Aurora


"Pelgilah Mom, kami mengelti. Kami tidak akan menyusahkanmu. Bawa kakak kami kembali." Kata Al yang sedang berada di pangkuan Papanya.


"Ugh cucu opa pandai." Tuan Hardy mencium gemas pipi Al.


Aurora hanya tersenyum tipis.


"Aurora tunggu!" mamanya menghentikan Aurora yang hendak beranjak.


"Apa maksud ucapan kamu tadi!" Nyonya Riyanti masih penasaran dengan ucapan anaknya yang terdengar menyebalkan dan tidak sopan menurutnya. Kata kata nyata nyata cucu kalian masih belum bisa diterima dengan baik oleh otaknya.


"Al, El kalian temui om Kevin, Oma mau bicara sebentar dengan mom kalian."


Al langsung turun dan menggandeng tangan adiknya keluar dari ruang tamu itu, sebelumnya mereka mengecup pipi Aurora bergantian.


Tuan Admaja yang mengerti maksud Aurora hanya mengela nafas beratnya. Pria itu menyadari jika menantunya sudah mengetahui kejadian yang membuat Brian trauma. Ia pikir Brian sudah menceritakan semuanya.


"Aurora, kami tidak sedang menyembunyikan Brian. Saya yang akan menjadi jaminannya. Kamu bisa menembak kepala pria tua ini jika kami berbohong." kata Tuan Admaja memasang badan melindungi istrinya.


Jaminan, Jaminan apa maksud ayah. Sesuatu apa yang sudah terjadi. Apa yang tidak aku ketahui batin Edward yang masih mendengarkan ucapan mereka di belakang Aurora


Tuan Hardy dan Nyonya Riyanti saling memandang, semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.


"Ayah, aku sama sekali tidak menyalahkan apa yang sudah terjadi. Aku tau posisi putraku. Aku akan menyerahkan perusahaan pada Al dan El kelak. Tidak perlu khawatir, putra sulungku akan berdiri dengan kakinya sendiri. Aku akan berdiri didepannya sebagai perisainya seperti Kak Edward melindungi kami."


"Kamu sudah salah paham nak. Ayah juga menyayangi Brian. Kenapa harus membawa warisan. Mereka akan mendapatkan hak yang sama. Ayah tidak membedakan mereka."


"Maaf Ayah, kita bicarakan ini lain kali. Aku masih ada urusan."


"Aurora!" hardik mamanya.

__ADS_1


"Jelaskan sama mama apa maksud kamu!"


"Ma! apa yang harus aku jelaskan! Aku harus segera mencari Brian. Jangan menghalangiku."


"Berani kamu berteriak!" Nyonya Riyanti melotot kesal.


"Maaf Ma."


Aurora segera melangkah keruang kerjanya, ia menghiraukan teriakan mamanya. Baginya lebih penting mencari solusi dari pada berdebat dengan mamanya yang mungkin tidak ada ujungnya.


Bunda Yuli yang melihat itu hanya bisa pasrah. Tuan Admaja hanya tersenyum dan mengusap bahu istrinya untuk memberi kekuatan.


"Maafkan anak kami Jeng. Emosinya sedang tidak baik. Dia jadi tidak mengontrol kata katanya. Entah apa maksud anak itu." kata mama Riyanti terlihat sungkan.


"Tak apa, saya memang bersalah dalam hal ini." ucap Bunda Yuli.


"Ah, itu tidak benar." Mama Riyanti


"Saya memang tidak menyukai Brian semenjak peristiwa kecelakaan itu. Saya penyebab Brian trauma waktu itu. Tapi benar , saya tidak menculik anak itu." ucap Bunda Yuli terus terang.


Tuan Hardy dan istrinya terbelalak kaget mendengar penuturan besannya. Kenapa ada peristiwa seperti itu yang tidak diketahui oleh mereka.


"Maaf, tapi apa yang membuat Jeng tidak menyukai Brian? Bukankah dulu Jeng sangat menyayanginya? Bukankah Brian anak yang menggemaskan? Dia anak yang unik dengan segala kemampuannya. Bahkan cucu kandung kita tak sehebat dan sepintar dirinya. Saya sendiri bahkan iri, kenapa Brian tak terlahir dari rahim Aurora." ujar Nyonya Riyanti


Bunda Yuli tersenyum masam.


"Ya itu memang benar. Saya terlalu naif. Saya terlalu dangkal dalam berpikir saat itu. Saya termakan omongan teman teman saya."


"Saya sudah kena mental waktu itu, apalagi bapaknya anak anak tiba-tiba stroke, saya mulai goyah. Kalian pasti tau seberapa besar tekanan mental yang saya rasakan saat itu. Anak sakit, suami sakit, belum masalah perusahaan, dan awak media. Bagaimana bisa wanita lemah seperti saya menanggung beban seberat itu, saya bukan wanita hebat seperti njenengan, saya tidak bisa memimpin semua itu. Saya tidak berdaya, karena penopang keluarga kami sebelumnya adalah suami dan anak sulung saya."


"Sudahlah Jeng, semua yang sudah berlalu tak perlu diungkit kembali. Semua kejadian sudah menjadi takdirnya masing-masing. Yang penting Jeng sudah berubah."


"Ya, tetapi keadaan tak bisa kembali seperti sedia kala. Anak itu pasti membenci saya. Saya sudah menorehkan luka yang cukup dalam. Jika putraku tau aku mengatakan Brian anak pembawa sial, pasti dia akan menampar wajahku saat ini juga."


Aurora dan Edward yang mendengar hal itu menahan geram, tetapi mereka tidak bisa melakukan apapun. Mereka hanya berharap kejadian ini tidak menimbulkan trauma pada Brian kembali. Ah semoga saja.


.


.

__ADS_1


.


######


__ADS_2