
Edward tak peduli dengan teriakan Aurora. Pria itu terus melucuti piyama yang dikenakan Aurora hingga tertanggal bagian dalamnya saja.
Malam ini, pria itu berniat menuntaskan semua hasratnya yang terpendam. Emosi, cemburu dan nalurinya sebagai seorang lelaki berkumpul penuh menguasai otaknya. Ia akan melampiaskannya sekarang juga.
Aurora tiba-tiba menangis mendapat perlakuan kasar dari Edward. Walau statusnya adalah istri dan wajib melayani kebutuhan biologis suaminya, tetap saja ia tidak suka diperlakukan kasar seperti itu.
"Hentikan! Hentikan kak! Ku mohon hentikan!" seru Aurora dengan tangan yang terus memukul punggung Edward ketika pria itu sedang sibuk menciumi jaringan yang ada pada dua sisi dada.
Edward mendongakkan kepalanya menatap wajah istrinya. "Kenapa, kenapa aku tidak boleh menyentuhmu! Katakan!"
Setelah menyeru istrinya dengan nada yang benar-benar tidak mengenakkan, pria itu kembali melakukan kesenangannya kembali.
Bibirnya terus bergerak kesana kemari menjelajahi setiap inci tubuh istrinya hingga berhenti pada perut bawah Aurora.
"Hentikan kak! Ku mohon hentikan. Kau sudah gila! Aku ini istrimu! aku bukan wanita malam yang bisa kau perlakuan sesuka hatimu! Aaaa lepaskan aku!!"
Aurora kembali menyeru disela tangisnya, tapi Edward seakan tuli dan tak peduli umpatan Aurora. Bibir pria itu terus bergerak ke bawah dan menyibakkan kain penghalang terakhir.
Matanya tampak begitu nakal saat menatap lama bagian tubuh itu. Inilah saatnya, ia akan menghabisi Aurora sekarang juga.
Tangan nakalnya mulai bergerak liar menerobos sesuatu hangat itu. Jarinya begitu lincah bermain di dalam sana dan membuat Aurora berteriak keenakan atau malah kesakitan. Edward seakan tidak peduli dengan semua itu.
"Hentikan! Hentikan!" Teriak Aurora lagi.
Edward terkekeh mendengar teriakan Aurora. Baginya, Aurora sudah seperti anak perawan yang akan diperk/osa saja.
"Tubuhmu akan terasa remuk jika kau terus berontak sayang, menurut dan nikmati saja malam panjang ini. Aku ingin kau memberi semua inginku."
"Tidak! ku mohon jangan kasar padaku. Hentikan! hentikan kak!"
Edward tak peduli, bukan hanya tangan nakalnya saja yang menjelajah kesana, tapi lidahnya pun turut andil. Pria itu terus menyerang dan melumpuhkan istrinya hingga tubuh wanita itu menegang.
Edward tersenyum menyeringai melihat itu. Sudah saatnya pikir pria itu. Otaknya yang sudah dipenuhi keinginan itu langsung melucuti pakaiannya sendiri.
__ADS_1
Ketika Edward hendak melakukan penyatuan, bahkan ujungnya saja sudah berada di depan pintu, tiba-tiba Edward menghentikan aksinya.
Edward menatap perut Aurora yang tampak mulus tanpa sedikit pun bekas sayatan, dan itu membuat hatinya jadi bertanya, apa Aurora melahirkan bayi kembar mereka dengan normal. Jika iya, betapa sakitnya dia waktu itu.
Tegangan yang semula begitu tinggi mendadak loyo seketika. Orientasi pikirannya terbagi. Ia tak lagi konsentrasi pada kegiatan sebelumnya. Pria itu beranjak dan pergi ke kamar mandi.
Aurora yang semula menangis langsung menghentikan tangisannya. Wanita itu bahkan melongo begitu melihat Edward pergi begitu saja. Wanita itu benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi pada pria itu.
Edward keluar dengan rambut basahnya. Segera saja pria itu berbaring dan memeluk tubuh Aurora dari belakang. Dikecupnya pelan tengkuk leher Aurora dan sedikit memberi sesapan di sana.
"Maaf, harusnya aku tak memaksakan diri." ujar Edward terdengar lirih.
"Kenapa berhenti, bukankah kamu ingin menikmati tubuh ini." ujar Aurora terdengar datar. Wanita itu sangat kecewa sekali pada suaminya. Bahkan air mata itu masih sesekali turun membasahi pipinya.
Edward mengeratkan dekapannya. "Terima kasih, terima kasih sayang, terima kasih." Bisik Edward berulang ulang.
Aurora semakin tidak mengerti, kenapa Edward bisa bertingkah seperti itu. Sebentar seperti singa dan sebentar seperti kucing. Dan yang tidak ia mengerti, untuk apa pria itu terus mengucapkan terima kasih.
"Apa melahirkan dua bayi secara normal itu sakit?" tanya Edward lirih.
"Tentu saja, aku bahkan sampai koma karena perdarahan."
Edward terdiam dengan pemikirannya sendiri. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu. Ia hanya bisa mengencangkan pelukannya.
"Terima kasih dan maaf tidak bisa berada disisimu saat perjuangan terberatmu. Terima kasih sudah melahirkan penerusku, terima kasih sudah membesarkan mereka sendiri dan terima kasih masih menunggu dan mencintaiku."
Terdengar jelas ditelinga wanita itu, suara Edward terdengar bergetar dan sengau. Aurora jadi berpikir jika Edward sedang menangis.
Aurora mencoba membalik tubuhnya untuk melihat keadaan Edward, tapi tubuhnya tertahan tangan Edward dan pria itu menyembunyikan wajahnya dipunggung istrinya.
"Apa kau menangis?" tanya lirih Aurora. Hatinya ikut berdenyut ketika mendengar pria itu sedang bersedih.
"Tidak, mana mungkin aku menangis." Segera pria itu mengusap matanya dengan bantal dan melepaskan dekapannya.
__ADS_1
Pria itu menyunggingkan senyum saat Aurora berbalik dan menatap khawatir padanya. Wajahnya benar-benar begitu penuh tanya. Tangannya menyentuh wajah yang diakui sebagai suaminya itu.
"Matamu memerah." lirih Aurora, tangannya mengusap sudut mata Edward yang basah.
"Maaf, aku telah begitu egois padamu. Aku begitu cemburu ketika melihat kedekatanmu dengan pria lain. Aku tak memikirkan perasaanmu. Harusnya aku tidak seperti itu, terlebih kamu telah memberikan dua putra yang lucu untukku. Pasti itu sangat menyakitkan saat kamu melahirkannya dan aku tak berada di sisimu. Maaf, maafkan aku sayang. Maafkan aku yang tidak tau diri ini. Ma.."
Aurora menempelkan jari telunjuk di bibir Edward ketika pria itu hendak berucap lagi. Ia begitu sedih ketika pria itu menangis di hadapannya.
"Jangan katakan apa pun. Aku ikhlas dengan semua ini. Ini adalah takdirku sebagai seorang wanita, aku bahagia bisa melahirkan mereka berdua. Dan jangan salahkan dirimu sendiri. Aku juga akan introspeksi diri. Aku akan membatasi hubunganku dengan laki-laki lain agar kamu tak cemburu padaku lagi. Apa kamu mau berjanji satu hal padaku hem."
Edward mengangguk dan mengecup punggung tangan Aurora. "Katakan."
"Aku ingin kamu berjanji untuk setia sampai mati, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku, terbaring di pangkuanmu dan kakak melepasku dengan senyum ikhlasmu. Apa kakak sanggup?"
Nafas Edward tercekat, hatinya ikut pilu mendengar permintaan Aurora, kenapa harus meminta hal seperti itu.
"Apa yang kau katakan, tidak inginkah kamu menua bersamaku? Aku mencintaimu dan jangan tinggalkan aku. Biarkan aku yang pergi lebih dulu jika begitu. Kamu harus hidup bahagia dan jangan katakan itu lagi."
Aurora tersenyum sambil menitikkan air matanya, "Aku sudah pernah kehilanganmu berkali kali."
Aurora menerawang jauh, wanita itu mengingat bagaimana histerisnya dirinya saat Edward tiba-tiba berhenti jantung dan dinyatakan meninggal dunia, ia masih ingat bagaimana tangisannya yang begitu pilu dan menyesakkan dada. Ia juga teringat ketika dirinya tiba-tiba ditelfon jika Edward sedang kritis dan akhirnya meninggal karena ada yang menyuntikkan racun ke dalam tubuh suaminya. Ia masih ingat betapa sedih dan pilunya saat itu. Ia hanya tidak bisa membayangkan jika itu terjadi untuk yang kesekian kalinya.
"Mungkin aku bisa gila jika itu benar terjadi. Aku pasti tidak akan sanggup menanggung beban seberat itu. Aku bahkan sempat ingin mengakhiri hidupku jika aku tak mengingat amanah yang kau titipkan saat kecelakaan waktu itu. Kamu tidak tau betapa sedihnya aku, aku begitu rapuh saat kehilanganmu. Dan aku tidak bisa kehilanganmu sekali lagi."
Edward langsung mengulum bibir Aurora. Ia tidak ingin Aurora mengatakan hal seperti itu lagi. Dirinya juga tak bisa membayangkan jika harus mengalami hal seperti istrinya. Itu pasti sangat memilukan hati.
"Jangan katakan itu lagi, mari kita hidup bahagia setelah ini, aku mencintaimu Aurora. Aku mencintaimu dan jangan pernah bermimpi meninggalkanku pergi, jika itu sampai terjadi, aku berjanji akan segera menyusulmu, maka kita akan selalu bersama."
.
.
.
__ADS_1
######